I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
KEJUTAN


__ADS_3

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tidak percaya dengan sosok yang ada di hadapanku. Matanya menatapku ******. Mulutnya sempurna membulat hendak memaki ke arahku.


"Sarapan pagi yang pahit" batinku. Sudahlah aku harus menghadapinya dengan ketegaran. Aku yang salah. Aku siap menerima sangsi.


Semangat Tiara. Berharaplah akan keajaiban datang.


Aku tersenyum getir kearahnya.


Aaahhhh.... Sial!! Kain serbetku mengenai Mba Kharis.


Mba Kharis marah-marah kepadaku.


"Dasar cwe ganjen! Beraninya kamu melempar serbet ke arahku! Teriaknya marah.


"Maaf Mba,saya ga sengaja Mba" aku mengambil serbet yang jatuh di lantai.


Mba Kharis mendekatiku. Dia menjambak rambutku.


"Sok keganjenan kamu. Kamu itu offices girls ga pantas pakai baju begitu. Mana seragammu?!" dia mendorong tubuhku. Untung saja aku tidak terjatuh. Hanya terpojok di dinding pantry.


Ohh Tuhan kirimkan pertolonganMu kepadaku.


"Mba Tiara! Mba gapapa?!" ucap wanita berkata mata dengan seragam kerjanya warna hijau tua. Jilbab hitam menutupi rambutnya yang berombak. Rok panjangnya mengayun indah saat dia berlari. Untung saja Mba Ria datang. Makan siang favorit Pak Suryo sudah sampai.


Mba Kharis melototkan matanya ke arahku. Aku menunduk. Dia pergi meninggalkan kami.


Mungkin jika yang datang Sela atau Mas Seto,Mba Kharis tidak akan melepaskan tarikannya tapi karena Mba Ria hanya orang luar,dia tentu saja menjaga harga dirinya itu. Ya dia wanita yang mengirim menu makan siang ini dari Aroma Rasa.


Mba Ria membantuku duduk di kursi.


"Berapa tagihannya Mba?" tanyaku. Aku merapikan baju dan rambutku.


"Ini Mba" jawabnya. Dia memberikan nota pembelian kepadaku.


"Baik tunggu sebentar ya" Aku berlalu pergi menuju ruangan Bu Shinta.


Sepuluh menit kemudian aku kembali ke dalam pantry. Aku memberikan uang pembayarannya. Senyum manis di bibir tipisnya tersungging indah.


"Terimakasih Mba. Ini untuk Mba Tiara. Sepertinya Mba Tiara sedang tidak enak badan ya? Wajahnya pucat!" Mba Ria menyodorkan satu kotak nasi box untukku.

__ADS_1


Aku tersenyum kepadanya.


"Ahh biasa Mba sedang banyak kerjaan. Makasih ya ini" ucapku sambil mengacungkan nasi kotak ke arahnya. Mba Ria pamit pulang.


Sesaat aku tersadar. Hingga siang ini,Nina sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Sedang sedari tadi aku menunggu seragamku. Kemana dia? Aku mengecek handphoneku kalau-kalau Nina mengirimkan pesan kepadaku. Nyatanya kosong. Tidak ada pesan sama sekali di sana.


Fiiuuhh....


Aku terduduk di kursi pantry.


"Ra,kamu dipanggil ke lantai 5. Ga tau kenapa? Tadi Dellis nitip pesan"


Aku mengangguk. Beranjak pergi. Tangan kanan Sela menepuk pundakku,"Hati-hati,Ra"


Aku mengerti seberapa khawatirnya Sela. Tapi aku sudah tidak apa-apa Sel. Jangan khawatir. Aku bisa jaga diri.


Aku mengangguk,berjalan ke arah lift. Setibaku di lantai 5,Mba dellis langsung memelukku singkat. Raut wajahnya berbinar-binar. Aku terpana,aku bingung harus membalas pelukannya atau hanya berdiam aja.


"Tiara,ikut saya" suara ini? Bukankah ini suara Pak Daniel. Ohh... mungkinkah Mba Dellis memelukku karena Pak Daniel berada di sekitar sini?


Ataukah Mba Dellis benar sudah berdamai denganku? Lupakan?! Seberapa jahat orang itu ingin menghancurkanmu,saat maaf sudah terucap di bibirnya,lupakan dan sambutlah seolah semua tidak pernah terjadi.


Sepertinya hampir semua karyawan PT ADIPUTRA berkumpul di aula ini. Aku melemparkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan ini. Aku mencari sosok yang terus mengganggu tidurku. Nicho Ramadhan. Dimanakah dia?


Diujung barat aku mendapati Nina melambaikan tangannya. Aku merengut melihatnya. Ingin rasanya aku memarahinya tapi Mba Dellis menggenggam erat jemari tanganku. Dia berdiri tepat di sampingku. Di sebelah kananku berdiri Pak Daniel.


Entah siapa yang sedang kami tunggu. Seolah para karyawan sedang menunggu pengumuman penting dari kantor.


Heeii... Sela tersenyum melihatku. Jika Sela juga kemari,kenapa dia tidak mengajakku bareng? Tapi justru mengatakan jika Mba Dellis hendak ada perlu denganku? Aku bingung.


Seharian ini aku memasang telinga kelelawar agar tidak secuilpun aku kehilangan info penting perusahaan tapi justru aku sama sekali tidak menemukan apa-apa?


Pikiranku dipenuhi berbagai macam hal-hal yang membuatku bingung sendiri. Mungkin memoriku sudah harus diupgrade! Agar aku bisa seperti bocah kecil yang bisa terus tertawa tanpa mengkhawatirkan sesuatu.


