I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
BINGUNG


__ADS_3

Terik matahari memasuki kamar hotel. Rasanya hangat. Aku menutupi kedua mataku dengan tanganku untuk menghalau. Sepertinya kamar ini menghadap ke timur.


"Udah bangun?"


Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku tersenyum.


"Selamat pagi Kak"


"Pagi juga. Bangun dan segera bersihkan badan. Kita sarapan bareng" Ia duduk di sampingku tidur.


Dengan senang hati aku segera bangun. Vitamin untuk kesehatan mata di pagi hari,melihat senyum indah Kak Nicho.


Aku terkejut saat melihat atasan piyamaku yang terbuka. Spontan aku melempar Kak Nicho dengan bantal berkali-kali.


"Tiara! Stop apa yang kamu lakukan?"


"Kakak pura-pura tidak tahu apa yang telah kakak lakukan ini?" Kataku tengan menunjukkan baju piyama yang telah lepas kancingnya. Aku merapatkan bajuku untuk menutupi dada.


"Udah sana buruan mandi" Jawabnya dengan nada kesal.


Aku tak tahu mengapa pertanyaanku membuatnya kesal.


"Uuhhh dasar pria tak tanggungjawab. Sudah enak-enak lalu pura-pura tidak mau mengaku" Aku menggerutu.


Kuhentakkan kakiku keras agar Kak Nicho mendengarnya. Mau bagaimana lagi cepat atau lambat semua akan aku berikan padanya. Tidak salah juga sih.


"Ya sudahlah,aku mandi saja!"


Sekitar 30 menit aku berendam di bath up. Tubuhku terasa ringan,namun perutnya meminta jatah untuk diisi.


"Sanam re... sanam re... Tu mera sanam hua re... " Lagu kesukaan ku terutama saat Mithoon yang menyanyikannya. Ya aku paling suka lagu-lagu Bollywood. Tapi jiwa pecinta komik 2 dimensi tetap melekat.


"Seneng banget kayaknya sampai nyanyi-nyanyi segala"


"Tau ahh" Jawabku dengan cemberut.


"Sudah salah malah tidak minta maaf. Dasar pria brengsek!" Runtukku dalam hati.


"Kamu kenapa bibir kok bisa dikuncir begitu" Kak Nicho mengulurkan tangannya. Sepertinya ia mau meraih bibirku. Aku menepisnya. Aku membuang pandangan.


"Kenapa sih,Ra? Ga jelas banget. Yuk makan"


Ajaknya dengan menyodorkan satu bungkus nasi chicken KFC kepadaku. Setahuku hotel elit menyediakan sarapan pagi tapi entah mengapa Kak Nicho tidak mengajakku turun justru malah mengajak makan di sini.


Aku rasa ia tak sesabar biasanya. Mungkin karena sikapku yang sering kali merajuk atau mungkinkah karena rasa cintanya yang berkurang?


Aku membuka bungkus nasinya. Ehmm air liurku hampir saja menetes melihat Ayam Spicy yang menggoda.


"Apa kamu tidak ingat apa yang terjadi tadi malam?" Ia menatap mataku,menelisik.


"Maksud kakak?" Aku acuh dengan pertanyaan tidak masuk akal darinya. Ayam di depanku begitu menggoda daripada harus mengingat apa yang terjadi semalam.


Kak Nicho menghentikan makannya. Ia menuju wastafel dan mencuci tangannya.


"Lho... lho... Kak. Kan belum selesai makannya,Kak!"


Bukannya menjawab,ia malah semakin mendekat ke arahku.


"Apa perlu aku bantu kamu mengingatnya?" Bisiknya lirih yang membuatku merinding disko.


"Kak jangan macam-macam. Tiara lapar" Jawabku. Aku melototkan mataku tanda aku tidak menyukai sikap Kak Nicho.


Ia hanya diam. Matanya terus melihat kemana arah tanganku bergerak. Aku yang ditatap intens olehnya merasa tak nyaman.


"Kakak kenapa sih. Coba kakak habiskan makannya dulu baru nanti kita bicarakan apa itu semalem. Kakak harus tanggungjawab sampai membuat kancing piyama Tiara lepas semua. Dasar! Kan bisa membukanya pelan-pelan. Dasar singa mesum!"


