
Putri POV
"Sejak kapan Nicho dan Tiara berpacaran?" Aku berdiri di belakang meja kerjaku,memandang keluar ke arah jalan raya di luar gedung kantor.
"Belum ada satu tahun Nona,sepertinya mereka sudah saling mengenal dekat"
"Kapan mereka akan merencanakan pernikahannya?" Tanyaku kembali.
"Sepertinya tidak akan lama lagi Non,sekitar sebulan lagi" Jawab Handoko selaku sekretaris dan kepercayaanku yang selama ini mengawasi gerak-gerik Nicho.
Aku masih sangat mencintainya. Aku sudah bertekad untuk membuatnya jatuhcinta kepadaku. Lebih tepatnya aku tidak akan membiarkan wanita lain berada di sisinya. Apapun caranya akan aku tempuh.
"Terus awasi Nicho dan tunangannya. Apa rencana kita sudah dipersiapkan?"
Tanyaku kembali tanpa menoleh ke belakang.
"Sudah Nona. Persiapannya sudah hampir selesai"
"Okey,jangan sampai orang itu tertangkap"
"Baik Nona"
"Aku akan bersiap untuk meeting dengan Nicho di Raffles"
"Baik Nona"
Sesuai rencana yang sudah aku susun,kali ini aku akan membuat mereka berada dalam kesalahpahaman.
*******
"Jadi,pembangunan akan di mulai bulan depan. Untuk pengawasan pembangunan apakah akan Kakak tangani langsung?"
"Iya Put,setiap pembangunan aku akan memantau langsung" Jawab Nicho dengan memperhatikan beberapa berkas dihadapannya.
"Apa Kakak tidak terlalu sibuk,bukankah Kakak akan menikah juga?" Tanyaku untuk memastikan kebenaran info dari spy yang kumiliki.
"Iya gapapa,aku bisa handle kok" Nicho tersenyum kepadaku,membuatku kehilangan kesabaran untuk memilikinya meski hanya semalam.
"Bentar ya Put,aku ada telpon"
Aku tersenyum puas. Tepat sekali saat ini meeting sudah selesai dan saatnya menjalankan misi.
Jika sesuai rencana,malam ini kami akan minum-minum. Sekedar informasi Nicho adalah pria yang tidak tahan alkohol.
Mulai malam ini aku akan merebutnya darimu,Tiara. Gumamku dalam hati.
"Put,kamu ingat Fernand ga?" Tanya Nicho setelah selesai menelepon.
"Hemmm Fernand siapa ya?" Aku pura-pura mencoba mengingatnya.
__ADS_1
"Aduuhhh maza kamu lupa Put. Itu teman aku pas kuliah dulu" Jawab Nicho.
"Ohh iya Kak. Kenapa Kak?" Jawabku antusias setelah mengingatnya kembali.
"Dia kebetulan lagi di sekitar sini ngajak ketemuan. Pas bangetkan,anggap aja kita sedang reunian hahahaha" Sudah lama sekali aku tidak melihat Nicho tertawa.
Ya kami adalah sahabat meskipun ada rasa cinta tersirat di sana. Dan kalau tidak salah,saat ini Nicho tidak menaruh curiga sedikitpun tentang rencanaku. Terlebih lagi,aku sudah menghasut Daniel,jika aku sudah mempunyai pacar saat kuliah di Australia. Meskipun itu hanya akal-akalanku.
"Uwaahhh pasti seru sekali Kak. Boleh Kak"
Karena ini sebuah reuni tentu saja kami pergi tanpa didampingi sekretaris kami.
Kami langsung menuju cafe tempat kami janjian. Fernand hingga kini masih memiliki rasa kepadaku,hanya saja aku pura-pura tidak tahu. Entah mengapa kami berkutat di orang yang sama pada masa lalu.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai di cafe. Pas sekali kami tiba berbarengan.
Canda dan tawa kami luapkan bersama,setelah kerinduan bertahun-tahun lamanya. Awalnya Nicho menolak untuk meminum alkohol tapi harga dirinya yang tinggi saat Fernand meledeknya banci,akhirnya Nicho meminumnya. Tentu saja Nicho langsung mabuk hanya dengan satu gelas.
"Kak sekarang giliran kita,lihat tuh Kak Nicho sudah KO"
"Hahahaaa" Kami berdua tertawa bersama.
"Apa kamu masih menyukai Nicho,Put?" tanya Fernand dengan sedikit merancau karena mabuk.
"Kak Fernand bilang apa,Putri udah punya pacar"
"Kak,aku antar ke hotel ya,sepertinya Kakak udah mabuk berat"
"Kamu luarbiasa Put,sama sekali tidak mabuk hahahahaa"
Handoko yang mengawasi dari dekat membantuku untuk memapah Fernand.
Aku membawanya di hotel terdekat.
