I Love You..... Kakak

I Love You..... Kakak
PERTEMUAN KE-2


__ADS_3

Samar-samar aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku. Aku menengok dan sontak saja handphoneku terjatuh tanpa sadar.


Diiaaa....


Aku buru-buru beranjak keluar menuju halte busway. Tak peduli hujan mengguyur tubuhku. Aku berlari sekuat aku bisa. Dan aku berharap selama 5 tahun kami berpisah,dia tak mengenaliku. Hatiku bergetar tak karuan.


Aku berharap bus yang aku tunggu segera datang. Tanganku gemetar. Hawa dingin menggigit keras dadaku. Seragamku basah kuyup.


Aku menyalakan Handphoneku,menggulir ke kanan dan kekiri. Hatiku masih berdebar hebat. Bagaimana bisa dia ada di sini? Mungkin mataku rabun. Jelas sekali kalau Manager Nicho bukan kakakku tapi yang aku lihat dan dengar tadi siapa??? Aku benar-benar gila! Aku berhalusinasi yang bukan-bukan.


Aku membuka aplikasi kuning kakaopage. Yaa... untuk menepis hal yang mustahil ada baiknya membaca komik favorit saja "Boss Long Leg". Aku langsung terhanyut dalam khayalan berharap bisa memiliki pacar seganteng dan sehebat Presdir Choi. Tentu saja aku berharap Kak Nicho yang yang jadi Kak Seon dan aku adalah Miss Lee nya. Uhhhh.... Indahnya.


"Tiara. Ikut kami saja" Pak Danniel melongokan kepala menyapa ku. Mobil Range Rover Sport hitam sudah berhenti di depanku.


Astagaa.... Teriakku dalam hati. ****** gue.


"Ayo Ra. Daripada nunggu bus lama mending ikut kami saja. Aku antar pulang!" Pak Danniel setengah berteriak untuk mengimbangi suara hujan.


"Ehmmm... Anu Pak. Tiara sudah ada janji sama teman. Dan kami janjian di sini. Katanya mau jemput Ara. Ga enak kan Pak kalau mendadak pas temen Ara datang,tapi Aranya ga ada" jawabku sambil menggigit bibir bawahku.


Adduuhhhh... Tuhan... Please tolong hamba !!!


Pak Danniel keluar dari mobilnya dan sedikit menarik paksa aku. Dia memperhatikanku yang sedikit gemetaran karena kedinginan dan juga gemetar takut kalau-kalau Pak Danniel bersama dia.


"Kamu udah basah kuyup gini. Masih mau nunggu berapa lama lagi? Kamu kabari aja temanmu. Bilang saja udah bareng sama aku. Jangan sampai kamu sakit loh. Kamukan Office Girls Of The Years. Banyak tugas yang harus kamu persiapkan apalagi besok banyak sekali rapat vip!" kata Pak Danniel sedikit mengancam.


"Tapi.. Pak" jawabku sedikit menolak.


"Ga ada bantahan Tiara!!"


Pak Danniel menggiringku ke mobil bahkan sampai membukakan pintu mobil untukku. Dan memasang seal belt. Aku hanya diam mematung. Aku memejamkan mata.

__ADS_1


Mobil hitam milik Pak Daniel meluncur menembus derasnya air hujan.


"Pakai ini,sepertinya kamu sangat kedinginan!" katanya sambil menyodorkan jas berwarna navy.


Deg.


Detak jantungku seakan berhenti. Tatap matanya yang redup dan penuh kasih. Bola matanya yang berwarna biru yang selalu aku kagumi. Senyum di bibir tipisnya yang sungguh mempesona. Rahangnya yang kokoh. Dia.... Dia... adalah Kak Nicho. Cinta sejatiku.


"Ehmm... Kok bengong ?"


"Tiara" suara berat Pak Daniel memanggil namaku.


"Eh... Ehmm... ya Pak. Ada apa?" Aku tersadar dari lamunanku.


"Itu Pak Nicho memberimu jas. Kasian dari tadi tangannya begitu emang ga pegel? Udah sejam yang lalu itu" Kata Pak Danniel meledek.


Ahhh... benar saja. Tangan Kak Nicho ehh... maksudku tangan Pak Nicho terlihat masih menyodorkan jas nya untukku.


Aku menerimanya kemudian memakainya. Tak lupa aku mengucap terimakasih atas pertolongannya.


Pintu kost sudah tidak terkunci itu pertanda Nina sudah sampai rumah. Nina berdiri di depan pintu kost sedikit bingung.


"Ra,kalau ga salah itukan mobil Pak Danniel? Kok lo bisa pulang bareng sih ama Pak Danniel?! Ada Pak Nicho ga?" tanyanya.


