I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Membingungkan


__ADS_3

Tara sudah tertidur ketika Caca memasuki kamar pria itu setelah dokter pemit undur diri.


Caca duduk di tepi tempat tidur. Memandang wajah suaminya khawatir. Dokter bilang, Tara baik-baik saja. Hanya pria itu mengingat sesuatu yang hilang dari ingatannya. Membuat kepala Tara terasa berdenyut nyeri.


Caca rapikan surai rambut yang menutupi dahi sang suami. Memberikan ciuman dalam disana sebagai rasa rindunya. Rindu Tara suaminya. Bukan Tara ayahnya. "Mau sampai kapan mas seperti ini." gumamnya lirih.


"Aku, Mentari dan yang lain berharap mas cepet sembuh." tangan Caca tak henti mengusap rambut Tara dengan penuh kasih. Menyalurkan segenap perasaannya di sana.


"Tapi kalau proses sembuhnya mas harus merasa sakit seperti ini, aku khawatir."


Sudah tak ada lagi air mata. Karena ia harus tegar untuk menghadapi semua masalah yang ada. Tak ada Tara yang gagah dan akan membelanya juga Mentari. Karena pria itu sendiri saja tengah tak berdaya.


"Semoga semua berlalu dengan baik, mas." bisiknya lagi yang kemudian meninggalkan kecupan sekilas dibibir suaminya, sebelum berlalu dari sana agar Tara bisa istirahat dengan baik.


***


Sore harinya Tara terbangun dengan kaget. Keringat dingin membasahi dahi dan tengkuknya. Napasnya memburu dengan mimpi yang hadir dalam tidurnya. Memijat dahinya yang nyeri karena terbangun tiba-tiba.


Tara cukup lama tertidur. Dan dalam tidurnya, ia bermimpi sama persis seperti yang Mentari ceritakan. Disana terlihat jelas dibanding hanya bayangan sekelebat yang dilihatnya siang tadi.


Tara juga bermimpi awal hubungannya dengan Caca yang mengambil kehormatan gadis yang harusnya ia jaga.


Beberapa yang ia lupakan hadir dalam mimpinya. Tapi Tara masih belum jelas mengingat. Apakah itu hanya bunga tidurnya atau dirinya memang memiliki hubungan khusus dengan Caca.


Ingin segera mengetahui jawabannya. Tara turun dari tempat tidur dan mencari Caca yang sepertinya tengah bercanda dengan Mentari di kamar sebelah. Terdengar dari suara tertawa Mentari yang khas dengan pintu yang sedikit tak tertutup.


Tara mengetuk pintu. Ternyata Caca baru selesai memandikan Mentari. Wanita yang tengah menyisir rambut panjang kecoklatan milik anaknya itu kaget melihat orang yang berdiri di ambang pintu.


"Ma- eh ayah udah bangun?" tanyanya hampir saja keceplosan dengan memanggil Tara dengan mas.


Caca sadar ada yang berbeda dengan Tara. Pria itu bahkan hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Caca gugup dengan maksud Tara menemuinya.


"Kenapa yah? kami berisik ya? ganggu ayah tidur?" tanya Caca beruntun karena Tara tak kunjung berbicara dan masih menatapnya yang semakin membuat Caca gelisah tak nyaman.


"Bisa bicara sebentar?" akhirnya Tara bersuara setelah lama terdiam.


Caca mengangguk dan beralih menatap putrinya. "Mentari main di bawah dulu sama suster ya? mama mau bicara sama ayah dulu."


Gadis kecil itu mengangguk meski enggan jauh dari ibunya. Mentari yang melewati Tara tersenyum pada ayahnya itu. Tak lagi memasang wajah permusuhan setelah ketakutannya tadi siang ketika melihat sang ayah kesakitan.


"Jangan lama-lama ya, yah. Nanti kita main bareng." ucap bocah itu masih dengan senyumannya.

__ADS_1


Tara yang tadinya masih memasang wajah serius kini terkekeh. "Tumben nggak panggil kakek?" tanya Tara berjongkok menyamakan tingginya dengan Mentari.


Mentari mengedik acuh. "Ayah terlalu ganteng untuk jadi kakek-kakek. Kasihan nanti gantengnya ilang."


Tara semakin tergelak mendengar jawaban dari gadis kecil itu. Caca hanya menggeleng tak percaya. Kenapa putrinya jadi pandai menggombal seperti ayahnya.


"Ya sudah. Sana main dulu, nanti ayah nyusul."


Mentari mengacungkan jempolnya pada Tara. Memberikan kecupan di pipi Tara tiba-tiba membuat Tara kaget. Karena itu ciuman pertama Mentari untuknya setelah sadar..


"Papa cepat sembuh. Tari kangen." jawab gadis kecil itu dengan mata berkaca dan berlari meninggalkan Tara yang masih terpaku dengan kalimat terakhir Mentari.


"Mau ngomong dimana, yah?" suara Caca membangunkan Tara dari keterkejutannya.


