
"Darren! jangan lari seperti itu! nanti Axel jatuh!" teriak Caca melihat anak ke duanya yang berusia lima tahun berlari diatas sofa. Loncat dari satu sofa ke sofa yang lain. Dan si kecil Axel yang belum genap berusia tiga tahun berusaha meloncat mengikuti sang kakak.
"Jangan teriak seperti itu. Nanti anak kita yang di dalam sini kaget." usapan lembut diatas perut besarnya membuat Caca mencoba menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Jika di tanya lelah. Caca lelah. Dua anak terakhirnya sedang aktif-aktifnya bergerak. Bertengkar. Berebut dan lainnya yang sering membuat urat lehernya keluar.
Tapi Tara selalu menolak ketika Caca menawarkan menunda kehamilan. Padahal ia sendiri yang repot. Meski Mentari yang kini berusia sepuluh tahun bisa sedikit membantu. Juga Tara yang selalu turun tangan jika sudah pulang bekerja seperti saat ini.
"Hey Boy.. Come to daddy." kedua anak yang tadi tak mendengarkan teriakan Caca kini langsung mendekat begitu ayahnya yang bersuara. Berebut untuk digendong Tara. Meski keduanya tahu, mereka akan sama-sama mendapatkan tempat dikanan dan kiri sang ayah.
"Darren dulu!"
"Acel dulu!"
Keduanya tergelak begitu Tara menciumi setiap sisi wajah keduanya.
"Kalau mama panggil didengar ya Derren, Axel. Kasihan mama sama adik bayi."
Keduanya mengangguk. "Oke papa!"
Meski Tara tahu, nanti keduanya pasti mengulangi hal yang sama lagi.
"Sekarang main sama kakak. Jangan lari-larian sudah malam." kedua anak itu turun dari pangkuan Tara dan berlari menuju sang kakak yang tengah menggambar.
"Untuk lahiran kali ini, mama minta kamu buat lahiran disana." ucap Tara pada sang istri yang tengah membantu melepas dasi dari lehernya.
Mereka memang langsung pindah dalam minggu itu juga begitu William memberi izin kepada Tara. Itu pun karena William memikirkan kebaikan untuk Tara. Jika William mementingkan perusahaan, tidak akan pria itu izinkan meski hanya untuk sementara.
Dan rencana untuk membuka usaha sendiri tidak jadi mereka laksanakan. Penghasilan Tara lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga mereka disana.
Lagi pula, jika hanya untuk tinggal sementara, untuk apa membangun usaha. Begitu pikir Caca. Dan Tara menuruti saja keinginan istrinya itu.
"Memang mas, boleh izin lama?" masalahnya jika ingin lahiran di Jakarta, berarti mereka harus pulang bulan-bulan ini selagi masih aman untuk terbang. Dan lahiran masih dua bulan lagi. Belum waktu pemulihan pasca lahiran. Itu semua Caca ingin suaminya menemani.
__ADS_1
"Aku udah bicarakan dengan si bos. Dia juga kasih izin sampai kamu benar-benar kuat untuk kembali ke sini."
Caca mengangguk setuju saja. Sujujurnya ia juga rindu Jakarta yang sudah lima tahun lebih mereka tinggalkan.
"Kalau si kecil sudah lahir, kamu mau pakai nanny saja?" tawar Tara. "Uang aku cukup sayang untuk bayar nanny profesional disini."
Sebelumnya Caca memang bersikeras untuk merawat anak-anaknya sendiri. Karena ia juga merasa mampu mengurus sendiri. Agar anak-anaknya juga dekat dengannya. Bukan lebih dekat dengan orang lain dari pada ia ibunya sendiri.
"Aku mau ngerawat mereka sendiri bukan karena kamu nggak mampu mas. Tapi karena sebelumnya aku ngerasa mampu jagain mereka sendiri."
"Terus sekarang nggak mampu?" goda Tara dengan memeluk istrinya dari belakang. Mereka sudah berada didalam kamar mereka.
"Ya gimana mau mampu, kalau di hamilin mulu." cebik Caca dengan lirikan sinis yang mampu membuat Tara tergelak.
