
Aku kangen Bapak dan Ibu,Kak.
Aku dan Kak Nicho berangkat ke kantor bersama. Aku meminta Nina untuk membawakan seragamku. Di rumah baru Kak Nicho tersedia banyak sekali baju ganti untukku. Dan yang pasti bajunya baru-baru. Baju mahal pastinya.
Benar-benar pria yang berharga diri tinggi.
"Selamat pagi Tiara. Selamat datang kembali di kantor ini" Sella menyambutku ceria. Tangannya merentang terbuka meminta untuk dipeluk.
"Aku kangen kamu,Sel?" aku memeluk erat Sela.
"Aku juga" bisiknya.
"Kamu cantik sekali Tiara" imbuhnya. Tatap matanya menilai dari ujung rambutku hingga ujung kaki.
Aku sedikit kikuk dangan tatapan intimidasi Sela. Mau bagaimana lagi,aku terpaksa memakai blus warna pastel hijau tosca dengan rok tosca tua. Hampir semua setelan baju yang Kak Nicho belikan bermodel sama. Blus warna pastel dengan padanan rok warna senada yang lebih tua.
Aku sangat menyukai warna pastel. Aku juga menyukai rok sepanjang di bawah mata kaki. Kak Nicho sangat hapal selera modeku.
Sejak aku tahu jika Kak Nicho adalah anak Presdir,aku belajar untuk menggunakan make up. Meskipun tipis,aku ingin terlihat lebih layak mendampingi Kak Nicho.
Saat di kantor penampilan kami sangat bertolak belakang. Kak Nicho selalu rapi dengan setelah jasnya. Sedangkan aku hanyalah seorang tenaga bawahan yang memegang kain pel.
Saat aku tersadar,ingin rasanya aku meninggalkan Kak Nicho. Aku merasa tidak pantas seperti yang rekan kantorku katakan tempo hari.
Sesaat ketika aku mengingat betapa besar pengorbananku untuk merasakan pahitnya sebuah perpisahan dengannya,membuatku urung untuk meninggalkan Kak Nicho.
Aku memegang kain pel bersiap untuk mengepel ruangan. Kali ini adalah jatahku piket. Tiba-tiba tangan besar nan kokoh menahanku. Aku mendongak.
Senyumnya lebar.
"Ahhh.... singa mesum" ucapku lirih. Yang masih bisa terdengar jelas olehnya.
Dia melotot tidak terima.
"Apa kamu bilang?" tangannya menarik blusku.
Aku menatap sekeliling ruangan GS,hanya ada kami berdua. Sepertinya Sela langsung pergi setelah mengetahui kedatangan Kak Nicho.
"Singa mesum!!" teriakku tepat di telinganya.
Aku meraih gagang pel tanpa memperdulikannya. Aku berjalan meninggalkan Kak Nicho.
Tanganku tertahan olehnya.
__ADS_1
"Kak,jangan ganggu Tiara kerja!" aku kembali mengepel.
Kak Nicho berdiri terpaku di depanku. Aku sama sekali tidak bergeming. Entah apa yang ada dalam pikirannya? Aku sama sekali tidak bisa menebaknya. Ternyata waktu yang lama bukanlah jaminan kita akan mengetahui karakter pasangan.
Bukankah dulu Kak Nicho selalu mengayomi dan bersikap dewasa. Tapi lihatlah Kak Nicho yang sekarang,dia sungguh kekanakan,mudah merajuk,mudah tersinggung. Sikapnya juga terlihat dingin.
Akhirnya selesai. Aku kembali ke pantry. Aku kira Kak Nicho sudah pergi,sayangnya dia masih menunggu di sana.
Pak Gun memanggilku. Sepertinya Pak Gun tidak menyadari bahwa Kak Nicho ada di ruangan ini.
"Tiara tolong buatkan saya kopi ya"
"Baik Pak"
"Tidak! Gunawan buat kopimu sendiri. Tiara sedang sibuk!" sahut Kak Nicho tanpa merasa bersalah.
Aku melotot ke arah Kak Nicho. Aku mengambil cangkir kopi bersiap untuk menyeduh kopi permintaan Pak Gun.
Hampir tiap pagi Pak Gun memintaku untuk membuatkannya kopi. Wajar saja kan?
