I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Kenapa ingatan anak kecil tajam sekali


__ADS_3

Caca memang sudah berusaha mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu bertemu lagi dengan Tara. Tapi ia tidak menyangka akan secepat ini takdir membawa Tara ke hadapannya.


"Mama.. Itu Om jahat.." bisikan Mentari yang kini bersembunyi di balik tubuhnya menyadarkan Caca dari kebekuan.


Rasanya Caca tak memiliki tenaga untuk melangkahkan kakinya mendekati kedua orang yang tengah menatapnya dengan binar.


Caca belum bisa memalingkan tatapan dari mata pria itu. Tatapan teduh yang dulu membuat Caca bertekuk lutut dan menyerahkan dirinya.


Sedangkan mama Shinta sudah langsung mendekati Mentari yang semakin bersembunyi.


"Hallo anak cantik.. Siapa namanya?" tanya mama Shinta lembut dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Mentari.


Gadis kecil yang masih merasa takut begitu melihat Tara yang ia ingat adalah Om-Om yang di tabrak dan memarahinya ketika berlibur, menarik lagi dress ibunya. Membuat Caca menunduk menatap sang anak.


"Gak papa sayang.. Ayoo kenalin namanya." jawab Caca setelah berdeham beberapa kali ketika mengetahui tatapan anaknya yang meminta dukungan.


"Tari.. Nama saya Mentari, nek." gadis kecil itu mengulurkan tangannya takut-takut yang di sambut antusias oleh mama Shinta.


Tari mencium punggung tangan mama Shinta seperti yang sering ibunya ajarkan ketika bertemu orang yang lebih tua darinya.


"Namanya cantik sekali.. Persisi seperti orangnya." puji mama Shinta sungguh-sungguh. "Boleh nenek peluk?" ijin wanita paruh baya itu. Tak ingin membuat cucunya takut.


Sekali lagi Mentari menatap ibunya. Caca tersenyum tipis dan mengangguk. Meyakinkan putrinya.


Mama Shinta memeluk Mentari penuh haru. Wanita itu bahkan sampai meneteskan air mata. Setelah sekian lama pencarian, akhirnya ia bisa melihat dan memeluk cucu yang selama ini ia khawatirkan keberadaannya.


"Cucu nenek sudah sebesar ini.. Maafkan nenek sayang."


***


Tara mengernyit saat mendapati begitu banyak panggilan dari ibunya. Tidak biasanya wanita yang melahirkannya menelfon di jam kerja seperti itu.


Tara baru saja selesai melakukan meeting dengan klien di salah satu hotel miliknya di bali. Dia masih harus stay beberapa hari ke depan untuk meninjau lokasi yang akan di bangun hotel cabang dari miliknya itu.


Pria tinggi itu melepas kasar dasi yang melingkar di lehernya. Merebahkan diri melepas penat. Tak ada lagi semangatnya hidup setelah wanita yang ia cintai pergi meninggalkannya. Namun demi orang tuanya, ia harus berpura-pura kuat menjalani hidup meski tidak dengan normal.


Dan alangkah terkejutnya Tara begitu menghubungi balik ibunya. Mama Shinta mengatakan jika beliau bertemu dengan Caca dan sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan wanitanya itu.


Tak ingin membuang waktu, Tara langsung meminta sekretarisnya untuk memesankan tiket pesawat pulang ke Jakarta saat itu juga.

__ADS_1


Dan semua pekerjaan yang tersisa, Tara percayakan pada sekretarisnya itu.


Tak bisa langsung di temukan, memang. Tapi mungkin Tuhan tengah berbaik hati padanya. Merasa kasihan pada jiwa matinya. Karena malam hari berikutnya, ada angin segar tentang alamat pemilik mobil yang mama Shinta sempat lihat di gunakan oleh Caca.


Dan orang suruhannya memberitahu kalau menurut penuturan tetangga terdekat, di rumah itu pernah tinggal wanita hamil bernama Icha yang menikah dengan anak dokter atau si pemilik rumah.


Saat itu juga, hati Tara serasa tertancap ribuan anak panah. Hatinya terluka. Luka yang tak berdarah tapi sangat menyesakan. Lebih menyiksa karena tak ada obatnya.


Di tengah keterpurukannya, mama Shinta mendatangi kantor pencatatan sipil dimana nama Caca sekarang tercatat. Dan angin segar kembali berhembus.


Tara kembali bersemangat ketika mengetahui ternyata pernikahan Caca hanya berjalan tak lebih dari lima bulan sejak nama Caca tercatat bersuami hingga kembali tercatat status pernikahannya menjadi cerai hidup.


Tara langsung mengajak mama Shinta untuk menuju rumah alamat Caca tinggal. Tapi ternyata semenjak bercerai, Caca tidak lagi tinggal di sana meski alamat di tanda pengenalnya masih alamat dokter yang tak lain adalah mantan mertua Caca.


