I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
NGAMBEK


__ADS_3

Perutku lapar. Aku memaksakan mataku untuk terbuka. Aku masih mengantuk. Perlahan aku membuka mata terlihat sosok tinggi besar tidur di ranjangku. Aku hendak berteriak tapi urung,tangan besarnya menutup mulutku.


Siapa?!


"Sstttt....! Jangan berisik!"


Aku membuka lebar mataku. Aku terperanjat. Bagaimana bisa dia sudah ada di sini? Tatap matanya serasa menembus tulang belakangku. Aura dinginnya membuatku seketika membeku.


"Ahhhh.... Kak Nicho ngagetin aja sih!" Aku terduduk di ranjang kasur.


Kak Nicho menatapku tajam. Raut wajahnya sungguh seram.


Seharusnya aku yang marah tapi ini kenapa lagi sih. Kak Nicho seperti bocah aja merajuk terus. Aku tidak mau masalahnya semakin runyam lebih baik aku yang lebih muda mengalah.


Ku usap pipinya. Dengan lirih aku bertanya,"Kakak kenapa? Sakit?"


"Enggak!" jawabnya pendek.


"Ohh... Kakak lagi ngambek!" ledekku.


"ENGGAK YA!" Dia menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang.


"Kalau enggak ya gak usah ngegas kali,Kak!" aku beranjak turun dari kasur.


Tanganku tertahan. Aku menoleh.


"Kenapa lagi sih Kak. Kak Nicho,aneh deh!Bentar-bentar ngambek. Aku ga tau harus gimana? Kayak bukan Kak Nicho yang aku kenal. Kalau masih ngambek ga jelas mending ga usah temuin Tiara deh. Tiara capek ngurusin bocah tua!" aku melepas tangan Kak Nicho.


Dari belakang Kak Nicho memelukku erat. Jantungku berdetak kencang. Wajahku memerah.


Ahhh.... perutku lapar sekali. Aku melepas pelukannya tapi tubuhku yang lapar tidak mempunyai tenaga untuk melerainya. Aku kalah.


"Lepasin Tiara. Aku lapar. Aku malas berdebat sama tukang ngambek. Lepasin gak?!"


Kak Nicho membalikan badanku ke arahnya.


"Maafin aku. Aku yang salah tapi kamu juga salah. Kamu pergi begitu saja ninggalin aku. Aku bingung nyariin kamu,kamu malah enak-enakan tidur!" Nada bicaranya yang awalnya pelan kembali lantang,Kak Nicho berteriak.

__ADS_1


"Mana aku tahu kalau Kak Nicho nyariin. Lagian tadi jalan cepat-cepat tanpa nengok ke belakang. Kan bukan salah aku",batinku berontak.


Aku tersinggung dengan ucapannya. Terlebih lagi cara bicaranya yang tinggi membuatku tersulut emosi.


"Gak usah ngegas dong kak. Emang enak ditinggalin begitu aja? Kasian Ayah dan Bunda seenaknya Kakak tinggalin tanpa ucapan Terimakasih!!" Aku balas berteriak.


Aku menoleh ke arah jam dinding waktu menunjukkan pukul 8 malam. Kamarku sepi sekali kenapa Nina belum pulang kerja? Aku sama sekali tidak tahan berduaan saja dengan Singa lapar di hadapanku.


Aku berharap Nina segera pulang. Sayangnya Nina sudah dihubungi Kak Nicho terlebih dahulu sehingga Nina pulang lebih malam dari biasanya. Kak Nicho memang licik. Mau tidak mau aku harus meladeni singa lapar ini yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi singa mesum.


"Sorry"


"Aku belum bisa maafin Ayah dan Bunda,Ra. Mereka utang penjelasan kepadaku. Bagaimana bisa aku dititipkan kepada Bapak dan Ibu" suaranya lirih hampir tak terdengar.


Kak Nicho pasti sangat kecewa. Tapi bukankah dengan begitu kita bisa bertemu sejak kecil.


"Bukan aku ga suka kita ketemu dari kecil,Ra. Aku bahagia mengenalmu dari dulu bahkan aku sempat momong kamu. Tapi jika dari awal aku tahu,aku bukan anak kandung keluarga Pak Suryo,kita tidak mungkin akan berpisah seperti ini,Ra. Aku mencintaimu. Aku ga mau kehilangan kamu lagi. Bagiku 5 tahun tanpamu itu siksaan,Ra" Luar biasa dia bisa menebak pikiranku.


