I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
CEMBURU MENGURAS HATI


__ADS_3

Aku menemani Kak Nicho merawat Putri. Dari awal Ayah Putri tidak memberiku ijin untuk turut serta merawat Putri. Kak Nicho bersikukuh tidak mau merawat jika aku tidak menemaninya,alhasil aku duduk di sini,mengawasi setiap langkah Kak Nicho meski hanya sejengkal.


"Tolong kamu genggam erat tangan anak saya dan tolong bisikkan ke telinganya untuk terus semangat. Dia begitu lemah saat ini. Jika saja dia tidak bersikap bodoh mengorbankan darahnya untukmu,tentu saja Putri tidak akan terbaring lemah seperti ini"


Tangan Kak Nicho mengenggam tangan wanita lain?!


Satu permintaan yang sangat berlebihan.


"Huuhhh!"


"Kenapa Ra?" Kak Nicho menoleh ke belakang. Ia menatapku penuh kekhawatiran.


Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kesalku dihadapannya.


"Dasar! Sengaja sekali membuatku panas hati!" Runtukku dalam hati.


Aku memaksakan senyum di wajahku. Aku telah bertekad untuk menolong Putri. Aku tidak boleh setengah-setengah bukan?!


"Uhhh nyamuk nakal,Kak. Lihat nih pada bentol-bentol merah di tanganku" Aku menunjukkan bekas merah di tanganku sebagai alibi.


"Ohh,aku kira kamu kenapa? Gak apa-apa kan,aku pegang tangan Putri?"


"Hiss begitu saja kamu harus ijin sama wanita itu?" Ayah Putri melotot ke arahku.


Tentu saja harus ijin lagipula dia adalah calon suamiku. Anak Anda yang terlalu keganjenan sama calon suamiku! Jawabku dalam hati.


Tidak mungkin aku berkata sekasar itu bisa-bisa Kak Nicho mengurungkan niatnya untuk menolong Putri demi menjaga perasaanku.


"Iya Kak. Lakukan saja. Tiara ada di sini kok" Jawabku acuh. Jujur aku kesal sekali. Jikalau Putri seorang robot,aku pasti telah mengganti mesin untuknya agar ia segera bangun. Sayang sekali nyawa yang ada di tubuhnya itu milik Allah. Hanya Allah yang berkehendak menyelamatkan Putri.


Aku menggulir ponselku. Ku sentuh aplikasi komik online di sana. Sudah lama sekali aku kehilangan kesempatanku membaca komik favoritku "Boss Long Leg" yang terbit setiap dua minggu sekali di aplikasi kakaopage.


Ku pikir membaca komik lebih baik daripada aku harus melihat Kak Nicho bermain drama bak pemeran sinetron.


Entah mengapa aku sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Kak Nicho meski batinku sepenuhnya percaya kepada Kak Nicho namun sayang, aku tidak bisa tidak memperhatikannya.


Kak Nicho menggenggam erat jemari Putri. Ia membisikkan kata yang entah kata apa itu di telinga kanan Putri. Seketika itu perutku mual melihat adegan klise di depan mataku.


Uhhh! Awas saja jika Putri macam-macam dengan Kak Nicho! Ancamku dalam hati.


Bruk!


Apa itu?!


Hanphoneku nyaris terjatuh saat aku melihat Kak Nicho terjatuh di tubuh Putri. Kedua tangan Putri terangkul indah di leher belakang Kak Nicho.


Aku langsung berdiri. Tak peduli Handphoneku jatuh kemana?


"Put,tolong jika sudah bangun segeralah bangun jangan pura-pura merem seperti ini" Kak Nicho mencoba melepas pelukan erat Putri.


"Apa kamu bilang?! Kamu mau bilang anakku pura-pura sakit haaahh?! Dia bangun karena kamu yang memberinya semangat. Jangan menuduh macam-macam kamu!"


Pria tua itu benar-benar menyulut emosiku. Jelas sekali Putri yang bersandiwara namun tetap saja ia bela. Mana mungkin sekali dibisikkan kata-kata oleh Kak Nicho langsung bangun. Mustahil sekali kan?!


Huuhhh sayang sekali aku tidak ada bukti untuk mengungkapnya.