Untungnya asisten rumah tangga di sana berbaik hati dengan memberitahu alamat rumah Caca saat ini kepada mama Shinta yang mengaku sebagai neneknya.


Semua aset milik Caca ternyata mengatas namakan dokter Risma. Hingga alamat Caca tinggal pun masih alamat dokter Risma. Mungkin itu yang membuat Tara selama ini kesuliatan melacak keberadaan Caca. Terlebih Caca tidak pernah keluar dari zona amannya.


Hatinya kembali teriris ketika tiba di rumah yang Caca dan anak mereka tempati.


Memang bukan rumah reot yang tak layak huni. Rumah itu meski sederhana tapi terlihat rapi dan nyaman. Apa lagi dengan halaman yang luas dan aman untuk bermain anak.


Tara sempat putus asa ketika Caca tak juga membuka pintu rumah setelah ia dan sang ibu sudah menekan bel berkali-kali juga mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Tara pikir, Caca tak mau lagi menemuinya. Sampai sebuah suara anak kecil terdengar dari arah belakangnya. Suara yang pernah ia dengar tapi entah dimana.


Hingga Tara membalikan badan dan matanya bersikobok dengan bola mata hitam yang selama ini ia rindukan. Wanita yang membawa jiwanya pergi. Wanita yang membuatnya frustasi dan tak memiliki semangat hidup.


Disana, Caca berdiri terpatung. Mungkin merasa syok dengan kehadiran dirinya dan sang ibu. Tapi mata itu masih sama hangatnya. Memancarkan rasa rindu yang sama seperti yang ia rasakan.


Cukup lama mereka saling tatap, hingga Caca berpaling pada gadis kecil yang bersembunyi di belakangnya. Gadis kecil yang baru ia sadari keberadaanya. Gadis kecil yang sedang coba mama Shinta dekati.


Meski terlihat takut, tapi gadis kecil itu mau di peluk oleh mama Shinta.


Kini ia mendekat. Berusaha lebih jelas melihat anak dan istrinya. Hatinya kembali bergemuruh begitu melihat putrinya sudah sebesar itu.


Ayah macam apa dirinya? yang tak menemani anaknya tumbuh.


Tara ikut berjongkok di depan gadis kecil yang masih menggenggam erat dress Caca dan kembali menyembunyikan diri.

__ADS_1


"Mentari sayang.. Ayo salim sayang sama papa. Ini papa Mentari, Nak." rayu mama Shinta pada gadis kecil yang kini memeluk pinggang Caca dari belakang, hanya mengintip sedikit. Mungkin gadis itu penasaran.


"Ayoo sayang.." rayu mama Shinta lagi.


Mentari menggeleng kuat. "Itu bukan papa. Itu Om jahat yang marahin Tari, waktu Tari jalan-jalan sama ayah."


Tara mengernyit. Kapan ia memarahi anak kecil?


Aah iya. Ia ingat ketika ada anak kecil yang menabraknya di Bali tempo hari.


Pantas saja saat itu ia merasa gadis kecil itu sekilas mirip dengan Caca. Dan saat sekarang ia amati lebih jelas, ternyata gadis kecil ini memiliki jenis wajah dan warna mata yang begitu serupa dengan dirinya. Menjadi perpaduan yang sangat cantik.


Jadi gadis itu adalah putrinya, dan ia malah memarahi anaknya sendiri?


Dan sekarang, putrinya takut padanya?


Kenapa ingatan anak kecil tajam sekali. Erang Tara dalam hati.


*


*


*


Hai hai hai... Adakah yang belum tidur?


Maafkan aku yang kurang riset sebelum menulis cerita. Sampai sudah setengah jalan kaya kini baru di rombak asal muasal ceritanya. hihihi


Jadi aku baru tau kalau anak dan ayah tiri itu haram untuk menikah. Untuk itu, awal cerita di sini aku rubah. Caca bukan sebagai anak tirinya Tara, melainkan anak angkatnya.


Lebih detailnya bagaimana bisa Caca itu jadi anak angkat. Kalian baca aja di bab pertama. Disana ada cerita bagaimana Caca akhirnya di angkat anak oleh Tara. (kalau udah lulus review)


Dan untuk cerita Cinta Terlarang. Karena udah terlalu banyak bab dan othor yang satu ini males buat revisi. Akhirnya aku hapus gaes 😭😭 masih proses review juga sih..


Padahal gak gampang bikin cerita. Tapi aku takut karena ketidak pengetahuanku mengundang banyak kontra.


Tapi ceritanya tetap bisa di mengerti kok meski tanpa baca Cinta Terlarang.


Jadi.. Maaf untuk yang merasa kecewa. Tapi aku harap masih banyak yang suka cerita ini..

__ADS_1


Happy Reading gaes.. 🤗🤗


__ADS_2