I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Pemanasan Situasi


__ADS_3

Bulan pertama pernikahan, kondisi masih baik-baik saja. Tara dan Caca bisa sedikit merasa lega karena tidak ada masalah yang di sebabkan oleh pernikahan mereka.


Keduanya menjalani hari selayaknya pengantin baru. Masih menggebu-gebu jika malam hari. Seakan Tara tidak pernah puas menjamah istrinya hingga kelelahan.


Berharap keajaiban akan datang kembali seperti Mentari yang hadir dalam hubungan mereka.


Kali ini pun Tara berharap kecebongnya akan ada yang bertahan hidup hingga membuahkan adik untuk putri kecilnya.


Senyum selalu mengembang setiap mengingat keharmonisan keluarganya. Menambah energinya untuk bekerja dan cepat-cepat menjemput anak dan istrinya di rumah lama sang istri.


Ya. Caca tetap mempertahankan usaha miliknya. Mentari juga tetap sekolah di sekolah lamanya. Tapi Tara tidak membiarkan keduanya untuk berangkat sendiri. Jika bukan ia yang mengantar, Tara akan mengutus sopir untuk mengantar anak dan istrinya. Tapi untuk pulang, ia sendiri yang akan datang menjemput kedua bidadarinya.


Tara paling bahagia saat melihat sambutan di depan pintu dengan senyum hangat sang istri. Juga teriakan Mentari yang memanggilnya. Rasanya semua penat hilang seketika hanya dengan melihat kebahagiaan anak dan istrinya ketika ia pulang.


Andai ia bisa mempertahankan Caca sejak awal. Ia pasti akan merasakan kehangatan itu lebih awal juga.


Ia juga tidak pernah bosan mendengar Mentari menceritakan apa yang anaknya itu lakukan hari itu. Melihat semangat anaknya dalam bercerita selalu membuatnya ingin menambah momongan.


Karena cepat atau lambat Mentari akan bertambah besar. Tidak akan lagi semua hal anaknya ceritakan. Atau bahkan mungkin semakin bertambahnya usia sang anak, Mentari tidak akan sedekat itu lagi dengannya.


Pikiran yang seperti itu selalu membuatnya merasa sedih. Tapi tawa dalam rumah dan masakan lezat yang selalu mengisi makan malamnya selalu membuatnya lupa akan hal itu.


Senyum dalam lamunan Tara sirna begitu sekretarisnya mengabarkan jika ada beberapa klien mereka yang sudah menunggu di ruang rapat.


"Mau apa mereka?" tanya Tara. Ia tidak merasa ada janji dengan klien manapun untuk meeting dan lainnya.


"Saya kurang paham pak. Tapi Pak Johan meminta anda untuk segera menemuinya." Tara mengangguk. Memakai jas yang ia simpan di sandaran kursi kerjanya.


Johan adalah salah satu kliennya dalam proyek hotel cabang di Bali yang tengah dalam proses pembangunan.


Johan banyak menginfestasikan modalnya pada hotelnya itu. Berharap mereka akan sama-sama mendapatkan keuntungan besar dari hotel itu.

__ADS_1


Perasaan Tara mulai tidak enak begitu mendapati bukan hanya Johan tapi juga beberapa klien pentingnya juga.


Setelah saling menyapa, Tara duduk di kursi pimpinan dalam ruang rapat.


"Kami ingin tahu kejelasan hubungan anda dengan istri anda." todong Johan langsung tanpa basa-basi.


"Hubungan bagaimana? kami sudah menikah baik secara agama dan negara. Saya rasa tidak ada yang perlu di pertanyakan." jawab Tara dengan tenang. Dia sudah terbiasa memimpin perusahaan selama bertahun-tahun. Tekanan dalam berbagai situasi pun pernah ia rasakan. Bahkan pengalaman nyari mati karena kecelakaan kerja saat meninjau pembangunan pun pernah ia alami.


"Lagi pula itu urusan pribadi saya. Jadi saya rasa tidak ada sangkut pautnya dengan kerjasama kita." imbuh Tara lagi.


"Tapi akan jadi masalah dalam pemasaran hotel kita jika pemiliknya tidak memiliki moral." ucap kliennya yang lain dengan nada sinis.


"Tidak bermoral bagaimana menurut anda?!" Tara sebenarnya sudah tahu arah pembicaraan mereka. Ia tahu alasan yang membawa orang-orang itu menemuinya. Ia hanya tidak tahu, dari siapa mereka semua mendapatkan informasi itu.


