I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
PERTEMUAN


__ADS_3

Sudah 5 bulan sejak kedatangan Nicho di tempat kerjaku. Bagiku cukup mudah untuk mendapatkan info tentangnya sebab Dia begitu terkenal di kantor ini. Dari situ bisa aku simpulkan bahwa Nicho Ramadhan yang mereka maksud bukanlah kakakku. Orang yang aku hindari untuk bertemu.


Aku terlalu takut untuk mendengar kabar kebahagiannya dengan wanita lain.


Saat itu aku terkejut. Kak Nicho mengenalkanku dengan seorang wanita yang bernama Azizah Putri Wulandari. Bahkan mengatakan jika mereka akan bertunangan.


Saat itu....


5 tahun yang lalu. Tanggal 31 Mei 2015


Dalam panggilan telepon.


"Bu besok Seninkan Ara ulang tahun. Ara mau pulang ke rumah ya. Ara kangen"


"Iya Nak. Ibu tunggu ya. Ibu juga kangen sama Ara" suara wanita paruh baya di sebrang sana yang selalu aku rindukan.


"Miss you Mom. See you later!"


"Iya sayang" Jawab Ibu singkat.


Aku tersenyum. Asyik membayangkan betapa indahnya nanti jika kami berkumpul bersama - sama lagi. Dengan ke dua orang tuaku dan Kak Nicho sang cinta sejatiku.


Sejak aku memutuskan untuk kuliah di UGM,aku kost di Jogja. Sebenarnya kalaupun mau pulang pergi lumayan dekat,hanya saja orang tuaku tidak memberi ijin.


Aku mengambil jurusan sastra. Aku ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik sekaligus seorang penulis. Aku bisa kerjakan karyaku setelah selesai dengan tugas rumah seorang ibu rumah tangga. Sayangnya harapan itu hanya angan-anganku saja.


Hari Senin yang aku tunggu datang. Aku sudah tiba di rumah ku sekitar 30 menit yang lalu. Ibu sudah sibuk memasak nasi kuning untuk membuat pesta kecil di hari ulang tahunku.


Paras tampannya terus membayangiku. Sorot mata birunya yang redup namun menawan. Dan jangan lupakan bibir tipisnya yang sering kali membuatku kehilangan akal sehat untuk mencium bibir tipisnya.


Katanya hari ini Kak Nicho akan memberikan kejutan buat aku.


"Ahhh.... Kak Nicho kasih kado aku apa ya?" gumamku.


Hii...hii..... Aku senyum-senyum sendiri kembali terbayang anganku untuk menciumnya.


"Aduuhh... Tuan Putri Ara sedang apa nih kok senyum-senyum sendiri?" Kak Nicho menowel pipiku dengan telunjuknya. Kemudian duduk di sampingku.

__ADS_1


"Ihhhh Kak Nicho ngagetin tauuu..." balasku sambil cemberut.


"Kak Nicho kado apa buat calon istri kakak ? Kan hari ini calon istri Kakak ulang tahun?"


Aku sering menggoda Kak Nicho begitu. Aku ingin dia benar-benar tahu jika aku sangat mengharapkannya. Aku tersenyum menatapnya. Ku lihat wajahnya memerah karena malu. Dan sedikit gemetar menjawab.


"Aa...apaan sih Dek? Calon istri mana?"


"Iyakan Mutiara Sari calon istri Kakak. Kan adek udah bilang dari dulu kalau nanti adek gedhe mau nikah sama kakak. Kan kakak juga janji,iya. Gimana sih Kak. Janjikan kan harus ditepati" jawabku sambil mengerucutkan bibir,merajuk.


Aku kembali menggoda Kak Nicho. Wajah Kak Nicho semakin memerah hingga ke telinga. Kak Nicho menghela nafas panjang. Dengan suara berat,Kak Nicho mulai berbicara.


"Nihh Kak Nicho kasih tau ya. Kakak emang sayang adek tapi hanya sebatas kakak dan adek. Kan ga boleh kalau kakak dan adek itu menikah. Masa Ara ga tau. Kan Ara udah gede,sekarang aja udah 20tahun umurnya"


Bukan kata-kata itu yang aku ingin dengar. Aku menatapnya dalam. Awan di pelupuk mataku sudah semakin berat. Sekali tiupan angin berhembus,awan itu akan jatuh menjadi hujan air mata.


