
Tara tak tahu kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit. Dan ia tak bisa menjawab pertanyaan wanita yang memanggilnya 'mas'. Ia bahkan tak kenal dengan wanita itu. Jadi ia sendiri bingung harus menjawab apa.
Hal terakhir yang ia ingat adalah istrinya yang masuk rumah sakit karena sakit keras. Istrinya-Nindi-dalam masa kritis pasca operasi.
Apa ia pingsan hingga bisa dirawat seperti itu?
"Alhamdulillah tuan. Hasil pemeriksaan semua menunjukan tanda baik. Nanti bisa langsung di pindah ke ruang perawatan." ucap Dokter pada Tara dan perawat yang mencatat hasil pemeriksaan.
"Dimana istri saya?" tanya Tara berupa gumaman lirih. Pria itu masih merasa pusing dan lemas.
"Nyonya Nathasya?" tanya seorang perawat yang sudah mengenal Caca yang selama beberapa hari ini selalu menemani Tara.
Dahi Tara mengernyit bingung. "Bukan." jawabnya. "Nindi." gumamnya di sisa tenaga yang ia miliki.
"Nindi?" kini giliran perawat itu yang bingung "Biar saya tanyakan pada keluarga anda dulu."
Setelah perawat kembali lagi, Tara semakin bingung karena perawat itu bilang tak ada yang bernama Nindi di luar. Bahkan keluarganya tidak ada yang mengenalnya.
"Bagaimana mungkin mama tidak mengenal Nindi. Wanita yang sudah menjadi istrinya selama bertahun-tahun." batin Tara.
"Kalau begitu, tolong panggilkan keluarga saya, sus." pintanya dengan suara yang kini mulai terdengar jelas.
Mama Shinta dan Papa Adley memasuki ruangan. Terlihat jika mamanya begitu bahagia melihatnya kembali sadar.
Papa Adley langsung menanyakan kondisinya pada dokter yang masih dalam ruangan. Sedang mama Shinta langsung mendekatinya.
"Bagaimana sayang.. Mana yang masih sakit?" wanita itu membelai rambut putranya lembut.
Tara menggeleng. "Aku cuma pusing, mah." jawabnya. "Nindi mana? apa dia masih kritis?"
Mama Shinta terlihat semakin bingung. "Nindi siapa sayang? apa ada wanita yang kecelakaan bersamamu?"
"Kecelakaan apa, mah? Dan masa mama nggak kenal Nindi." napas Tara mulai tak beraturan. "Nindi, mah! istri yang aku nikahin setelah lulus kuliah!"
Mama Shinta membekap mulutnya. "Paah?" lirih mama Shinta memanggil suaminya. Pria yang sudah berdiri disampingnya. Pria yang kini mengusap bahunya lembut.
"Apa kamu lupa, Tara? Nindi sudah meninggal lebih dari delapan tahun."
__ADS_1
"A-apa? nggak. Nggak mungkin pah. Nindi nggak mungkin ninggalin aku!"
Tara kalap. Ia memberontak dan berteriak menolak kenyataan bahwa wanita yang ia cintai telah tiada.
Demi keamanan Tara, dokter menyuntikan obat penenang hingga membuat pria itu tertidur.
"Putra kami kenapa dok?"
"Hasil pemeriksaannya semua normal. Tapi mungkin akibat benturan keras dibagian kepala mengakibatkan tuan Tara mengalami amnesia traumatis. Amnesia ini umumnya hanya bersifat sementara, jadi tuan dan nyonya tidak perlu khawatir. Nanti kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti lab dan CT-Scan." ucap dokter sebelum meninggalkan Tara dan keluarganya.
Caca tertunduk lesu mendengar semuanya. Apa selama ini ia tak penting hingga yang Tara ingat justru Nindi, bukan dirinya.
Seharusnya ia tak pantas cemburu dengan almarhum ibu angkatnya. Lagi pula bukan Tara yang meminta itu semua terjadi.
Namun tak bisa di pungkiri jika hatinya berdenyut nyeri. Hatinya cemburu karena suaminya mengingat wanita lain selain dirinya.
"Sabar sayang. Nanti Tara akan kembali sembuh. Kita hanya perlu berdoa dan membantunya pelan-pelan untuk kembali mengingat." ucap mama Shinta yang mengerti kegundahan hati Caca.
