
"Kak hiks kakak...."
"Iya sayang kenapa?"
Aku mengeratkan pelukanku. Teramat perih melepaskan orang yang teramat dicintai apalagi ia adalah cinta pertama yang sangat diharapkan menjadi kekasih terakhir.
Tapi jika dipikir lebih lanjut lagi bukankah berpura-pura untuk sementara waktu menjadi kekasihnya itu tidak masalah ?!
Bagi wanita itu yang terpenting saat ini adalah memiliki Kak Nicho seutuhnya. Apa dia buta hingga tidak mau untuk mengalah sedangkan pernikahan kami sudah di depan mata.
Jika untuk sementara Kak Nicho harus berpura-pura menjadi kekasih Putri,apakah nantinya Putri akan menerima dengan lapang kenyataan ini.
Tidak! Tidak!
Bagaimana bisa aku membayangkan Kak Nicho bermesraan dengan wanita lain selain aku?
Kejadian beberapa waktu lalu meskipun saat itu Kak Nicho sedang mabuk tapi aku yakin Putri sengaja untuk berpura-pura menolak. Jika Dad tidak turun tangan,bisa dipastikan Kak Nicho telah jatuh ke dalam pelukannya.
Akan tetapi jika aku tidak merelakan untuk sesaat,aku khawatir nyawa Putri tidak akan tertolong. Secara tidak langsung aku adalah pembunuh Putri.
Tidak! Tidak!
Aku bukan wanita jahat seperti itu.
"Kenapa sayang heemm?"
"Kak bagaimana kalau kita merawat Putri. Putri telah menyelamatkan nyawa Kakak. A,aku tidak ingin Put-"
"Ssttt... Kamu bicara apa? Yang menyelamatkan aku adalah Allah,sayang. Putri hanya perantara saja. Dan kalaupun Allah tak berkehendak nyawa kakak juga tak bisa tertolong"
Kak Nicho menempelkan telunjuknya ke bibirku.
"Maksud Tiara bukan begitu Kak. Kita berdua yang merawatnya. Aku ada di sana kok. Aku janji tidak akan cemburu. Suweer Kak!"
Aku mengacungkan 2 jari ku sebagai tanda perjanjian.
"Aku tak mau ada drama murahan lagi dalam hubungan kita sayang"
"Lalu kakak mau bagaimana? Tiara ga mau dibilang sebagai pembunuh hanya karena tidak memberi kesempatan kepada Kakak untuk merawat Putri. Kalau nyatanya Putri meninggal trus menghantui Tiara,Tiara justru merepotkan Kakak,kemana-mana Tiara harus ikut"
"Nah itu yang aku tunggu,kemanapun aku pergi kamu memang harus bersamaku terus. Tidak boleh tidak. Beginikan jadinya kalau kamu tidak mau ikut kemana aku pergi. Untung nyawa Kakak bisa tertolong kalau tidak?!"
"KA-KAK!!"
__ADS_1
Aku melotot. Aku sangat kesal. Bisa-bisanya Kak Nicho bicara begitu. Ia tidak tahu apa ya yang sedang aku takutkan?
"Iya sayang maaf ya"
Satu kecupan di keningku telah mendarat.
"Kak Nicho harus menolong Putri. Kita rawat berdua pokoknya Kakak tidak boleh menolak!"
Aku menyilangkan kedua tangaku di dada. Aku duduk membelakangi Kak Nicho. Bibirku mengerucut.
"Kamu beneran tidak apa-apa? Nanti kamu cemburu trus ngambek trus nangis guling-guling di lantai heemm?"
"Ihhh Kakak apaan sih maza Tiara guling-guling di lantai. Emang anak kecil?!"
"Utututuu... Cayang. Iya deh boleh. Nanti aku ajukan syarat ke ayahnya Putri"
Kak Nicho memelukku dan mengayunkan pelan tubuhku. Seperti sedang menimang bayi,diayunkan ke kanan dan ke kiri. Meski begitu aku suka cara dia menenangkanku.
Apalagi menatap mata birunya. Bibirnya yang seksi. Uhmmm dia juga sangat manis saat tersenyum. Ahhh apalagi jika melihat tubuhnya yang sixpack waahhh jika aku lepas kendali bisa gawat.
Untung sih aku kuat iman menahan godaan terberat dalam hidupku. Jika jujur semua rencana Putri tidak ada satukan yang berarti bagiku. Hanya satu yang membuatku goyah yaitu pesona dari Kak Nicho.
"Melamunkan apa hemm?"
Kak Nicho menyentil keningku.
"Ihhh sakit Kak!"
"Lagian kamu melamunkan apa bisa senyum-senyum sendiri begitu?"
"Siapa lagi kalau bukan Kak Nicho ?!"