Aku mengunyah kasar makanan yang masuk ke mulutku. Bibir mungilku bergerak-gerak. Seolah berteriak untuk memasukkan makanan sedikit-dikit saja.


Kak Nicho menyodorkan nasi yang baru ia makan sedikit kepadaku.


"Aiihhh Kak Nicho jorok. Masa makanan sisa Kakak dikasih ke aku sih?"


"Kamu bilang itu jorok. Tapi senang kalau Kakak cium. Hayooo"


Mataku sempurna membulat. Tanpa berdebat aku menghabiskan jatah makan Kak Nicho.


"Biar sajalah ia mau mengecapku wanita apa. Yang penting perutku kenyang. Nilai dimata pria itu belakangan saja" Gumamku dalam hati.


"Ahhh enak" Aku mengelus perutku yang membuncit karena telah menghabiskan dua kotak nasi sepagi ini. Tidak seperti biasanya perutku lapar sekali,hingga bisa menampung segitu banyaknya makanan.


Mata biru Kak Nicho menatapku dalam. Membuatku salah tingkah.


Ohh iya. Aku lupa tugasku.


"Kak,apakah Putri sudah sembuh kok Kak Nicho tidak mengajakku merawatnya sih" Tanyaku. Kedua tangannya menyilang di atas meja.


Ia menghela nafas panjang. Hanya tatapan dalam yang terus-terusan ia layangkan ke arahku.

__ADS_1


"Oke sekarang karena kamu sudah kenyang sini duduk sini dekat Kakak!" Ia menepuk-tepuk soffa di samping tempat Kak Nicho duduk. Bagai tersihir,aku menurut.


Ia meraih tubuhku dan mendudukkanku di pangkuannya.


Aku berteriak memekakkan telinga.


Apa sih yang akan dilakukan singa mesum ini?


Apa masih kurang yang semalam sampai-sampai kancing piyamaku lepas semua.


Ia memelukku erat sekali hingga membuatku sulit bernafas. Terlebih lagi perutku kekenyangan membuatku merasa ngap.


"Kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam?"


Aku menggeleng.


"Serius?"


Aku mengangguk.


"Beneran?!"


Aku mengangguk.


Takk!


Ia menyentil keningku.


Aku meringis. Tanganku langsung mengusap bekas sentilannya.


"Ck bisa-bisanya gadis centil ini melupakan aksi nakalnya semalam yang membuatku menahan nafas sampai tidak bisa tidur!" Katanya dengan raut wajah yang kecewa.


"Maksudnya?" Aku berpikir keras mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Seingatku aku tidak meminum wine. Lalu kenapa aku sampai tidak ingat apapun?


"Hah baiklah gadis centil,Kakak akan cerita. Dengarkan baik-baik!"


Aku mengangguk. Aku mencoba bangkit dari pangkuan Kak Nicho namun tertahan olehnya. Ia menggeleng.


*Flashback


Nicho Pov.


Rasa kecewa dan sesal terus berputar di otakku. Gadis yang aku cintai begitu labil. Sosoknya memang menggemaskan tapi untuk ukuran gadis seusianya bukan lagi menggemaskan melainkan menyebalkan.


Aku paham betul ia hanya belum pandai mengendalikan diri. Tapi naluri kelakianku terkadang meronta tidak sabar menghadapi sikapnya yang kekanakan.


"Lho Kak,Tiara mana?" Tanya Nina.


"Ohh kebetulan sekali Pak Candranya sedang keluar Kak. Kakak mau menunggu atau titip pesan saja?" Tanya Nina.


Ia mengelap keringat yang membasahi wajah Putri. Ruangan ini ber AC tapi entah mengapa tubuh Putri terus-terusan mengeluarkan keringat.


Meskipun Nina bukanlah orang yang mengenal dekat Putri tapi jiwa kepeduliannya begitu tinggi. Aku sangat salut. Ia cukup dewasa dan bijak.


