I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
ANAK ANGKAT


__ADS_3

Saat itu tangan hangat menepuk pundakku. Memintaku berdiri.


Dengan lembut Ibu berkata,"Biar Ibu yang bicara ya. Kamu tenangkan dirimu!"


Aku mengangguk.


Dengan langkah gontai,aku menuju kamarku yang terletak bersebelahan dengan kamar Tiara. Air mataku telah habis. Rasa sakit di dadaku semakin mencengkeram kuat di sana.


Rasa lelah yang mendera tubuhku membuatku terlelap tidur. Lelah dengan rasa cinta ini. Lelah telah membohongi orang yang sangat aku cintai. Lelah telah gagal menjadi kakak untuknya.


Entah berapa lama aku tertidur. Samar-samar aku mendengar Ibu berteriak dan menangis memanggil Bapak.


"Pak,Tiara Pak. Tiara ga ada di kamar Pak. Tiara kabur!"


Seketika itu aku berlari menuju kamar Tiara. Kulihat Ibu menangis di pelukan Bapak. Aku memastikan kalau saja tadi aku salah mendengar.


Aku bertanya,"Tiara kenapa Pak? Bu?" aku menatap Bapak dan Ibu bergantian. Mereka sudah melerai pelukannya.


Diam.


Aku masuk ke kamar Tiara. Dan aku dapati almari bajunya kosong. Hanya tersisa beberapa baju saja. Itupun baju yang sudah jarang dia pakai. Aku meremas baju Tiara yang tersisa. Ku ciumi bajunya. Di situlah aku kembali menangis tersedu-sedu.


Acara syukuran yang harusnya kami nikmati bersama penuh dengan canda tawa kini berubah menjadi lautan kekecewaan dan kesedihan.


Salahku. Ini semua adalah salahku. Salahku yang sudah terlanjur mencintainya. Aku... sungguh tidak berguna.


Aku memukul keras almari baju Tiara hingga tanganku berlumuran darah.


Ibu menahan gerak tanganku yang hendak kembali memukul.


Dengan suara berat Ibu melarang,"Jangan nak,Ibu mohon!"

__ADS_1


Bapak yang berdiri di depan pintu. Air mata menetes di pipinya. Bapak berbalik keluar menuju ruang tamu. Ibu mengelus pundakku. Air mata deras menetes di pipinya yang cantik meskipun usianya sudah paruh baya.


Ibu meraih jemari tanganku yang berlumuran darah. Aku hanya terdiam. Air mataku sudah mengering. Aku menatap kosong almari Tiara. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu,Tiara. Aku memejamkan mata berharap ini semua hanya mimpi di siang bolong.


Ibu membimbingku berdiri. Tanganku sudah terbebat kain bekas baju Tiara. Ibu mengajakku ke ruang tamu dimana Bapak sedang duduk termenung.


Kami bertiga hanya terdiam. Kami semua menangis batin. Tanpa suara. Dan itu sangat menyakitkan. Kehilangan adik tercinta. Bagi Bapak dan Ibu,mereka kehilangan anak kandungnya satu-satunya yang berhasil didapatkannya setelah 10 tahun pernikahan mereka.


"Nicho" Bapak memanggilku.


Aku hanya terdiam menunduk tanpa membalas,tanpa menatapnya.


Ibu mengelus-elus pundakku. Seorang Ibu yang sangat tegar meskipun sebenarnya dirinya sangat kehilangan. Yaa... Kehilangan putri tercintanya. Dan aku berjanji seumur hidupku untuk mencari Tiara kemanapun dia berada. Ibu rela menepis egonya untuk meredakan amarahku yang nota bene bukanlah anak kandungnya.


"Maafkan Bapak dan Ibu,Nak! Kami tidak bisa membahagiakanmu. Kami tidak bisa memberi amanah yang orang tuamu titipkan kepada kami"


Appaaaa?!!!


Maksudnya aku hanya anak angkat keluarga Suryo.


Benarkah? Tiara mencintaiku. Bukankah Tiara hanya menganggapku sebagai kakak. Wajar sajakan jika dia terkadang manja atau berkata yang tidak-tidak. Tapi mendengar pernyataan Bapak. Benarkah?!


Aku memberanikan diri untuk menatap Bapak. Bapak menyeka air mata dipipinya. Ibu memberikan Bapak segelas air putih. Bapak menerimanya lalu meminumnya. Bapak menatap Ibu dalam. Ibu mengangguk.


Dengan suara berat seolah terdapat luka di dalam sana. Bapak kembali berbicara.