"Put,tolong lepaskan!"

__ADS_1


"Kak,maukah kamu menikah denganku?" Suara Putri terdengar sangat lemah. Terdengar seolah tak ada kekuatan di tubuhnya sama sekali,membuatku bingung dengan adengan di depan mataku.


"Kamu harus segera sehat. Nanti kita bicarakan masalah itu. Yang terpenting kamu harus semangat untuk hidup" Kulihat tangan kekar Kak Nicho melerai ke dua tangan Putri. Entah ini adegan yang ke berapa kalinya Putri mendekati Kak Nicho sampai-sampai membuatku eneg setengah mati.


"Kakak tahukan jika aku sudah lama sekali mencintai Kak Nicho. Aku rela berkorban ini semua untuk keselamatan Kak Nicho!"


Apa?! Sengaja berkorban untuk keselamatan Kak Nicho?!


"Berkorban kok diungkit-ungkit!" Gumamku yang hanya bisa aku dengar sendiri.


"Iya aku tahu kok. Kamu juga tahu kan kalau ada wanita lain yang aku cintai bahkan lebih berharga dari nyawa yang ada di dalam tubuhku?! Yang terpenting saat ini adalah kesembuhanmu. Aku akan sangat menyesal jika kamu tidak bersemangat untuk kesembuhanmu. Karena untuk apa aku telah kamu selamatkan jika kamu jadi seperti ini" Kata Kak Nicho.


Aku mencebikkan bibirku. Aku menahannya agar kata-kata makian tidak terlontar dari mulutku.


"Tahan Tiara. Tahan! Ini tidak akan lama hanya sampai Putri sembuh. Kak Nicho akan jadi milikmu. Sabar Tiara. Sabar!" Nasehatku untuk diriku sendiri. Aku tak peduli Ayah Putri yang melotot ke arahku mendengar penuturanku. Kak Nicho adalah milikku,hanya milikku!


"Ehmm sayang,kamu sudah menghubungi Pak Karman belum untuk mengantarkan baju ganti untuk kita?" Kak Nicho menoleh ke arahku. Aku gelagapan saat mata biru Kak Nicho menatapku intens,tersirat kerinduan di sana.


Selama aku dan Kak Nicho merawat Putri tentu saja kami tidak bisa bermesraan. Yaah meskipun hanya sekedar bergandengan tangan rasa-rasanya tidak akan mungkin. Mungkin hanya sebatas panggilan sayang atau tatapan mata saja. Huuhh membosankan. Entah mengapa baru sekarang aku merasakan kasih sayang Kak Nicho bagai candu untukku.


"Tiara?"


"Ahh,ehm,Tiara hubungi Pak Karman sekarang Kak"


Kak Nicho berjalan semakin mendekatiku. Aku merasakan debaran di dadaku tak menentu. Tangan kekarnya mengusap lembut pipiku. Ahhh... Kak Nicho benar-benar membuatku terhanyut.


"Kamu sakit? Wajahmu memerah!" Kak Nicho mengecek suhu tubuhku lewat tangan yang menempel di keningku.


"Tidak panas. Tapi mengapa wajahmu memerah seperti ini?" Ia merapikan poni rambutku.


"Ehmm Tiara tidak apa-apa Kak. Aku hanya sedikit ka... ehmm ka-get. Ahh iya kaget tadi Kak Nicho tiba-tiba tanyain aku"


Aku menghindari tatapan mata Kak Nicho. Aduuhhh gawat debaran jantungnya rasanya mau meledak saat itu juga.


"Please Kak,udahan natap Tiaranya. Tiara malu tahu!" Pintaku dalam hati.


"Ehm kalian mau merawat anak saya atau mau pamer kemesraan?!" Ayah Putri menatap galak ke arahku.


"Dasar menganggu saja pria tua ini!" Runtukku dalam hati.


"Segera hubungi Pak Karman. Okey!" Kak Nicho menatapku penuh rasa khawatir. Jika saja saat ini hanya ada kami berdua mungkin kami sudah berciuman atau berpelukan mungkin. Yang pasti kami tidak akan melakukan hal yang diluar batas dari itu.