"Sebentar Nin aku panggilkan suster dulu. Aku heran mengapa Putri terus-terusan berkeringat. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya"


"Tunggu,Kak. Putri justru barusaja minum obat Kak. Dia menanyakan Kak Nicho tadi. Aku jawab kalau sedang berganti baju"


"Ohh"


Kupandangi wajah Putri. Ia begitu cantik. Auranya begitu memukau,namun sayang ia enggan membuka hatinya untuk pria lain. Sama sepertiku yang tidak mau membuka hati untuknya.


Putri sosok wanita yang kalem. Ia juga bijaksana dan dewasa. Ia berbicara lewat senyumannya saat bersamaku. Aku tahu rasa cintanya membuatnya canggung saat berhadapan denganku. Akan tetapi gurat kebahagiaan terus terpancar di wajahnya yang ayu.


Sebenarnya aku tidak menyukai posisi ini. Peran ini untuk merawat Putri. Terlebih lagi sikap Tiara yang kadang mudah terbawa cemburu membuatku tidak nyaman.


"Aku melakukan ini demi tanggungjawabku sebagai sesama manusia" Aku terus-menerus menenangkan diriku dengan motivasi itu.


"Panas. Ka,kaakk panas sekali" Ucapnya lirih. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.


Aku bingung harus bagaimana? Melihatnya merancau tak karuan membuatku tidak tega.


"Apa Pak Candra tahu kalau Putri seperti ini?"


"Iya Kak. Justru Pak Candra yang memberitahu kalau efek obatnya akan membuat Putri kepanasan"


Nina mengelap keringat yang menetes.


Aku bingung harus bagaimana sedangkan aku tak ingin meninggalkan Tiara sendirian di hotel dalam kondisi yang sedang salah paham. Aku khawatir Tiara akan merajuk semakin lama.


Tanpa pikir panjang aku segera menemui Suster di ruangannya.


"Ahh sial!" Ruangan Suster kosong. Aku mencoba memanggilnya berkali-kali tapi nihil. Aku terus berdiri di depan ruangan itu untuk menunggu mungkin mereka sedang berganti shift malam.


Tiga puluh menit menunggu. Akhirnya aku kembali ke ruang rawat Putri.


"Darimana saja kamu?!" Tanya Pak Candra.

__ADS_1


"Maaf Pak. Saya baru saja menunggu Suster di ruangannya. Saya tidak tega melihat Putri kepanasan seperti itu" Jawabku dengan sopan.


Kharisma di wajahnya yang tampan masih terlihat jelas meskipun usianya sudah tak lagi muda. Ia begitu tegas dan disiplin. Terlihat pula bahwa ia sangat menyayangi putrinya.


"Putri akan begitu selama tiga jam. Kita saja yang harus peduli untuk mengelap keringatnya. Itu efek obat. Aku tidak tega melihatnya makanya aku keluar sebentar" Jawabnya.


Obat apa yang memberikan efek samping seperti ini? Apakah Putri demam? Seingatku sebelum aku tinggal,ia sama sekali tidak demam. Lalu mengapa bisa seperti ini?


Aku meraih kain di tangan Nina. Aku berniat menggantikan Nina mengelap keringat yang menetes.


Tangan lentik Nina menahanku.


"Biarkan aku saja,Kak!" Aku menganggguk.


"Kamu sebagai pria jangan hanya diam saja. Gantikan gadis itu mengelap wajah Putri. Dasar pria tidak tahu belas kasih!" Ku lihat Pak Candra sedang kesal.


Tanpa menjawab sepatah katapun,aku menggantikan Nina duduk di depan Putri.


"Kak. Panas sekali" Rengek Putri saat ia tahu aku berada di sampingnya.


"Iya. Sabar sebentar ya" Jawabku dengan mengelap keringat yang mengucur di wajahnya.


Tangannya menggenggam erat jemari tanganku. Aku sengaja membiarkannya. Jika saat ini Tiara ada,aku pastikan ia akan memasang wajah kesalnya.


Senyum merekah di wajah cantiknya. Gadis yang telah lama dicintai sahabatku,Fernand. Aku membalas senyumnya. Bagaimanapun biasanya kami kemana-mana selalu bertiga. Aku,Putri dan Fernand. Kami cukup dekat. Mereka berdua adalah sahabat baikku.


