I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
PERNYATAAN KE-2


__ADS_3

Aku berusha memukul Sela. Dengan gesit Sela menghindar. Kami saling berkejaran.


Terdengar suara pria berteriak.Siapa itu???


"Tiara!!!" suara yang sangat familiar. Apa mungkin?!


Aku tidak menghentikan langkahku untuk mengejar Sela.


"Ara jangan main lari-lari nak,nanti jatuh !!!"


Aku menengok sumber suara ternyata Mas Seto yang mengingatkanku.


Mas Seto rekan kerjaku sekaligus teman curhat juga. Ahh lebih tepatnya dia yang curhat ke aku. Karena Mas Seto diam-diam suka sama Sela.


Aku,Sela dan Mas Seto pulang bersama. Seperti janjiku tadi,aku menginap di rumah Sella. Aku tidak perlu khawatir karena Nina bukanlah penakut. Dan kalaupun dia takut,kekasihnya bisa menginap.


******


Sudah 2 minggu lebih aku tidak bertemu Pak Nicho. Ada sih chat dari dia tapi aku tidak menghiraukannya. Untuk sementara ini main petak umpet kami berhasil.


Aku tahu dia sering menungguku pulang kerja. Terkadang dia juga menuju ruanganku di lantai 3. Aku sengaja pulang lebih malam untuk menghindari Pak Nicho. Sebenarnya sih capek harus terus begini.


Tidak bisa kupungkuri rasa rindu ini sangat menyakitkan. Dada ini sesak saat terbayang dia dengan Putri bermesraan. Pak Nicho begitu lembut memperlakukan wanitanya dan itu membuatku cemburu. Aku kesal. Aku marah. Aku benci.


Sekilas ada bayangan seorang pria berdiri di depan pintu pantry. Dari perawakannya aku bisa menebaknya. Aku takut untuk melihatnya langsung. Bagaimana ini karena keasyikan melamun aku sampai lupa untuk bersembunyi.


Matilah aku. Jeritku dalam hati.


Terdengar suara sepatu mendekati kursi tempatku duduk.


Aduuhhh.... Gimana ini??? Tiara bodoh... bodoh.... Kenapa sih sampai lupa ga sembunyi?!


"Hari ini ga sempet main petak umpetkan?!" senyumnya sinis.


"Anu... maksud Pak Nicho apa ya? Saya tidak paham" jawabku pura-pura.


"Aku tahu kok beberapa hari ini kamu menghindariku teruskan?!" Pak Nicho duduk persis dihadapanku.


Jantungku berdebar kencang. Tanganku gemetar,mataku merah hendak menangis. Perlahan aku memberanikan diri menjawab.


"Ndaklah Pak. Saya mana berani menghindari Bapak. Saya tukeran handphone sama pacar saya Pak. Jadi maaf kalau pesan Bapak atau panggilan Bapak tidak diangkat", alasanku.

__ADS_1


Aku menggigit bibir bawahku.


Terlihat Pak Nicho memegang handphonenya.


Daannn.....


Matiii gue suara dering handphoneku berbunyi nyaring. Aduuuhhh..... Gusti,ngapusi pisan kok konangan?! rontaku dalam hati.


"Ohh... itu suara handphone siapa ya? Kok nyaring banget?" Pak Nicho tersenyum meledekku.


Aku terkesiap. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum manis.


"Hee... hee.... Iya hari ini handphone sudah saya pegang Pak. Tadi saya lagi sibuk jadi maaf pesan dan panggilan Bapak sa--"


"Panggil aku Kak Nicho seperti biasa" katanya sambil menatapku tajam.


"Bapak ini ngomong apasih sa... emmphh..." tangan Pak Nicho menutup bibirku.


"Hari ini bareng saya pulang dan ga ada bantahan. Atauu...." Pak Nicho menghentikan ucapannya sambil terus menatapku tajam menahan amarah.


"Atau aku akan menerkammu!" bisiknya lirih di telingaku. Kemudian Pak Nicho melepaskan tangannya yang membungkamku.


"Atau aku akan menerkammu!" Suaranya masih terngiang di kepalaku. Seperti gema terus bersautan. Bulu kudukku meremang.


Aku bisa kabur untuk hari ini tapi hari selanjutnya aku tidak menjamin bisa melarikan diri. Bisa-bisa dia akan meminta Pak Danniel untuk menjadikanku partner kerjanya. Seperti cerita novel atau komik yang sering aku baca. Saat si wanita menghindar si pria akan menjadikannya semakin dekat di sampingnya,terlebih jika dia punya kuasa di kantornya.


Jadi,untuk hari ini aku sengaja mengikuti perintahnya itu yang sedikit mengancam. Seketika bulu kudukku kembali berdiri saat teringat tatapan matanya.


Dulu,aku tidak pernah melihat Kak Nicho semarah ini. Tatapannya selalu redup dan hangat. Aku ini adik kecil yang manja dan seringkali merajuk. Meskipun sikapku sangat berlebihan,Kak Nicho selalu tersenyum dan sabar. Tapi pria di hadapanku ini berbeda 100%. Aku jadi ragu.