Nina memberondongku dengan pertanyaan yang membuat kepalaku tambah pusing. Aku berlalu tak peduli. Langsung menuju kamar mandi.


"Raaa!!! Lo dengerin gue gak sih!!"


Aku mengabaikan Nina.


"Maaf bukan maksudku cuek,Nin!" bisikku dalam hati.

__ADS_1


Braakkk. Aku segera menutup pintu kamar mandi.


Aku menangis tersedu-sedu. Dia... adalah Kak Nicho,orang yang sangat aku cintai dan aku rindukan. Tapi bagaimana mungkin Kak Nicho yang ada di hadapanku ini masih lajang. Sedang 5 tahun lalu dia mengenalkan tunangannya tepat di usiaku yang ke 20 tahun sebagai surprise untukku katanya.


Beberapa hari yang lalu aku sempat merasa tenang sebab aku yakin Nicho yang dimaksud Nina,Sela dan para rekan kantorku itu bukan Kak Nicho Ramadhan kekasihku. Karena aku yakin saat ini dia sudah menikah. Dan mereka bilang Nicho yang ini belum menikah. Antara bahagia dan sedih aku tidak bisa membayangkannya.


Mata birunya yang menatap teduh dan hangat. Benar... Mata birunya yang selalu membuat aku bertanya-tanya. Jika benar Kak Nicho adalah kakak kandungku bukankah kami hanya keturunan orang jawa. Dan seperti yang aku ketahui orang jawa rata-rata memiliki mata berwarna coklat tua atau hitam. Tapi ini?


Aku selalu berharap bahwa Kak Nicho bukanlah kakak kandungku. Tapi setiap kali aku tanya ke Ibu,nenek dan tetangga,mereka selalu bilang bahwa Kak Nicho adalah kakakku. Entah ketika aku bertanya kakak kandung atau bukan mereka selalu menjawab "Iyo kui kakangmu to nduk. Sopo meneh!"


Mata biru itu yang menjadi alasan untukku tetap menggenggam erat cinta ini. Dan aku berharap suatu ketika ada seseorang yang berkata bahwa dia bukanlah kakak kandungku. Dan kami bisa menikah lalu hidup bahagia.


Aku masih terhanyut dalam pikiranku tidak peduli sudah berapa lama aku berendam di kamar mandi. Sudah berapa kali Nina mengetuk pintu kamar mandi. Aku tahu,Nina pasti sangat khawatir.


Dia terlalu bawel tapi dialah sumber kekuatanku saat dimana aku sedang rapuh. Dia yang selalu menemaniku meski sedikitpun aku tidak pernah bercerita tentang masa laluku. Aku selalu menggenggam erat masa lalu ini dan berharap semua seperti rintik hujan yang akan berhenti dan tergantikan dengan datangnya pelangi.


"Ra,mandinya jangan lama-lama Ra kan lo tadi abis keujanan. Tar sakit. Gue ga mau ngrawat lagi loh ya!!!" teriaknya sambil mengetuk kamar pintu kamar mandi.


Aku keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk istirahat. Nina menyodorkanku teh hangat. Dan mulai dengan pertanyaannya yang dari tadi belum aku jawab.


Yaahhh... sekuat apapun aku berusaha untuk menghindar,aku tidak akan bisa.


Aku menjawabnya. Aku dengan Pak Danniel dan Pak Nicho Sang Idol di kantor,pulang bareng. Nina syok mendengar aku bercerita terlebih lagi diberi pinjaman jas untuk menghangatkan badan.


"Trus... trus... Ra. Pak Nicho gimana ganteng enggak? Gantengkan?!" katanya sangat antusias mendengar ceritaku.


"Aduuhhh kalau gue jadi lo udah gue peluk tuh Pak Nicho" imbuhnya.


Aku mengangkat bahu tak peduli. Dan langsung menarik selimutku. Aku pura-pura tidur. Sial nya mataku enggan terpejam. Wajah Kak Nicho selalu terbayang. Ada rasa sakit yang menghimpit dadaku.


Aku harus gimana?! Aku mencintaimu Kak. Aku sungguh tidak rela kakak dengan yang lainnya. Batinku berbisik lirih.

__ADS_1


Aku menahan isak tangisku. Malam ini aku ingin memendam rasa ini sendirian. Rasa yang sudah bertahun-tahun mengkarat di lubuk hatiku.


Sepertinya Nina sudah tertidur. Aku membalikkan badanku. Kupandangi wajah cantik Nina yang tertidur pulas. Aku memperbaiki selimut Nina,menariknya sampai menutupi dadanya. Dia sahabatku,meskipun aku sering terlihat cuek tidak sekalipun Nina membenciku. Aku tersenyum dan memeluknya.


__ADS_2