I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
KECELAKAAN


__ADS_3

Sudah satu minggu kejadian penyebaran video itu berlalu. Video yang telah tersebar telah diurus Dad. Kedua kalinya Dad menghapus video yang berniat untuk menghancurkanku ahh itu terlalu ekstrim maksudku membuat kesalahpahaman hubungan kami.


Untung saja Putri tidak menuntut Kak Nicho untuk mempertanggungjawabkan kejadian kemarin. Kerjasama yang telah disepakatinya tetap dijalankan.


Hari ini Kak Nicho akan meninjau langsung pembangunan pertamanya di Semarang. Aku tidak ikut sebab sekarang aku sedang sibuk dengan kursus menjahitku.


Aku tidak ingin menjadi wanita yang menengadahkan tangannya untuk meminta nafkah dari suami saja. Aku juga harus bekerja. Walaupun hasilnya tidak seberapa setidaknya aku mempunyai kesibukan.


Tentu saja Kak Nicho tadinya melarangku karena ia ingin aku membantunya di kantor. Kemudian dia berubah pikiran dan sekarang dia bahkan mendukungku.


Tiba-tiba handphoneku berbunyi.


"Kak Nicho. Ada apa ya? Tumben sekali dia menelpon?!"


Tiara : Kakak baru baru juga sebentar udah kangen Tiara ihh.


Ucapku tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Aku agak sebal sebab aku sedang serius mengikuti kursus. Tanpa tahu jika saat ini yang sedang menelponku adalah seorang perawat.


Seseorang : Mohon maaf kami dari Rumah Sakit Pusat Dr. Kariadi. Kami menghubungi Anda sebab pasien atas nama Nicho Ramadhan Adiputra dalam kondisi sangat kritis akibat mengalami kecelakaan


Handphone yang aku pegang terjatuh. Aku tak sanggup untuk mendengar lebih lanjut.


"Baru kemaren Engkau menguji cinta kami,sekarang ujian apa lagi ini,Ya Allah" Batinku berteriak.


Aku menangis tergugu. Tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkan kursusku tanpa pamit.


Tentu aku menghubungi kedua orangtuaku dan mertuaku terlebih dahulu. Aku diantar oleh sopir pribadiku. Kak Nicho yang memaksaku,ia mengizinkanku kursus menjahit asalkan diantar oleh sopir pribadi. Mau bagaimana lagi,aku hanya bisa menurut.


Di sepanjang perjalanan aku menangis. Pernikahan tinggal hitungan hari tapi entah mengapa ujian silih berganti. Mungkin semua orang merasakan hal yang sama saat menjelang pernikahan. Aral melintang,ujian silih berganti.


Aku dan Pak Karman,sopir pribadiku terbang ke Semarang. Aku ingin segera bertemu dengan Kak Nicho. Aku sangat mencintainya. Aku sungguh takut kehilangannya.

__ADS_1


"Kak,bertahanlah. Tiara sebentar lagi sampai" Ucapku yang terdengar seperti suara rintihan.


Satu jam perjalanan dari Jakarta menuju Semarang. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke RSUP Dr Kariadi. Waktu terasa lambat. Detak jarum jam seakan enggan untuk berputar. Jikalau bisa aku ingin memutar jam itu sesuka hatiku,agar aku tidak merasakan derita menunggu waktu.


"Ya Allah tolong selamatkan Kak Nicho"


Aku tidak berhenti berdoa. Aku takut jika sedetik saja aku tak berdoa,Tuhan akan mengambil nyawa Kak Nicho.


"Tolong jaga dia Ya Allah dia orang yang sangat Tiara cintai"


"Sabar ya Non. Tenang ya Non. Den Nicho pasti baik-baik saja" Pak Karman mencoba menenangkanku.


Aku tersenyum kecut.


Bagaimana aku bisa tenang jika aku belum melihat secara langsung kondisi Kak Nicho. Aku tidak ingin menjadi janda sebelum menikah sedang undangan pernikahan sudah di sebar. Bagaimana caraku untuk memberitahukan satu persatu kepada orang yang sudah menerima undangan jika hal buruk terjadi.


