I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
PERNYATAAN KE-4


__ADS_3

Kak Nicho diam. Bangun lalu beranjak pergi.


Aku menangis. Aku merasa seperti tebu yang habis manis sepah dibuang. Aku hanya manusia biasa. Itu salahku,aku yang meminta menghentikannya tapi aku sendiri yang sangat terluka. Cinta ini membuatku tidak bisa berpikir jernih. Aku menangis tergugu.


Entah kemana perginya Kak Nicho? Sudah 30an menit Kak Nicho pergi. Aku mencoba memejamkan mata untuk tidur. Aku harus melupakan kejadian yang menyakitkan ini.


Krriiitttt....


Terdengar suara pintu terbuka.


Kak Nicho merebahkan badannya di sampingku. Dia membelai rambutku. Isak tangisku tertahan. Kak Nicho membalikkan tubuhku di hadapannya. Dia menatapku dan mengelap air mata yang masih menetes. Aku masih memejamkan mata. Aku takut untuk menatap wajahnya.


"Maaf..." bisiknya ditelingaku.


Cuupp... Kak Nicho mencium keningku.


Aku membuka mata. Lamat-lamat aku menatap matanya. Ada gurat kesedihan dan penyesalan di matanya. Bibir tipisnya tersenyum. Rambut tebalnya yang dipotong pendek,menambah ketampanannya beberapa kali lipat. Wajahnya tampak lelah. Ada sedikit beban yang tergambar di sana.


"Aku mencintaimu,Tiara dan aku harap untuk saat ini jangan tanyakan hal yang ga penting. Termasuk tentang Azizah Putri Wulandari. Karena aku sama sekali tidak pernah bertunangan dengannya. Aku akan menceritakan semua kejadian selama 5 tahun tanpamu disaat yang tepat" Kak Nicho menyebut nama Putri dengan penekanan.


"Ku mohon... percayalah. Hanya kamu satu-satunya dari dulu,hari ini dan yang akan datang" ucapnya dengan lembut.


Jemari tangannya masih menyentuh wajahku. Aku menatap mata birunya yang indah. Aku yakin tidak ada kebohongan di sana. Kata orang,ketulusan cinta seseorang akan tergambar jelas di matanya. Saat kamu menatapnya,mata itu akan terlihat indah. Begitu yang selalu ku ingat.


Benar.... matanya sungguh indah.

__ADS_1


Aku masih merasa sakit hati dengan dicampakkannya. Aku salah,aku yang menahannya tapi jauh dalam hatiku aku juga ingin merasakan indahnya cinta.


Aku menatap Kak Nicho penuh harap. Beginikah rasanya berduaan dengan seorang kekasih. Akalnya mengatakan ingin tapi jiwanya menolak sekuat tenaga? Bisa ditebak bagaimana buruknya jika akal manusia lebih diutamakan. Meskipun berat tapi aku harus menjaga hatiku sepenuhnya kepadanya saat semuanya telah diridhoi.


Aku memejamkan mata dan mengepalkan tanganku menahan rasa getir. Bolehkah aku bertanya?


"Kamu kenapa sayang?" Kak Nicho menatapku penuh kekhawatiran.


"Kenapa Kak Nicho ninggalin aku begitu saja tadi? Hiks... Kenapa Kak? Apa aku kurang menarik? Harusnya Kak Nicho ga berhenti saat aku menahannya? Hiks... hiks... hiks... Kakak campakin aku hiks... seperti... hiks... se..perti... hikss... wanita malam hiks..." tangisku semakin kencang.


Aku melihat mata Kak Nicho membulat tak percaya. Tubuhnya mematung dan tatapannya kosong. Aku juga melihat wajahnya pias mendengar pertanyaanku. Matanya memerah,berkaca-kaca. Lalu dia memelukku.


"Aku udah nyiapin pengaman kalau kamu mau,sayang" bisiknya lembut di telingaku.


"Kamu tahu? Aku menahan rasa untuk menerkammu karena tadi kamu menahanku. Dan butuh waktu lama untuk meredakannya. Aku juga tersiksa. Aku juga ingin tapi aku ga bisa ngelakuin itu semua tanpa ijin darimu. Aku... arrgghhh...." teriaknya setengah frustasi.


