
Sudah empat hari Tara belum juga sadarkan diri. Kondisi Caca sudah membaik. Ia hanya perlu istirahat. Setelah dengan terpaksa dirawat inap selama satu hari dan menghabiskan beberapa botol infus, Caca kembali menunggu sang suami.
"Mama sama papa pulang saja. Biar Caca yang jagain disini." sudah empat hari pula Caca tidak pulang ke rumah.
Kepala rumah sakit mengizinkan Caca tinggal di kamar rawat yang sudah di persiapkan untuk Tara nantinya.
Itu pun Caca kesana hanya jika sudah merasa sangat lelah. Karena kamar yang cukup jauh dari ruang ICU. Sedangkan ia tak ingin meninggalkan sang suami.
Rumah sakit sudah diperketat pengamanan. Sehinggal tak ada satu pun media yang berhasil masuk.
Sama halnya dengan Villa yang semakin diperketat untuk menjaga Mentari dari orang-orang yang berniat jahat maupun awak media.
Caca bahkan belum diberi tahu apa yang terjadi di luar sana. Ia kira semua masih aman terkendali. Ia juga tak sempat menonton televisi. Tak ada niat untuk melakukannya. Karena ia tengah fokus dengan kondisi Tara.
"Kamu saja yang pulang. Istirahat yang cukup di rumah. Disini pasti kamu sulit untuk tidur kan." ucap mama Shinta lembut. Ia prihatin melihat menantunya yang cukup terlihat kurus dari sebelum mereka berangkat ke Bali.
Terlihat jelas jika Caca tidak makan dan tidur dengan baik selama menjaga Tara.
"Nanti jika ada kabar tentang Tara, mama akan langsung hubungi kamu." imbuh wanita paruh baya itu. "Mentari juga pasti merindukanmu, Nak. Dia kasihan cuma sama Rani dan Rian. Dokter Risma sudah kembali ke Jakarta."
Caca terperanjat. Ia bahkan hampir melupakan putri semata wayangnya itu. Mentari juga pasti terluka karena papanya belum sadarkan diri. Terlebih ia tak pulang sama sekali.
"Ya sudah mah, pah. Caca pulang dulu. Nanti kalau ada kabar tentang mas Tara tolong langsung kabari Caca, ya?" pamitnya pada kedua mertuanya.
Caca meninggalkan rumah sakit tetap di antar Bima. Pria itu sudah meyakinkan Caca jika Tara tidak membutuhkannya disana, karena ia sudah mengamankan rumah sakit dengan pengawalan ketat.
"Memang kenapa harus di jaga ketat. Saya kan hanya menyuruhmu menjaga suami saya yang siapa tahu sadar dalam waktu dekat. Kasihan mama dan papa sudah tua."
"Eh?" Bima lupa jika Caca belum diberitahu keadaan yang kini kian meruncing.
Aldo bahkan meminta untuk menggantikan Tara selama Tara sakit dan suasana masih memanas.
Tapi William tidak mengizinkan. Paman tertua Tara itu menunggu Tara pulih dan menyelesaikan kekacauan yang sudah di perbuatnya sendiri.
__ADS_1
Begitu kesepakatan mereka dulu, bukan?
Jika Tara tidak sanggup mengembalikan keadaan perusahaan untuk kembali stabil. Baru William akan mencopot jabatan Tara sebagai seorang pemimpin.
"Hanya sebagai antisipasi saja, Nyonya." kilahnya. "Tuan kan orang tersohor. Kabar kecelakaan ini pasti akan sampai di media. Dan mereka mungkin saja berusaha menerobos rumah sakit untuk mencari tahu kondisi Tuan Tara."
Caca hanya mengangguk mengiyakan. Pikirannya kini tengah bercabang kemana-mana.
"Apa tidak sebaiknya suami saya di pindah ke Jakarta atau luar negeri saja, Bim? Cari dokter terbaik yang bisa menangani suami saya." tanya Caca ketika mobil berhenti di lampu merah. "Kenapa sampai hari ini belum juga sadar?"
"Saya hanya pengawal, nyonya. Saya tidak tahu mana yang terbaik menurut keluarga tuan. Biasanya asisten tuan yang akan mengurusnya."
