
Mobil pajero sport hitam Kak Nicho menembus keramaian malam. Kota Jakarta identik dengan kemacetannya. Suara klakson terdengar bersahutan. Kendaraan roda dua berlomba-lomba mengambil celah. Kendaraan roda empat berbaris rapi ke depan. Ini sudah malam. Sekitar jam 9 malam. Memang tidak sepadat saat jam pulang kantor.
Tibalah kami di salah satu kawasan elit Jakarta,kompleks SCBD. Aku memegang jemari tangan Kak Nicho erat. Aku sedikit gemetar.Benar saja Kak Nicho mengajakku makan di restoran mewah.
Pengunjung restoran ini memakai setelan formal. Tidak ada satupun yang memakai sweater sepertiku. Semua wanitanya cantik-cantik dengan gaun yang menarik. Bentuk tubuh dan riasan wajahnya memanjakan mata memandang. Nyaliku menciut. Andai saja aku tidak menantang Kak Nicho,mungkin aku tidak akan mengalami kejadian ini. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mundur. Aku mengikuti kemana arah langkah Kak Nicho.
Aku membuka daftar menu makanan. Menunya asing. Aku sama sekali tidak tahu makanan seperti apa yang mereka jual. Aku menggigit bibir bawahku.
Hidangan yang kami pesan sudah tersedia di meja. Entahlah itu apa namanya. Semacam tahu tapi berserat apakah itu daging? Ada sausnya di tempat terpisah. Ada bermacam-macam sayur dengan irisan kecil-kecil. Apa itu namanya? Aku gugup,bingung bagaimana cara makannya.
Arrgghhhh.... Gimana ini? Aku malu.
Gimana cara makannya?!
Teriakku dalam hati.
Kak Nicho menatapku. Seolah tahu apa yang sedang aku khawatirkan.
"Kenapa ,Ra? Oh... iya aku lupa. Ini" Kak Nicho menyodorkan handphoneku.
Aku menerima handphoneku. Aahhh... kebetulan sekali aku bisa tanya google.
"Ra kok ga dimakan? Kamu ga suka? Apa mau ganti menu?" Kak Nicho terlihat khawatir.
Ahh bukan begitu Kak,aku bingung mau ngomongnya.
"Ehmmm.... anu...anu.... duh...." aku mengusap rambutku. Bibirku kelu.
Aku pura-pura ke kamar mandi saja kalinya? Ohh Tuhan tolong,Tiara!
Kak Nicho menatapku,menyelidik.
"Kenapa? Kamu ga suka makanannya? Tadi katanya ikut aku aja pesan apa? Aku lagi pengen steak Ra" Kak Nicho mengulang pertanyaannya.
Ohh.... itu namanya steak. Duh... Gimana ini?! Aku malu bilangnya kalau tidak bisa cara makannya. Ahhh bodo ahh... Aku bilang ajalah daripada lapar.
Kruuucccuuukkkk......
Wajahku merah,tanganku bergetar. Aku harus gimana ini? Kenapa Kak Nicho belum mulai makan sih?!
"Makan yuk sayang. Kamu dah laper banget tuh" bukannya bersiap untuk makan tapi Kak Nicho malah menggulir handphonenya.
Aku menggigit bibir bawahku.
__ADS_1
"Kenapa?! Kamu sakit?!"
"Ihhh... Kakak kenapa sih ga peka juga?!" gumamku dalam hati
"Kak,Tiara mau kasih tau tapi janji ga bakalan ketawa ya!" Aku berdiri.
Badanku membungkuk mendekat ke arah Kak Nicho.
Kak Nicho melakukan hal yang sama.
"Iya janji,ada apa?" jawabnya lirih.
"Beneran?!" tanyaku berbisik.
Kak Nicho mengangguk.
"Iya sayang"
"Tia..ra... Ehmmm..... Gimana ya? Ehmm.... anu... Kak" aku menghela nafas panjang. Detak jantungku seakan berlomba berdetak. Kuberanikan diri untuk mengatakannya daripada aku kelaparan.
Aku mendekatkan bibirku ke arah telinga Kak Nicho. Jarak kami sekitar 5 cm. Telapak tanganku terbuka menutupi suaraku. Aku takut ada orang lain yang mendengarnya.
"Tiara ga tau cara makannya,Kak" bisik ku lirih tepat ditelinga kanannya.
