
Hari yang panjang dalam hidupku. Berbagai masalah hadir silih berganti seolah dia nyaman denganku. Hanya tekad yang bulat untuk membahagiakan Tiaralah yang membuatku sanggup untuk berdiri hingga saat ini.
Jika aku terlahir sebagai seorang wanita,sudah ribuan tetes air mata jatuh membasahi bantal. Begitu bukan? Saat sedang sedih wanita akan menangis di kamar tidur. Mengunci di kamar tidur sehari semalam bahkan lebih.
Semua sudah terjadi dan tidak ada baiknya jika terus meratapi meskipun tidak bisa aku pungkiri hatiku menangis tanpa air mata.
Aku dan Fernand sedang menunggu data di Rumah Sakit Panti Rapih. Data kelahiran 23 tahun silam. Hanya dengan cara ini aku bisa menemukan siapakah orang tuaku? Sebelum aku ke luar negri untuk kuliah,masalah ini harus sudah terpecahkan.
Terlintas wajah cantik Putri. Berselang kemudian Tiara. Kedua wanita ini sangat menyita hidupku. Perasaan bersalah tadi siang yang belum sempat aku selesaikan mungkin membuat alam sadarku terus memikirkannya.
Tiara tampak tersenyum menatapku. Akupun membalas senyumnya. Saat aku mengedipkan mata,bayangan Tiara di depanku hilang. Aku mendengus kesal. Lagi-lagi berhalusinasi.
"Boy?" Fernand membuyarkan lamunanku.
"Tadi gua liat Putri nangis. Lu apain cwe gue?" Fernand menatapku garang. Aura singa terpancar dari tatapan matanya. Aku membalas tatapannya tak kalah garang. Tanpa sepatah katapun.
"Haaa.... Ha....hahah... Gue akui cwo paling dingin di kampus itu cuman lu,Nic! Gue ga serius boy!"
Bisa-bisanya dia tertawa setelah menatap garang kepadaku. Membuatku jengkel saja. Tangannya menepuk-nepuk pundakku dan mengguncangkannya. Aku menatapnya sinis.
"Boy come on... gue bercanda boy! Maza cowo most wanted kampus kita ini jago ngambek aahhh.....!!!"
Aku menjitak kepalanya,keras. Aku geleng-geleng kepala melihatnya. Fernand meringis kesakitan.
Benar,Fernand dialah sahabat karibku yang sangat tulus. Aku mengerti Fernand tidak serius tapi mimik wajahnya itu sangat tidak bersahabat. Dan bahkan baru pertama kali ini dia begitu. Aku paham rasa cintanya kepada Putri. Tapi aku sama sekali tidak punya maksud untuk menyakiti hatinya. Cinta tidak bisa dipaksakan,bukan?
"Lu harus tanggung ljawab kalau otak gue geser!" ancamnya.
"Dari dulu otak lu emang udah geser,Nand!" aku meledeknya.
"Serius nih,tadi Putri lu apain?" tanyanya kembali masih mengelus-elus kepalanya bekas jitakanku.
"Gue gak apa-apain bro!"
"Putri nangis,gimana ga lu apa-apain?" Fernand menyangkal.
"Gue tolak,makanya dia nangis. Mau gue kejar ehh lu nya mapah nelpon. Gue kehilangan jejak gara-gara lu !"
Fernand menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Ck,lagian juga ganteng gue daripada lu Nic. Emang cinta itu buta! Ga bisa bedain mana cowo ganteng mana enggak ya!" jawabnya dengan nada pongah.
Aku hanya bisa tersenyum. Fernand pria keren. Badannya sixpack. Wajahnya juga tak kalah tampan. Dia pria jawa asli namun dari keluarga yang cukup terpandang. Fasilitas gym di rumahnya saja sudah komplit. Terkadang aku merasa iri. Aku bukan berarti tidak pernah ikut ngegym di rumahnya,hanya saja aku lebih fokus belajar.
