I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
SERBA SALAH


__ADS_3

Kak Nicho meraih tanganku. Tanpa sepatah katapun ia menarikku menuju sebuah hotel di samping rumah sakit ini.


"Aku paling tidak suka dengan orang yang pura-pura tegar tetapi dalam hati menangis"


Itu kata yang terucap pertama kali saat kami tiba di sebuah kamar hotel.


Kak Nicho mengunci badanku di pintu kamar hotel yang telah tertutup.


"Katakan kepadaku,apa yang harus aku lakukan saat ini?" Tatapan tajam dari mata birunya menusuk relung jiwaku hingga membuatku merinding ketakutan.


Aku yang meminta Kak Nicho untuk merawat Putri tapi aku pula yang tersakiti dengan akal busuk Putri. Meskipun aku tahu Putri yang melakukan itu kepada Kak Nicho entah mengapa hatiku sesak jika teringat kejadian itu.


Belum lagi video yang telah Putri sengaja dengan tujuan membuat hubunganku dengan Kak Nicho pupus, sekarang ia menambahkan adegan itu tepat saat aku berdiri di depannya.


"Kenapa diam saja heemmm?!" Mata biru Kak Nicho seolah menguliti tubuhku tanpa sisa. Ia menuntut jawabanku saat ini juga.


"A,aaku. A,aku..."


Cup.


Kak Nicho menciumku lembut.


Aku sangat merindukan ini...


Sangat rindu...


Bahkan aku ingin egois. Aku hanya menginginkan Kak Nicho bukan pria lain. Aku merindukannya bahkan tak rela dia disentuh oleh wanita lain meski seujung kuku. Pokoknya aku mau dia dan hanya dia. Cukup dia saja.


"Siapa yang kemaren memintaku untuk merawat Putri hemm? Padahal sudah jelas kamu akan seperti ini"


Mata birunya menatap lekat mataku. Debaran jantungku semakin menggila. Mungkin sudah terdengar jelas oleh Kak Nicho.


"Kita gantian mandi. Kita sudah sepakat merawat Putri jadi jangan merajuk di tengah jalan!"


Aku masih terpaku dengan sentuhan yang telah lama aku dambakan ini. Aku ingin menikmati kebersamaan ini tanpa adanya pengganggu tapi aku tidak mungkin bisa melakukannya untuk saat ini.


Kak Nicho memintaku mandi tapi ia masih mengunci tubuhku di pintu hotel. Aku hendak melepaskan tangan Kak Nicho yang membuatku tak bisa bergerak sayangnya gerakan Kak Nicho lebih cepat. Dia menggendongku ala bridal.


"Kak Nicho ihh turunin Tiara" Aku memukul berulang kali pundak Kak Nicho.


"Ssttt... jangan bergerak-gerak ini membuat sensasi aneh ditubuh Kakak. Kamu mau aku menguncimu di kamar hotel ini heeemm?!" Tanyanya dengan nada serius meski aku tahu saat ini Kak Nicho tengah menggodaku.


"Ishh! Mulai deh mesumnya. Menyebalkan?!" Jawabku merengut.


"Buktinya kamu cemburu buta saat Putri mencium pipiku. Siapa yang lebih mesum ?!"


"Ish Kak Nicho lepasin Tiara!" Aku terus merengek ingin diturunkan. Aku bisa jalan sendiri. Aku hanya terpaku hingga membuatku tak mampu bergerak saat itu. Dasar singa mesum ada-ada saja caranya untuk menjatuhkan aku ke dalam pesonanya.


"Ssttt aku sudah lama tidak mandiin kamu loh sayang. Dulu tiap sore Kakak yang mandiin kamu. Bahkan kamu merengek ingin ikut mandi pagi sebelum berangkat sekolah!"


"Ahhh!!" Kedua tanganku langsung menutupi wajahku yang memerah. Jahat sekali. Dia sengaja mengeluarkan jurus untuk melumpuhkanku.


Kak Nicho tertawa terbahak-bahak melihatku yang memerah karena malu.


Dia mendudukkanku di meja samping wastafel.

__ADS_1


"Jadi gimana? Mau Kak Nicho yang mandiin kamu?!" Ia mengerlingkan sebelah mata birunya.


