I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
SAAT MALAM ITU...


__ADS_3

Aku merasa risih dengan tatapan matanya yang begitu bahagia saat aku mengusap puncak kepalanya. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin memberikan kontak fisik lebih kepadanya. Aku tidak ingin memberinya harapan dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya akan semakin mendamba.


Akhirnya Putri terlelap tidur. Pak Candra juga telah berbaring di ranjang tunggu pasien. Pak Karman terlihat manggut-manggut,ia duduk sambil terkantuk-kantuk di soffa. Nina sepertinya masih bertukar pesan dengan pacarnya,ia sibuk sekali mengutak-utik handphone.


Perlahan aku geser tangan Putri yang menggenggam erat tanganku. Sedari tadi ia terus memegang tanganku,membuatku tidak bisa memberi Tiara kabar.


Dengan hati-hati aku melangkah menuju soffa tempat Nina duduk.


"Nin,mohon bantuannya ya. Aku ke hotel dulu. Kalau ada apa-apa segera kabari aku" Kataku lirih tapi masih bisa terdengar.


"Oke Kak. Serahkan semuanya kepada kami. Pak Kar-"


"Ssstttt" Aku mengisyaratkan untuk tidak membangunkannya.


Nina mengangguk.


Setelah berhasil keluar dari ruang rawat inap Putri,aku melangkah dengan tergesa-gesa. Berulang kali aku mendengar Tiara memanggil namaku. Padahal aku yakin di hotel itu aman tapi entah mengapa aku terus-terusan berhalusinasi mendengarnya memanggilku.


Kebetulan sekali saat aku check in,ruang hotel tinggal tersisa satu saja di ruang vip lantai teratas.


Setibaku di lantai 5,aku langsung berlari menuju kamar Tiara yang terletak di pojok kanan.


Aku mengeluarkan kartu akses. Saat aku akan menempelkan kartu itu,tiba-tiba handphoneku berdering.


Panggilan dari no yang tak di kenali?!


Aku mengabaikannya. Jika itu adalah panggilan yang sangat penting,aku jamin ia akan kembali menghubungiku. Ini juga sudah terlalu larut. Aku mengubahnya dengan mode silent agar tidak berisik.


Keamanan hotel ini memang bagus tapi lebih baik lagi jika aksesnya diganti dengan pin. Sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke kamar.


Tumben aku terlalu banyak komentar?!


Mungkin itu terjadi karena aku tidak pernah meninggalkan Tiara. Sejak Tiara menerimaku,aku tidak pernah membiarkannya sendirian. Meski aku tahu tidak selayaknya pasangan yang belum resmi itu tinggal satu rumah. Toh ada Mom dan Dad,ada Bapak dan Ibu juga. Aku tahu batasan meski itu sulit.


Tanpa pikir panjang lagi,aku segera membuka pintu hotel.


Aku terperanjat saat melihat ranjang hotel berantakan dengan selimut yang sudah tak karuan bentuknya. Ku lihat beberapa kancing berceceran di lantai.


Gadisku tergeletak di atas kasur dalam keadaan kacau balau. Diaa!


"Tiara!" Aku menghampiri dirinya. Ku sandarkan tubuhnya di divan ranjang.


"Tiara apa yang terjadi?"


Kancing yang berceceran itu ternyata milik Tiara. Sepertinya ada orang yang mencoba bertindak kurang ajar kepadanya.


"Berani-beraninya ia melakukan ini kepada wanitaku!" Teriakku dalam hati.


"Kak gerah sekali"


Ia mengibas-kibaskan tangannya untuk menghalau panas di tubuhnya.


Pantas saja AC nya mati.


"Iya sayang aku nyalakan AC nya ya"


Mataku menyapu seisi ruangan. Aku mencari dimana remot kontrol AC nya berada rupanya terletak di samping nakas ranjang.


"Kak,pe,peluk aku"


Ia kegerahan tapi memintaku untuk memeluknya? Sepertinya ada yang aneh dengan dirinya. Tapi aku ingin menenangkan dirinya dengan pelukan. Kuraih tubuhnya. Lalu kupeluk erat.

__ADS_1


Harus aku akui aku tergoda dengan pemandangan yang tak biasa aku lihat. Ini pertama kalinya aku melihat Tiara membuka bajunya hingga nampak penutup dadanya. Aku ini pria dewasa yang normal tentu saja aku tergoda.


