I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
PENJAHAT


__ADS_3

Aku beberapa kali terbangun dari tidurku. Tidak ada siapapun di kamar hotel semewah ini. Dulu saat aku menjadi Office Girls tidur di hotel mewah seperti ini bagaikan mimpi.


Namun kini banyak sekali hal yang tak mungkin aku raih bisa aku dapatkan bahkan tanpa aku minta.


Seharusnya aku semakin lelap dengan dinginnya ac dan rintik hujan yang turun. Suasana adem yang membuat siapapun terhipnotis ingin segera tidur. Aku sangat gelisah. Aku berharap Kak Nicho ada di sini menemaniku tidur di malam ini. Ia bukan tidak tahu jika aku teramat takut kehilangannya. Ia hanya kesal dengan sikapku yang kekanak-kanakan. Mungkin rasa cinta yang aku miliki membuatku bersikap bodoh seperti ini?!


Pukul 2 pagi. Aku beranjak dari tempat tidur. Aku keluar menuju balkon hotel. Hawa dingin tak mengurungkan niatku untuk menatap air hujan yang turun ke bumi.


Aku raih ponsel yang tadi sempat aku ambil diatas nakas. Aku melihat layar ponsel yang kosong tanpa pesan darinya. Hanya beberapa pesan dari operator yang tanpa bosan terus saja mengirimku pesan singkat.


"Kak,aku merindukanmu. Sangat merindukanmu" Aku mengeratkan silang tangan di dadaku. Dengan ini aku menghangatkan diri,membayangkan betapa hangatnya pelukan Kak Nicho.


Sedikit lagi...


Tinggal sedikit lagi...


Tidak akan ada satupun wanita yang mampu memilikinya kecuali aku.


Takkan ku biarkan orang lain memilikinya. Biarkan ia menjadi bintang di langit yang hanya akan mampu dipandangi dengan kekaguman sinarnya tanpa harus meraihnya nyata.


Ia adalah bintang hidupku. Kak Nicho.


Gelap hatiku untuk membayangkan bagaimana jadinya jika sekali lagi ia yang harusnya jadi milikku menjadi milik oranglain.


Haruskah aku melarikan diri seperti waktu dulu?


"Ya Tuhan! Tidak cukupkah waktu lima tahun Engkau memisahkan kami?"


Sekilas terlintas dipikirku bagaimana selama ini aku memendam rasa cinta itu sendirian. Aku yang merangkak dengan hati yang separuh tlah pergi. Sekuat tenaga aku mencoba berdiri meskipun saat itu membuatku semakin benci dengan kata cinta.


"Dia satu-satunya wanita yang selalu ingin merebut kebahagiaanku. Dia selalu saja menjadi duri dalam hubunganku dengan Kak Nicho"


Aku berpegangan pada dinding kaca tralis di depanku. Sesaat kesadaranku seakan terbang ke awan. Aku mencoba untuk tetap kokoh karena aku tahu tak ada yang akan menolongku di sini.


Hawa dingin menusuk dadaku. Aku paling tidak tahan dengan hawa dingin. Tubuhku gemetar. Kedua telapak tangan dan kakiku sangat dingin.


Aku masuk ke dalam kamar dan mematikan ac nya. Ku raih selimut tebal untuk menutupi tubuhku.


"Kaakkk. Kakak!" Meski aku tahu Kak Nicho tidak akan mendengar panggilanku,aku berulang kali memanggilnya.


Sebenarnya apa yang terjadi hingga Ninapun tidak menemaniku di sini. Aku ingin menumpahkan kekesalan diriku kepadanya. Bercerita layaknya seorang sahabat yang menumpahkan segala curahan hatinya.


"Siapapun tolong aku!" Bisikku dalam hati.


Tubuhku menggigil dan badanku panas.


Mungkinkah aku demam?


Mungkinkah aku sakit?


Pip. Pip. Pip. Pip.


Cklek.

__ADS_1


Derap langkah kaki menuju tempatku terbaring. Langkahnya mantap. Mungkinkah ia Kak Nicho?


Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Saat aku membuka mata ia mengunci tubuhku. Sosok pria yang tak ku kenali telah menindih tubuhku. Aku meronta-ronta. Saat itu ia meraih sesuatu dari saku celananya dan memaksaku untuk menelan sebuah pil.


Pria itu membungkam mulutku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya meraih botol kecil air mineral ukuran 300 ml. Ia memutarnya cepat lalu kembali membungkamku. Aku yang tak siap dengan serangan itu,berusaha mati-matian untuk tidak menelan pil yang ia berikan padaku.


Pria itu membuka paksa mulutku dengan ibu jari dan telunjuknya. Ia menekan kuat rahangku yang membuatku membukakan mulutku. Pil itu masuk ke dalam mulutku tanpa bisa aku cegah. Ia telah masuk ke dalam tenggorokanku. Aku meminum pil itu.


"Sial! Pil apa ini?!" Tanyaku dalam hati.


Pria misterius itu menutup mulutnya dengan masker hingga hanya tersisa matanya saja. Sorot mata kebencian jelas terlihat di sana?


"Siapakah yang membenciku? Hingga begitu kejam melakukan ini kepadaku?!" Aku hanya bisa membatin tanpa berani mengucapkannya.


Selama ini aku tidak pernah menolak pernyataan cinta pria manapun. Karena memang tidak pernah ada yang menyatakannya. Mana mungkin ada pria yang punya dendam cinta kepadaku?


Aku tidak bisa berbuat apa-apa terlebih lagi kondisi badanku yang lemah. Aku masih menggigil kedinginan sedang tubuhku panas. Semakin panas saat pil itu berhasil masuk ke dalam perutku.