Aku hanya mengangguk. Kak Nicho tersenyum lalu mendekati blankar dimana Putri terbaring.


"Ahh tumben sekali Delis menelponku. Ada apa ya?"


"Siapa yang menelpon?" Tanya Kak Nicho.


"Ehh Dellis,Kak. Tumben sekali hubungi aku kenapa ya?"


"Sudah angkat saja mungkin penting" Jawabnya.


Dalam panggilan telepon :


Sore Mba Dellis. Tumben ada apa nih?


......

__ADS_1


Aku lagi sama Kak Nicho sedang di ruang rawat Putri. Kenapa Mba? Da yang bisa Tiara bantukah?


.......


Tapi!


........


Baiklah.


.........


Okee!


Aku mematikan sambungan teleponnya dan kembali melakukan panggilan untuk meminta Pak Karman mengambilkan kami baju ganti.


Aku berjalan mendekati Kak Nicho. Di sana aku melihat tangan Putri terus menggenggam erat tangan Kak Nicho seolah ia hendak berkata jika Kak Nicho adalah miliknya.


"Uhh malang sekali nasibmu,Ra. Melihat calon suami berpegangan tangan dengan wanita lain!" Runtukku dalam hati.


"Kak" Tangan kiri Putri melambai-lambai mengisyaratkan Kak Nicho untuk mendekat kepadanya. Kak Nicho tidak tahu jika saat ini,aku sedang berdiri di belakangnya.


Saat Kak Nicho mendekat,saat itu pula Putri mengecup pipi Kak Nicho.


Aku berlari keluar. Tidak ku sangka Putri memanfaatkan moment ini untuk membuat hatiku panas karena api cemburu.


Setitik air bening lolos dari kedua mataku.


Sesaat sebelum aku keluar dari ruangan,ku dengar Kak Nicho sedikit mengancam Putri.


"Tolong jaga sikap kamu,Putri!"


Hanya itu yang aku dengar. Aku terus berlari entah kemana aku harus melangkah. Aku salah membiarkan semua ini terjadi. Tapi aku teramat takut jika Putri meninggalkan dunia ini karena permintaan terakhirnya tak dikabulkan,bagaimana? Aku sangat dilema.


Selama ini aku hanya memendam perasaan tentang rasa cintaku kepada Kak Nicho ataupun hal yang berkaitan Kak Nicho. Akan tetapi semakin aku dekat dengan Kak Nicho hingga kami sudah mendekati hari H untuk menikah,rasa cinta ini bagaikan candu yang mengikatku terus untuk memonopoli dirinya.


"Nina. Nina aku membutuhkanmu" bisikku dalam hati.


Aku melihat sosok wanita cantik yang sangat familiar berjalan ke arahku. Hatiku terus bertanya-tanya benarkah gadis itu adalah Nina? Bibirku kelu untuk memanggilnya.


Semakin lama ia semakin dekat. Aku hanya berdiri terpaku. Kedua tangan wanita itu merentang lalu memelukku erat.


"Nina?!" Dalam isak tangis aku memanggilnya.


"Iya. Apa kabar sayang?"


"Buruk,Nin. Sungguh buruk!" Aku tak tahan untuk terus berpura-pura baik-baik saja melihat Kak Nicho dicium pipinya oleh Putri.


"Ahh halo Kak Nicho" Nina melepaskan pelukannya. Kak nicho kata Nina? Mungkinkah ia mengejarku.Lalu Putri bagaimana?


"Hallo juga Nin. Bagaimana kabarnya?"


"Baik Kak Nicho"


Aku masih terdiam tak melangkah mundur maupun maju. Tanpa menggerakkan seujung jaripun. Hanya rambutku yang tersiur angin,ia melambai-lambai.


"Tolong temani Putri dulu ya Nin. Pak karman tolong antarkan Nina ke ruang rawat inap Putri. Tolong katakan kepada Ayah Putri kalau aku dan Tiara sedang berganti pakaian" Kak Nicho meraih paper bagi berisi baju ganti untuk kami berdua.

__ADS_1


Kak Nicho meraih tanganku. Tanpa sepatah katapun ia menarikku menuju sebuah hotel di samping rumah sakit ini.


__ADS_2