
Kita memang tidak bisa mengendalikan pikiran juga ucapan orang lain. Menjadi seorang janda dan bahan gunjingan tetangga tak bisa Caca hindarkan.
Cukup menjaga sikap dan tak mengambil hati apa yang mereka katakan. Terlebih jika apa yang mereka tuduhankan tidak benar.
Seperti hari ini. Caca yang sudah menunggu dengan gelisah karena sudah malam dan anaknya belum juga pulang, langsung keluar rumah begitu mendengar suara mobil menepi di depan rumahnya.
Terlihat Tara tengah menggendong Mentari yang terlelap. Tara sampai di rumah Caca pukul delapan malam. Mentari yang sudah kelelahan tertidur di jalan. Mereka juga cukup lama mengantri saat membeli makanan untuk makan malam di rumah Caca.
"Biar aku saja yang bawa Mentari masuk, mas." tawar Caca yang sudah berada di dekat Tara.
"Nanti malah bangun jika di pindah-pindah. Lebih baik kamu ambil makan malam kita di kursi belakang."
Caca menurut. Mengambil makanan dan mengikuti Tara untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamar Tari dimana?"
Caca menunjuk salah satu kamar yang ada di ruang tengah. Dan berlalu ke dapur untuk memindahkan makanan ke dalam piring. Tak lupa juga membuat kopi untuk Tara.
"Dia tidur sendiri?" tanya Tara setelah ikut bergabung di meja makan.
"Sejak setahun yang lalu udah tidur sendiri. Biar lebih mandiri aja." Caca menyimpan piring yang sudah berisi makanan di hadapan Tara yang langsung di sambut karena sudah lapar.
"Tapi dia kan masih terlalu kecil, Ca. Lagian kalian hanya tinggal berdua."
Tara merasa keberatan anaknya tidur seorang diri di usia yang masih begitu kecil. Atau karena Tara baru bertemu saja dengan putrinya. Jadi segala hal rasanya berat ia lihat ada di diri putrinya.
"Itu saja termasuk sudah besar, mas. Banyak yang lebih kecil dari Mentari dan sudah tidur di kamar terpisah dari orang tua mereka kok."
Baiklah. Lebih baik ia percayakan saja pada mantan istrinya bagaimana cara mendidik putri mereka.
"Ooh iya. Baju sekolah Mentari dimana mas?" karena anaknya sudah tidak memakai seragam sekolah saat pulang. Sepertinya Tara membelikan baju sebelum mereka pergi jalan-jalan.
"Ada di dalam tas Tari."
Tidak ada lagi obrolan yang keluar selama mereka menghabiskan makan malam. Caca juga masih sedikit canggung berdekatan lagi dengan Tara seperti itu.
__ADS_1
"Kapan kamu mau kembali ke rumah, Ca?"
"Eh?" Caca merasa tidak siap di todong pertanyaan seperti itu.
"Tari sudah mulai menerima kehadiran aku. Jadi apa yang kamu tunggu?"
Caca menunduk. Memainkan makanan di depannya yang tinggal separuh.
"Aku perlu menata hati, mas. Bukan karena aku tidak lagi mencintaimu. Hanya saja masa lalu kita bukan sesuatu yang berjalan lancar." ada nada sendu dalam kalimat Caca. Mengingat betapa rumitnya hubungan mereka dulu.
"Aku juga gak mau jadi simpanan lagi. Aku gak mau hubungan kita sembunyi-sembunyi seperti dulu."
Tara bangkit dan berjongkok di dapan Caca. Menarik wanita itu untuk duduk menghadapnya.
"Aku gak akan menyembunyikan hubungan kita lagi. Mama dan papa sudah tahu hubungan kita. Mereka juga merestuinya. Jadi apa lagi yang kamu khawatirkan?"
"Aku hanya belum siap untuk kembali membangun sebuah hubungan." ucapnya lirih tanpa berani menatap Tara.
***
"Mulai besok, aku yang akan mengantar jemput Tari sekolah." ucap Tara yang sudah sampai depan pagar dengan di antar Caca.