Jemari tangan Tiara mencoba membuka kancing kemejaku. Ia berhasil membukanya. Aku yakin ia dalam keadaan tak sadar dengan perlakuannya. Apalagi kulihat ia berkeringat,badannya panas.


Jika tidak salah ia telah diberi obat perangsang oleh penjahat itu.


"Brengsek!" Makiku dalam hati.


Aku melerai pelukan Tiara. Ia terlihat kesal saat aku menjauhinya. Tangannya terus menerus meraba bagian dadaku. Itu membuatku tak karuan rasanya.


Aku harus meminta tolong kepada Pak Karman untuk membelikan Tiara obat tidur. Sepertinya aku juga harus membelikan Tiara air mineral yang baru. Aku khawatir air di sini juga telah dicemari oleh penjahat itu.


Tanpa pikir panjang,aku langsung meminta bantuan Pak Karman. Aku tidak ingin membuat Pak Karman khawatir oleh sebab itu aku hanya mengirimkan pesan singkat kepadanya.


Tubuh Tiara terus bergerak liar. Ia menggodaku dengan menyentuhku sehingga membuat sensasi aneh di tubuhku.


"Sial! Jika terus-terusan begini aku bisa saja langsung menerkamnya!" Runtukku dalam hati.


Aku tidak ingin melakukan itu di saat Tiara hilang kesadaran seperti ini. Aku yakin,ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Mana mungkin Tiara yang sadar akan seliar ini.


"Tiara tahan sebentar"


Ia terus-terusan mendekatiku meski aku mencoba menghindarinya. Ia pula mencondongkan wajahnya mendekatiku berniat untuk menciumku. Jika saja Tiara yang asli akan seperti ini,mungkin kami akan melakukannya berulang kali. Sayangnya,ia bukan tipe wanita yang seperti itu.


Sikapnya benar-benar membuatku marah saja!


"Kakak kenapa tinggalin Tiara. Tiara sudah tak tahan Kak" Rengeknya.


Pria mana yang akan tahan dengan godaan sebesar ini. Di mana wanitanya yang telah ia jaga justru melemparkan dirinya sendiri ke kandang singa? Tapi aku bukan pria bejat yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


"Tiara tolong tahan sebentar. Aduuhh!" Kataku dengan menguyar rambutku.


Pertahananku runtuh. Bagian inti tubuhku telah terbangun. Aku harus menjauhi Tiara. Harus!


Aku rasa arah jarum jam enggan untuk berputar. Menunggu Pak Karman seperti menunggu turunnya hujan di musim kemarau. Aku sudah tidak tahan lagi dengan godaan Tiara.


"Maaf Tiara aku tidak bermaksud mengabaikanmu justru aku menolongmu agar kita tidak tersesat di jalan yang salah" Gumamku dalam hati.


Ia adalah wanitaku yang sangat aku cintai. Meskipun aku sering menggodanya,tapi jujur aku tidak memaksanya untuk memberikan kesuciannya kepadaku saat itu pula. Aku tahu segala sesuatu ada prosedurnya termasuk dalam urusan ini.


Aku hanya bisa mondar-mandir di depan pintu kamar. Berharap Pak karman segera datang sebelum Tiara melancarkan aksinya untuk menggodaku.


Benar saja gadisku mengikutiku menuju pintu. Ku lihat jalannya sempoyongan. Saat aku berpelukan dengannya,aku merasakan tubuh Tiara panas. Seperti demam.


Dengan galak aku melarangnya,"Tiara duduk di sana!"


Ia beringsut kembali naik ke atas ranjang. Ku lihat air matanya menetes di pipinya. Mungkinkah aku terlalu keras?!


"Maaf Tiara,maaf! Bukan maksudku membuatmu menangis" Kataku penuh penyesalan.


Aku mengancingkan kemejaku yang tadi sempat Tiara buka. Bisa gawat jika Pak Karman tahu,bisa-bisa ia berpikiran negatif tentang kami.


Ku lihat di monitor ada sosok pria yang menuju kamar ini. Fiiuuhh... Akhirnya Pak Karman datang juga,aku membukakan pintu kamar sedikit. Aku tidak ingin orang lain melihat Tiara dalam keadaan kacau seperti ini.