"KA-KAAKKK!!" Tanpa sadar aku berteriak kencang. Spontan Kak Nicho menutup mulutku dengan telapak tangannya.


Ia mendekatkan wajahnya. Keningnya menempel di keningku. Dengan rasa yang tertahan,ia berbisik lirih.


"Kamu mau membuat aku masuk penjara gara-gara dikira sedang melakukan pelecehan kepada seorang wanita hemm? Tuh dengar tidak ada suara dering telpon"


"Maaf" Jawabku. Aku tertunduk malu.


"Jangan diulangi lain kali! Segera mandi dan kita harus bicara".


Kak Nicho berlalu meninggalkanku di kamar mandi ini. Sebuah kamar mandi ukuran 2m x 3m lengkap dengan bath up,closet,wastafel dan rak gantung di dinding. Terdapat dua buah pot tanaman kaktus untuk pemanis di atas rak yang menempel di dinding. Tepatnya di atas closet duduk .


Aku melucuti pakaianku satu persatu setelah aku menyalakan air ke dalam bath up. Mungkin berendam air hangat mampu membuat pikiranku lebih rileks. Aku yang meminta Kak Nicho untuk merawat Putri. Aku pula yang terbakar api cemburu. Rasanya lucu sekali.


"Ck benar-benar bodoh kamu,Ra!"


Pernikahan seminggu lagi. Aku sudah tak sabar untuk menikmati kebersamaan dengan Kak Nicho dengan status yang berbeda. Jikalau bisa aku tidak ingin Kak Nicho bekerja di kantor,biarkan aku dan hanya aku saja yang menikmati wajah tampannya.


Seminggu lagi,dunia akan tahu jika Kak Nicho adalah milikku. Selalu milikku dan selamanya milikku. Ku harap dalam jangka waktu seminggu ini,Putri sudah pulih sehingga tidak ada lagi drama korea dalam perjalanan cinta kami.


"Kakak!"


"Ssttt...bukan salahku. Sedari tadi aku sudah mengetuk pintu. Lagipula salah siapa tidak mengunci pintunya?!"


Aku melototkan kedua mataku. Bibir mungilku komat-kamit mengeluarkan berbagai macam makian.


Kak Nicho menaruh tumpukan baju ganti di meja wastafel beserta handuk. Aku memang tidak suka memakai handuk oranglain. Bagiku meski handuk hotel sudah dicuci bersih,aku tidak sreg saja memakai fasilitas umum untuk kepentingan pribadi.


"Bilang apa?" Tanya Kak Nicho dengan tatapan sedikit mengintrogasi.


"Ck apa begini cara kamu berterimakasih Tiara?" Ia tampak kecewa.


"Maaf"


Aku menunduk. Saat aku mengangkat kepalaku untuk menangkap sosok tampan di sekelilingku,Kak Nicho sudah menghilang.


Aku telah selesai mandi. Ku raih handuk di atas wastafel. Begitu kain berbulu itu menutupi tubuhku,aku mengunci pintu kamar mandi. Aku bisa bernafas lega saat ini.


Setelah selesai,aku keluar dari kamar mandi. Tanpa sepatah kata,Kak Nicho menggantikanku masuk ke dalam sana. Tangan kanannya membawa baju ganti sedangkan handuknya ia sampirkan di pundak. Kemeja katun yang menutupi tubuh seksinya sudah ia lepas. Mungkinkah Kak Nicho merasakan gerah meski ruangan ini ber-AC ?


Aku duduk di tengah springbed. Tubuhku bersandar di divan dengan kaki terjulur lurus ke depan. Aku meraih hanphone di saku celana.


"Oh iya Dellis besok minta ketemuan. Apa mungkin kita bertemu di hotel ini saja ya? Kak Nicho sudah booking hotel ini sampai kapan ?"


Firasatku tidak enak. Tidak biasanya Mba Dellis memintaku bertemu dan sepertinya ada hal serius yang hendak ia bicarakan. Tapi apa?! Aku sama,sekali tidak berpikir yang aneh-aneh. Aku yakin Mba Dellis sudah berubah dan ia mendukung hubunganku dengan Kak Nicho.


Tak!


Kak Nicho menyentil keningku.


"Kakak kenapa sih hobi banget kagetin aku?!" Bibir mungilku sempurna mengerucut.


"Kamu mikirin apa sih sayang? Wajah mungilmu makin jelek!"