Pria misterius itu menyeringai. Ia perlahan melepas penutup kepalanya dan masker.


"Nah malam ini kamu akan menjadi milikku cantik"


Aku merinding mendengar kata yang terucap dari mulutnya. Seringai nakal dari wajahnya membuatku bergetar hebat. Entah mengapa tubuhku terasa sangat gerah. Gerah sekali.


"Ya Tuhan tolonglah Tiara. Aku mohon" Dalam hati ku berdoa.


Ia menarik bajuku hingga kancing piyamaku berceceran di lantai. Aku meronta-ronta mencoba melepaskan cengkraman tangannya yang menahan kedua tanganku. Sayang sekali kekuatan miliknya tidak sebanding denganku.


"Apakah aku akan berakhir mengenaskan seperti ini? Tolong jika kamu membenciku jangan nodai aku tapi ambil saja nyawaku. A,aku takut" Batinku merintih.


"Ku mohon lepaskan aku. Jangan lakukan apapun padaku hiks... hiks..."


"Teriaklah sekuat yang kamu bisa. Takkan ada seorangpun yang menolongmu cantik. Ruangan ini kedap suara. Jadi jangan harap ada yang menolongmu" Ia tertawa melihatku menitikkan air mata.


Aku menggigit bibir bawahku,menahan rasa takut.


"Jangan lakukan ini aku mohon. Aku,aku akan menikah sebentar lagi. Tolong jangan lakukan apapun" Kataku semakin melemah. Seiring reaksi tubuhku yang sangat mendamba sentuhan dan rasa gerah yang baru kali ini aku rasakan.


Entah pil apa yang ia berikan padaku. Aku mulai merancau tak karuan. Sekujur tubuhku bagai tersengat aliran listrik saat pria misterius itu menyentuh perlahan wajahku dengan jemarinya.


"Bukankah kamu menginginkannya?" Ia menyeringai melihatku yang semakin bergerak tak karuan.


Aku sendiri tak tahu harus bagaimana? Badanku panas tapi bukan meriang. Gerah tapi aku tak berkeringat karenanya.


Pip. Pip.


"Sial! Siapa yang berani menggangguku!"


Pria itu meraih penutup kepala dan masker yang jatuh di lantai. Ia berlari menuju almari baju di samping ranjang dan memutarnya. Aku melihat ada ruangan dibalik almari itu.


Siapakah sebenarnya dirinya hingga ia begitu mengenal ruangan ini?


Pip. Pip.

__ADS_1


Cklek.


Aku mencoba untuk bangkit tapi tubuhku menolak. Aku seperti tak memiliki tenaga.


"Tiara!"


Suara yang khas. Aku yakin ini adalah Kak Nicho.


"Terimakasih Tuhan!" Kataku dalam hati.


Kak Nicho duduk di sampingku,ia mencoba menyandarkan tubuhku di divan ranjang.


"Tiara apa yang terjadi?"


Atasan piyama yang terlepas kancingnya menampakkan aset berharga di dadaku. Beruntung pria misterius itu belum membukanya.


"Kak gerah sekali"


"Iya sayang aku nyalakan AC nya" Ia meraih remot kontrol AC di nakas.


Jika aku dalam kondisi normal,aku pasti menutupi dadaku yang telah terbuka ini. Tapi entah mengapa tanganku justru mencoba untuk membukanya?


Apa yang sebenarnya terjadi?


"Kak,pe,peluk aku"


Tanpa pikir panjang Kak Nicho langsung memelukku. Tanganku dengan lincah meraih kancing kemeja Kak Nicho dan membukanya.


"Kak,aku,aku..."


Aku tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Yang aku tahu rasanya aku ingin sekali disentuhnya. Dipeluk erat olehnya.


Merasa ada yang aneh dengan gelagatku,Kak Nicho meraih ponselnya dan mengetikkan pesan entah kepada siapa.


"Tiara tahan sebentar"


Mata biru yang biasanya menatapku teduh kini menyiratkan kemarahan.


"Kakak kenapa tinggalin Tiara. Tiara sudah tak tahan Kak" Rengekku dengan gerakan aneh yang tak bisa aku kontrol untuk semakin mendekat kepada Kak Nicho. Berulang kali Kak Nicho menepisku saat aku mencoba untuk menciumnya.


"Tiara tolong tahan sebentar. Aduuh" Ia tampak frustasi.


Kak Nicho beranjak mendekati pintu hotel. Ia mondar mandir di sana. Aku mendekatinya meski tubuhku lemah.


"Tiara duduk di sana!" Katanya galak.


Aku menangis tersedu-sedu. Rasanya sakit di dadaku. Dengan pakaian yang terkoyak ditambah lagi rambut yang sangat acak-acakan ini. Aku berbalik menuju ranjang kamar hotel.


Sesaat kemudian Kak Nicho membuka pintu hotel. Ia menutupi pintu dengan badannya seolah menghalau orang itu untuk melihat ke dalam kamar. Samar-samar aku mendengar Kak Nicho berbincang.


Ia lalu mengunci kamar hotel. Sebuah tentengan kantong plastik berwarna putih dengan loggo merk toko.


Kak Nicho membuka bungkusan obat dan meminumkannya kepadaku. Aku menelan dua pil kuning.

__ADS_1


Ia juga membukakan air mineral lalu meminumkannya kepadaku. Sesaat aku teringat bayangan pria misterius itu saat melakukan hal yang sama. Bedanya Kak Nicho melakukannya dengan penuh kasih. Dengan raut kekhawatiran terbaca disana.


Beberapa saat kemudian aku merasakan mataku berat. Rasa kantuk hebat menyerang tubuhku. Aku tertidur akhirnya.


__ADS_2