
"Ya Tuhan ujian apalagi kali ini" Aku mengusap air mataku. Pernikahan kami akan diadakan 1 bulan lagi tapi sepertinya Tuhan masih ingin menguji cinta kami.
Aku tahu Kak Nicho dalam kondisi sedang mabuk. Aku menjaga semua ini karena aku ingin kami melakukannya saat sudah resmi menjadi pasangan yang halal tapi mengapa Kak Nicho...? Aku tak sanggup melanjutkannya karena hati ini teramat sakit.
Apa sebegitu cintanya Putri hingga dirinya mampu untuk merencanakan ini semua. Meskipun ini hanya sekedar dugaan tapi bukankah dalam posisi ini Kak Nicho yang bersalah?
Braakk
"Ra,kamu-?"
Pria yang aku pikirkan itu menghentikan ucapannya. Wajah kuyu,kelelahan,kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Aku ingin sekali memeluknya dan mendengar jika semua ini hanya kesalahpahaman. Dia melangkah mendekatiku.
"Ra,aku minta maaf" Kak Nicho bersimpuh di hadapanku. Aku tak bergeming.
"Aku tahu kamu udah melihat video itu. Aku benar-benar ga sadar. Aku mengira kamu yang sedang bersamaku,Ra. Ku mohon percayalah" Kak Nicho menunduk.
"Kak,tolong biarkan aku sendiri dulu"
"Ra,percayalah kepadaku. Aku ga ada niat sedikitpun untuk mengkhianatimu. Aku cinta kamu Ra,kumohon tetaplah bersamaku" Air mata Kak Nicho membanjiri wajah tampannya. Mata birunya kini berubah merah. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang dalam.
"Kak,aku lagi pengen sendiri. Pergilah" Pintaku kembali. Aku mencoba menenangkan pikiranku yang sedang kacau.
"Ra,ku mohon per-"
"KAKAK,AKU LAGI PENGEN SENDIRI" Aku berteriak.
Sungguh aku tak sanggup melihatnya menangis. Tapi tidak semudah itu pula aku bisa menerima kenyataan ini. Apakah harus aku melepaskan Kak Nicho dan merelakannya bersama Putri. Aku pernah merasakan cemburu yang teramat tapi aku bukanlah wanita yang menghancurkan kebahagiaan oranglain dengan cara kotor begini. Aku percaya Kak Nicho melakukannya di luar kendalinya. Tapi hatiku terasa sangat sakit.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Air mataku terus menentes. Aku beranjak dari tempat dudukku. Lalu mengunci kamarku. Kali ini aku tidak akan lari dari ujian cinta ini sebab dulu aku pernah menyesal karena meninggalkan Kak Nicho tanpa tahu yang terjadi sesungguhnya.
Aku hanya ingin menyendiri. Untuk bisa memaafkan Kak Nicho dan juga Putri. Aku melangkah gontai menuju ranjang kasur. Aku meringkuk,menangis sepuasnya tanpa ada yang melihat. Hatiku teramat perih. Aku sangat lelah memperjuangkan cinta ini namun aku tak sanggup jika harus berpisah dengannya.
Di luar sana aku mendengar Dad sedang murka kepada Kak Nicho.
"Biadab kamu Nic. Bisa-bisanya kamu melakukan itu dengan wanita lain. Apa kamu lupa dengan status kamu?"
Makian demi makian Dad lontarkan kepadanya di tambah lagi suara pukulan terdengar jelas dari kamarku. Dad sepertinya menampar Kak Nicho saking marahnya.
"Masalah ini akan berdampak dengan citra perusahaan. Apa kamu ga mikir? Bisa-bisanya kamu sampai mabuk"
Dad benar,reputasi perusahaan bisa jatuh dengan skandal ini. Video itu bisa saja dihapus tapi bukankah akan repot jika sudah banyak pihak yang share ulang video tersebut.
Jika video itu sengaja di buat untuk menghancurkan hubungan kami,bukankah itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa Putri yang notabenenya seorang wanita merendahkan dirinya dengan menyebar video begitu.
Ahhh.... cinta membuat manusia melakukan tindakan gila.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
"Ra,makan dulu. Ibu udah masakin sop kesukaan kamu. Ga baik terus-terusan tenggelam dalam kesedihan"
Ibu selalu saja bisa membuatku luluh. Aku memang sangat lapar setelah menangis lama.
"Sayang,kamu harus jaga kesehatanmu. Makanlah dulu. Apa Ibu antar ke kamar saja?"
Aku berjalan membuka kunci pintu kamar.
"Anterin ke kamar aja Bu" jawabku kemudian.
"Ya sudah kamu tunggu ya sayang" Ibu tersenyum.
Beberapa menit kemudian Ibu datang dengan membawa semangkok sop ayam.
Melihat sop ayam di hadapanku. Seketika itu nafsu makanku naik. Aku langsung melahapnya.
Ibu mengelus puncak kepalaku. Tersenyum tulus kepadaku.
"Enak?!" Tanyanya. Aku hanya mengangguk.
