I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Ciuman


__ADS_3

"Gue janji gak bakal mundur. Gue akan memperlakukan lo dengan baik. Lo nggak perlu khawatir, gue orangnya penyayang dan mudah sayang kok."


Rani tersenyum masam dan menggelengkan kepalanya. "Gue gak ngerti lagi deh, lo tuh kenapa." ucapnya.


"Pertama. Gue gak penasaran seberapa hebatnya lo di atas ranjang. Jadi lo gak perlu nikahin gue biar gue percaya."


Rian mengangguk mengerti. Awalnya memang karena mendengar ledekan Rani tentang ia yang kalah pesona dari Tara, hingga mulutnya begitu saja mengajak wanita yang duduk tak jauh darinya untuk menikah.


Tapi entah kenapa, ketika kata itu terucap, hantinya justru menghangat. Hingga keyakinan untuk menikahi Rani terasa begitu kuat. Hatinya seakan meneriaki dirinya bahwa menikahi Rani adalah keputusan yang paling tepat.


"Kedua. Kita cuma sebatas sahabat tanpa rasa apa pun. Ini bahkan pertemuan pertama kita setelah sekian tahun lo ngehindarin gue. Jadi aneh gak sih, kalo tiba-tiba lo ngajakin nikah?"


Rian mengedik. Ia juga tidak tahu kenapa rasanya ia ingin sekali menikah dengan Rani setelah kata itu terucap. Ia sendiri tidak mengerti dengan yang ia rasakan.


"Ya gak aneh lah. Kita udah sama-sama dewasa. Kita juga udah kenal baik sejak lama. Apa salahnya kan kalau kita semakin mempererat hubungan kita dengan pernikahan."


Tawa hambar dari Rani terdengar. "Ayoo lah Yan. Gue gak semurahan dan sefrustasi itu meski di umur segini gue belum nikah. Gue masih enjoy sama status gue. Lagi pula kalo lo ngajak nikah, minimal pendekatan dulu kek. Bukan tiba-tiba ngajak nikah begini. Kesannya gue tuh gak sepesial banget gitu buat di jadiin istri." cibir Rani dengan bibir mengerucut.


Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Keduanya sama-sama diam merenung dalam pikiran masing-masing.


Rian berusaha keras mencari alasan dalam benaknya kenapa ia tiba-tiba begitu yakin untuk menikahi Rani.


Sedangkan wanita yang ia pikirkan tengah merasa dongkol karena di ajak menikah begitu saja. Berpikir apa ia terlihat seperti wanita yang tengah frustasi kebelet nikah?


Suasana canggung itu terpecah saat Mentari sudah bangun dan mengajak keduanya kembali bermain.


"Tari pengen main apa?" tanya Rani pada gadis kecil dalam pangkuannya.


Mentari mengetuk-ketukan jari telunjutknya pada dagu. Seakan sedang berpikir keras memilih permainan yang seru dengan kedua orang di dekatnya.


"Petak umpet!" seru anak itu dengan mata berbinar. "Biasanya mama nggak mau Tari ajak main petak umpet. Tante sama ayah mau kan?" tanyanya denga wajah berharap.


Rani menatap Rian. Menunggu jawaban pria itu. Pria yang di tatap mengangguk setuju, membuat Mentari langsung bersorak senang.

__ADS_1


Mereka bertiga bergantian jaga. Hingga giliran Mentari berjaga terakhir.


Rani sudah lebih dulu berlari ke dapur saat Mentari mulai menghitung. Namun sialnya ia melihat ada kecoa dan memilih berpindah tempat.


Di ruang keluarga ia menoleh kiri dan kanan mencari persembunyian teraman. Sedangkan Rian sudah hilang entah kemana.


"Delapan..." hitungan Mentari sudah mendekati akhir. Rani yang panik langsung memasuki kamar gadis itu yang pintunya sedikit terbuka.


Saat masuk ia dikejutkan dengan keberadaan Rian yang bersembunyi di sana. Hampir saja ia berteriak jika saja Rian tidak langsung membekap mulutnya dan menariknya kebelakang pintu.


"Ng-ngapain lo disini?" bisik Rani gugup. Mereka berdiri tak berjarak dengan Rian yang memeluk pinggangnya.


