
Hari ini aku disibukkan dengan banyak rapat vip. Seperti biasa aku harus menyiapkan berbagai keperluan mulai dari meja,konsumsi hingga beberapa berkas yang terkadang aku harus bolak balik fotocopi. Belum lagi aku harus mengurus data stok seperti kertas,tissu,hingga sampai karbol kamar mandi. Duuhhh.... Sibuk sih tapi aku suka.
Hari ini aku juga berniat untuk mengembalikan jas milik Kak Nicho maksudku Pak Nicho. Aku sudah bolakbalik ke ruangan Manager untuk bertemu dengannya tapi Pak Nicho tak ada.
Ketika aku membalikkan badan untuk kembali ke ruanganku ternyata aku dapati Pak Nicho dan Mba Dellis menuju ruangan Manager. Aku terpaku sesaat melihat Mba Dellis sangat dekat dengan Pak Nicho.
Gaya bicara Mba Dellis yang genit,gaya berpakaiannya yang sedikit menggoda. Blus katun berleher V yang menunjukkan belahan payudaranya. Rok span hitam diatas lutut. Rambut lurusnya yang tergerai indah. Make up yang natural dengan sentuhan berwarna salem di bibirnya. Bulu matanya lentik meski tanpa bulu mata palsu. Aku memperhatikannya dan sedikit cemburu. Dia memang cantik dan aku akui Mba Dellis selalu ada di samping Pak Nicho karena memang dia sekertarisnya. Aku sadar aku hanya setitik embun di luasnya samudra.
"Tiara" tangan Pak Nicho melambai-lambai di depan mataku. Seketika itu aku terbangun dari lamunanku.
"Maaf Pak saya mau mengembalikan jas Bapak. Maaf baru saya kembalikan. Ehmm... baru kering" kataku sambil menundukkan kepala.
Aku takut Pak Nicho mengenaliku meski hatiku sangat ingin. Tapi bukan sekarang,aku masih belum siap.
"Iya gapapa kok. Ga perlu buru-buru Tiara" Pak Nicho tersenyum manis kearahku.
Setiap aku melihat bibir tipisnya,keinginanku untuk menciumnya kembali datang. Bibir tipis yang selalu aku bayangkan betapa lembutnya saat itu menempel dibibirku.
Ahhh... aku mikir apa sih !
"Baik Pak. Terimakasih dan saya permisi dulu"
Dengan wajah yang masih menunduk,aku melangkah meninggalkan Pak Nicho dan Mba Dellis. Aku berjalan menuju lift menuju ruanganku di lantai 3. Lift lumayan penuh karena memang ini sudah sore. Sudah waktunya para karyawan kantor untuk pulang.
"Ihhh... Pak Nicho tuhh ganteng banget sumpehh!!"
Sial sampai liftpun aku harus mendengar bisik-bisik tentang Pak Nicho. Aku menutup mata tanpa tahu siapa yang sedang membicarakannya.
"Iya katanya sih dia masih single loh. Ahh... Aku mau dong jadi istrinya!"
"Enak aja lo!" jawab wanita yang lain.
Ruangan Pak Nicho hanya berjarak 2 lantai dari ruanganku tapi rasanya gerak lift pun enggan turun ke bawah. Dadaku semakin terhimpit.
"Enak tuh si Dellis. Dia bisa deket-deket sama Pak Nicho. Apalagi sekarang Dellis sengaja banget pakai baju seksi-seksi gitu. Itu mau ngantor atau mau nggaet gebetan?" timpal wanita yang lain.
__ADS_1
Aku semakin tidak tahan mendengar obrolan rekan-rekan kantor yang bahasannya Pak Nicho... Pak Nicho... dan Pak Nicho. Ga di kantorlah,ga di rumahlah. Ga di haltelah.
Aduuhhh... Pusing pala gue kalau kek gini terus!!! teriakku dalam hati.
Aku hanya bisa terdiam dan menggigit bibir bawahku. Ingin rasanya aku bilang kalau Pak Nicho adalah kekasihku tapi aku takut. Aku menahan sekuat tenaga agar aku tetap bersikap ramah dan pura-pura tak mendengar saat mereka sedang asyik membicarakan kakakku.
Aku bisa apa sedang di sini aku hanya bekerja sebagai tenaga rendahan di kantor ini. Aku tidak punya kuasa untuk berbicara. Kalaupun aku berani dengan mereka aku bisa ditendang keluar dari kantor ini. Lalu aku harus kerja apa? Aku masih takut untuk pulang ke kampung halaman. Aku takut meski dalam hati aku sangat merindukan bapak dan ibu.
