I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
SALAH PAHAM


__ADS_3

"Tiara!"


Aku menengok ke belakang. Mba Dellis berlari ke arahku. Nafasnya terengah-engah.


"Hahh... hahh... hahh... "


Dia menelan air liurnya dengan susah payah mulai berbicara.


"Mba duduk sini dulu Mba" pintaku seraya menepuk kursi di sampingku.


Mba Dellis menurut. Aku menyodorkan minum. Diminumnya air mineral yang aku berikan hingga setengah botol.


"Tiara,Pak Nicho mencarimu. Tadi kenapa kamu pergi begitu saja? Dan lihat matamu,kamu habis menangis?" Mba Dellis memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya menghadapkanku lurus ke arahnya. Dia mengamati mataku yang memerah karena tangis. Aku melepas kedua telapak tangan Mba Dellis.


"Enggak Mba tadi ada semutnya. Aku kesulitan ambil. Aku ga bawa kaca jadi gini mataku aku kucek-kucek sampai merah" aku berdalih sekenanya.


"Dua-duanya kemasukan semut,Ra?" tanyanya sedikit keheranan.


Aku mengangguk. Mustahil sekali kemasukan semut dalam waktu yang sama.


"Bisa gitu ya?" jawabnya pura-pura.


Aku mengangkat bahuku.


"Oh yaa.. Mba Dellis tadi bilang Pak Nicho nyari saya. Ada urusan apa ya?


"Haa...haa.....haaa... haa.... Pak Nicho? Bukannya biasanya kamu panggil Kak Nicho?" ucapnya sambil memegangi perutnya.


"Kamu mau sembunyiin hubunganmu sama aku,Ra? Karena kejadian kemarin? Ra,aku minta maaf banget sama kamu tapi aku udah insyaf kok. Aku bahagia melihat kalian bersama terlebih lagi kalian udah lama kenalkan?"


Aku menoleh ke arahnya. Apa tadi katanya? Aku tidak salah dengarkan?


"Darimana Mba Dellis tahu?" tanyaku.


"Aku kan sekertaris Pak Nicho terlebih lagi aku juga keponakan Daniel aku tau dong. Sebelum pertemuan tadi,aku dengar dari mereka. Termasuk acara pertunangan kalian juga. Aku ga nyangka kalau Pak Suryo adalah Papa kamu,Ra? Beliau hebat seorang investor terbesar di perusahaan ini. Kamu luar biasa hebat Ra mau hidup mandiri meski sebagai offices girls? Kamu luar biasa,Ra" Mba Dellis menggenggam jari tanganku. Tatap matanya tulus mengucapkan itu. Dan lagi-lagi aku tidak salah dengarkan?!


Apa mungkin kepalaku terbentur sehingga pikiranku kacau. Seingatku aku tidak pernah terjatuh yang mengakibatkan kepalaku terbentur. Ahh... mungkin aku sedang kurang sehat saja sehingga aku sering membayangkan hal yang tidak-tidak. Mungkin aku harus mengambil jatah cuti untuk sementara waktu hingga aku bisa berpikir jernih.


"Ehmm... maaf Mba,Tiara sepertinya sedang kurang enak badan. Tadi Tiara mendadak pusing. Saya ke bawah duluan ya Mba" aku beranjak dari tempat dudukku. Aku berjalan menuju lift. Aku tidak menoleh sama sekali saat Mba Dellis memanggilku. Aku berjalan menunduk menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca.


Brruukkk....


"Aauuu...." aku meringis. Tubuhku bertabrakan dengan seseorang entah siapa?

__ADS_1


Terlihat sosok pria mengenakan celana bahan berwarna senada dengan rokku. Kak Nicho?! Aku mendongak.


Dia tersenyum kecut.


"Kamu lagi main petak umpet lagi sama aku?"


"Ehmmm.... maksud Kak ehh.. Maksud Pak Nicho apa ya?"


Taakk.


Kak Nicho menyentil dahiku. Aku mengusap-usap dahiku.


"Sepertinya kepalamu kebentur!"


"Enggak ehh... Tidak Pak!"


"Iya! Buktinya kamu ngomongnya ngaco begitu. Ayo ke dokter!" ajaknya.


Kak Nicho menarik tanganku. Aku kesulitan mengikuti langkahnya yang besar-besar. Di belakang,Mba Dellis mengikuti kami.


Begitu sampai di liftpun Kak Nicho tidak melepas pegangan tangannya. Aku bermaksud melepasnya tapi bukannya terlepas justru Kak Nicho menggenggam erat jemari tanganku. Senyumnya merekah. Aku mengerjapkan mataku tidak percaya,tepatnya aku bingung dengan keadaan saat ini.