Sampailah kami depan mobil Pak Nicho. Dia membukakan pintu untukku dan memasangkan sealt belt. Kemudian masuk untuk bersiap mengendarai mobilnya. Kami berdua terdiam. Aku ingin melepas kecanggungan ini tapi aku bingung harus ngomong apa? Lebih baik aku memejamkan mata sebentar.


"Ra,udah sampai. Ayo turun. Apa mau aku gendong?" bisiknya sambil mengguncangkan bahuku.


Astagaa... aku ketiduran. Aahhh... bodo ahh. Lagian Pak Nicho rese nungguin aku pulang terus. Aku jadi kurang tidur nih.


Aku menengok sekeliling. Rasanya asing. Kami tiba di parkiran mobil entah dimana ini aku tidak tahu.


"Ehm... Pak sepertinya ini bukan jalan ke kost saya deh"


"Iya,kita di Nine Residences. Di rumahku" jawab Pak Nicho santai sambil membuka pintu mobilnya dan keluar.

__ADS_1


Dia membukakan pintu dan memanduku keluar mobil.


Whhaaatt!!! Rumahnya?! Aku masih belum sepenuhnya sadar. Pak Nicho menggenggam tanganku erat. Aku melihat jemari tanganku untuk memastikan. Aku buru-buru untuk melepas tangannya tapi genggaman tangannya sangat erat.


Aahhh.... aku bisa gilaa. Aku menatap wajahnya hendak bertanya mengapa bisa dia membawaku ke apartemennya? Tapi belum sempat aku berbicara,Pak Nicho sudah mendahuluinya seolah bisa membaca kekhawatiranku.


"Aku perlu bicara penting dengamu,Ra" bisiknya pas ditelinga kananku.


Aku hanya bisa menurutinya kemana langkah kakinya menggiringku. Tak terasa kami sudah sampai di depan pintu apartemennya di lantai 10.


Apartemennya terlihat rapi. Di ruang tamu terdapat sofa warna maroon dengan rangka kayu kapasitas 3-4 orang. Ada coffee table minimalis berbentuk persegi panjang yang bawahnya terdapat 2 rak kecil,terlihat 2 buku tebal dibawahnya. Di atas coffee table terdapat 1 vas bunga anggrek bulan berwarna putih. Samping soffa tempatku duduk terdapat pot bunga sansevieria dengan rak pot putih rangka besi.


Aku takjub dengan pemandangan isi apartemennya. Meskipun aku belum melihat bagian dalam rumah ini,aku bisa pastikan isi rumah ini sangat rapi dan homey. Samping soffa tempat aku duduk terdapat bangku ottoman bulat berwarna abu tua. Di belakangnya terdapat rak buku sebagai sekat pemisah untuk privacy penghuninya. Aku masih terkagum-kagum dengan penataan apartemen Pak Nicho.


Pak Nicho menyodorkanku segelas ice lemon tea dan brownies cup cake. Dia mempersilahkanku makan dan mengucap kata maaf sebab sepanjang perjalanan dia sedikit mengancamku.


Yaah... aku maafkan karena kamu selalu di hatiku. Jawabku dalam hati.


Pak Nicho mendekatiku dan ohh my....


Bisa-bisanya dia menciumku tanpa ijin. Dan bodohnya aku yang mudah terbawa perasaan.


Dia menciumku lembut. Aroma nafasnya yang menyegarkan. Dan aroma tubuhnya yang maskulin ditambah gerakan halus jemari tangannya yang membelai pipiku,membuatku terdiam tanpa perlawanan.


Kedua tangannya memeluk pundakku dan dia berbisik lirih,"Peluk aku".


Aku tersihir mengikuti ucapannya untuk memeluknya. Sekilas aku melihatnya tersenyum dan kembali ciumku.


"Aku mencintaimu Tiara" kali ini Pak Nicho menatapku dan seolah menunggu jawabanku. Aku terdiam.


"Kamu ga mau pacaran sama aku?" tanyanya. Aku masih terdiam membisu. Dia masih menatapku redup,menunggu jawabanku.


"Tiara? 5 tahun ini kamu telah menyiksaku. Kamu pergi begitu saja tanpa tahu perasaanku yang sesungguhnya. Kamu benar-benar membuatku frustasi" suara Pak Nicho parau. Sorot matanya tajam. Matanya memerah.


Aku masih terdiam. Pak Nicho mendekatkan wajahnya dan bersiap untuk menciumku kembali. Dengan gerakan cepat,aku mendorong dadanya.


"MAKSUD BAPAK APA? AKU MEMANG MENCINTAI KAK NICHO TAPI KAMU BUKAN KAK NICHO KAKAKKU. KARENA DIA SUDAH MENIKAH! JADI TOLONG JANGAN COBA-COBA MERAYUKU!" Jawabku sambil setengah berteriak.


Bagaimana bisa aku bermesraan dengan orang yang mengaku Kak Nicho sang cinta sejatiku. Sedang aku yakin Kak Nicho sudah menikah dengan Putri.


Pak Nicho bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam. Aku menangis. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku sangat malu kepada diriku sendiri yang bisa berkata begitu sedang aku tak sanggup untuk menolak ciumannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Pak Nicho datang...


__ADS_2