Suara tawanya lantang memenuhi seisi rumah makan mewah ini. Semua mata memandang kami. Seharusnya tadi aku tidak menantangnya untuk makan di restoran mewah.
Jika saat ini aku sedang menahan kencing mungkin aku sudah mengompol di tempat karena terlalu malu. Ditambah lagi aku hanya mengenakan sweater biru dengan warna yang sudah memudar. Sama sekali tidak cocok berdampingan dengan Kak Nicho.
Wajahku memerah karena malu. Aku kecewa. Aku juga sangat kesal dengan sikap Kak Nicho yang justru menertawakanku keras-keras. Pikiranku tumpang tindih memenuhi otakku. Aku sampai lupa kalau aku sedang lapar.
"Ini sayang!" Kak Nicho menyodorkan daging steaknya yang sudah diiris ke mulutku. Dia menyuapimu.
"Maafkan aku. Aku udah ketawain ka- oouugghhhtt.... sakit sayang" Aku menginjak kaki Kak Nicho kuat-kuat.
Dia meringis kesakitan. Aku tersenyum puas.
Kak Nicho mengambil piringku. Dia mengiris-iris daging steaknya. Dua piring steak sudah ada di hadapan Kak Nicho. Aku hendak mengambil piringku tapi ditahannya. Dia menyuapiku kembali.
Rasanya lezat,dagingnya lembut dan meleleh di lidah. Ini pertama kalinya aku makan daging steak. Ya maklum bukan karena aku tidak sanggup untuk membelinya hanya saja sayang jika harus merogoh kocek 1jt lebih hanya untuk sekedar makan daging 1 piring. Jika dibandingkan dengan daging ayam sudah dapat lebih dari sepuluh kg daging ayam mentah.
Memang holang kaya itu beda.
Kak Nicho tersenyum melihatku. Wajahku ceria setelah melahap dua piring sekaligus. Aku mengerjapkan mata. Aku tersadar Kak Nicho sama sekali belum memakannya.
__ADS_1
"Eehmm... Kakak ga makan?" tanyaku.
"Tiara pesenin lagi ya. Kakak sih nyuapin aku mulu,sampai lupa ga nyuapin diri sendiri" ucapku. Wajahku merengut. Tangan kananku melambai ke arah waitress.
"Aku udah kenyang kok liat kamu makan" jawabnya sambil tersenyum.
Wanita cantik berseragam coklat kekuning-kuningan dengan kombinasi rok span warna coklat tua datang menghampiri kami.
"Ya Nona mau tambah lagi pesanannya?" tanyanya.
"Kamu masih lapar,sayang?" tanya Kak Nicho lembut.
"Ahhh enggak. Aku udah kenyang. Aku mau pesan untuk kakak"
Bagaimana aku bisa lapar sedang aku sudah habis 2 piring steak ukuran besar. Aduuhhh... aku benar-benar memalukan.
"Maaf ga jadi ya Mba" Kak Nicho yang menjawab. Waitress itu pergi meninggalkan kami.
Kak Nicho menarik tanganku mengajak pulang.
"Ahh... Kakak kan belum makan. Maafin Tiara,Kak. Kakak mau makan apa? Nanti Tiara temani deh" aku menggandeng lengan kiri Kak Nicho.
Dengan lembut Kak Nicho menjawab,"Ga sayang. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat"
"Ehh... Kemana?" tanyaku.
Kak Nicho mendekatkan wajahnya kearahku. Dia berbisik lirih.
"Kamu harus bayar jatah makan malamku" Kak Nicho mengeluarkan smirk.
Ehh... tunggu! Bukannya tadi Kak Nicho pesan dessert untuk makanan penutup ya. Kok kita sudah pergi sih?! Kan sayang sudah dibayar main kabur saja.
"Kak bukannya tadi kakak beli dessert ya? Kok kita main pergi aja sih Kak?!"
"Aku ga mau kamu tambah gemuk. Kamu udah habis 2 porsi daging jumbo sayang" jawabnya.
Dia mencubit hidungku. Jumbo apaan? Ga gede-gede amat sih tapi memang mengenyangkan.
Sial!!! Dia benar-benar buat aku malu setengah mati. Ohh My... Aku ingin menghilang.
Kak Nicho membuka kedua tangaku yang menutupi wajahku.
Dia menjulurkan lidah kearahku. Aku kesal setengah mati. Untung aku cinta mati. Ya sudahlah lupakan saja.
__ADS_1