***
"Lalu Caca dimana?" tanya Tara meliarkan pandangan. Mencari gadis remaja yang dulu sangat manja padanya dan sang istri. Ia khawatir dengan anak angkatnya itu. Gadis itu pasti sedih di tinggal ibunya.
Mama Shinta mengajak Caca yang tadinya menunggu di luar untuk masuk. Disambut senyum hangat milik Tara.
Tapi kini senyum itu tanpa cinta. Itu adalah senyum seorang ayah untuk putrinya.
Caca mendesah. Belum apa-apa matanya sudah berembun.
"Hai, ayah." sapa Caca begitu mendekati brangkar Tara. Suaranya tercekat ketika mengucap kata 'ayah'. Jantungnya bertalu-talu dengan rasa nyeri yang mulai merayap dinding-dinding dadanya.
Tara menggerakan tangannya agar Caca lebih mendekat. Ia bawa wanita itu dalam rengkuhan. "Putri ayah sudah besar sekarang. Maafin ayah. Kamu pasti sedih kehilangan bundamu."
Tangisnya tumpah mendengar ucapan suaminya. Tangis yang Tara kira disebabkan oleh kenangan buruk mereka disaat Nindi meninggalkan mereka. Tanpa tahu jika wanita dalam pelukannya menangis karena dirinya yang tak mengingat kisah cinta mereka selama ini.
"Maafin ayah, nak. Kamu nggak marah kan, karena ayah nggak bisa bawa bundamu pulang bersama kita lagi."
Caca hanya menggeleng. Ia tak bisa berhenti menangis. Semua terasa menyesakkan baginya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia cegah.
__ADS_1
Ia sudah berusaha menguatkan dirinya sejak semalam. Ia akan merawat dan membantu Tara agat cepat pulih. Meski ia harus berkorban menahan sakit selama proses penyembuhan berlangsung.
"Anak gadis ayah nggak boleh nangis terus. Nanti jelek, nggak ada yang mau." Tara melepas pelukan dan menghapus air mata diwajah putrinya.
"Caca bukan gadis lagi. Caca udah punya anak." jawab Caca. Meski Tara tak mengingat Mentari, tapi ia akan tetap mengenalkan gadis kecil itu pada Tara.
"Ooh ya?" Tara terlihat bahagia mendengarnya. "Tapi kamu nggak salah milih suami kan?" goda Tara.
Caca menggeleng. "Suami Caca baik banget. Dia suami dan ayah yang penuh kasih dan tanggung jawab sama keluarga. Meski kadang nyebelin." gerutu Caca.
Tara terkekeh mendengar putrinya yang mencebik ketika menceritakan suaminya.
"Namanya juga manusia, sayang. Pasti ada baik dan buruknya. Dan karena kamu sudah memilih dia untuk jadi suami kamu, jadi kamu harus terima baik dan buruknya dia. Kurang dan lebihnya."
Caca mengangguk. "Meskipun dia ngelupain Caca dan putri kami?" imbuh Caca.
"Waah kalau itu sih perlu ayah hajar, pria seperti itu!" seru Tara terlihat kesal. "Nggak ada yang boleh nyakitin putri dan cucu ayah! bawa suami kamu ke sini! biar ayah kasih dia pelajaran."
"Nggak perlu, yah. Karena itu juga bukan karena kemauan dia, ngelupain kami."
"Terus? kalian nggak di restui sama mertua kamu? mereka maksa kalian untuk berpisah?"
Caca hanya mengedikan bahunya. Rasanya sakit Tara tak mengingatnya. Tapi jika seperti ini, ia malah ingin tertawa melihat kekonyolan Tara tentang dirinya sendiri yang tak pria itu sadari.
"Ayah cepet sembuh aja. Nggak perlu mikirin itu. Nanti kalau ayah sudah sembuh, ayah boleh hajar suami Caca semau ayah."
Tara mengangguk setuju. "Ajak putrimu ke mari. Ayah mau lihat secantik apa dia."
"Ayah akan terpesona nanti kalau lihat putriku." seloroh Caca.
Padahal gadis itu sendiri bingung, bagaimana caranya memberi pengertian untuk Mentari agar bisa di ajak bekerja sama untuk tak mengakui Tara sebagai ayahnya selama pria itu belum mengingat mereka.
*
*
*
__ADS_1