Setelah itu,aku tinggal mengurus Nicho. Aku mengelus pipinya,dia merancau memanggil nama Tiara. Aku kesal mendengar dia memanggil wanita ****** di depanku. Aku mencoba pergi dan mengurungkan niatku untuk menjebaknya,namun tangannya mencekalku.
"Kak"
Aku menitikkan air mata.
Diluar dugaanku,Nicho justru meraihku hingga aku terduduk dipangkuannya. Dia mencium leherku. Aku menahan sensasi geli.
"Jangan pergi" Pintanya lirih.
"Tolong lepaskan aku,Kak" Rengekku.
Aku berusaha bangkit dari dudukku. Jujur saja,jantungku berdebar hebat. Beginikah rasanya bercumbu dengan orang yang sudah lama dicintai?
"Aku mencintaimu,Ra. Biarkan malam ini..... Ku mohon" Pintanya.
__ADS_1
Meski menggantung tapi aku paham apa yang Nicho maksud.
"Kakak mabuk. Biar aku antar ke rumah" Ucapku.
Seakan aku terjatuh dari tempat yang tinggi setelah aku dibuat melayang olehnya.
"Enggak sayang,ayoo" Kak Nicho menarik tanganku dan mengajakku pergi ke hotel sebelah tempatku memesankan tiket hotel untuk Fernand.
Dalam hati aku bersorak gembira. Ini sesuai dengan rencanaku meskipun tadi aku sempat ingin menggagalkannya karena rasa kecewaku.
Kini hanya aku dan Nicho di hotel. Nicho menciumku dan entah mengapa kini dia melucuti pakaiannya. Aku menutupi kedua tanganku. Aku malu sekali karena ini adalah pertama kalinya aku bersama dengan seorang pria.
"Ra,kamu takut?" Nicho memandangku.
Hatiku terasa sakit. Wanita ****** itu selalu menang.
"Kak,ini aku Putri bukan Tiara. Tolong Kakak lepasin aku" Aku meronta-ronta melepas cengkramannya.
"Ssstttt.... Jangan sebut-sebut Putri. Aku ga ingin kamu pergi lagi karena wanita itu" Nicho menempelkan telunjuknya ke bibirku. Aku tersihir oleh tatapannya. Aku menginginkannya tapi hatiku sangat sakit mengetahui tidak ada sedikitpun rasa cinta untukku.
Tanpa sadar air mataku menetes. Aku seorang wanita lugu dan baik hati yang kini berubah sangat jahat dan tamak karena cinta buta.
"Kenapa menangis sayang?" Nicho mencium bibirku.
"Ahhh Kak tolong lepasin Putri,aku mohon"
Aku mencoba mendorong tubuh Nicho untuk menjauh tapi sial aku kalah tenaga dengannya.
Dia semakin gila menciumku bahkan memelukku semakin erat.
"Aahhh... tolong Kak. Aku ga bisa begini" Aku mencoba menahan Nicho tapi tubuhku menginginkannya.
Nicho tak menghiraukan rengekanku. Dia melepas kancing kemejaku satu persatu. Aku meringis. Kali ini aku benar-benar malu saat dirinya telah sempurna melepas semua kancing kemejaku. Menyisakan pakaian dalamku.
Aku semakin menangis sesunggukan mengingat di hatinya tak pernah ada rasa cinta untukku. Aku bukan wanita gila yang akan senang melakukan hubungan karena nafsu semata meskipun dia adalah pria pujaanku.
Aku masih memiliki hati nurani untuk menjaga harga diriku sebagai wanita.
Aku hanya ingin menghancurkan hubungan mereka dan membuatnya berpaling dari wanita sialan itu. Bukan melakukan hubungan terlarang begini. Meskipun aku tahu caraku merebut Nicho adalah jahat.
"Kak,aku mohon aku bukan Tiara,Kak. Aku Putri. Aku Azizah Putri Wulandari bukan yang lain. Jadi tolong lepaskan Putri Kak. Aku mohon"
"Argghhh.... Kenapa kamu lagi-lagi memanggil wanita itu Ra. Aku mencintaimu dan aku ga ingin kamu ninggalin aku lagi. Berhenti memanggil nama itu,Ra!"Tatapan matanya tajam seolah sedang menghunuskan pedangnya ke mataku.
Aku sudah tak tahan lagi. Kali ini di saat Nicho lengah aku mencoba pergi dari hotel meski dengan kancing kemeja yang terbuka semua. Aku berlari keluar sambil mengancingkan satu persatu kemejaku.
"Hiks...hiks...hiks... Sebegitu cintanyakah kamu sama wanita itu,Nic?!"
Untung saja aku tidak sampai tertangkap oleh Nicho. Segera aku menghampiri Handoko yang sudah menungguku di lobby hotel.
__ADS_1