
Hari Senin yang aku tunggu-tunggu datang. Hari ini adalah hari persidangan atas kasus tuduhan pemalsuan dana kantor. Niat buruk manusia tidak akan membuahkan hasil yang baik. Begitu juga niat buruk Mba Dellis untuk menjatuhkanku,gagal. Justru berbanding terbalik. Hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada Mba Dellis dengan kasus pencemaran nama baik dan kasus penipuan yang terencana.
Tentu saja aku menolak. Meski Mba Dellis mempunyai niat buruk tapi aku tidak mungkin membiarkannya meringkuk di sel. Jika aku diposisinya,kemungkinan aku akan melakukan hal yang serupa. Lagipula ini bukanlah masalah besar yang mengharuskan seseorang meringkuk di bui.
Rasa iri,dengki,cemburu membuat manusia gelap mata. Setiap masalah yang dihadapi apabila melihat dari sudut pandang oranglain,kita bisa bersikap lebih toleran.
Aku ingin menjadi orang yang tetap merangkul kebaikan sekalipun dia berusaha membuatku terpuruk. Semua hal yang manusia usahakan tidak ada yang percuma. Tentunya hal ini adalah suatu nilai yang positif. Lupakan dan buka lembaran baru untuk hari selanjutnya.
Aku dan Kak Nicho berjalan pulang keluar dari ruangan persidangan. Kak Nicho menggenggam erat jemari tanganku. Segurat kekhawatiran terlukis diwajahnya. Yaa... sebuah pertanyaan siapakah yang mengajukan tuntutan ini hingga ke publik?! Siapapun itu yang pasti orang itu berpihak kepadaku. Terimakasih wahai peri penolongku.
Langkah kakiku terhenti. Aku menoleh ke belakang. Tangan putih mulus menarik blus putihku. Wajahnya lesu. Matanya berkaca-kaca menahan air mata agar tak terjatuh. Dia terduduk di lantai hendak bersujud kepadaku. Tanganku segera menahan gerak tubuhnya. Siapa aku? Aku bukanlah orang yang pantas untuk dihormati sampai harus bersujud di hadapanku. Aku bukan Tuhan. Aku bukan orang suci.
"Tiara maafin gue. Gue udah jahat sama lo. Ini salah gue,Ra. Kamu mau kan maafin gue?" ucapnya. Dia adalah Mba Dellis. Aku pernah merasakan berada diposisinya. Dimana rasa cemburu menguasai hati anak manusia. Dan itu rasanya sakit.
Aku menoleh ke arah Kak Nicho. Ku lihat Kak Nicho memalingkan wajahnya ke arah lain. Kak Nicho pasti kecewa tapi aku harus memaafkan Mba Dellis.
Aku tersenyum ke arahnya.
"Ahh... gapapa kok Mba. Tiara udah maafin Mba Dellis"
Mba Dellis menunduk.
Lirih dia berkata,"Terimakasih banyak Tiara"
Aku mengangguk.
Kak Nicho melepas tanganku yang sedang mencengkeram bahu Mba Dellis untuk menahannya agar tidak terduduk. Lalu menarik tanganku dalam genggaman eratnya.
"Ayo... aku laper sayang,buruan yuk!" Kak Nicho menatap sinis ke arah Mba Dellis.
__ADS_1
"Mba,Tiara duluan ya" ucapku setengah berteriak sebab jarak kami sudah lebih dari 1 meter. Kak Nicho menarikku paksa. Wajahnya sedikit kesal.
"Aaauuuu....."spontan aku memukul bahu Kak Nicho. Kami bertabrakan. Entah mengapa Kak Nicho mendadak berhenti tanpa aba-aba.
Sosok pria paruh baya berdiri gagah di hadapan kami. Ketampanannya masih terlihat jelas meski usianya tidak lagi muda. Di sampingnya berdiri wanita bule yang senyumnya sangat mirip Kak Nicho. Mungkinkah beliau adalah Presdir dan Istrinya? Pak Adiputra dan Ibu Rihana,benarkah?!
"Kamu ini gimana sih sayang. Udah punya calon tapi belum ngenalin ke kami" ucap pria paruh baya itu dengan mengusap sayang kepala Kak Nicho.
Wanita bule di sampingnya meraih tanganku. Dia menarikku untuk dipeluknya. Tapi urung. Kak Nicho menarikku kembali.