"Kak Nicho jahat!!!" jawabku sarkas.


Aku berlari masuk ke dalam kamar. Dan menangis meluapkan betapa menyakitkannya kenyataan ini.


Aku mengabaikan suara Kak Nicho yang memanggilku. Dia mengetuk pintu kamarku yang terkunci. Berkali-kali.


Air mana ini kembali menetes tanpa sadar. Sejenak aku tersadar dari lamunanku,aku segera menghapus air mataku. Aku harus kembali bekerja. Aku kembali menatap monitor komputer untuk kembali membuat data stok barang.


"Ra,kok lo akhir-akhir ini beda kenapa? Emang sih lo tuh introvert banget tapi bukannya setelah kita kenal lo terlihat periang. Sekarang kok sering banget gue dapetin lo lagi ngelamun?" tanya Sela dengan nada menyelidik.


Aku kaget. Aku tidak tahu jika ada Sela mengintip di pintu.


Aku tersenyum," Ahhh... gapapa kok,aku cuman kangen aja ma Ibu"


"Kalo lo kangen ya pulang. Rebeskan urusannya. Ngapain kerja sampai ngelamun kek gitu. Mending pulang dulu. Senengin nyokap-bokap lo selagi mereka masih idup!" kata Sella.


Aku menghela napas lega,untung Sela tidak melihat aku menangis.


Sella berjalan mendekatiku dan mengelus puncak kepalaku penuh sayang.


Aku hanya mengangguk. Aku sangat rindu. Ini sudah 5 tahun tepat,aku tak pernah menemui kedua orang tuaku. Sejak saat itu.

__ADS_1


Jujur aku sangat merindukan mereka. Tapi aku tidak sanggup mendengar meski sedikit saja tentang Kak Nicho. Aku egois. Iyaa... memang tapi aku bisa apa?!


Aku merentangkan kedua tanganku keatas. Mengendorkan otot kaku di kedua tangan dan kakiku. Fiiuhhhh... capek. Berangkat pagi pulang malam. Terkadang harus ikut lembur.


Yahh.... tahu sendiri office girls itu kerjaan macam apa? Pekerja serabutan,tukang disuruh-suruh tapi yah mau gimana lagi. Lagian siapa suruh DO dari kampus? Aku melotot,tersentak dengan perang batinku sendiri.


Ini semua adalah kesalahanku. Kesalahan di usia muda yang tidak bisa aku ulang kembali. Tidak ada gunanya bagiku meratapinya.


"Andaikan hidup ini seperti di dunia komik. Isekai sepertinya menarik" aku terkikik mendengar monologku sendiri. Gila...


Aku memastikan kondisi kantor dalam keadaan rapi. Dan untungnya malam ini tidak ada acara rapat vip. Jadi aku bisa pulang tepat waktu. Yaahhh paling jam 7 malam sampai kost. Semoga saja hujan. Aku pengen banget tidur nyenyak ditemani gemercik air hujan. Tenang dan damai.


Benar saja saat aku tiba di lobby kantor,hujan deras mengguyur Kota Jakarta. Sial. Mana lupa ga bawa payung lagi. Aduuhhh... Maksud aku itu hujannya nanti kalau aku udah sampai rumah. Ini baru juga mau pulang malah hujan deres banget. Aku menepuk jidatku. Kesal.


Handphoneku berdering.


/ Nina bawel


Sorry Ra. Gue pulang telat.


/Aku


Iya ga pulang juga gue ga nyari


/ Nina bawel


Maksud lo?????


Aku nyengir. Aku mengabaikan pesan Nina.


"Tumben Nina pulang terlambat? Kenapa ya?" gumamku.


Aku menatap sekeliling lobby. Yang sudah semakin sepi. Hanya beberapa karyawan vip yang baru keluar dari lift. Ada beberapa cleaning services yang menyapaku. Dan berlalu begitu saja. Aku memang tidak begitu akrab dengan mereka tapi entah kenapa mereka tahu namaku.


Ada beberapa rekan kerja laki-laki yang menawariku tumpangan untuk pulang tapi aku menggeleng keras.


Aku berdiri di depan lobby menunggu hujan reda . Hujannya sangat deras. Petir terdengar menggelegar membuat merinding.

__ADS_1


Samar-samar aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku. Aku menengok dan sontak saja handphoneku terjatuh tanpa sadar.


Diiaaa....


__ADS_2