
Aku kembali memejamkan mata. Dan aku merasakan tangan Pak Nicho mengelap air mata yang menetes tak tertahankan di pipiku. Sentuhan tangannya lembut. Aroma nafasnya yang menyegarkan dan terdengar lembut di telingaku,berbisik lirih.
"Kau mengingatkanku kepada seseorang yang sangat aku cintai,Tiara"
Deg.
Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar bisikan Pak Nicho. Seketika itu aku membuka mata. Wajahnya tepat berada di depanku sangat dekat. Detak jantungku semakin tak beraturan melihat tatapan matanya.
Pak Nicho mencium pipiku tiba-tiba tanpa ijin. Heyyy!!! Ini pelanggaran!!! Jantungku seakan melompat keluar. Tanganku gemetar,aku sangat gugup.
Belum sempat aku menata hatiku untuk tenang. Pak Nicho mengucapkan kata-kata yang membuatku membeku.
"Tiara,aku mencintaimu" ucapnya lirih.
Sebuah pernyataan yang aku tunggu sekian lamanya. Rasa cintaku untuknya tidak pernah berubah sesentipun. Aku sangat menantikannya. Aku sangat merindukannya. Tapi benarkah dia adalah Kak Nichoku? Kakakku?! Bukankah wajahnya sama. Perawakannya juga sama. Suaranya. Sikapnya. Semuanya sama.
Mungkinkah aku terlalu berkhayal yang tidak-tidak. Mungkin karena aku masih belum bisa untuk berdamai dengan keadaan sehingga aku berhalusinasi. Aku yakin sekarang Kak Nicho dan Putri sudah hidup bahagia.
Aku mencubit tanganku sendiri. Rasanya sakit. Berarti ini bukan mimpi?
"Maafkan sikapku yang kurang sopan" tatap matanya nanar. Aku menatap Kak Nicho.
"Tapi kamu harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu,Tiara" suaranya terdengar sangat lembut di telingaku. Mungkin jika Pak Nicho belum menikah,pernyataan cinta ini akan membuatku menari-nari seperti orang gila karena terlalu bahagia. Tapi mengingat dia telah menikah,pernyataan ini bagai seribu pedang yang menusuk relung jiwaku.
"Ma...maksud Bapak a..apa?" tanyaku gugup. Aku berusaha membuka paksa pintu mobil.
Pak Nicho mendekatkan.
"Boleh aku memelukmu,Tiara?"
"Kumohon sekali saja" pintanya kembali.
__ADS_1
Jantungku semakin berdebar kencang,tubuhku gemetar dan raut wajahku berubah merah karena ketakutan.
Bukankah ini moment yang sangat aku tunggu. Tapi mengapa aku begitu ketakutan?
"Its OK. Aku ga ada maksud untuk membuatmu takut jadi tolong jangan menatapku dengan tatapan ketakutan seperti itu. Aku mencintaimu Tiara,Mutiara Sari. Gadis cantik kelahiran Jogja 25 tahun silam. Yang sudah 5 tahun meninggalkan keluarganya di saat ulang tahunnya yang ke 20 tahun" suaranya parau dan aku bisa menebak jika saat ini Pak Nicho menitikkan air mata.
Kaa...kaaakkk...
Aku ingin berhambur memeluknya. Betapa aku sangat merindukannya. Ohh... Tuhan... aku sudah melangkah jauh hingga ke kota ini. Aku juga telah melangkah jauh untuk membuang butir-butir harapan tentangnya. Tapi mengapa Engkau mendatangkannya kembali kehadapanku dengan status yang berbeda.
Aku dan Putri sama-sama wanita. Seberapapun inginnya aku untuk mencintai Kak Nicho,aku kan mengalah demi kebahagiaan wanita lain. Terlebih wanita itu yang telah dia pilih sendiri.
Aku mendongakkan wajahku. Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya. Aku melihat matanya yang berubah merah dengan sekumpulan mendung air mata di ujung matanya hendak menetes. Mungkinkah dia diam-diam memendam rasa cinta yang sama untukku?!
