I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Rencana Baru


__ADS_3

Tara baru bisa bernapas lega di bulan ke dua kepergiannya. Beberapa klien memang tetap dengan pendirian mereka untuk tidak lagi bergabung. Tapi beberapa yang lain dan tentunya lebih banyak, berhasil Tara bawa kembali.


Selama dua bulan, Tara memang sesekali pulang ke rumah untuk melepas rindu bersama anak dan istrinya. Namun kali ini, kepulangannya bukan untuk kembali pergi.


Caca sudah menyambutnya di depan pintu beserta Mentari yang melompat kegirangan di samping istrinya itu. Tara tersenyum melihatnya. Tak sia-sia ia berjuang jauh dari keluarga. Karena kepergiannya membuahkan hasil yang ia harapkan.


Tara merengkuh sang istri yang sudah berkaca-kaca. Perutnya kini sudah menonjol. Terlihat jelas pertumbuhan anaknya di dalam sana.


"Selamat mas. Kamu berhasil." ucap Caca dengan bisikan ditengah isak tangis.


Aah istrinya memang sering menangis selama ia tinggal. Mungkin memang kehamilan kali ini, Caca benar-benar ingin selalu ada di dekatnya.


"Berkat doamu." jawab Tara mengusap lembut punggung istrinya juga melabuhkan ciuman dalam di dahi sang istri sebelum melepaskan pelukan itu untuk menyambut putri kecil mereka yang masih melompat-lompat ingin di gendong.


"Anak papa pinter kan, selama papa pergi? jagain mama sama adek, kan?" tanya Tara begitu Mentari sudah dalam gendongannya.


"He'em." Mentari mengangguk mantap. "Tari jadi anak baik kok, pah. Jagain mama. Iya kan, mah?"


Caca mengangguk menjawab putrinya yang meminta dukungan.


"Hebat. Ini baru putri papa." puji Tara dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi diwajah sang putri. Membuat Mentari tergelak legelian dengan kumis dan jenggot Tara yang belum sempat bercukur.


"Ayo masuk dulu, mas. Mas pasti lelah."


Tara mengangguk membawa serta Mentari untuk masuk kedalam rumah.


***


Bolehkah Caca untuk bernapas lega melihat kepulangan suaminya. Bolehkah ia berharap kebahagiaan kedepannya. Dan yang paling ia syukuri adalah Tara pulang dalam keadaan sehat. Meski dapat Caca lihat, berat badan suaminya yang entah turun berapa kilogram.


Malam seperti biasa mereka menemani Mentari hingga tertidur. Sejak ada Tara, Caca hanya memperhatikan interaksi keduanya. Tidak turut andil untuk menidurkan sang putri yang memilih dibacakan cerita atau diusap oleh ayahnya.


"Aku mau bicara sebentar. Jangan tidur dulu ya?" bisik Tara begitu Caca bangkit ingin meninggalkan kamar sang putri begitu melihat putri kecilnya sudah terlelap.

__ADS_1


Dikamar, Caca menunggu Tara dengan was-was. Tidak biasanya sekali suaminya mengajak dirinya bicara serius seperti ini. Sekali pun ada hal serius, biasanya Tara langsung saja bicara.


"Kenapa, mas?" tanya Caca begitu sang suami duduk disebelahnya yang tengah bersandar di kepala ranjang.


Tara terkekeh dengan ketidak sabaran istrinya. Merebahkan tubuhnya dengan paha Caca sebagai bantalan. Mencium perut yang mulai membesar dengan penuh kasih sayang.


"Kondisi perusahaan sudah berangsur membaik." ujar Tara.


Caca hanya mengangguk. Menunggu sang suami mengungkapkan semua yang ingin ia katakan.


"Tapi pandangan orang terhadap kita nggak akan secepat itu kembali, kan?"


Caca kembali mengangguk. Memang tak jarang jika ada yang mengenalinya sering berbisik-bisik di belakangnya. Meski ia tidak mendengar, tapi ia tahu mereka tengah membicarakannya.


Tak jarang juga ada yang terang-terangan menghardiknya. Dan benar kata sang suami, tak secepat itu mengubah pandangan orang terhadap kita. Apa lagi memang benar adanya. Ia hanyalah anak angkat yang menikah dengan ayahnya. Meski tuduhan ia wanita penggoda tidak benar adanya.


