
Langkahku terhenti melihat wajah yang tidak asing di depanku. Sosok yang membuatku ingin bersujud karena kebodohan masa mudaku.
"Ibu! Bapak!" Tanpa sadar aku langsung berteriak memanggil Bapak dan Ibu.
Aku ingin memeluknya tapi masih pantaskah aku untuk memeluk orangtuaku. Sedangkan aku telah meninggalkannya tanpa pamit. Bukankah aku adalah anak durhaka?
Ibu berhambur ke arahku. Dia memelukku erat.
"Sayang,Ibu kangen sama kamu,nak. Mengapa tidak memberi kami kabar sedikitpun?"
Air mataku kembali menetes.
"Aku juga merindukan ibu. Bapak juga tapi aku takut Bu. Aku takut melihat Kak Nicho bahagia dengan yang lain. Aku belum cukup kuat saat itu" bisikku dalam hati.
"Sayang lain kali kasih kabar ya kalau mau pergi" ucap Ibu dengan membelai rambutku.
Ibu melepas pelukannya. Kedua tangannya mengusap lembut air mataku yang jatuh di pipi. Ibu tersenyum ke arahku. Aku pun begitu.
"Ayo ucap salam kepada Bapak"
Aku mengangguk. Tanganku meraih tangan kanan Bapak. Aku mencium punggung tangan Bapak. Tangannya mengelus puncak kepalaku.
"Jangan pernah lari seberat apapun masalahnya Nak. Maaf telah membuat kalian berpisah. Tapi ingatlah bahwa takdir Tuhan itu indah. Cinta tahu kapan dia harus pulang dan cinta tahu kepada siapa dia harus pulang. Teruslah berjuang demi cinta kalian. Apapun itu masalahnya"
Aku mengangguk.
"Sayang hari ini adalah hari spesial untukmu. Jangan menangis. Cantiknya ilang kalau nangis"
Kali ini Bunda yang berbicara. Bunda meraih tanganku. Ya... Bunda adalah ibu kandung Kak Nicho. Aku rasa panggilan Mom atau Mommy lebih pantas untuk seorang wanita bule. Entahlah.
Ibu mengiyakan setuju.
"Iya sayang,nanti malam Nicho akan melamarmu"
Aku kaget mendengarnya. Kak Nicho tersenyum indah ke arahku. Dia mengangguk.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Kali ini Ayah Kak Nicho yang berbicara.
"Setuju" Kak Nicho menjawab. Diiringi anggukkan Bapak dan Ibu. Bunda menggandeng lengan suaminya erat.
__ADS_1
"Tapi Pak,Tiara masih jam kerja. Tiara undur diri dulu ya"
"Haaa...haaa... haa...haa..."
Semua tertawa terbahak-bahak. Aku melempar pandanganku kepada mereka bergantian.
"Heyy menantuku. Sudah ku bilang panggil aku ayah dan ini bundamu" tunjukknya ke arah istrinya.
"Bisakan?"
Aku hanya terdiam.
"Lihat Suryo anakmu sungguh menggemaskan. Dia polos sekali. Di hari bahagia begini yang masih terlintas di pikirnya malah kerjaan"
Semuanya kembali tertawa. Aku malu. Aku ingin pergi dari hadapan semuanya. Tangan kokoh mencekal tanganku agar aku tidak pergi.
"Ayah,aku tunggu di rumah ya. Bapak,kami duluan ya" Kak Nicho menarik tanganku. Dia menggandengku.
Kami menaiki lift vip khusus Presdir. Kami beranjak turun menuju parkiran mobil.
"Jangan buat aku khawatir,sayang. Jangan pernah ada niatan untuk lari dari hadapanku meski selangkah! Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu"
Aku menatap matanya yang redup. Dia mencium tanganku.
"Kenapa diam saja?"
Aku sangat mencintaimu Kak. Aku juga tidak mengerti mengapa sekarang aku begitu sensitif dan mudah marah. Seperti wanita dalam masa PMS.
Kak Nicho terdiam,dia menunggu jawaban dariku. Aku mengangguk. Kueratkan genggaman tanganku.
"Aku sangat mencintaimu,Kak" bisikku lirih,sangat lirih. Kami saling tatap.
"Ehm... Kak kita mau kemana?" ucapku memulai percakapan setelah hampir 10 menitan kami saling tatap tanpa berbicara sepatah katapun.