"Cobalah untuk memejamkan mata. Mungkin jika kamu tertidur,kamu tidak akan kepanasan" Kataku mencoba menghiburnya.


"Tapi Kakak janji tunggui aku sampai aku bisa tidur?" Pintanya.


Jauh di lubuk hatiku,aku sangat mengkhawatirkan Tiara.


"Kak. Bisakan?!" Tanyanya kembali.


Aku mengangguk ragu.


Hotel tempat Tiara bermalam memiliki kode akses keamanan yang tinggi. Aku rasa tidak akan terjadi apa-apa jika aku baru kembali ke hotel nanti-nanti.


Setelah beberapa jam seperti yang Pak Candra katakan tadi,akhirnya keringat Putri berhenti mengucur. Aku lihat ia tampak tenang sekarang.


Seorang Suster datang dengan membawa baju ganti untuk Putri.


"Nin,tolong jaga sebentar. Aku menunggu di depan" Kataku sebelum keluar ruangan. Tidak mungkin aku ada di dalam saat Putri berganti baju pasien.


Pak Karman menyusul di belakang.


"Pak tolong malam ini gantikan saya menjaga Putri ya. Saya mau menemani Tiara di hotel. Ada sedikit masalah tadi"


"Baik Tuan"


"Tunggu sampai besok saya datang ya Pak. Besok Daniel juga akan datang ke sini menjenguk Putri"


Aku menyilangkan kedua tanganku di dada. Hawa dingin malam ditambah dingin AC menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Aku terburu-buru sampai tidak memakai baju tebal.


"Siap Tuan" Jawabnya sopan.


Beberapa menit kemudian Suster keluar. Aku dan Pak Karman masuk.


"Apa sudah mendingan,Put?" Tanyaku.


Aku memilih duduk di samping Putri seperti sebelumnya. Nina mengawasiku duduk di soffa. Begitu pula Pak Karman.


Pak Candra memperhatikan setiap gerak gerikku dari jauh. Ia duduk di dekat jendela. Menyembunyikan wajahnya dengan selembar koran yang tengah ia baca.


"Iya,Kak" Jawabnya dengan meremas tanganku. Rona bahagia jelas terlihat di wajahnya.


"Tidurlah. Sudah malam. Saatnya kamu istirahat"


Aku ingin segera kembali ke hotel. Hatiku gelisah meski aku tahu Tiara aman di sana.


"Aku belum mengantuk Kak" Ia merengut.


Aku menghela nafas panjang. Bingung harus bagaimana?


"Kakak,aku mencintaimu. Sa-ngat mencintaimu. Jadilah milikku,Kak. Aku yakin kita bisa hidup bahagia bersama" Ia menatapku dengan pandangan yang begitu memelas.


Ia gadis cantik,perangainya juga baik. Ia lahir dari keturunan konglomerat. Tidak ada cacat sedikitpun di hidupnya,lalu mengapa cintanya hanya tertuju padaku? Sedang ia tahu pasti jika aku sangat mencintai Tiara.


"Ohh God. Apa yang harus aku katakan padanya?" Tanyaku dalam hati.


"Ehm.. apa masih belum mengantuk? Aku sedikit mengantuk,Put"


Putri menggeser tempatnya berbaring menyisakan ruang. Ia memberi isyarat untuk tidur di sampingnya.


Tentu saja aku menolaknya. Jika ia adalah Tiara dengan senang hati aku akan menemaninya. Bahkan tanpa ia minta.


Terpaksa aku mengelus puncak kepala Putri untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Tidurlah. Kamu baru masa penyembuhan harus banyak-banyak istirahat. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Jangan stress memikirkan hal yang tidak penting kesehatanmu adalah yang utama" Jawabku.


Aku merasa risih dengan tatapan matanya yang begitu bahagia saat aku mengusap puncak kepalanya. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin memberikan kontak fisik lebih kepadanya. Aku tidak ingin memberinya harapan dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya akan semakin mendamba.


__ADS_2