
Saat aku mencoba untuk berdiri kepalaku terasa berat. Perutku melilit bagai ditusuk beribu-ribu jarum di sana. Aku memegangi perutku. Tapi pandanganku mendadak berputar dan gelap. Seketika itu aku tidak bisa mendengar suara apapun. Aku tergeletak di meja.
Bau obat menguar di indra penciumanku. Kepalaku masih berat. Aku mencoba untuk menggerakkan telapak tanganku. Ada tangan yang menggenggam erat jemariku. Tangan itu sangat kokoh tapi lembut.
Ruangan ini terasa sepi. Hanya tangan itu yang aku rasakan terus menggenggamku. Detak jantungku seakan berhenti. Terasa lambat memompa darahku. Aku kesulitan bernafas. Aku mencoba sekuat hati untuk membuka mata.
Pertama kali aku membuka mata,aku mendapati Kak Nicho sedang tertidur sambil duduk. Matanya terpejam. Gerak kepalanya manggut-manggut ke bawah. Wajahnya terlihat sayu.
Aku melayangkan pandanganku ke segala arah. Tidak ada orang lain di sini. Aku terbaring lemah di rumah sakit. Seingatku setelah makan siang,aku merasakan kepalaku berat. Sebelum itu aku memuntahkan makananku. Makan siangku keluar semua. Sepertinya asam lambungku sedang naik.
Aku mencoba untuk memanggil Kak Nicho tapi bibir ini terasa kelu. Aku hanya bisa memandanginya. Kak Nicho lucu. Segurat senyum dibibirku mengembang.
Krriittt.....
Terdengar pintu terbuka.
Wanita berseragam perawat datang menghampiriku.
"Selamat malam Nona Tiara" sapanya lembut dan ceria.
Aku tersenyum. Kak Nicho terbangun dari tidurnya. Menoleh ke arah perawat. Pandangannya beralih menatapku. Aku hanya tersenyum menyapanya.
"Apa yang Nona Tiara rasakan sekarang?" wanita berseragam perawat itu tersenyum sambil mengecek selang infusku.
"Sa-ya ba-ik-ba-ik sa-ja,Sus" jawabku terbata-bata.
"Untunglah Nona sudah siuman. Sudah 2 hari Nona Tiara tidak sadarkan diri. Asam lambung Nona naik. Anda harus menjaga pola makan lain kali" Perawat itu menjelaskan.
Aku membalasnya dengan seulas senyum.
"Beristirahatlah,sepertinya Nona masih sangat lemah" pesannya kembali seraya tersenyum kepadaku.
Dan berpindah tersenyum kepada Kak Nicho.
"Tolong jaga Nona Tiara ya Pak"
__ADS_1
Kak Nicho mengangguk. Perawat itu berjalan keluar.
Aku mengerjapkan mataku. Rasa kantukku kembali menyerang. Kak Nicho membelai dahiku. Mencoba menidurkanku dengan sentuhan tangannya. Dia tersenyum ke arahku. Mengangguk.
"Kak" ucapku lirih.
"Sstttttttt..." Jari telunjuk Kak Nicho menempel di bibirnya.
Aku pura-pura memejamkan mata. Aku teringat Kak Nicho yang terkantuk-kantuk menungguku. Sudah 2 hari aku pingsan. Kak Nicho pasti kelelahan. Aku membuka mata dan sekuat tenaga membuka mulut untuk berbicara. Tapi bibirku masih kelu.
Aku menggeser tubuhku ke kiri agak tersisa ruang untuk Kak Nicho tidur disampingku. Aku menepuk-nepuk ruang kasur yang kosong disampingku berbaring.
Kak Nicho bangun dari duduknya dan berbaring seranjang denganku. Tangannya yang kokoh memelukku erat. Kecupan singkat mendarat di keningku.
Aku mendongakkan wajahku untuk bisa menatap wajahnya. Aku tergoda untuk mencium bibir tipis Kak Nicho. Perlahan aku bergerak mendekatinya dan menciumnya. Meski badanku sangat lemah untuk sekedar berciuman tapi aku memaksakannya. Kapan lagi batinku. Sudah beberapa hari aku tidak merasakan sentuhan bibirnya ke dalam bibirku. Aku merindukan ciuman itu.
"Tidurlah. Kamu harus sembuh. Jangan buat aku frustasi lagi!" tatapan matanya tajam hingga menusuk relung kalbuku.
Aku mengeratkan pelukanku. Aku merindukan aroma tubuhnya. Aku merindukan semua tentangnya. Aku mencintaimu,Kak.