"Bunda apain sih main tarik-tarik anak orang?!" aku kembali di posisi semula. Di samping Kak Nicho.
"Ya ampun sayang. Bunda mau peluk menantu Bunda"
Waaiittt.... Benerankan beliau orang tua kandung Kak Nicho. Kak Nicho mirip sekali dengan Bunda. Untuk perawakannya sangat mirip Ayahnya.
"Lain kali jaga menantu ayah dan bunda dengan baik. Masa sampai ada kasus fitnah segala!" ucap Ayah dengan nada yang tegas.
"Sepertinya Nicho harus segera mengurus perusahaan kita,Bund. Dia akan segera menikah. Ayah ga mau hidup menantuku kesusahan karena gaya hidupnya itu yang terlalu pelit" Kata Ayah dengan mengerlingkan sebelah matanya ke arah Bunda.
Sifatnya sama persis Kak Nicho yang jail. Aku terkikik menahan tawa. Itu betul sekali,Kak Nicho sangat pelit. Tapi harga dirinya itu mahal sekali.
Tunggu dulu,Ayah tadi berkata jika Kak Nicho harus jaga menantunya. Mungkinkah beliau yang menyelamatkan aku?
Kak Nicho menarikku untuk pergi. Aku bingung harus bagaimana? Bukankah tidak sopan langsung pergi dari hadapan kedua orang tua tanpa pamit.
Sekitar tiga langkah kami berjalan,Ayah berkata,"Haii bocah mana ucapan terimakasihnya"
Langkah kami sempat terhenti. Kami menoleh ke belakang. Kak Nicho berekspresi datar. Kemudian memalingkan pandangannya kembali ke depan.
__ADS_1
Aku melepas genggaman tangan Kak Nicho. Aku sempurna berbalik arah. Aku memberikan salam hormat kepada Ayah dan Bunda Kak Nicho.
"Terimakasih Presdir" ucapku sedikit bergetar karena rasa takut bercampur malu. Aku bingung hendak memanggil apa?
Kak Nicho langsung menarik tanganku. Langkah kakinya panjang-panjang aku kesulitan untuk mengimbanginya.
"Hai Tiara menantuku. Panggil kami Ayah dan Bunda. Jaga baik-baik menantuku bocah!!" ucap Ayah berteriak.
Kami sudah semakin menjauh. Suaranya masih terdengar lantang menggema.
"Kakak nggak sopan ihh!" Aku melepas kasar genggaman tangan Kak Nicho.
Mulutku sempurna membulat. Aku marah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan. Entah apa yang membuat Kak Nicho bersikap dingin kepada kedua orang tuanya?
Melihat ketulusan yang terpancar dari kedua mata Ayah dan Bunda Kak Nicho,kehadirannya di dunia ini bukanlah hal yang tidak diinginkan. Pasti ada alasannya mengapa Kak Nicho saat bayi harus dititipkan kepada orangtua Tiara. Apapun itu alasannya sebagai orang tua pasti mempunyai niat baik untuk anaknya.
Kak Nicho mengabaikanku. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke arahku. Aku semakin kesal.
"Yaahh..... mungkin Kak Nicho lagi ingin sendiri. Aku pulang ajalah ke kost" gumamku.
Aku pulang ke kost naik taksi. Aku merogoh handphone di tasku. Sial! Handphoneku ketinggalan di apartemen Kak Nicho. Aku rindu kamar kostku. Aku rindu celotehan Nina. Aku juga rindu suasana kantor. Aku ingin kembali bekerja.
Kejadian yang tidak terduga ini membuatku lelah. Aku terlelap tidur sesaat setelah sampai kost. Sekitar 3 jam aku tertidur.
Perutku lapar. Aku memaksakan mataku untuk terbuka. Aku masih mengantuk.
Perlahan aku membuka mata terlihat sosok tinggi besar tidur di ranjangku. Aku hendak berteriak tapi urung,tangan besarnya menutup mulutku.
Siapa?!
__ADS_1
"Sstttt....! Jangan berisik!"
Aku membuka lebar mataku. Aku terperanjat. Bagaimana bisa dia sudah ada di sini? Tatap matanya serasa menembus tulang belakangku. Aura dinginnya membuatku seketika membeku.