"Kamu juga suka kaaann, aku hamilin." Tara semakin gencar menggoda istrinya yang terlihat menggemaskan dengan perut yang membesar dan pipi yang lebih berisi. Meski tubuh Caca tidak begitu besar perubahannya. Dan biasanya akan turun berangsur setelah anak mereka lahir.
"Iiish! enak aja. Emang aku pabrik anak!" Caca mencubit lengan suami yang ada diatas perutnya. "Ini yang terakhir, nggak ada lain kali!"
"Ogah! mas aja yang hamil sana. Udah tua anak masih kecil-kecil."
Tara membulatkan matanya mendengar kalimat terakhir istrinya yang menohok. "Udah berani ngejek tua ya?" Caca tergelak begitu tangan Tara menggelitik pingganggnya.
"Hahahah.. Ammpun mas. Mas kan emang udah tua. Nggak nyadar aja Hahaha.."
"Biarin tua. Yang penting mas sanggup menjamin masa depan anak-anak. Dan yang penting kamu masih muda. Masih sanggup buat hamil dan melahirkan lagi."
"Nggak mau! aku capee!" rengek Caca yang sudah lelah merasakan hamil dan melahirkan. Meski tak dipungkiri, ada kebahagiaan tersendiri dalam menjalaninya. Tapi jika ditanya apa mau hamil lagi. Tentu saja Caca akan menjawab tidak.
Ia ingin memiliki waktu untuknya sendiri. Waktu untuk merawat diri tanpa teriakan anak-anak. Tapi bagaimana mungkin tidak ada teriakan anak-anak jika satu beranjak besar, satu lahir dan seperti itu seterusnya.
"Mama! Axel nangis!" ketukan di pintu menghentikan Caca dan Tara dari aktifitasnya. Keduanya berjalan kearah pintu dimana putri sulung mereka yang tumbuh menjadi gadis cantik itu berada.
"Kenapa nangis?" tanya Caca lembut berniat mengambil alih dari gendongan Mentari namun dilarang dan di gantikan oleh Tara.
__ADS_1
"Rebutan pencil warna sama Darren, Axel yang nggak mau kasih pinjem didorong." Mentari menceritakan kejadian yang membuat adik kecilnya menangis. Hal yang sudah setiap hari terjadi dengan masalah yang sama atau tak jauh berbeda.
"Darren-nya mana?"
Mentari mengedikkan bahunya. Adiknya yang satu itu entah tadi lari kemana setelah membuat Axel menangis.
"Sudah. Masa anak jagoan gitu aja nangis. Jangan nangis ya.. Nanti kita cari kakak Darren. Papa bilangin biar nggak nakal lagi sama Axel."
Axel yang masih sesenggukan meminta susu karena sepertinya sudah mengantuk. Tara mengantar anak itu ke kamar, Caca yang bertugas membuat susu untuk anak-anak mereka.
"Kakak Darren ngapain disini?" tegur Caca begitu melihat tubuh kecil putranya bersembunyi didapur.
Anak itu berdiri dan menundukan kepalanya takut ibunya akan marah.
"Mama nggak marah. Tapi Darren nggak boleh dorong-dorong adik seperti itu. Darren bisa pinjam baik-baik."
"Axel pelit, mah." sangkalnya.
"Kalau begitu pinjam yang lain. Yang tidak sedang adikmu mainkan."
Mereka memang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia jika di rumah. Caca tidak ingin anak-anaknya tidak bisa berbahasa Indonesia jika kembali ke Jakarta nanti.
"Sekarang cuci kaki tangan. Masuk kamar minta maaf sama Axel. Nanti mama bikinkan susu."
"Baik, mah."
Caca menggeleng menatap punggung kecil anaknya. Anak-anaknya memang memiliki sifat yang berbeda-beda. Apa lagi dua ini laki-laki. Berbeda dengan Mentari ketika kecil dulu yang sangat patuh dan mudah untuk ia atur. Berbeda dengan kedua putranya yang harus berteriak terlebih dulu. Itu pun kadang masih tidak didengarkan.
*
*
*
__ADS_1