"Ini Tuan" Katanya dengan menyodorkan satu tas plastik.


"Terimakasih Pak" Jawabku.


"Apa yang terjadi dengan Nona Tiara?" Tanyanya panik.


"Tidak Pak. Ia hanya kesulitan tidur. Pak Karman bisa kembali ke rumah sakit. Saya nitip Putri ya Pak. Terimakasih" Jawabku dengan kata-kata seperti mengusir secara halus.

__ADS_1


"Iya Tuan. Saya permisi"


Pria tua itu membalikkan badan lalu berjalan menuju lift.


Untung saja ada orang yang bisa dimintai tolong,jika tidak bagaimana caranya aku membeli obat ini tanpa harus meninggalkan Tiara di kamar?


"Alhamdulillah ya Allah"


Aku mendekati Tiara. Ia masih menangis tersedu-sedu di sana. Aku memintanya untuk meminum dua pil sekaligus. Meski sedikit memaksa. Sepertinya ia teringat sesaat kejadian tadi saat penjahat itu tengah memaksanya minum sebuah pil. Ia hendak berontak.


Untunglah ia berhasil minum dan sepertinya obat ini sangat mujarab. Mata Tiara seakan berat untuk terbuka. Ia terkulai lemah di kasur dengan baju piyama yang masih terbuka. Aku menutupi tubuhnya dengan selimut.


Kini giliran aku yang harus menuntaskan hasratku sendiri. Aku masuk ke kamar mandi setelah memastikan Tiara aman dan tak ada seorangpun yang mencurigakan masuk.


Pagi nanti aku akan mengecek cctv hotel ini. Sekaligus aku akan melapor bagaimana bisa penjahat masuk ke kamar ini jika bukan karena ia memiliki kartu akses hotel. Ck sepertinya ke depannya aku tidak akan meninggalkan Tiara sendirian.


Setelah aku menuntaskan urusanku selama beberapa menit di kamar mandi,aku beranjak menaiki ranjang kasur. Ku lihat wajah cantik gadisku yang tenang. Saat tertidur pulas begini,ia terlihat keibuan meski sifatnya masih kekanak-kanakan.


"Gadis nakal. Bisa-bisanya tidur lelap setelah membuatku menginginkanmu lebih" Aku mengecup singkat keningnya.


*Flashback off


Nicho Pov End


*****


"Haaa!" Aku terperanjat. Aku meraba-raba dadaku sendiri.


"Kakak, aku telah ternoda hiks... bagaimana ini ?" Air mataku lolos membasahi pipi.


"Apa sakit?" Tanya Kak Nicho.


"Maksud Kakak?" Tanyaku. Aku tak mengerti apa yang ia maksud?


"Apa kamu merasakan sakit dibagian tertentu?"


"Ohhh... aku kira apa Kak? Ga ada yang sakit. Aku hanya lapar saja setelah bangun tidur"


Kak Nicho menghela nafas panjang.


"Syukurlah. Ayo kita ke bawah untuk melapor"


Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Panggilan dari Dellis?


"Sebentar Kak,aku angkat telepon dari Mba Dellis dulu ya"


"Hallo Mba"


"Tiara,aku sudah di lobby hotel. Aku ke atas sekarang ya?" Katanya dari sebrang telepon.


"Ok Mba"


Aku mematikan sambungan telponnya.


"Kak,Mba Dellis sudah sampai. Aku takut jika hanya berdua dengan Mba Dellis saja. A,aku ta-"


"Ssttt... Kak Nicho temani kamu,Tiara. Jangan khawatir" Katanya dengan mengelus rambutku.


Mata biru yang selalu menatapku teduh. Senyum di bibir tipisnya yang selalu terlukis untukku. Mata elangnya yang menatapku penuh kemesraan. Pria ini kekasihku? Terkadang aku tidak percaya dengan semua ini. Pria yang dulu selalu aku mimpikan menjadi kekasihku,kini tepat di sampingku menatapku penuh kasih.


"Kak,aku takut pria itu sudah macam-macam kepadaku. A,aaku ti-"

__ADS_1


"Jangan diingat-ingat!" Katanya dengan sorot mata penuh amarah.


__ADS_2