Pak Gun terpana mendengar ucapan Kak Nicho. Pak Gun adalah GS di kantor kami. Sepertinya saat sidang kemarin Pak Gun tidak ikut andil menemui Presdir. Pak Gun mungkin tidak mengetahui jika Kak Nicho adalah anak kandung Presdir.
Aku menyerahkan kopi kepada Pak Gun. Sebelum sampai di tangan Pak Gun,Kak Nicho terlebih dahulu mencomot cangkir kopinya. Untung saja tidak tumpah. Aku melotot ke arahnya.
Aku menoleh ke arah Pak Gun.
"Maaf Pak Gun,akan saya buatkan lagi. Nanti saya antar ke ruangan Bapak!" aku kembali fokus membuatkan Pak Gun segelas kopi.
Pak Gun pergi meninggalkan pantry tanpa berucap sepatah kata.
"Tiara mending kamu jadi sekertaris aku" kata Kak Nicho santai.
"Tidak! Saya mau keluar kerja saja. Sikap Bapak sangat berlebihan! Jangan ganggu saya kerja lagi. Wajar saja Pak Gun meminta dibuatkan kopi. Itu sudah tugas saya. Jika Pak Nicho bersikap kekanak-kanakan,saya harap Pak Nicho tidak menemui saya lagi!" sengaja aku berkata formal. Aku sangat marah kepadanya.
Kak Nicho membelalakkan matanya ke arahku.
Aku beranjak pergi mengantar secangkir kopi ke ruangan Pak Gun.
"Maafkan atas ketidak sopanan saya Pak. Saya akan perbaiki kembali kinerja saya. Aku menundukkan kepalaku.
"Tak apa. Kamu ga salah kok" jawabnya. Pak Gun langsung meminum seteguk kopinya.
"Baik Pak,terimakasih. Saya undur diri dulu" aku keluar ruangan menuju ke pantry.
__ADS_1
"Tiara? Tolong kamu pesankan menu kesukaan Pak Suryo. Hari ini ada meeting mendadak dengan beliau" Bu Shinta memanggilku. Aku baru saja sampai di pantry sedang membuatkan kopi dan teh untuk rekan kantor yang lain.
"Baik Bu"
Aku selalu menyiapkan menu makan favorit Pak Suryo. Tapi hingga saat ini aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Itu karena Sela yang selalu menghidangkan menu makanan ke dalam ruangan rapat.
Aku hanya mengkoordinir saat rapat belum mulai dan saat sudah selesai acara. Saat siang aku sibuk memastikan konsumsi makan untuk rapat yang lain.
Aku mendapati Kak Nicho masih duduk santai di kursi pantry. Dia menatapku kemanapun arahku melangkah. Gerak jemariku tidak pernah luput dari pengawasannya.
Heeiii!!! Ini sudah siang. Dasar anak Presdir pemalas!
Aku hanya mengumpat dalam hati. Aku sedang tidak tertarik untuk berdebat dengannya.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Ahh aku lupa saat tadi aku selesai memesan makanan,aku meninggalkannya di meja depan Kak Nicho duduk.
Kak Nicho terlebih dahulu mengambil handphoneku. Aku merengut. Dia terkekeh.
"Hallo"
"Iya aku tau"
Kak Nicho mengakhiri panggilan teleponnya.
Entah dengan siapa dan sedang membicarakan apa? Aku urung untuk menanyakannya.
Tiba-tiba saja handphone Kak Nicho berbunyi. Kak Nicho meletakkan handphoneku di meja. Dia menerima panggilan.
"Assalamu'alaikum" ucapnya lembut. Senyumnya lebar.
"Iya siap Pak. Enggeh. Pasti"
"Wa'alaikum salam"
Kak Niicho mendekatiku. Dia mencium pipiku. Dengan lirih dia berbisik,"Jaga cintamu hanya untukku seorang!"
Kak Nicho berlalu pergi. Sebelum langkahnya menghilang keluar,dia mengerlingkan matanya. Aku melemparkan serbet ke arahnya. Sayang sekali sepertinya aku salah sasaran.
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tidak percaya dengan sosok yang ada di hadapanku. Matanya menatapku ******. Mulutnya sempurna membulat hendak memaki ke arahku.
"Sarapan pagi yang pahit" batinku. Sudahlah aku harus menghadapinya dengan ketegaran. Aku yang salah. Aku siap menerima sangsi.
Semangat Tiara. Berharaplah akan keajaiban datang.
__ADS_1
Aku tersenyum getir kearahnya.