Ting...
Suara lift berdenting. Aku tiba di lantai 3. Aku berpuh pelan. Lega untuk sejenak.
Seperti biasa sebelum aku meninggalkan kantor,aku harus mengecek kondisi kebersihan dan kerapian kantor. Aku tidak bisa meninggalkan kantor jika kondisinya masih berantakan.
Setelah aku merasa kondisi kantor beres,data stok sudah terkirim ke Bu Shinta juga,aku segera berkemas untuk pulang.
Ok. Back to home.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Nomor tak dikenali. Aku mengangkat ragu-ragu. Ini sudah jam pulang kerja,siapa ya? Perasaan kantor sudah rapi dan ga ada rapat vip juga sore ini? Pikirku.
"Hallo Tiarakan?" terdengar suara lembut di sebrang sana. Suara yang tak asing di telingaku. Mungkinkah?
"Aku Nicho. Pulang bareng ya. Aku sudah di depan lobby ini"
Tampak Pak Nicho melambaikan tangan ke arahku.
Aku menoleh ke belakang dan memang tidak ada orang selain aku. Apakah benar?!
Pak Nicho memutuskan sambungan teleponnya. Dan masih melambaikan tangannya ke arahku.
"Tiara sini..." wajahnya sumringah melihat kedatanganku.
Aku mendekatinya. Dan bertanya,"Bapak manggil saya?"
"Iya siapa lagi. Emang ada Tiara yang lain di kantor ini?!"
__ADS_1
"Ehmm... setau saya sih ga ada Pak. Tapi saya juga kurang paham. Mungkin karyawan baru" jawabku ragu-ragu.
Pak Nicho masih menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aku sedikit mengubah penampilan rambutku sejak aku tiba di ibukota ini.
Rambut hitam lurusku yang dulu jarang aku panjangkan,sekarang sudah panjang sepinggang dengan poni see through bangs.
Wajahku mungil,hidung mancung,bibir kecil nan tebal dan mata bulat. Sering kali teman-temanku memberiku julukan "Barbie". Yaa... bisa dibilang aku memang ingin terlihat seperti barbie yang menggemaskan.
Meski usiaku tak lagi belia. Tapi siapa yang percaya jika aku yang memiliki wajah menggemaskan ini sudah berumur 25 tahun? Satuhal lagi yang harus diketahui,aku sangat mengidolakan Blanckpink Kpop asal korea itu.
"Maaf Pak ada yang bisa saya bantu Pak?"
Seketika itu Pak Nicho terkesiap.
"Ehmm.... Aku mau ajak kamu pulang bareng. Soalnya rumahku searah dengan rumah kamu. Aku rasa ga ada salahnyakan kalau bareng?"
"Duhh... Gimana ya Pak? Saya kok ga enak ya pulang bareng bos di kantor. Anu saya kan bukan siapa-siapa Bapak dan juga saya hanya office girls. Saya-"
"Sudah-sudah tidak apa-apa ga usah sungkan. Ayo" Pak Nicho tak menghiraukan penolakanku dan menggiringku masuk ke mobil pajero sport hitamnya.
Pak Nicho memakaikanku sealbelt seperti Pak Danniel waktu itu. Aku masih mematung,tak percaya. Seketika itu air mataku hendak menetes dan aku coba menengadahkan wajahku ke atas untuk menghalaunya.
Pak Nicho segera menjalankan mobilnya keluar. Aku membuang pandangan ke arah samping,berusaha untuk menyingkirkan segala kenangan bersamanya. Aku sangat ingin menatapnya tapi aku takut air mata ini tumpah tak terbendungkan. Aku memilih memejamkan mata saja.
"Tiara,kamu capek ya?" Pak Nicho memulai percakapan.
"Tidak Pak" jawabku pendek.
Aku ingin bermanja-manja,merajuk bahkan aku ingin merayunya. Aroma tubuhnya yang sedari tadi memenuhi ruangan mobil ini membiusku untuk mengenang semua kenangan indah bersamanya dan aku benci kenyataan hidupku. Aku benci dia sebagai kakakku.
Aku kembali memejamkan mata. Dan aku merasakan tangan Pak Nicho mengelap air mata yang menetes tak tertahankan di pipiku. Sentuhan tangannya lembut. Aroma nafasnya yang menyegarkan dan terdengar lembut di telingaku,berbisik lirih.
"Kau mengingatkanku kepada seseorang yang sangat aku cintai,Tiara"
__ADS_1
Deg.