Caca lagi-lagi mengangguk. Dia sempat bertemu asisten suaminya. Tapi kini pria itu disibukan mengurus hal yang entah apa ia tak tahu. Karena hanya papa Adley yang berbicara dengannya dilorong tak jauh dari ruang ICU.
Meski begitu, tetap saja Caca tak mendengar apa pun yang mereka bicarakan.
***
"Ayo dong, Tari harus makan. Nanti kalau Tari nggak makan, Tari juga sakit lho seperti papa."
Gadis kecil itu melipat tangan di depan dada dan menekuk masam wajahnya.
"Aku nggak mau makan aunty! aku maunya papa sama mama!" seru anak itu dengan mata yang mulai berembun.
"Iya. Nanti kalau papa sudah sehat, kita coba minta Om dokter untuk ngizinin Tari masuk rumah sakit ya? kalau sekarang, papa masih belum bisa di besuk. Tari juga nggak akan di izinin masuk." giliran Rian yang mencoba merayu Mentari.
Caca masih diam di tempat ia bisa mengawasi ketiganya. Merasa terhibur dengan wajah stres Rian dan Rani.
"Nenek kan dokter, yah. Masa nggak bisa ajak Tari jengukin papa." protes anak itu lagi pada Rian.
"Nenek kan sudah pulang ke Jakarta. Sekarang Tari makan dulu. Nanti ayah telfon nenek untuk kesini lagi, biar nenek yang bujuk Om dokter untuk kasih izin Tari masuk."
Mentari tetap menggeleng dan menghentakan kakinya. Kini gadis itu malah mulai menangis.
__ADS_1
"Tari nggak mau! huaaaa... Tari mau papa! haaaa... Nggak mau ayah... nggak mau aunty jugaaaa aaaaa.....aaaa.."
Caca menghela napas dan mendekat. "Kata nenek Shinta, Mentari mau jadi anak baik di rumah. Tapi kenapa sekarang malah buat ayah sama aunty jadi sedih."
Kehadiran Caca membuat Rian, Rani dan Mentari menoleh ke arah ruang tamu, dimana Caca berjalan mendekat.
"Mamaaaaa huuuaaaaaa.... Tari baik kooook.... tapi Tari kangen papa sama mamaaaa..." ucap Mentari dalam pelukan Caca disela-sela tangisannya.
Caca tak kuasa untuk tak ikut menangis dan mengeratkan pelukannya pada gadis kecil yang hampir saja ia lupakan keberadaannya.
"Doakan papa biar cepat sadar dan pulih. Biar Mentari juga bisa main bareng papa lagi."
Mentari mengangguk meski masih menangis sesenggukan.
"Dan sekarang, anak mama harus makan. Nanti kalau kamu sakit, papa pasti sedih. Papa juga pasti akan marahin mama gara-gara nggak jagain Mentari."
Gadis kecil itu mengusap ingusnya dengan punggung tangan dan mengangguk. "Kalau Tari makan, papa nggak sedih kan mah? papa nggak marah sama mama, kan?"
Caca semakin tergugu dalam tangisnya dan mengangguk. "Iya. Makanya Mentari harus makan biar tetap sehat. Biar papa seneng dan cepat sehat juga."
Mentari mendekati Rani yang tersenyum ke arahnya. "Tari mau makan aunty. Biar Tari sehat dan papa cepat sembuh."
Rani mengangguk dan mulai menyuapi gadis kecil yang kini duduk di pangkuan Rian.
Caca tahu gadis kecilnya pasti sangat merindukan ayahnya. Sama dengan dirinya yang sangat merindukan suaminya.
Caca menghela napas berat. Kenapa semua jadi seperti ini. Bahkan selama ketiadaannya di samping Tara dulu. Pria itu baik-baik saja.
Tapi setelah mereka bersama kembali. Kenapa justru semakin banyak cobaan yang harus mereka lalui.
Tak pantaskah seorang pendosa sepertinya dan sang suami untuk bahagia?
Atau Tuhan tengah menyiapkan kebahagiaan yang luar biasa setelah ia dan Tara mampu melewati cobaan ini?
__ADS_1