__ADS_1


"Biarin! Jelek-jelek gini Kakak juga suka kok!" Jawabku tak mau kalah.


"Masa?!"


"Tau ahh,Kak Nicho mulai genit deh!" Aku melempar pandangan ke arah pintu kamar hotel. Entah sudah berapa lama kami berdua pergi meninggalkan Putri.


"Ra,Dellis bicara apa tadi sama kamu?" Tanya Kak Nicho dengan raut wajah yang serius. Ia telah duduk di sampingku.


"Mba Dellis bilang kalau besok akan terbang ke sini. Sekaligus membawa berkas yang akan Kak Nicho tandatangani. Ehmm Tiara boleh ga,Kak,jika menyewa hotel ini untuk bertemu Mba Dellis?"


Aku menggeser posisiku agar aku bisa menatap mata Kak Nicho tanpa harus menoleh.


"Pakai saja. Oh iya kamu malam ini istirahat saja di hotel ini bersama Nina. Aku akan ditemani Pak Karman berjaga"


"Tapi Kak"


"Sudahlah. Kamu harus istirahat yang cukup Tiara. Selama beberapa hari kamu sudah merawatku. Tubuh kamu butuh istirahat sayang" Pintanya. Sebuah ciuman di kening mendarat untukku.


Ahhh lagi-lagi Kak Nicho mengeluarkan jurus mautnya untuk merayuku. Aku bisa apa selain menjadi seekor betina yang dicolok hidungnya ?!


"Aku tidak suka kamu bersikap kekanak-kanakan seperti tadi. Bukankah sebelumnya aku sudah menolak mentah-mentah permintaanmu untuk merawat Putri,lalu mengapa kamu justru terbakar cemburu saat Putri merayuku. Itulah yang membuatku menolak permintaanmu"


"Apa cemburu dengan calon suami itu dilarang?" Kedua mataku menatap nanar mata biru Kak Nicho.


"Tidak!"


"Lalu kenapa Kak Nicho seolah melarangku?!"


"Tidak Tiara! Kamu boleh kok cemburu sepuasnya"


"Kalau boleh kenapa Kak Nicho seolah tidak tahu perasaanku. Aku hanya tidak suka apa yang menjadi milikku diusik wanita lain!" Jawabku dengan kedua mata yang sudah basah.


Haahh cengeng sekali aku. Jika hidupku ada dalam kisah komik mungkin aku akan dihujat oleh para reader yang kecewa dengan karakter Female Lead nya. Tapi aku benar-benar sedih. Teramat sedih. Niat hatiku ingin menolong oranglain tapi apa dayaku yang tak mampu untuk menahan amarah di dadaku.


"Aku juga tak mau ada di posisi ini,Ra. Okey sekarang ayo tidur. Sudah malam. Biarkan Putri yang menjaga Pak Karman dan Nina" Jawabnya dengan nada sedikit ketus. Ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Kami tidur dalam posisi berpelukan.


Aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersama meski di sisi lain aku merasa bersalah kepada Putri.


"Kak,Putri nanti bagaimana?"


"Ya ampun Tiara! Kenapa sih kamu labil sekali sifatmu. Kamu sudah dewasa bahkan seumuranmu sudah banyak yang memiliki anak. Tapi kenapa kamu terlalu mudah terbawa suasana,Tiara? Aku bingung begini salah,begitu salah. Mau kamu apa sih?!"


Baru kali ini Kak Nicho marah kepadaku. Iya,aku akui, aku salah. Semua ini adalah murni kesalahanku yang tidak mampu untuk mengendalikan emosiku.


Kak Nicho beranjak dari tempat tidur. Ia kini berdiri. Ku lihat raut wajahnya menahan amarah.


"Maafkan aku,Kak!"


"Sudahlah. Aku mau ke rumah sakit sekarang. Hubungi aku jika ada apa-apa"


Kak Nicho pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di kamar hotel nan mewah ini. Aku tergugu.


Rasanya sakit...


Sakit sekali...

__ADS_1


Teramat sakit...


Aku ingin tidur dipelukan Ibu. Aku teramat rindu Ibu. Jika bisa aku ingin kembali ke dalam rahim Ibu. Bersembunyi di sana dari jahatnya orang dewasa yang tamak.


__ADS_2