
Kak Nicho berdiri. Dengan lantang Kak Nicho mengucap kata-kata yang membuat aku kaget.
"AAARRRHHHH....... ITU KANTORKU,TIARA! ITU PERUSAHAANKU! GAK BISA ANAK BUAH BERBUAT SEMAU DIA SENDIRI. AKU BOS NYA! AKU PUNYA HAK!!!"
Kulihat tatap matanya memerah antara amarah,kebencian dan air mata menyatu disana. Tangannya mengepal sempurna menahan gejolak untuk memukul.
Apa Kak Nicho bilang?????
Kantornya? Perusahaanya? Boss?!
Benarkah?!
Mungkinkah Kak Nicho anak Pak Presdir seperti yang tadi Mas Seto bilang?! Pak Adiputra?!
Bukankah memang nama lengkap Kak Nicho adalah NICHO RAMADHAN ADIPUTRA?!
Benarkah?! Orang tua Kak Nicho adalah konglomerat pemilik perusahaan properti terbesar ?
Sorot mata teduh yang ia miliki berubah menjadi sosok sang tiran yang haus darah. Aku merinding. Tapi aku ingin berlindung kepadanya pula.
Aku menghambur menuju Kak Nicho berdiri. Aku memeluknya dari belakang. Dalam pelukan aku menangis terisak. Ku gapai kedua tangan Kak Nicho,aku menggenggamnya erat.
"Kak,jangan marah. Tiara takut"
Ketakutan ini membuatku menangis.
Huuu...huuu.... huuuu... tangisku pecah. Sesak di dadaku bagai ditusuk duri sembilu. Isak tangisku semakin kencang. Nafasku terbata-bata seolah jantungku berhenti berdenyut.
Kak Nicho mengurai pelukanku. Dia menggendongku ala bridal,membawaku ke ranjang kasur. Aku didudukkan di sana.
Tampak tangan Kak Nicho mengambil sebotol air mineral kemudian menyodorkanya kepadaku. Aku meminumnya. Isak tangisku sedikit mereda.
"Aa..kuu... hiks taa... hiks... kut. Kaa... kak hiks... ma... marah begini... huuawwaaa"
Aku tidak berani menatapnya. Wajahku merahpadam ketakutan,bibirku bergetar. Aku tahan isak tangis yang tersisa. Terbesit rasa takut kalau-kalau Kak Nicho memukulku karena aku terlalu berisik.
"Its OK,Maafkan aku" Kak Nicho mendekapku erat.
Dia merebahkanku di kasur. Menyelimutiku lalu memelukku erat dalam dekapannya. Aku merasakan ketenangan yang luar biasa saat aku berada dalam dekapannya seperti ini. Kekasihku pertama dan terakhir dalam hidupku. Ketenangan yang kurasakan menghantarkanku ke dalam mimpi yang sempurna. Aku terlelap dalam buaian alam mimpi.
Pagi hari.......
Aku terbangun jam 4 pagi. Kulihat Kak Nicho masih terlelap. Tangannya masih memelukku,aku geser perlahan. Aku takut membangunkannya. Tubuhku semakin kuat dari hari sebelumnya. Aku segera ke kamar mandi.
20 menit kemudian aku sudah selesai mandi tapi sayang aku sama sekali tidak ada baju untuk kerja. Seragam yang aku kenakan saat pingsan sepertinya masih di laundry. Aduhhh... gimana ini? Untuk ganti setelah mandi saja aku tidak ada. Yaa.... terpaksa aku harus meminjam kaos oblong Kak Nicho.
__ADS_1
Aku berjalan perlahan menuju waredrobe. Aku mengambil kaos oblong putih bertuliskan "nike" . Karena ukuran kaosnya yang terlalu besar,aku hanya perlu memakai hotpans untuk menutupi pahaku.
Kak Nicho seertinya sudah terbangun. Aku lihat tangannya meraba-raba kasur sebelahnya,bekas aku pakai untuk tidur. Karena kosong,dia terperanjat kaget. Segera Kak Nicho terbangun dan menoleh ke seisi ruangan.
Tatapan mata kami bertemu. Aku tersenyum lalu menyapa.
"Selamat pagi,Kak"
"Selamat pagi sayang. Gimana kondisimu?" jawab Kak Nicho seraya melambaikan tangan memanggilku.
Aku mendekat. Duduk di tepi ranjang. Kak Nicho menempelkan tangannya ke dahiku. Perlahan aku mendekati telinga kanannya dan berbisik.
"Kak Nicho jelek,belum mandi sih" ledekku.
"Ouugghhh...Kakak!" dia menyentil telingaku.
"Syukurin" jawabnya.
Dia berjalan menuju kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi Kak Nicho menoleh kearahku dan berkata," Itu hukuman karena udah ngatain aku jelek!" Kak Nicho mengerlingkan sebelah matanya.
Aku spontan melempar nya dengan bantal.
Brruukkk....
Tapi terlambat. Kak Nicho sudah masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mandi.
Aku menuju dapur untuk membuat menu sarapan.
"Yaaahhh... kulkasnya kosong. Boss Adiputra miskin amat. Kulkas aja sampai kosong!" gerutuku.
Aku hanya mendapati roti tawar,telor dan selada. Setidaknya cukuplah untuk membuat sandwich. Dari dapur terdengar suara Kak Nicho bersenandung merdu. Sudah lama aku tidak mendengarnya. Biasanya Kak Nicho akan konser di kamar mandi saat suasana hatinya baik.Aku menggelengkan kepala.
