
"Nic,kamu harus segera ngurus surat pernikahan. Jangan ditunda-tunda lagi. Untuk niat baik jangan sampai kamu tunda apalagi ini sunah agama"
Nasehat Bapak di pagi hari saat kami sedang makan pagi.
"Iya boy,toh Ayah sama Bunda udah nunggu cucu nih. Suryo juga pasti ingin segera menimang cucu kan?"
"Bunda pengennya cucu kembar loh Tiara,apa kalian sanggup? Ya itung-itung satu untuk Bunda yang satu untuk Ibu"
Tawa pecah memenuhi seisi ruangan makan kami. Aku sungguh tersipu malu terlebih lagi Kak Nicho tanpa malu memaksaku untuk makan dengan suapan tangannya. Bisa-bisanya dia di depan kedua orangtua kami tak tahu malu begini. Dasar singa mesum. Aku menggerutu dalam hati.
"Gampang Mom. Serahkan semua sama Nicho. Awww...."
Aku mendelik ke arahnya.
"Sakit sayang cubitanmu itu"
Jika diperhatikan Kak Nicho sudah semakin akrab dengan Mom dan Dad. Entah itu karena kami sedang bersama atau memang hubungannya memang sudah benar membaik. Ya pasti aku sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang hangat.
"Bu,rumah yang di kampung bagaimana? Siapa yang merawat?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Bapak dan Ibu sudah pindah ke Jakarta,3 tahun yang lalu sayang"
"Lalu rumah yang di kampung di jual Bu? Toko sembakonya gimana Bu?"
"Ada semua kok. Itu dipakai untuk mess anak-anak sembako. Lagipula Bqpak juga sekarang sudah punya beberapa cabang di Yogja,nak. Alhamdulillah semuanya lancar. Di sini kami juga punya banyak cabang. Bagaimanapun usaha sembako itu tidak akan pernah mati,meskipun banyak sekali saingan toko-toko kecil. Semuanya akan ada rejekinya masing-masing" Kali ini Bapak yang menjelaskan.
"Ra,Suryo itu pemilik Grand Tiara Mall. Bukan hanya jualan sembako seperti yang dibilang Bapakmu tadi. Tapi Mall,nak" Dad menjelaskan yang sesungguhnya.
Mataku terbelalak,sungguh suatu hal yang tak terduga.
"Ibu apa itu benar?" Tanyaku.
Ibu hanya mengangguk.
"Uwaahhh... Keren.... Apa Tiara boleh main ke sana Bu,Pak?" Aku bertepuk tangan,sangat bahagia.
__ADS_1
"Tentu saja tapi kamu harus selesein dulu kerjaan kamu di kantorku" Kak Nicho tak mau kalah.
"Apaan maksud Kakak?" Tanyaku keheranan.
" Ga ada maksud apa-apa tapi sejak kamu menjadi tunanganku,kamu adalah partner kerjaku juga. Kamu mengerti,honey?!" Jawabnya tegas. Tanpa merasa bersalah dia kembali menyendokkan makanannya ke mulutnya?
What!!! Partner kerja?!
"Untuk apa aku kerja. Kalau calon suamiku aja konglomerat. Mending Kakak kerja,aku yang habisin uang Kakak!" Ucapku setengah melotot ke arahnya.
Hahahahaha..... Tawa kembali pecah di ruang makan kami.
"Boleh kalau itu maumu tapi tiap malam,aku harus dikasih jatah!"
Argghhhhh.....
Teriakan panjang keluar dari mulut Kak Nicho. Aku sengaja menginjak kakinya. Lagi-lagi singa mesum ini tanpa malu-malu bilang begituan di hadapan kedua orangtua kami.
" Hahahhaha... Suryo sepertinya kita harus segera memancing. Biarkan kedua pasangan muda ini memadu kasih "
"Baiklah. Bu bukannya hari ini sedang ada acara sosialita. Segera siap-siap saja Bu. Supaya tidak terlambat" Ibu mengangguk setuju.
"Mau kemana?"
"Tiara mau maen" jawabku ketus.
"Siapa yang kasih ijin?" tanyanya balik.
"Aku. Emang kenapa?" jawabku tak kalah jutek.
"Duduk!" pintanya. Aku menurut saja seperti sapi yang dicolok hidungnya.
"Temani aku makan dulu. Kamu juga baru makan sedikitkan?" Kak Nicho menyodorkan sesuap nasi kepadaku.
"Kak,bisa gak sih kalau di hadapan kedua orangtua,kakak ga mesum begitu?"
__ADS_1
"Ohh jadi kamu maunya aku mesum pas lagi berduaan aja?" godanya.
"Bukan gitu maksudku. Tapi kakak udah keterlaluan banget seperti ga punya malu" ucapku kesal.
Lama-lama aku ingin menjitak kepalanya itu. Jika aku bisa memilih,aku lebih suka sosok Kak Nicho yang mengayomi seperti dulu. Kak Nicho tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya menggidikkan bahu.
" Sayang,kamu mau ke kantor pakai baju tidur gitu? "
" Tiara kan bilang tadi Kak,ga mau kerja. Tiara mau maen. Mau habisin uang Kakak? "
" Hari ini aku ada meeting sama Putri terkait rencana pembangunan Ritel nya di Jawa dan Bali. Kamu beneran ga mau ikut? " Kak Nicho memastikan. Aku cemburu sekali terlebih lagi dari tatap mata Putri terlihat dia begitu menginginkannya. Meskipun aku tunangannya tapi ada sedikit gurat kekhawatiran di hatiku.
" Kami akan rapat di Raffles Jakarta. Kebetulan juga hari ini aku ada meeting dengan klien lain jadi sekalian di sana "
Aku ingin ikut tapi jika aku di samping Kak Nicho justru aku terlihat bodoh. Pengetahuanku tentang perusahaan sangat minim. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Bingung harus bagaimana? Ada rasa takut akan kehilangannya terlebih lagi,aku yakin Putri masih memendam rasa kepadanya.
" Pagi-pagi ngelamun itu ga bagus. Bikin cepet kerasukan setan! "
" Iya setannya Kakak " Aku menggerutu.
"Tiara ga ikut. Aku mau gulang guling di kasur " jawabku seraya pergi meninggalkan Kak Nicho.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Kak Nicho sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Meskipun dia seorang Presdir tapi jiwa kedisiplinannya patut diacungi jempol.
Cupp. Kak Nicho mencium keningku. Dia pamit untuk berangkat kerja. Aku mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah. Aku menyalami dan mengecup tangan Kak Nicho mirip seperti seorang istri yang sedang mengantarkan suaminya berangkat kerja.
Aku melambaikan tanganku saat Kak Nicho melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir.
Rumah tampak sepi. Kedua orang tua kami sudah berangkat lebih dulu dengan aktivitas masing-masing. Aku seperti orang asing di dalam rumah yang luas ini. Setidaknya aku bisa belajar memasak mulai dari sekarang.
"Bik,apa saya boleh meminta tolong sama Bibik?" Tanyaku kepada seorang paruhbaya yang membantu membereskan rumah dan menghidangkan makanan lezat kepada kami.
" Boleh Non "
" Tiara mau belajar memasak Bik. Tiara juga pingin bisa bikin kue " jawabku.
__ADS_1
" Baik Non,akan Bibik ajarkan"
Ya pilihan yang tepat meskipun aku adalah orang yang awam masalah bisnis setidaknya aku bisa menjadi seorang wanita seutuhnya.