"Selamat siang segenap karyawan PT ADIPUTRA yang sangat saya cintai"


Sosok pria paruh baya yang sedikit lebih pendek dari Kak Nicho tengah membuka percakapan di aula ini. Siapalagi jika bukan Pak Adiputra pemilik perusahaan kontruksi terbesar di kota ini?!


Semua karyawan hening.

__ADS_1


"Siang ini saya akan memberitahukan kepada seluruh karyawan PT ADIPUTRA bahwasanya mulai hari ini jabatan Presdir akan saya berikan kepada anak kandung saya satu-satunya. Mungkin kalian sudah mengenalnya tapi saya akan memperkenalkan kepada kalian semua secara formal"


Pak Presdir menoleh ke samping. Wajah cantik wanita bule di samping itu tersenyum manis. Ibu Rihana tampak cantik dengan gaun warna keemasan senada dengan motif batik yang Pak Presdir kenakan. Mataku terpaku kepada sosok Ayah dan Bunda Kak Nicho. Mungkinkah Kak Nicho sudah berdamai?


"Dia adalah Nicho Ramadhan Adiputra. Anak tunggal kami. Mulai hari ini dia akan menggantikan posisi saya sebagai Presdir"


Tepuk tangan meriah seluruh karyawan kantor. Sorak gembira dan teriak histeris para karyawati menambah semarak acara perkenalan ini. Meskipun terkesan sederhana tapi rasa kekeluargaan kantor ini sangat melekat.


Kak Nicho yang merasa namanya di panggil,dia berjalan mendekati Pak Adiputra. Di samping Kak Nicho berjalan sepasang wanita dan pria paruh baya yang usianya tidak jauh berbeda dengan Presdir. Mataku mengerjap. Kalau-kalau aku salah menduga. Aku mengusap mataku. Aku berusaha untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah lihat.


"Ucapan terimakasih kepada Pak Suryo dan Ibu Setyowati yang sudah bersedia ikut hadir dalam acara perkenalan Presdir baru.Seperti yang kalian tahu beliau adalah salah satu investor terbesar di Perusahaan ini"


Aku meneteskan air mata. Rasa haru,bahagia bercampur di sana. Mba Dellis mengeratkan tangannya. Sepertinya Mba Dellis mengetahui semuanya. Dia berbisik lirih ke arahku,"Selamat ya,Ra".


Aku hanya terdiam. Pandanganku lurus ke arah Bapak dan Ibu di sana. 5 tahun aku pergi meninggalkannya dan kami dipertemukan kembali dalam satu perusahaan. Dan bukankah selama ini aku yang menyiapkan menu makan favorit Pak Suryo yang ternyata adalah Bapak kandungku sendiri?


Aku ingin berhambur keluar dari barisan ini untuk memeluk Bapak dan Ibu. Aku sangat merindukan mereka. Aku sangat rindu.


Bukankah baru tadi pagi,aku mengatakannya kepada Kak Nicho jika aku merindukan mereka? Apakah ini drama yang Kak Nicho buat untukku? Entah mengapa setelah aku mengetahui jati dirinya sebagai anak Presdir,setiap apa yang aku inginkan,Kak Nicho mengabulkannya?


Aku pikir ini semua karena harga diri Kak Nicho yang terlalu mahal. Akankah dia benar-benar ingin membahagiakanku? Bolehkah aku berharap?


"Hari Sabtu besok,kita akan mengadakan perayaan mengangkatan Presdir baru sekaligus menyampaikan kabar gembira pertunangan anak kami"


Sorak gembira dan tepuk tangan kembali menggema. Sayangnya tidak semeriah tadi. Banyak karyawati yang tadinya semangat berubah kuyu mendengar kata pertunangan. Begitu juga bagiku. Kata itu bagai petir di siang bolong. Kak Nicho bertunangan? Dengan siapa? Mungkinkah Kak Nicho akan dijodohkan dengan anak presdir dari perusahaan yang lain?


Jaga cintamu hanya untukku seorang!


Apakah itu artinya aku harus memperjuangkan cinta ini karena Kak Nicho akan di jodohkan?


Jika memang iya bukankah raut wajah Kak Nicho saat ini terlihat bahagia? Apakah selama ini cinta Kak Nicho hanya kebohongan? Adakah cinta lain selain aku? Apakah aku hanya sebatas adik untuknya?


Di saat yang lain tersenyum sumringah. Aku meneteskan air mata. Rasa takut kehilangan kembali terbayang. Kemana lagi aku harus bersembunyi? Haruskah aku mengulang pahitnya hidup seperti lima tahun silam?


"Sampai bertemu hari Sabtu di Balai Kartini pukul sepuluh pagi. Silahkan datang bersama pasangan kalian. Sebab acara ini hanya sekedar perayaan atau lebih tepatnya untuk acara makan bersama saja. Semoga kekeluargaan di perusahaan ini terus melekat. Selamat siang dan selamat beraktifitas kembali".


Pak Presdir menyudahi acara ini. Semua karyawan berbaris untuk berjabat tangan,mengucap selamat kepada Kak Nicho tanpa diminta.


Aku menjauhi kerumunan itu. Aku memilih untuk keluar,bukan karena aku tidak turut berbahagia. Tapi aku merasakan dadaku sesak. Pandanganku menguning. Aku harus segera menjauhi banyak orang. Aku takut pingsan melihat lautan manusia yang berdesak-desakan.

__ADS_1


Aku tak peduli dengan panggilan Mba Dellis yang memanggilku beberapa kali. Aku mempercepat langkah kakiku. Aku menuju lift. Memencet angka 18. Aku terduduk di dalam lift seorang diri. Aku ingin duduk di taman rooftop di kantor ini. Mungkin menghirup udara segar bisa membuatku melepas segala penat dan segala kekhawatiran ini.


__ADS_2