"Lha aku aja ada di sini kenapa kamu sempet-sempetnya melamun? Lagi melamun yang ngeres ya?! Aawwww"
Suara Kak Nicho melengking saat aku mencubit perutnya. Sekalian saja aku gelitiki badannya. Ia lemah terhadap gelitikan tangan.
"Ampun sayang. Please. Kakak nyerah deh. Adduuhhh haha. Tiara ihh udahan dong"
Ia memohon ampun sekaligus tertawa terbahak-bahak.
Karena aku terlalu baik hati,aku melepaskannya.
"Otak kakak tuh yang mesum. Aku mah enggak?"
__ADS_1
"Maza sih sayang. Yaahhh kalau begitu ga jadi deh dedeknya kalau yang mesum cuman aku!"
Ia terlihat kecewa.
"Ihh apaan sih Kakak. Kumat deh. Kumat!"
"Ya mesum dikit juga ga apa-apa kok Ra. Lagipula kamu juga sudah dewasa. Apa salahnya sih. Kita juga sudah mau menikah. Nih lihat cincin tunangan kita"
Ia menarik jari manisku. Dikecupnya telapak tanganku.
"Aku mau membantu Putri tapi aku tidak bisa untuk berpura-pura menjadi kekasih Putri. Aku mau jika merawat saja,memberi semangat hingga ia kembali pulih. Perasaan ini bukan sekedar permainan Tiara yang dengan mudahnya kita ubah. Karena ini menyangkut hati"
Raut wajah Kak Nicho berubah serius. Ia menatap tajam lurus ke epan. Entah apa yang ia bayangkan,yang pasti saat ini aku percaya ia tengan memikirkanku terutama hubngan cinta kami.
"Kamu tahu ada banyak manusia yang bahkan melakukan tindakan jahat demi mendapatkan cinta dari seseorang. Ada pula yang melakukan tindakan bodoh hingga ia tega mencelakakan dirinya sendiri. Belum lagi orang yang stress hingga gila karena cintanya tertolak. Tapi manusia itu sudah memiliki garis hidup sendiri-sendiri termasuk jodoh,Ra"
Aku menatap bola matanya yang biru. Sebuah ketulusan terpancar di sana. Aku yakin di sana tak pernah ada kebohongan.
"Hanya manusia yang tidak ikhlas saja yang menjadikan mereka berlaku jahat dan bodoh. Sebab semua alur cerita hidup manusia sudah ada yang mengatur. Bukan rekayasa manusia yang dengan mudah diterawang masa depannya. Hidup manusia itu indah sebab Tuhan yang menciptakannya"
Aku mengangguk.
Apa yang ia katakan itu benar tapi saat manusia tengah berada dalam kesedihan bisakah ia berpikiran jernih seperti ini? Sedang aku saja sempat melarikan diri ke Jakarta demi tidak menerima kenyataan hidup yang telah Allah gariskan kepadaku.
"Jika manusia menyadari bahwa novel yang merupakan karya manusia saja bisa begitu indah alurnya. Bahkan ia juga membutuhkan konflik hingga klimaks untuk menarik pembaca. Di situ pula penulis novel memberikan akhir cerita yang indah. Yang ia buat sedemikian rupa. Lalu mengapa manusia tidak berterimakasih kepada Tuhan jika saat ini sedang menghadapi konflik atau bahkan sudah sampai pada klimaks?"
"Kak Tiara pernah di posisi itu"
"Aku tahu Tiara. Bahkan aku juga pernah di posisi dimana aku menjadi pria bodoh. Dari situ aku belajar untuk menjadi lebih baik. Sebab benar kebahagiaan yang saat ini kita terima bukankah begitu indah?!"
Aku mengangguk.
"Tidak ada jalan yang terus-terusan menanjak. Kamu lihat suatu pegunungan. Saat jalannya menanjak,akan terasa sangat berat. Untuk mencapai puncak suatu pegunungan butuh perjuangan yang berat. Tapi lambat laun setelah itu akan terasa ringan. Karena jalannya menurun"
"Sama seperti hidup saat kita tengah menghadapi permasalahan,apapun akan terasa sangat berat. Namun saat kita mencapai puncak dimana kita mampu untuk mengikhlaskan jalan yang telah Tuhan beri,lambat laun konfik itu terasa ringan. Bukan berarti tidak adanya masalah. Namun masalah itu terasa ringan sebab hati kita telah pasrah kepada Tuhan"
"Tiara akan belajar Kak"
"Iya sayang,kita belajar bersama-sama. Saling melengkapi. Saling mengingatkan terutama dengan rasa kasih dan sayang"
Aku bersyukur dengan anugrah yang telah Tuhan berikan kepadaku. Memiliki calon suami yang begitu tulus menyayangiku. Dia sangat dewasa dan bijaksana. Baginya aku adalah segala dalam hidupnya. Terutama kebahagiaa ku. Baginya adalah no satu dan orientasi hidupnya.
"Kak,aku mencintaimu"
__ADS_1