"Saudara Nicho Ramadhan"
"Ya Sus"
Dengan langkah terburu-buru aku mendatanginya.
"Iya benar,pada tanggal 24 Februari tahun 1992,ada seorang wanita bule bernama Rihana Wilhelmina melahirkan seorang bayi laki-laki namun sepertinya bayi tersebut telah diberikan kepada sepasang suami istri yang kebetulan kehilangan bayinya setelah melahirkan"
"Ya itu benar Sus. Apakah ada alamatnya Sus?"
"Iya beralamat di Casa Grande. Beberapa waktu lalu seorang Bapak dan Ibu juga menanyakan hal yang sama kepada kami. Saat itu yang bertugas rekan saya"
Aku mengangguk. Sepertinya Bapak dan ibu sudah lebih dulu datang ke sini.
"Terimakasih Sus"
"Sama-sama" jawab Suster Rini dengan seulas senyum.
"Busyeett... Lu ternyata anak konglomerat boy. Gua bisa kalah saing nih buat dapetin Putri"
Fernand terkekeh sendiri dengan ucapannya. Membuatku ikut tertawa.
"Lu bisa dapetin Putri kapanpun!" jawabku.
"Yayaya... Tapi Putri lagi cinta mati ama lu,gimana gue mau ndapetin?!"
Fernand hanya sedikit menoleh ke belakang,dia kembali fokus mengendarai motor sportnya.
"Sabar bro" jawabku yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.
Sedikit demi sedikit masalah ini akan terselesaikan. Hidup itu sendiri adalah perjuangan jadi jika seorang manusia mengaku hidup sedang tidak mau berjuang, baginya sama saja dengan mayat hidup. Dan inilah yang membuatku tetap tegar meskipun bertubi-tubi masalah datang.
Kami tiba di depan rumah elit bergaya eropa modern dengan pilar berwarna krem dengan pagar lengkung membingkai depan rumah. Belum sempat kami memencet tombol bel. Seorang pria kekar dengan seragam security datang membukakan pagar.
"Selamat sore ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Se..selamat sore Pak" jawabku dengan sangat gugup. Jantungku berdebar tak karuan,rasa takut dan harap cemas bercampur jadi satu.
Pak security tampak memperhatikanku. Tatap matanya tajam seolah sedang menuntut jawaban dari seseorang yang sedang kepergok mencuri.
"Maaf Pak,Saya Nicho Ramadhan anaknya Pak Suryo Atmojo Diningrat. Apakah saya bisa bertemu dengan Ibu Rihana Wilhelmina dan Pak Adiputra?"
Pak Security memperhatikan kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tanpa basa basi Pak Security menolak kami.
"Maaf,sepertinya kalian salah alamat"
Pak Security menutup pintu pagar. Dengan sigap,aku langsung menahannya. Sial! Cepat sekali pergerakan tangannya. Dia pergi begitu saja tanpa menghiraukan kami.
"Pak,saya mau bertemu Ibu Rihana tolong saya sedang ada perlu Pak"
Aku mengguncangkan pagar lengkung warna emas berharap Pak Security berubah pikiran. Sayang dia sama sekali tak bergeming.
Aku terduduk di depan pagar. Menunggu di sini adalah pilihan yang tepat. Mungkin saja Sang pemilik rumah sedang di luar dan akan kembali saat malam nanti.
Sudah puluhan tahun berlalu jika rumah ini bukanlah rumah orangtuaku itu wajar tapi hatiku sama sekali tak bisa untuk menerima kenyataan. Tanganku sempurna mengepal.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun tidak ada tanda-tanda pemilik rumah akan datang. Rasa ini membuatku frustasi. Ingin sekali aku menyerah tapi apakah benar hanya sampai di sini perjuanganku?
"Boy,pulang yuk. Ke rumah gue aja. Kalau pulang ke rumah lu bakalan kemaleman"
Aku mengangguk.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
?????