"Siapin yang paling enak untukku besok pagi." Caca tersenyum dan kembali mengangguk.
"Neng Icha kalau memang sudah cocok langsung menikah saja." ucap ibu tetangga depan rumahnya. Entah sejak kapan ibu-ibu itu sudah berdiri di sana.
"Kita kira neng Icha orang baik. Setiap ada tamu laki-laki selalu di terima di teras kecuali mantan suami yang datang bersama ibunya." sahut wanit paruh baya lainnya.
"Tapi ini malah sudah malam berduaan di rumah berjam-jam." Padahal Tara berada di sana tak lebih dari dua jam.
"Kami tidak melakukan apa pun kok ibu-ibu. Hanya makan malam." ucap Caca membela diri.
"Siapa yang tahu kalau neng Icha jujur atau tidak. Apa lagi tadi Tari sudah tidur."
"Iya. Kita sama-sama sudah dewasa. Tahu lah apa yang di lakukan pasangan dewasa di dalam rumah yang tertutup."
__ADS_1
"Tapi kami-" ucapan Caca terputus dengan genggaman tangan Tara.
"Kamu mau membela diri seperti apa pun tidak akan pernah bisa menang melawan mereka. Karena mereka yakin yang mereka pikirkan itu benar. Cukup kamu tutup telinga kamu dan masuk temani anak kita tidur."
Caca menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Mas hati-hati di jalan." Tara mengangguk.
"Permisi ibu-ibu. Saya masuk dulu."
"Anak muda jaman sekarang dikasih tahu malah ngeloyor gitu aja." Caca masih bisa mendengar cibiran dibelakangnya. Padahal dulu mereka sangat baik terhadapnya dan Mentari. Bahkan kadang ada yang menawarkan menjaga putrinya jika ia akan ke MFA.
Entah apa yang membuat ibu-ibu itu kini membencinya. Atau memang benar ia yang sudah kelewat batas membiarkan Tara masuk dalam rumahnya.
"Mas-nya kalau suka dengan neng Icha langsung di nikahi saja. Jangan merusak wanita baik-baik." ucap ibu pemilik rumah di depan Caca setelah Caca masuk ke dalam rumah.
"Saya juga berniat menikahinya bu. Hanya sebuah pernikahan butuh proses. Tidak bisa asal nikah langsung beres." ucap Tara sangat tenang. Karena percuma menghadapi ibu-ibu dengan emosi. Tidak akan bisa menang.
"Apa susahnya tinggal nikah."
"Saya butuh pendekatan tidak hanya dengan Icha tapi juga dengan putrinya. Mentari yang belum bisa menerima kehadiran saya hanya akan membuat rumah tangga kami berjalan tidak baik. Dan saya rasa masalah pribadi Icha bukan urusan ibu-ibu sekalian. Dia punyak hak menentukan hidupnya."
"Eh mas! kami hanya peduli ya dengan neng Icha. Dan kami juga tidak mau ada yang berbuat mesum di kampung sini." ibu itu terlihat terpancing emosinya.
"Kalau kalian sudah lama mengenal Icha. Pasti kalian tahu jika dia bukan wanita seperti itu."
"Neng Icha memang wanita baik. Tapi bisa saja wanita baik itu jatuh dalam godaan yang mas berikan."
Tara merasa tersentil. Caca memang gadis baik-baik yang ia rusak sejak belia. Gadis yang tidak mungkin melakukan hal tak pantas jika saja tak ia paksakan kemauannya dulu.
Merenggut paksa kehormatan seorang gadis yang menangis ketakutan. Karena nafsu yang menguasainya mengabaikan segala jerit tangis Caca saat itu.
Membuat mereka terjebak dalam dosa yang tak berkesudahan. Dosa yang ia sesali sekaligus ia syukuri karena berhasil mendapatkan hati seorang Nathasya Gustari.
Anak angkat yang mengalihkan dunianya dari almarhumah mantan istri yang amat ia cintai. Mengahdirkan gadis kecil yang kini juga ikut mengalihkan dunianya. Mentari.
*
__ADS_1
*
*