Kak Nicho tersenyum nakal kepadaku. Dia mengerlingkan sebelah matanya.
"Rahasia!"
Buukk...
__ADS_1
Aku memukul dada Kak Nicho. Dengan gesit,Kak Nicho menghindar. Jemari tangannya masih menggenggam erat tangan kiriku. Kak Nicho menarik tanganku mengajak untuk melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan tatapan mataku yang tajam.
*****
Sandiwara apa lagi ini? Bagaimana bisa Pak Suryo sang investor terbesar di perusahaan tempatku bekerja adalah Bapak kandungku? Terlebih lagi aku sering mendengar namanya sejak aku sudah bekerja di sini sekitar 2 tahun. Selama tiga tahun ini bagaimana bisa aku tidak pernah bertemu dengannya. Bukankah aku yang sering menyiapkan acara rapatnya? Bukankah aku pula yang selalu memesankan nasi liwet kesukaan Pak Suryo.
Haaahhhh..... Semua ini seperti mimpi.
"Ra... Tiara..."
Aku menengok ke arah Kak Nicho.
"Kamu kenapa sayang? Dari tadi diem aja. Aku udah panggil kamu seribu kali tau sampai lidahku kesleo!" Kak Nicho merengut.
Kak Nicho imut banget. Mata birunya terlihat bersinar. Bibir tipisnya yang mengerucut sekan menirukan caraku merajuk membuatku tertawa. Selama Kak Nicho hidup bersamaku,dia sama sekali tidak pernah bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Entah mungkin karena kami sekarang adalah sepasang kekasih sedang saat itu dia seorang kakak? Atau apalah aku tidak tahu persis alasannya dia bersikap konyol seperti ini. Yang pasti aku sangat menyukai tingkah imutnya ini.
"Kenapa ?! Emang ada yang lucu?"
Ekspresi datarnya dia tunjukkan kepadaku lalu kembali mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaaaaa...." aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Ga usah ketawa emang beginikan ekspresi ngambekmu. Ya kalau sekarangkan udah mau jadi seorang istri kalau ngambek keterlaluan banget" jawabnya dengan nada ketus.
Seketika itu aku berhenti tertawa. Yaa... Nicho yang ada di hadapanku ini benar-benar berubah menjadi iblis. Jahat sekali dia mengungkit sifat manjaku saat masa kecil.
"Kak,bagaimana bisa Bapak menjadi investor di perusahaan ini? Dan bagaimana bisa selama ini aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Bapak sedang setiap saat aku yang selalu menyiapkan rapat untuk Bapak?!" Tanyaku. Mimik wajahku berubah serius.
Gemercik air hujan seolah ikut meminta pertanggungjawaban tentang sandiwara ini. Awan mendung terlihat menggulung pekat di atas sana. Jalanan lumayan lancar. Ada beberapa mobil yang mengebut membuat genangan air muncrat ke kanan dan kiri.
Ku tatapi wajahnya yang terlukis indah. Setiap kali aku melihatnya,aku selalu bertanya-tanya bagaimana bisa Tuhan menciptakan seorang pria seindah ini?
"Saat itu aku masih kuliah di luar negeri,Ra" Wajah tampannya menoleh ke arahku,kemudian pandangannya kembali lurus ke depan.
"Maksudnya?"
"Dengar baik-baik aku akan menceritakan semuanya!"
"Seperti yang sudah Bapak amanatkan tadi,Ra bahwa takdir Tuhan itu indah. Cinta tahu kapan dia harus pulang dan cinta tahu kepada siapa dia harus pulang. Aku mencintaimu sejak saat itu. Dan setiap hari aku mencari tahu fakta yang sesungguhnya benarkah aku adalah Kakak kandungmu? Orang awampun tahu jika aku ini sama sekali tidak mirip dengan Bapak maupun Ibu. Tanpa ada kisah kamu pergi dari rumah,mungkin selamanya kita hanya bisa melupakan rasa cinta itu,mengingat tidak ada satupun bukti yang menyangkal posisi aku sebagai kakakmu. Tapi berkatmu,Bapak dan Ibu berusaha keras untuk menemukan orang tua kandungku"
__ADS_1
"Haaahh.... kamu tahu? Cinta sejati pasti pulang di saat yang tepat! Tidak dipercepat,tidak pula diperlambat"
Setetes air bening jatuh di kedua mata Kak Nicho.