Aku memanggang roti yang sudah aku olesi dengan mentega. Sambil menunggu roti matang aku bersiap untuk menggoreng telor. Sandwich dengan toping isi daun selada,telor matasapi diatasnya,keju slices,saus delmonte dan mayonaise. Lebih mantap lagi jika ada bawang bombay dan irisan timun atau tomat. Tanpa itupun sandwich buatanku pasti lezat. Aku tersenyum puas.
"Yeaayyy.... tinggal buat susu deh. Breakfast ala Tiara"
Tiba-tiba saja sepotong daging tanpa tulang mendarat halus di pipiku. Oh My.... Kak Nicho mencium pipiku. Jantungku berdebar tidak karuan. Kedua tangan Kak Nicho memelukku posesif dari belakang. Aku semakin malu.
"Apain sih Kaaakkk! Buat aku jantungen. Mau Tiara mati muda?!" kulepaskan tangan Kak Nicho. Saat aku membalikkan badan Kak Nicho menangkupkan kedua tangannya di wajahku.
"Dangan dandu tiaya" aku meletakkan piring sandwich di meja bar. Lalu mencubit perut Kak Nicho.
Ougghhhhh... terdengar lengkingan panjang darinya.
Aku segera berlari menjauhinya. Sebelum melangkah jauh,aku menjulurkan lidah ke arah Kak Nicho. Mengejeknya. Aku kembali berlari ke arah sofa di ruang tv. Kak Nicho dengan gesit menarik kaos belakangku. Aku meronta-ronta.
__ADS_1
"Lepasin ga Kak. Ga Tiara kasih jatah loh!" ucapku setengah berteriak. Yang aku maksud jatah sarapan tapi Kak Nicho berpikir nakal.
Kak Nicho melepas tarikan kaosku. Dia mensejajari aku berjalan ke arah sofa. Aku mengerucutkan bibir. Kesal.
Kak Nicho sudah duduk di sofa. Aku juga duduk. Kira-kira 1 meter jarak kami. Aku meliriknya. Kemudian memasang wajah cemberut. Kekanak-kanakan memang tapi hanya dia tempatku bisa terus bermanja-manja.
"Ehmmm.... jatahnya mana?" tanya Kak Nicho sambil menepuk-nepuk bibirnya dengan telunjuk.
Aku cuek saja. Aku memasukkan sandwich ke mulutku dengan mulut terbuka lebar. Haapp....
Kak Nicho kesal lalu menyomot sandwich yang aku makan kemudian memakannya lahap.
Aku marah kesal kupukul bahu Kak Nicho berkali-kali.
"Ihhh... kan Tiara bilang ga ada jatah buat Kakak. Balikin sandwichku"
Aku hendak merebut sepotong sandwich yang tersisa tapi naas Kak Nicho melahapnya tanpa sisa.
Aku tersadar masih ada 1 sandwich lagi di hadapanku. Aku segera mengambilnya. Kira-kira baru setinggi 5 centi dari piring,Kak Nicho memukul punggung tanganku. Sontak saja sandwich yang hendak aku ambil terjatuh dipiring kembali.
Aku menoleh ke arahnya. Siaall!!! Lagi-lagi Kak Nicho mencium pipiku. Aku kehilangan kendali. Sandwich satu-satunya yang masih tersisa sudah berada dalam tangan Kak Nicho. Kak Nicho tersenyum sinis.
"Baiklah. Sandwichnya buat Kakak aja. Yang penting hari ini Tiara masuk kerja"
"Nih,makan!" ucapnya seraya menyodorkan sandwichnya.
Aku menggeleng.
"Ijinkan Tiara masuk kerja hari ini,Kak. Tiara udah sembuh kok. Boleh ya Kak" dengan wajah memelas aku memohon. Tanganku mengatup depan dada.
"Hari ini,aku libur sayang. Jadi,ga ada yang ke kantor hari ini baik aku maupun kamu"
"Kakak over protektif banget deh. Aku sebel tau gak? Katanya Boss tapi kok cuman Manager. Udah gitu Boss Adiputra kok kulkas kosong mlompong. Pas banget roti tawarnya ada 4 lembar" aku menatapnya sinis. Kedua tanganku bersedekap. Aku sangat kesal dengan sikapnya yang seenaknya sendiri.
"Ngomong apa haa... ngomong apa tadi. Makin gede makin nglunjak ya!"
"Aduduuuu Kak. Tar aku jadi budek kalau dijewer. Lepasin ga?"
Kak Nicho tersenyum sinis penuh kemenangan. Aku yang tidak mau kalah mengacungkan cubitan ke arahnya.
Kak Nicho melepas tangannya. Menarik tengkuk leherku dan mencium bibirku.
Bisiknya,"Itu hukuman untukmu gadis nakal!"
Gila,ganteng-ganteng hobi nyosor. Membuat gempa lokal di jantungku. Wajahku memerah.
__ADS_1
Hubungan yang dulu hanya sebatas saudara kakak dan adik menjadi sepasang kekasih,sungguh sulit bagiku untuk membayangkan apa jadinya jika kami berpisah.
Lima tahun. Butuh waktu lima tahun untuk menjadikan hubungan ini menjadi hubungan yang spesial. Aku berharap cinta ini terus abadi. Memberi kekuatan untukku dan untuknya. Di setiap ujian yang ada,semoga akan membuat kasih ini semakin terasah. Bagai pedang yang semakin lama terasah semakin tajam. Semakin kuat dan menang.