Tara bangkit berdiri dan memasuki kamar yang Caca tempati dengan sang putri. Tara menunjuk sofa berukuran sedang berwarna peach. Warna yang mendominasi kamar. Kamar yang cukup ceria untuk anak-anak.


"Disini aja." ucap Tara. Pria itu juga menepuk sofa disebelahnya sebagai isyarat untuk Caca duduk disana.


Dengan ragu, Caca melangkah mendekat dan duduk di sebelah Tara. Duduk menyerong menatap dan menunggu Tara menyampaikan apa yang ingin pria itu bicarakan.


"Apa benar?" tanya Tara langsung pada intinya. Tak cukup waktu untuk berbasa-basi bagi Tara kini.


"Benar apa yah?" balas Caca dengan pertanyaan karena tak tahu apa yang sebenarnya Tara tanyakan itu.


Tara belum bisa mengingat selain sebatas bayangan yang lewat dan mimpi.


"Pria yang Tari panggil Om dan mengajaknya jalan-jalan ke kebun binatang?" imbuh Tara ketika melihat Caca belum tahu maksud dari pertanyaannya.


Caca tercekat. Apa yang anaknya katakan pada Tara hingga pria itu bisa bertanya demikian. Apa Mentari bercerita jika Tara adalah ayahnya?


"Tari cerita apa ke ayah?" tanya Caca khawatir.


"Dia cerita kalau dulu dia manggil papanya, Om."


"Dia juga cerita kalau dulu mereka jalan-jalan bareng ke kebun binatang dan papanya menangis karena Tari cerita dia tidak pernah diajak pergi sama kamu."


"Tapi ayah lihat, ayah yang ada disana. Ayah pria yang Tari ceritakan."


Caca menelan kelat ludahnya. Tak tahu harus berkata apa. Apa tidak apa-apa jika ia memberitahu jika yang Tara lihat itu benar?


Tapi Caca takut jika Tara akan seperti tadi siang. Kesakitan dan terus berteriak.

__ADS_1


"Ayah nggak perlu mikirin itu. Nanti kalau ayah sudah sembuh, ayah akan tahu sendiri." ucap Caca akhirnya tak mampu mengambil resiko untuk menyakiti Tara. Ia yakin nanti Tara akan ingat dengan sendirinya. Tidak perlu di paksakan.


"Apa ayah, papa kandung Tari?" tanya Tara masih penasaran dengan bayangan yang ia lihat dalam ingatannya.


Ia memang merasakan perasaan yang berbeda pada Caca. Rasa sayang bukan seperti ayah yang menyayangi putrinya. Tapi ia tidak pernah berpikir jika hubungan mereka bisa sejauh itu. Menghancurkan putri yang ia jaga sendiri. Menghadirkan seorang putri dari hubungan mereka.


"Jawab, Ca?" tekan Tara. .


"Ayah istirahat aja, ya? nanti ayah pusing lagi." Caca bangkit dan akan meninggalkan kamar. Menghindari pertanyaan Tara.


Bukan Caca tak ingin mengatakan semuanya. Ia bahkan sangat ingin mengatakan semuanya ketika bahkan Tara baru sadar dan tak mengingatnya.


Ia ingin Tara mengingat hubungan dan cinta mereka. Tapi Caca takut. Caca takut itu akan menyakiti Tara.


"Maafin ayah, Ca." ucap Tara menghentikan langkah Caca dengan dahi mengerut. "Maaf sudah mengambil kehormatanmu." imbuhnya yang seketika membuat Caca berbalik kaget.


"A-ayah..." kalimatnya tercekat. Entah ia harus senang atau tidak. Apa baru saja Tara mengingatnya?


Dan Tara semakin kaget. Jadi benar apa yang hadir dalam mimpinya tadi bukan sebatas bunga tidur. Tapi itu nyata terjadi dalam hidupnya.


"Jadi benar?" tebak Tara ketika melihat ekspresi kaget Caca.


"A-apa?" Caca jadi bingung dengan situasi saat ini. Bingung apa benar Tara mengingatnya. Tapi jika benar ingat, kenapa bertanya?


Tara bangkit dan berdiri tepat di depan Caca yang masih kaget bercampur bingung. "Maafin ayah, Ca. Maaf." Tara langsung memeluk tubuh yang berdiri kaku itu.


Ada perasaan hangat seperti kembali pulang ketika ia mendekap tubuh Caca. "Maaf aku belum bisa mengingat. Tapi aku kan berusaha kembali ingat dengan hubungan kita. Dengan anak kita."


Caca menjauhkan pelukan Tara. Mentap pria itu bingung. "Ini maksudnya apa?"


Tara menggeleng dan kembali memeluk Caca. "Biarkan seperti ini sejenak, Ca. Nyaman."


Caca membiarkan Tara memeluknya. Wanita itu juga dapat merasakan kecupan-kecupan di kelapanya yang semakin membuatnya bingung.


*


*


*


Haiii gaes... Maaf lama.. Othor tangannya lagi males banget diajak nulis. Hihihi

__ADS_1


Semoga bisa ngobatin kalian yang kangen Tara dan Caca


__ADS_2