"Setiap hubungan akan selalu diuji,nak. Pesan Ibu kamu harus mendengarkan penjelasan Nicho dan percayalah jika kamu masih sangat mencintainya. Sebab kepercayaan itu penting"
"Menjelang pernikahan akan ada saja pihak yang ingin menggagalkannya. Itu wajar. Dan saat nanti kalian menikahpun ujian seperti ini akan terus datang. Belum lagi ujian yang lain. Teruslah berjuang jika kamu masih sangat mencintainya"
"Kondisi Nicho sangat memprihatinkan saat ini . Dia membutuhkanmu Nak. Meskipun berat,karena ibu tahu kamupun sangat terluka tapi cobalah untuk mengalah. Katakan padanya jika kamu mempercayainya" Ibu memelukku erat.
Beginikah yang dialami pasangan yang akan dan dalam membina rumah tangga?!
"Ibu tinggal dulu ya. Ingat pesan Ibu tadi ya sayang" Ucapnya dengan membawa mangkok bekasku makan tadi.
Jika dipikir kembali,Putri berniat untuk menghasut kami agar aku melepaskan Kak Nicho. Tapi mengapa Putri tidak memanfaatkan kondisi kemaren saat Kak Nicho sedang mabuk. Apakah dia merasa sakit hati saat Kak Nicho memanggil namaku?! Entahlah kondisi ini serba membingungkan.
Aku berjalan pelan menuju ruang keluarga. Di sana terlihat Kak Nicho dengan wajah memar akibat pukulan keras Dad. Aku ingin mengopres lukanya. Sudah bisa dipastikan jika saat ini Kak Nicho tidak peduli dengan penampilannya. Handphone nya yang tergeletak di coffee table berbunyi berulang kali. Sepertinya itu adalah panggilan penting dari kantor.
Sekarang aku sudah di dapur untuk mengambil batu es. Tiba-tiba saja tangan kokoh itu memelukku dari belakang.
"Ra,ku mohon beri aku kesempatan" Ucapnya lirih. Dia mencium pundakku. Dan ku dengar isak tangisnya. Tetes air matanya membasahi bajuku.
Aku membalikkan badan. Ku pegang kedua pipinya.
"Kak,Tiara mau ambil es. Lihat muka Kakak memar begini"
Kak Nicho meraih tangan kananku,dia menciumnya.
__ADS_1
"Aku rela sekujur tubuhku terluka,asalkan kamu tetap disampingku" Dia menatapku dalam.
"Kakak ga usah gombal ihh. Aku mau ngompres muka Kakak dulu. Jadi diam aja" Aku melototkan kedua mataku. Segera aku ambil es batu di kulkas. Aku sudah menyiapkan handuk kecil dari kamar tadi.
Aku menggandeng tangan Kak Nicho. Dan memintanya duduk di kursi ruang makan. Dia menurut. Tanpa banyak kata aku menempelkan es ke pipi kanan Kak Nicho. Ada bercak darah yang mengering di sudut kanan bibirnya.
"Apa sangat sakit?" tanyaku.
"Iya sakit sekali" Jawabnya. Aku sungguh tak kuasa untuk menahan airmata ini.
"Sakit sekali?" Tanyaku kembali. Kak Nicho meraih tangan kiriku dan menempelkannya di dadanya.
"Di sini. Yang sakit di sini" Kak Nicho meraih tubuhku. Dia memelukku erat. Lalu dia mencium bibirku.
"Awww..." Aku menggigit bibir bawahnya. Bisa-bisa dalam kondisi bibirnya luka,dia bisa menciumku.
"Dasar mesum" Aku mengerucutkan bibirku.
"Tapi kamu gak nolakkan?" Aku mencubit pipi kanannya yang sakit. Seketika itu terdengar teriakan panjang darinya.
"Aaawwwww....." Dia meringis kesakitan. Aku tersenyum puas.
"Kakak lagi sakit tapi masih sempat buat mesum begitu" Aku melipatkan kedua tanganku di dada.
"Apa gak bisa kalau ga harus nunggu nikah dulu" Pintanya dengan raut wajah memelas.
"GAK!!!" Jawabku tegas.
"Hiks..... tega sekali kamu Ra" Aku memahaminya. Terlebih lagi kami tinggal satu atap. Ya meskipun kedua orangtua kami tinggal di sini,tapi tetap saja itu bukanlah suatu alasan.
"Sebegitu inginnyakah?" Tanyaku. Aku ingin tahu seberapa inginnya dia sehingga Putri disangka aku saat dirinya mabuk.
Dia hanya mengangguk. Mengisyaratkan bahwa dirinya memang menginginkanku.
Itu godaan terbesar dalam hidupku tapi sedikitpun aku tidak bergeming. Aku akan mengikuti prosedur yang benar. Menikah terlebih dahulu.
Meskipun aku kolot tapi bukankah memang begitu seharusnya. Kalau melihat pergaulan di luar sana,mereka dengan bebas melakukan hubungan selayaknya mereka sudah menikah. Itu mereka bukan aku. Aku mempunyai prisip tersendiri.
Lamunanku terhenti saat kudengar tawa dari Kak Nicho.
"Hahahaha..... Kenapa serius banget sih. Aku bercanda loh sayang" Dia mencubit hidungku,sangat gemas.
"Kakak gila!" Aku memukul dadanya.
Ya dia memang gila dan aku lebih gila lagi sudah mencintai dan memaafkan tindakan gilanya.
__ADS_1
Semudah itukah aku memaafkan kesalahannya?! Tentu saja tidak! Sejujurnya batinku teramat sakit. Sakit sekali. Aku hanya mencoba mengalah demi keutuhan hubungan ini.