Aku menundukkan kepalaku. Aku tidak sanggup melihatnya menangis. Lalu tanpa sadar aku menangis tersedu-sedu. Aku berharap ini mimpi tapi aku juga berharap ini benar sebuah kenyataan. Mimpi bahwa Kak Nicho sudah beristri. Dan kenyataan bahwa dia telah menyatakan cintanya kepadaku dan menciumku. Aku tak bisa membedakan mana itu mimpi,mana itu kenyataan. Terlalu sakit untuk dianggap kenyataan.
Nicho Ramadhan sosok pria yang selama 5 tahun ini aku kubur dalam-dalam di relung hatiku. Tidak ada seorangpun yang mengetahui betapa aku sangat mencintainya setibaku di Jakarta. Bukan kepada Nina sahabat baikku atau bahkan kepada Sela aku bercerita. Aku memendamnya sendirian. Aku ingin memulai hidup baru setibaku di Jakarta,hidup baru,hidup tanpa cinta seorang pria.
Aku mencintaimu,Kak. Aku merindukanmu .
Tangan kanan Pak Nicho mengusap air mata yang jatuh di pipiku.
"Kamu jelek kalau lagi nangis" Pak Nicho tersenyum meledekku.
Aku hanya terdiam tidak menanggapinya sama sekali. Suasana dalam mobil ini berubah canggung. Aku masih berkutat di alam pikirku.
"Ehm...." Pak Nicho berdehem.
"Kita udah sampai rumah kamu,Tiara. Cepat istirahat,jangan tidur malam-malam"
Aku tersadar dari berbagai macam pikiran yang tidak jelas. Aku membuka pintu mobil. Aku mengucap terimakasih meski tanpa melihat ke arahnya.
__ADS_1
Aku berlari menuju kost. Aku kembali menangis. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa ucapan terima kasih atau basa-basi. Aku sama sekali tidak menengok ke belakang.
Aku ingin segera mandi dan melepaskan semua penat ini. Meski aku tahu pernyataan cinta Pak Nicho akan membuatku sulit untuk memejamkan mata.
*****
Esok paginya aku sudah rapi dengan seragam khas office girlsku. Celana panjang berwarna navy,kemeja dengan warna biru langit. Tas ransel lusuh. Dan sepatu kerja hitam tentunya. Seperti biasa aku berangkat jam 6 pagi. Dan biasanya aku sampai di tempat kerjaku 30 menit
kemudian. Begitu hari-hari seterusnya.
Aku pulang kerja jam 7 malam sampai rumah. Terkadang jam 9 baru sampai,jika sedang banyak rapat vip.
Semenjak Pak Nicho menyatakan cinta kepadaku beberapa hari yang lalu,aku memilih untuk menghindarinya. Saat dia menelponku,aku sengaja tidak mengangkatnya. Aku tidak mungkin memblokir no handphonenya bagaimanapun dia adalah atasanku di Kantor. Aku menghargai dan menghormatinya.
Detak jantungku tidak menentu setiap aku teringat pernyataan cinta darinya. Yaahh bisa dibilang itu adalah pernyataan cinta yang aku tunggu seumur hidupku oleh orang yang seumur hidupku aku cintai.
Hari ini aku mendengar kabar jika Pak Nicho akan dinas keluar selama 1 minggu. Puuuhhhh..... Aman rasanya. Aku tidak perlu main petak umpet lagi selama beberapa hari ini. Tidak sulit untuk mendapatkan kabar terbaru dari Pak Nicho karena dia sangat popoler di kantor ini.
Aku tersenyum geli. Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha menepis pikiran tentangnya dan kembali bekerja.
"Ra... malam ini nginep ya di rumah gue. Nyobap-bokap gue lagi ke Bandung. Jenguk nenek. Temanin aku ya. Please..." tutur Sela memohon.
Sela itu penakut. Dia akan mengajakku untuk menginap di rumahnya saat orangtuanya bepergian. Sella terkenal dengan sifatnya yang urakan tapi dia itu lugu.
"Iya deh,tar aku bilang dulu ke Nina ya"
"OK,thanks baby" jawab Sela sambil mencium pipiku.
"Ihhh... apaan sih Sel. Geli tau" aku bergidik mengingat ciuman pipi Sela barusan.
"Ha... Haa..... biasa aja keleesss..."
__ADS_1
Aku berusaha memukul Sela. Dengan gesit Sela menghindar. Kami saling berkejaran.
Terdengar suara pria berteriak.Siapa itu???