Klien lainnya ikut bergabung. "Memiliki anak ketika anda masih berstatus suami orang! menikahi anak angkat anda sendiri! apa itu bermoral?!"


Tara menarik napasnya dalam, berusaha mengembalikan otaknya supaya dingin. "Saya lebih dulu menikahi istri saya sebelum saya menikah dengan putri dari perusahaan Angkasa. Dan anak kami sah dari segi agama meski saya belum menikahinya secara negara pada saat itu."


Yang lain mengangguk setuju. Membuat Tara tidak bisa berkutik. Tapi apa pun yang terjadi, ia akan mempertahankan anak dan istrinya.


"Saya mengangkat Nathasya sebagai putri saya dan istri pertama saya ketika anak itu bahkan sudah menjadi gadis remaja. Tinggal berdua setelah kematian istri saya, sedangkan ia yang semakin dewasa, apa kalian pikir saya tidak tergoda?" Tara tatap satu persatu wajah kliennya yang diam mendengarkan pembelaannya.


"Saya akui. Saya bukan pria suci tanpa dosa. Saya akui perbuatan saya bukanlah perbuatan yang patut di tiru karena menikahi 'anak' saya sendiri." Tara mengangkat kedua tangannya membentuk dua tanda petik saat ia mengucapkan anak.


"Saya juga bukan tidak berusaha mencegah perasaan itu datang. Tapi hati saya sudah terlalu mencintai anak yang kini menjadi istri dan ibu dari anak saya. Dan selama hubungan saya dengan istri saya tidak mempengaruhi kinerja saya dalam bekerja, kenapa harus di permasalahkan?"


"Tapi orang-orang tidak akan percaya lagi pada hotel yang anda miliki. Mereka tidak akan mungkin mau menggunakan hotel yang pemiliknya saja tidak bermoral."


Tara tertawa sarkas. "Anda pikir, mereka yang datang dan memesan kamar di hotel, semua adalah orang-orang bermoral?" ujar Tara telak.


"Tak jarang bukan, ada yang menyewa kamar berdua tanpa mereka memiliki status pernikahan? meskipun tak semua orang seperti itu. Dan banyak juga hotel yang slektif dengan meminta buku nikah."

__ADS_1


Semua orang saling pandang dan mengangguk. Bahkan di antara mereka pun Tara tahu ada yang memiliki wanita simpanan. Daun muda yang selalu menghangatkan ranjang kliennya itu.


Tara tahu karena hotel miliknya lah yang menjadi langganan. Kliennya itu memiliki kamar yang hanya bisa dia tempati. Kliennya berani membayar mahal untuk kamar VVIP yang sering ia gunakan.


"Kita sama-sama bukan orang suci. Jadi untuk apa saling menjatuhkan?" tambah Tara ketika kliennya tetap diam.


"Oke, kami percayakan semua pada anda, tuan Guntara." ujar Johan. "Tapi anda harus berhati-hati. Karena cepat atau lambat, berita ini pasti akan sampai di telinga media masa. Dan saat itu, anda harus mampu mengendalikan keadaan untuk mempertanggungjawabkan kepercayaan yang kami berikan."


Tara mengulas senyum dan mengangguk mantap. Menjabat tangan kliennya satu persatu sebelum merek meninggalkan ruang meeting.


Di sudut kantor yang masih bisa melihat Tara yang mengantar kliennya dengan ramah di pintu ruang meeting. Ada mata yang menatapnya tak suka karena rencananya gagal untuk menurunkan Tara dengan suka rela sesuai janjinya.


Ia merasa heran. Bagaimana mungkin klien yang ia temui dan marah-marah begitu mendengar kabar yang ia sampaikan bisa seramah itu setelah berhadapan dengan Tara.


Dan kenapa Tara bisa setenang itu mengahadapi masalah yang mengancam posisinya dalam perusahaan.


*


*


*


Hollaaa... Othor beberapa hari ini sibuk silaturahmi ke tempat saudara jadi baru sempat up.


Tapi lusa othor juga mau pulang kampung. hihihi


Tapi othor usahakan bisa tetap up meski di kampung ya gaes. Meskipun mungkin tidak setiap hari.


Salam sayang untuk kalian semua. Saty safe, saty healthy. 🤗🤗🤗


Mending di rumah aja jangan jalan-jalan dulu. Ngeri liat tempat wisata pada rame banget gitu..

__ADS_1


__ADS_2