"Ngumpet lah! aneh deh lo." balas Rian juga dengan berbisik.


Rani menelan ludahnya gugup. Sejak mendengar Rian mengajaknya menikah, perasaannya berubah gugup jika dekat-dekat dengan pria itu. Tidak seperti biasanya yang tak ada rasa apa pun meski ia juga sering bersandar pada sahabat yang tengah memeluknya ini.


Dan sepertinya Rian tidak merasakan hal yang sama dengan dirinya. Pria itu begitu santai menoleh ke luar pintu. Memastikan keberadaan meraka aman.


"SEPULUH!! AKU CARI YA TANTE.. AYAH..!!" teriak Mentari memberi aba-aba.


"Udah, diem! jangan gerak-gerak terus. Nanti Mentari tau kita di sini."


Rani hanya mampu mengerang dan menurut saja pada Rian.


Saat Mentari memasuki kamar dan membuka pintu semakin lebar, tubuh Rian semakin maju dan menghimpit tubuh Rani pada dinding. Membuat jantung Rani semakin bertalu-talu. Ia bahkan yakin Rian mampu merasakan detak jantungnya yang menggila.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah yang terasa menyalamatkan Rani dari situasi tak aman. Langkah kaki kecil Mentari juga terdengar berlari ke arah pintu depan.


"Tari keluar, Yan!" serunya panik. Takut jika yang datang orang yang tidak di kenal dan malah menculik gadis itu.


"Biarin. Paling juga Caca." balas Rian yang sedikit menjauhkan tubuhnya.


Dan benar saja. Terdengar suara Mentari yang memanggil ibunya. Sayup-sayup mereka juga masih mendengar suara Caca yang menanyakan keberadaan mereka.

__ADS_1


"Tante sama ayah sedang main petak umpet. Tari giliran jaga, tapi belum ketemu." celoteh gadis kecil itu yang mulai memasuki rumah.


"Ooh ya? ayoo kita Cari sama-sama."


Perasaan Rani semakin tidak tenang mendengar langkah kaki mereka yang mulai mendekat. Meruntuki Rian yang tidak juga merubah posisi memeluknya. Ia takut Caca berpikir yang tidak-tidak saat menemukan ia dan Rian di dalam kamar.


Rian menempelkan jari telunjuk pada bibirnya ketika langkah Caca semakin mendekat. Rani mengangguk paham.


Hingga pintu kamar terbuka dan terdorong membuat tubuh mereka kembali menempel.


Tak hanya tubuh, bibir mereka juga menempel dan hanya terhalang jari Rian yang tadi masih berada pada bibir Rani. Membuat gadis itu membelalakan matanya.


"Tadi Tari sudah cari di sini, tapi nggak ada mah!" ucap gadis itu yang merasa tidak mungkin Rian dan Rani ada dalam kamarnya. Karena sebelumnya ia sudah memeriksanya.


"Masa sih? Tapi kita kan sudah memeriksa semua ruangan. Tinggal kamar ini, kan?" tanya Caca.


Wanita itu menatap pintu dan merasa curiga karena gerakan halus yang masih tertangkap penglihatannya.


"Ya sudah, yuk kita keluar. Kasihan papa di depan sendiri." Mentari mengangguk dan berlari lebih dulu. Tapi tidak dengan Caca yang berjalan dengan berjingkat mendekati pintu dan langsung menyentaknya keras.


Dua orang yang masih saling menempelkan bibirnya itu tersentak kaget dan saling menjauh.


"Kalian ya! bukannya nemenin anak gue main, malah pacaran!" hardik Caca. Dalam hati wanita itu tertawa melihat ekspresi gugup di wajah keduanya.


"Si-siapa yang pacaran! kita kan lagi ngumpet!" cibir Rani menutupi perasaannya yang gugup. Semakin membuat Caca ingin meledakan tawa.


"Mana ada orang ngumpet cium-ciuman begitu! lagian ruamh ini cukup buat kalian sembunyi di tempat berbeda, ngapain malah peluk-pelukan begitu?!"


Rani dan Rian semakin salah tingkah dan malu kedapatan tengah berciuman. Meskipun mereka tidak benar-benar melakukannya.


*


*

__ADS_1


*


Ngetiknya nunggu like tempu 50 hihihi


__ADS_2