"Aku takut kamu akan terus terluka dengan pandangan dan omongan mereka. Aku juga takut itu akan mengganggu pertumbuhan Mentari." Tara kembali menjeda ucapannya. Membawa tangan sang istri yang tengah membelai rambutnya untuk ia kecup.


Tara sudah memikirkannya matang-matang. Setidaknya di luar sana tidak akan ada yang mengusik keluarganya. Baik secara ferbal maupun acaman yang membahayakan keselamatan keluarganya.


Tara sudah melacak pelaku yang hampir mencelakakan putrinya. Juga pelaku yang hampir menghilangkan nyawanya. Ternyata mereka dua orang yang dibayar oleh orang yang berbeda juga.


Pelaku yang mengincar putrinya adalah orang suruhan Devi yang tidak terima dengan kebahagiaan Tara juga Caca.


Sedangkan pelaku yang mencelakakannya adalah orang suruhan Aldo yang masih mengincar posisinya sebagai pemimpin.


Tapi Tara tak kuasa untuk membawa keduanya ke pihak yang berwajib. Ia masih memikirkan anak Devi jika ibunya di penjara. Ia juga memikirkan nama baik Abraham jika menyeret Aldo ke penjara.


Untuk itu Tara ingin memboyong anak dan istrinya ke luar negeri. Demi keselamatan dan kebahagiaan keluarga mereka.


Tara siap melepaskan jabatannya jika yang dipertaruhkan disini keluarganya. Ia bisa memulai dengan pekerjaan yang baru di luar sana.


"Mas mau kerja apa disana?" bukannya Caca tidak rela melepas kemewahan yang kini ia nikmati. Ia sudah pernah hidup sederhana.

__ADS_1


Tapi yang ia khawatirkan justru suaminya. Tara sudah biasa hidup bergelimang harta sejak kecil. Caca takut keadaan sulit akan menjadi masalah rumah tangga mereka nanti. Takut Tara menyalahkannya karena harus melepas kemewahan demi dirinya.


"Kamu jangan khawatir. Kemarin saat aku ke luar negeri, kolega kita siap memberikan salah satu posisi diperusahaannya jika aku mau pindah ke sana."


"Mas yakin?" tanya Caca memastikan.


"Meski itu bukan posisi setinggi sekarang. Tapi setidaknya pekerjaan yang aku dapat bisa menghidupi kamu dan anak-anak dengan layak disana. Aku juga memiliki saham di Abraham, jadi tetap akan mendapat keuntungan setiap bulan. Aku juga masih memiliki tabungan yang bisa kita gunakan untuk membuka usaha kecil-kecilan. Seperti restoran mungkin?"


Caca menghela napasnya. Jika suaminya sudah yakin kenapa ia harus ragu. "Kalau mas sudah memikirkannya matang-matang. Aku setuju saja. Bagaimana baiknya menurut mas sebagai kepala keluarga."


Tara bangkit dan membawa istrinya kedalam dekapan. "Terimakasih mau mengerti. Percayalah ini demi kebahagiaan kita."


Keduanya diam. Menyelami pikiran masing-masing. Membuat keheningan tercipta dikamar yang mereka tempati. Hanya detak jam yang berpacu dengan waktu yang mengisi kebisuan.


"Mas udah bicarain ini sama mama, papa dan om Willy?"


Tara menggeleng. "Aku nunggu keputusan kamu dulu. Belum tentu kamu setuju. Tapi karena sekarang kamu sudah setuju, mungkin besok atau lusa aku bicarakan masalah ini. Biar kita bisa cepat pindah dari sini."


Caca merasa senang Tara melibatkannya untuk hal ini. Suaminya meminta pendapatnya sebelum mengambil keputusan. Merasa dihargai keberadaannya sebagai seorang istri.


"Tapi mama dan papa bagaimana? mereka sudah tua mas. Mas tega ninggalin mereka sendiri disini?"


Tara juga sudah memikirkan hal tersebut. Jika nanti orang tuanya mau di ajak pindah, ia akan sangat bersyukur. Tapi jika pun orang tuanya ingin menetap disini, Tara percaya keluarga Abraham akan menjaga mereka. Dan pastinya ia akan sering datang menjenguk kedua orang tuanya.


"Kita tanyakan pada mereka langsung besok. Mudah-mudahan saja mereka mau ikut dengan kita. Kalau pun tidak, Abraham bukan keluarga yang tidak berperasaan. Mereka pasti akan menjaga dan melindungi mama dan papa."


Caca mengangguk setuju saja. Suaminya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang terbaik untuk mereka semua.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2