Aku diam hanya air mata yang menetes di pipiku. Dia pandai sekali menoreh kembali luka di hatiku. Memangnya yang membuat aku pergi dari rumah siapa kalau bukan dirinya yang sedang bermain drama itu?!


Ku usap punggung Kak Nicho,menenangkannya. Aku mudah saja terbujuk oleh rayuannya. Ahhh lebih tepatnya aku memang tidak bisa melihat orang lain menangis. Terlebih lagi dia orang yang sangat aku cintai. Aku benar-benar gadis bodoh!!!


"Tiara lapar" ucapku ketus. Aku menghapus bekas air mata yang terjatuh.


"Janji ga akan tinggalin Kak Nicho lagi?" tanyanya.


Tangan Kak Nicho memegang kedua bahuku. Tatap matanya dalam. Kesedihan masih tergambar di wajahnya. Mata birunya tidak seindah biasanya karena tertutup awan merah.


Aku mengangguk.


"Asal Kakak janji besok Tiara udah mulai kerja"


"Iya Kakak janji. Tapi tinggal di apartemen Kakak ya" jawabnya.


"Aku ga mau tinggal di apatemen sempit kek gitu. Aku maunya tinggal di rumah sendiri ya. Yang ada kolam renang plus air terjunnya. Kalau di apartemen Kak Nichokan kolam renang juga publik"


Sebenarnya apartemen Kak Nicho lumayan luas dan komplit. Tapi aku ga enak saja tinggal serumah dengannya. Itu hanya alasanku saja agar Kak Nicho tidak memaksaku tinggal bersama. Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Udah itu aja?! Ga ada yang lain?!" tanyanya.


Aku menggeleng. Aku tidak menyangka ucapanku ini akan terwujud dalam waktu dekat padahal aku hanya bercanda.


"Ya udah yuk beli makan. Kamu mau makan apa?"


"Tiara mau ke restoran mewah. Ga mau makan di warung lesehan!"


Nah... Syukurin lo. Abisnya ngambek mulu. Gue bantuin habisin tuh duit.


"Ya udah yuk berangkat"


"Kak Nicho mau biarin Tiara bau apek begini makan di restoran mewah? Seenggaknya biarin Tiara mandi dulu kek?! Bisa-bisa aku dikira pembantu Kakak" aku menepis tangan Kak Nicho berjalan menuju kamar mandi.


"Bolehlah mandi bareng" ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Ihhhh... Singa mesum !!!


Aku bergidik ngeri. Segera aku menutup pintu kamar mandi cepat-cepat. Ahh sial!!! Aku belum bawa baju ganti.


"Kenapa Ra? Berubah pikiran ya?" Kak Nicho tersenyum menggoda ke arahku.


Ihhh... amit-amit deh. Kak Nicho kesambet demit mesum mana??


Aku terus berjalan menuju almari baju tanpa menghiraukannya. Kak Nicho merasa dicuekin. Dia mencari perhatian terus dengan mengikuti langkahku menuju kamar mandi. Aku berbalik ke belakang. Aku melotot.


"Kakak duduk manis di situ atau aku minta kakak pergi dari sini?" Aku menunjuk ke arah kursi yang biasanya Nina gunakan untuk menyelesaikan tugas kantornya di rumah.


Kak Nicho menurut tanpa perlawanan. Aku membalikkan badan segera masuk ke kamar mandi.


Tiga puluh menit aku bersiap. Aku memoles tipis make up di wajahku. Aku mengenakan sweater biru favoritku. Dengan celana baggy pants navy.


Berbeda dengan penampilan Kak Nicho yang simple tapi elegant. Kak Nicho memakai kemeja putih dengan aksen jam tangan hitam bermerk. Penampilannya terlihat berkelas mungkin karena dia anak Presdir. Entah mengapa walaupun simple penampilan Kak Nicho sangat keren.


Aku santai saja Kak Nicho tidak mungkin mengajakku ke restoran mewah. Seperti yang Ayah Presdir katakan tadi,dia itu pelit.


Ahhh... sebenarnya dia itu sederhana. Sudah berpuluh-puluh tahun kami bersama dalam kesederhanaan. Dari kecil Ibu dan Bapak selalu menanamkan kesederhanaan kepada kami. Wajar jika saat ini Kak Nicho yang notabene anak seorang Presdir masih sangat sederhana.

__ADS_1


__ADS_2