"Kamu kenapa lagi sih sayang?" kali ini Kak Nicho menatapku khawatir.


"Dellis,Tiara kenapa kok dari tadi begini?"


"Haaa... Haaa...."


Wajahku memerah karena malu. Bisa-bisanya Mba Dellis menceritakan detail kronologinya.


Kak Nicho menatapku memastikan kedua mataku. Ditiupnya mataku satu persatu.


"Udah aku tiup semutnya. Dia udah kabur kok. Wuussss... gitu" dia tersenyum. Aku tahu maksud Kak Nicho,dia sedang meledekku. Entah mengapa aku sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk tertawa sedikitpun. Jangankan tertawa,tersenyumpun hatiku terasa sakit. Aku justru semakin ingin menangis.


Pertunangan Kak Nicho?!


Melihat mimik wajahku yang berubah mendung Kak Nicho bertanya dengan lembut," Kamu kenapa sayang?"


Sayang?! Masih pantaskah aku dipanggil sayang olehnya. Bukankah dia akan bertunangan.


"Sayang,kamu kenapa sih?" tanyanya agak kesal.


Aku sudah tidak tahan lagi menahan gejolak di hatiku. Aku harus memberanikan diri untuk bertanya. Biarlah sekali ini saja aku terlihat tidak tahu malu dan bodoh di hadapan Mba Dellis. Aku tidak sanggup untuk tidak bertanya.

__ADS_1


Dengan beruraian air mata,aku bertanya.


"Bukankah Pak Nicho akan bertunangan!"


"Iya,lalu?" jawabnya pendek.


Aku menghempaskan kasar genggaman jari Kak Nicho.


"Pak Nicho tidak boleh sembarangan bergandengan tangan" ucapku sedikit berteriak.


"Ehh apa masalahnya? Memangnya ada larangan bergandengan tangan dengan calon tunangan" ucapnya tanpa merasa bersalah.


"Tapi Kak Nicho belum ngomong apa-apa sama aku perihal pertunangan" aku yang sudah tidak tahan lagi dengan permainan ini,kini air mataku mengalir deras.


"Ini! aku baru mau ngomong sama kamu"


Aku memukul dada Kak Nicho berkali-kali.


"Kak Nicho jahat! Huuu.. hu...Aku takut Kak Nicho pergi tinggalin aku lagi huuu... Aku kira Kak Nicho akan bertunangan hhuuu dengan wanita lain!" aku menangis tersedu-sedu.


Kak Nicho menepuk dahinya. Sambil tersenyum dia berkata.


"Oh iya aku lupa,Tiarakan orangnya ga percayaan. Duuhhh... Niatnya mau kasih surprise malah bikin nangis"


"Cuupp... cuupp... sayang jangan nangis ya berbie Ara. Ilang cantiknya loh kalau nangis" ucapnya sambil mengelap air mata yang jatuh di pipiku.


Aku kembali memukul dada Kak Nicho berkali-kali. Aku marah tapi aku juga ingin tertawa melihatnya sedang meledekku.


Aku tidak menyadari jika sedari tadi Mba Dellis menahan tawa. Yaa... Rasa takut kehilangan ini yang membuatku bertingkah layaknya anak kecil. Aku yang menyadari kekonyolan ini membuatku ingin menghilang dari hadapan mereka berdua jika memang bisa.


"Tiara,harus aku bilang berapa kali sama kamu? Bagiku hanya kamu satu-satunya yang aku cintai. Dari dulu,hari ini dan yang akan datang. Tolong... jangan pernah ada kesalahpahaman seperti ini lagi. Percayalah!"


Suaranya terdengar lembut di telingaku. Dia berucap serius dengan tatapan yang tulus kepadaku. Mata birunya terlihat indah. Sangat indah. Gerak bibir tipisnya saat berbicara membuatku ingin menyentuhnya.


"Tolong percayalah kepadaku apapun itu yang terjadi. Aku mohon! Aku minta maaf jika telah membuatmu berpikir yang macam-macam"


Aku yang salah tapi justru Kak Nicho yang memohon maaf. Aku ingin mencairkan situasi yang tegang ini. Ini semua karena pikiranku yang sedang konslet.


"Oouuggghhhhhh....."


Aku mencubit perut Kak Nicho. Tepat sekali pintu lift terbuka. Aku keluar lift dengan segera.


Teriakannya masih aku dengar.

__ADS_1


Katanya,"Awas kamu sayang! Aku akan menghukummu!"


Langkahku terhenti melihat wajah yang tidak asing di depanku. Sosok yang membuatku ingin bersujud karena kebodohan masa mudaku.


__ADS_2