Aku terbelalak mendengar jawaban Kak Nicho terutama saat Kak Nicho mengatakan sudah menyiapkan pengaman. Aku harus menanyakannya.


"Tadi... hiks... Kak Nicho... hiks... bilang kalau... ka..lau... udah nyiapin... itu.. Apa hiks... ka...kak... sering hiks... melakukannya?"


Aku memang bodoh. Tapi bukankah wanita itu selalu begitu dikatakan berapa kalipun dia masih ingin mendengar kesungguhan seorang pria?! Begitu juga aku. Aku benar-benar ingin mendengar kesungguhannya. Satu hal yang aku percayai,Kak Nicho bukanlah orang yang suka berbohong.


"Tidur dengan cwe lain? Begitu maksudnya?" tanya Kak Nicho.


Aku mengangguk. Aku malu untuk menatap wajahnya. Suara Kak Nicho terdengar agak kesal. Aku sudah keterlaluan tapi aku ingin serakah dan egois untuk memilikinya. Aku tidak sanggup jika harus mendengar dia pernah tidur dengan wanita lain.

__ADS_1


"Dengar Tiara. Tadi siang saat aku dinas keluar,aku mampir ke mini market untuk beli minuman dingin. Sekalian aku beli itu. Karena aku sudah merencanakan hari ini untuk mengajakmu ke sini. Aku tahu beberapa hari ini kamu menghindariku. Aku juga tahu kamu selalu pulang malam,saat aku sudah pulang kerja. Bahkan aku sengaja pulang awal,agar kamu ga terlalu malam pulangnya. Aku tahu semua yang kamu lakukan. Aku membiarkannya karena mungkin kamu sedang butuh waktu"


"Aku bermaksud menyelesaikan kesalahpahaman ini di sini. Aku ga mungkin membicarakan begini di depan kost kamu di dalam mobil seperti saat itu. Aku ingin lebih leluasa kita berbicara,Ra. Aku sangat tahu sampai mana batasku Ra. Aku beli itu untuk jaga-jaga. Bukan karena aku suka tidur dengan wanita lain. Aku begini hanya denganmu saja. Jadi,tolong jangan salah paham lagi,OK!" wajah gusarnya masih terlihat,namun dipaksanya untuk tersenyum.


Kak Nicho yang ada di hadapanku ini selalu berbicara terus terang. Walaupun orang lain memandangnya dingin,tapi Kak Nicho tidak pernah memperlakukanku begitu. Mungkinkah dari dulu aku adalah orang yang spesial?


Semburat warna merah di pipinya terlihat. Kak Nicho memajukan bibirnya ke arahku lalu mencium keningku dalam.


"Nah sekarang,kamu udah tahukan?"


Aku mengangguk. Aku malu sebab aku sudah salah menyangka kepadanya.


"Kamu percaya sama aku kan?!"


Aku kembali mengangguk.


Aku yang selama ini terbiasa untuk selalu berpikir positif dan selalu percaya,kini terjerembab jatuh. Rasa cemburu dan rasa takut kehilangan yang menghilangkan akal sehatku. Aku menyesal sudah meragukannya.


"Tidak ada yang lain selain kamu. Kamu mengerti?"


Aku mengangguk. Aku tersipu malu mendengar pernyataan Kak Nicho. Akulah wanita pertama yang dia cintai. Akulah wanita pertama yang telah membuatnya kehilangan akal sehat. Begitupun sebaliknya. Dialah pria pertama yang aku cintai dalam hidupku. Dialah pria pertama yang membutakan mataku hingga aku pergi meninggalkan keluargaku demi untuk melupakannya.


"OK. Sekarang sudah malam dan aku ga mau lihat kamu menangis kek gini lagi. Mulai besok jika kamu menangis aku akan menghukummu. Ingat itu!" Kak Nicho menunjukkan smirk nya yang membuatku sedikit agak takut.


"Tidur dan jangan berpikir aneh-aneh atau kalau ga? Aku akan buatin baby di sini!" ucapnya sambil mengelus perutku.

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku melihat senyum Kak Nicho pongah. Aku memejamkan mata. Tangan besar Kak Nicho menarikku ke dalam pelukannya. Aku menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Terdengar detak jantungnya yang bersahutan. Seperti iringan musik pengantar tidur membuatku terlelap dalam mimpi beberapa menit kemudian.


__ADS_2