"Saat Ibu melahirkan anak pertama kami. Selang berapa jam dari itu,anak kami meninggal. Bisa dibilang kondisi anak pertama kami baik-baik saja. Tubuhnya lahir dengan normal dan tidak ada cacat apapun. Entah rahasia apa yang hendak Tuhan berikan kepada kami? Kami hanya pasrah. 6 tahun kami menunggu. Akhirnya Ibu hamil. Tapi sayang hanya beberapa jam saja dia meninggal. Sebagai seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkannya,Ibu sangat kehilangan. Bapakpun merasakan hal yang sama"


Bapak menghela nafas dalam-dalam. Ibu mengangguk kembali. Bapak kembali bercerita.


"Sepasang suami istri datang menghampiri kami. Dia adalah Adiputra Jaya Sakti. Dan sebelahnya Bundamu seorang wanita bule bernama Rihana Wilhelmina. Bundamu menggendongmu. Dia tampak lesu. Dia terlihat kesulitan untuk berjalan. Ayahmu mengambilmu dari dekapan Bundamu kemudian menyerahkannya kepadaku"

__ADS_1


Ibu mengelap air mata di pipinya. Aku tersenyum menenangkannya. Ibu membalas senyumanku.


"Ayahmu bilang akan menanggung biaya hidupmu hingga kamu kuliah. Dan saat nanti ketika kamu dewasa,kamu harus memegang Perusahaannya yang ada di Jakarta. Ayahmu meminta untuk merahasiakan tentang statusmu hingga nanti kamu sudah bisa berdiri tegak diatas kakimu sendiri"


Bapak tersenyum kecut.


"Seperti yang kamu lihat,kita tidak pernah kekurangan. Bahkan yang memberi modal kami berjualan sembako hingga besar seperti ini adalah ayahmu. Adiputra. Aku yang egois ingin memiliki kalian berdua. Aku tidak ingin memisahkan kalian. Aku membuang semua surat kontrak perjanjian antara aku dan ayahmu"


"Maafkan Bapak,Nak! Bapak salah telah membuat kalian seperti ini!" Bapak menangis.


Ibu yang melihat tangisan Bapak,segera bangkit duduk di samping Bapak.


Kali ini Ibu yang berbicara.


"Maafkan kami,Nak. Ibu janji,ibu akan mencarikan dimana Ayah dan Bundamu berada. Tapi sebelum itu bisakah Ibu memohon 1 permohonan kepadamu?" tanya Ibu harap-harap cemas.


Aku mengangguk.


"Menikahlah dengan Tiara. Ibu ingin kalian hidup bahagia,Nak. Ibu selalu berharap kalian akan terus bersama. Mungkin takdir sedikit tidak berpihak saat ini tapi teruslah berjuang. Aku yakin Tiara akan memaafkanmu"


Aku yang tidak sanggup untuk menahan air mata ini. Kini ia kembali menetes. Aku mengira air mataku sudah mengering ternyata aku salah. Air mataku masih terlalu banyak saat aku mendengar nama Tiara di sebut.


"Sebelum saat itu datang. Ibu mohon selesaikanlah studimu. Ibu dan Bapak ingin menebus keegoisan kami yang sempat ingin menjadikanmu anak kami seutuhnya dengan mempersiapkanmu menjadi seorang pria yang luar biasa hingga kamu mampu untuk memimpin perusahaan ayahmu di Jakarta"


Aku mengangguk. Aku berjalan mendekati kedua orang tua Tiara. Aku memeluknya. Bagiku Bapak dan Ibu adalah orang tua yang luar biasa. Kasih sayang yang telah mereka curahkan begitu tulus,sekalipun aku bukanlah anak kandung mereka.


"Aku janji akan belajar sungguh-sungguh. Aku janji akan menemui Ayah dan Bunda dan aku berjanji akan membahagiakan Tiara selamanya. Aku akan membawa Tiara dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa. Aku janji Bu. Aku janji Pak"


Kami menangis.


Sebuah kenyataan bahwa aku bukanlah anak kandung dari keluarga Suryo membuatku bahagia. Kebuntuan yang sempat aku rasakan telah menemukan jawabnya. Ini adalah takdir Tuhan.

__ADS_1


Aku percaya takdir Tuhan akan membawaku untuk kembali mendapatkan Tiara sepenuhnya. Aku berjanji untuk tidak akan membuat Tiara menangis tapi hingga saat inipun Tiara selalu menangis karenaku.


"Hiks... Hikss... Hikss.... sudah cukup Kak. Hiks... Tiara mohon jangan di lanjutkan ceritanya hiks... Tiara ga sanggup... hikss..."


__ADS_2