Karena capek menangis akhirnya aku tertidur. Dengan begitu aku sedikit lega bisa sejenak tidak mengkhawatirkan Kak Nicho. Kedua mataku bengkak karena aku terlalu banyak menangis dan langsung tidur. Sungguh memalukan!


Aku butuh air es! Batinku berteriak.


"Pak tolong cepat sedikit. Calon suami saya sedang kritis Pak. Saya mohon!" Rengekku. Aku menguncangkan kursi jok pengemudi. Aku bisa melihat wajah paniknya bercampur kesal karena aku terlalu bawel.


Pak Karman hanya geleng-geleng kepala. Sepertinya ia sedang memposisikan dirinya saat sedang mengantarku dan aku teramat cerewet,mungkin dia akan sama illfeelnya.


"Pak Terimakasih ya" Aku menyodorkan uang seratus ribuan dan bergegas menuju lobby rumah sakit. Sekilas aku melihat Pak Karman mengangguk mengisyaratkan kepada sopir taksi untuk mengambil uang kembaliannya.


"Bu saya keluarga dari Nicho Ramadhan korban kecelakaan sekitar 2 jam yang lalu"


"Oh baik bisa tunjukkan identitas Ibu?" Seorang petugas IGD meraih kartu tanda pendudukku.


"Saat ini Saudara Nicho sedang operasi dikarenakan pendarahan di otaknya. Nona bisa menunggunya di ruang operasi di lantai 2 ya"

__ADS_1


Petugas yang berjaga mengganti panggilan untukku mungkin karena ia melihat status perkawinan dalam kartu pengenalku. Aku tak masalah mau dipanggil ibu ,mba,tante asalkan jangan dipanggil nenek saja.


Apa?! Pendarahan di otak. Mendadak pandanganku bersemu kuning. Aku hampir terjatuh jika saja Pak Karman tidak menangkapku. Pak Karman menuntunku untuk duduk.


"Non,duduk dulu ya Non. Saya takut kalau Non juga pingsan. Nanti malah tidak jadi nunggu Aden"


Aku mengangguk pasrah.


Beberapa menit setelahnya,aku mengajak Pak Karman menuju lantai 2.


Aku bertanya kepada suster penjaga di sana. Ia berseragam putih dengan pliskat biru muda.


"Maaf Sus untuk pasien atas nama Nicho Ramadhan Adiputra apakah sudah selesai dioperasi?"


"Sedang dalam proses Bu. Mohon tunggu sebentar ya"


Jika mengharuskan operasi bukankah biasanya ia membutuhkan wali pasien untuk dimintai pendapat tapi bagaimana bisa tanpa adanya wali operasi dilakukan? Mungkinkah aturan di sini yang terpenting adalah keselamatan pasien. Semoga saja begitu. Aku membuang jauh-jauh pikiran negatifku. Bukankah apa yang kamu pikirkan itu pula yang akan kamu dapatkan. Aku ingin Kak Nicho selamat dan kami hidup bahagia bersama.


Bukan hanya aku sendiri di sini yang merasakan takutnya kehilangan orang terkasih. Orang-orang yang duduk di sekelilingku bukankah sedang menunggu saudaranya mungkin,suami mungkin atau orangtuanya mungkin,anaknya,kakek neneknya,sedang operasi. Mereka sama sepertiku berharap orang terkasihnya tertolong. Mereka menggantungkan harapannya kepada Dokter yang sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa orang terkasihnya.


Aku harus tabah. Aku harus tegar. Inilah hidup. Hidup terus berputar. Terkadang bahagia sekejap kemudian menangis. Begitupun sebaliknya.


"Wali pasien Nicho Ramadhan Adiputra"


"Ya saya" Aku terperanjat. Lamunanku buyar seketika.


"Pasien sudah dipindahkan ke ruang inap VIP dan tidak diperbolehkan masuk sebelum pasien sadar"


Deg jantungku seakan berhenti berdetak. Air mata ini kembali lolos.


"Apakah operasinya berhasil?"

__ADS_1


"Berhasil Bu. Berkat seseorang yang mendonorkan darahnya. Sayang wanita itu sekarang sedang pingsan"


Wanita? Siapakah itu?


__ADS_2