Pagi-pagi aku mendengar suara berisik di luar. Entah siapa yang sedang berbincang di luar. Aku mengabaikannya. Ya mungkin mereka perawat dan ketika hendak memeriksaku,terlihat kami tidur bersama.
Aku menatap Kak Nicho yang terbaring di sampingku. Aku menyelusuri wajahnya yang terpahat indah. Rahangnya yang kokoh. Alisnya yang bergaris lurus. Matanya yang terpejam sempurna,sangat indah. Raut wajahnya saat tidur begitu tenang. Wajah tampannya mirip aktor kebangsaan Eropa yang aku lupa namanya.
Kak Nicho membuka matanya. Dia tersenyum menatapku.
"Gimana udah enakan belum?"
"Iya Kak. Apa tidur Kakak nyenyak?"
Kak Nicho mengecup keningku dan beranjak bangun dari tempat tidur.
"Nyenyak banget. Apalagi kalau ga ingat ini di rumah sakit. Aku sudah...." Kak Nicho menghentikan ucapannya dan menggantinya dengan kerlingan mata nakal. Dia berjalan menuju kamar mandi.
Krriiittt.....
__ADS_1
"Tiara,gimana keadaanmu? Mana yang sakit? Kamu tuh makan yang teratur. Aku panik tahu saat dengar kamu dibawa ke rumah sakit. Trus sekarang Kak Nicho kemana?" Nina datang membawa bungkusan foam. Sepertinya itu bubur ayam.
Yaa... bukan Nina kalau dia tidak bawel. Terlebih saat sedang khawatir. Ampun deh. Tapi dia sahabat karibku. Setelah Nina tahu kami berpacaran Nina mengganti panggilan Kak Nicho sama sepertiku.
"Udah mendingan kok,Nin" jawabku.
"Sorry Ra semalem aku ga nemenin kamu. Kak Nicho menyuruhku pulang" wajahnya tertekuk melukiskan kekecewaan.
Aku balas tersenyum.
Kak Nicho keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar. Hari ini tubuhku semakin kuat terlebih ada 2 orang berharga di hadapanku. Aku juga sudah lancar untuk berbicara.
"Kak,sarapan dulu. Jangan sampai Kakak sakit. Nanti Tiara gada yang jagain loh!" ucap Nina sambil memberikan bungkusan foam berisikan bubur ayam.
"Iya makasih ya Nin"
Kak Nicho duduk di hadapanku. Dan membantuku duduk bersandar di ranjang pasien.
"Ra,aku tinggal dulu ya. Aku kerja dulu. Nanti aku pulang kerja aku ke sini" pamit Nina sambil beranjak keluar ruangan.
Aku mengangguk.
"Hati-hati,Nin" Kak Nicho mewakiliku untuk membalas.
Kepergian Nina digantikan seorang perawat datang membawakanku menu sarapan pagi. Bubur dan buah pisang. Kak Nicho menerima jatah makan pagiku dan menyuapkannya ke mulutku. Perawat sudah pergi.
Jika sampai siang kondisiku stabil seperti ini,aku diperbolehkan pulang.
Keinginanku untuk sembuh sangat besar. Terlebih lagi aku tidak ingin membuat 2 orang ini khawatir. Jatah makan pagiku,aku lahap sampai tandas. Meski rasanya pahit aku tidak peduli. Aku juga meminta beberapa suap bubur ayam Kak Nicho. Ditambah lagi aku makan buah yang tersedia di meja nakas.
Jatah makan siangkupun habis tak tersisa. Lega rasanya aku diperbolehkan pulang. Dengan syarat,aku harus istirahat beberapa hari lagi. Aku juga harus makan teratur.
Kak Nicho membawaku ke apartemennya bukan di kost Nina. Dia posesif sekali. Aku akui,aku akan langsung bekerja besok jika aku diantar pulang ke kost. Aku tidak bisa tahan jika sehari saja tidak bertemu Kak Nicho.
Aku sudah beberapa kali menginap di apartemen Kak Nicho. Yang pertama saat Kak Nicho mengajakku pulang ke apartemennya tepatnya membohongiku.
__ADS_1
Yang kedua,saat Kak Nicho dan aku menyelesaikan data yang Mba Dellis minta. Tepatnya baru hari Kamis kemarin.
Hari Senin ini aku kembali ke apartemen Kak Nicho karena aku masih sakit. Sepertinya aku baru boleh bekerja hari Senin depan. Kak Nicho pasti melarangku untuk kembali bekerja dengan kondisi yang masih lemah. Sebenarnya kondisiku jauh lebih baik dari kemarin tapi kekhawatiran Kak Nicho terlalu berlebihan.