I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Jalan Kembali


__ADS_3

Esok harinya. Ketika matahari bahkan belum menampakkan sinarnya, Tara sudah duduk di ruang tamu rumah Caca.


Tara ingin bisa cepat dekat kembali dengan anak istrinya. Dan usaha pertama yang ia lakukan adalah ingin mengantar Mentari untuk berangkat sekolah setiap hari.


Caca tentu saja langsung memperbolehkan. Ia sendiri yang memberi saran untuk Tara mengambil hati putri mereka.


"Diminum dulu mas. Tari juga belum bangun. Aku siapkan sarapan dulu."


Caca meletakan secangkir teh hangat lengkap dengan kue bolu hasil karyanya bersama sang putri semalam.


Tara tak menjawab apa pun. Tapi setelah Caca berlalu, pria itu menyusul Caca ke dapur.


Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Caca yang masih mengenakan piyama tidur, rambut di gelung asal, tengah mengulek bumbu di atas cobek.


Sepertinya gadis manjanya sudah benar-benar berubah menjadi wanita dewasa. Waktu mendewasakan Caca dengan sempurna.


Dengan cekatan Caca menumis bumbu sebelum menambahkan telor, sosi, bakso dan terakhir nasi serta garam tak lupa kecap.


Tara hanya diam dan bersandar di kusen pintu dengan tangan di masukan ke dalam saku celana kerjanya.


Menikmati keindahan yang Tuhan suguhkan di pagi harinya ini.


"Lho. Om ngapain di sini?"


Suara Mentari mengagetkan Tara juga Caca yang tengah memindahkan nasi goreng ke dalam piring.


Sejenak tatapan Caca dan Tara saling beradu. Sebelum kemudian pria itu berjongkok dan mengusap lembut kepala putrinya.


"Anak manis sudah bangun?"


Mentari mengangguk polos. Gadis itu tidak lagi takut kepada Tara. Karena ia percaya mamanya pasti akan melindunginya jika Om jahat yang ada di hadapannya kembali memarahinya.


"Om kok ada di rumah Tari?" tanya Mentari lagi dengan nada yang lebih tinggi, merasa pertanyaannya di abaikan.


"Mentari. Nggak boleh begitu sayang." tegur Caca. Padahal ia tak pernah mengajarkan anaknya untuk berseru pada orang yang lebih tua.


"Maaf, mah."


"Minta maafnya sama Om Tara dong."


Tara menatap Caca tak suka karena masih memperkenalkan ia sebagai Om bukan papa. Tapi Caca tak peduli, itu tugas Tara untuk meyakinkan Mentari. Ia hanya akan membantu nanti.


"Maaf, Om. Tapi Om sedang apa disini?"


"Om mau mengantar Tari ke sekolah. Mau ya di antar sama Om?"


Mentari menatap ibunya. "Tari sama mama aja ke sekolahnya."

__ADS_1


"Iya, sama mama juga. Mau ya?"


Caca mengangguk pada anaknya. Kasihan Tara sudah bela-belain kerumahnya pagi-pagi bahkan sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.


Tari mengangguk. "Tapi Om jangan galak lagi." ucap Mentari. Berkacak pinggang seolah sedang menegur Tara yang nakal.


Membuat pria itu juga Caca terkekeh dengan anak mereka.


"Mentari mandi dulu ya? habis itu kita sarapan. Cantiknya mama mau makan apa?"


"Sereal aja mah."


"Oke. Sekarang kita mandi my princess?"


Mentari mengangguk. Merentangkan tangannya yang siap di sambut Caca dengan gendongan.


"Aku mandi dulu mas."


***


Hati Tara menghangat. Melihat keceriaan putrinya. Sarapan bersama anak dan istri. Membuat paginya kembali berenergi.


Bisa sama-sama mengantar putri kecil berangkat ke sekolah juga suatu hal baru yang menyenangkan bagi Tara.


"Salim dulu sama Om Tara." pinta Caca dengan lembut. Tapi anaknya menyembunyikan kedua tangannya dan menggeleng tegas.


"Mentari. Salim dulu sama Om Tara." suara Caca kali ini terdengar lebih tegas.


"Maaahhh."


"Tari." jika mamanya sudah memanggilnya hanya dengan nama panggilan seperti itu, artinya ia harus menurut.


"Mama jahat!" seru Mentari setelah dengan terpaksa anak itu menuruti perintah ibunya.


Gadis kecil itu berlari memasuki sekolah masih dengan rasa kesal.


"Jangan terlalu di paksakan. Nanti juga dia mengerti. Kamu sendiri kan yang bilang seperti itu." ucap Tara saat kembali mengantar Caca ke tempat kerja. Padahal Caca sudah meminta Tara langsung ke kantor saja, karena ia bisa pulang naik ojek.


"Aku cuma nggak enak aja sama mas. Nanti di kira aku yang ngajarin seperti itu." tatapan mata Caca ia lempar ke jendela di sampingnya.


"Aku tidak akan menyalahkan kamu bagaimana mendidik anak kita. Karena aku sendiri bahkan tidak ikut andil dalam mendidik Tari." tutur Tara. "Lagi pula, aku yakin kamu tidak mungkin mengajarkan hal yang tidak baik untuk putri kita itu."


Caca tidak menjawab apa pun, karena mereka sudah sampai di MFA.


"Caca, tunggu!" Caca yang sudah mengucapkan terimakasih dan akan membuka hendle pintu mobil pun urung.


"Nanti malam aku boleh kan main ke rumah?"

__ADS_1


Caca menimbang sesaat permintaan Tara. "Boleh mas. Tapi sebaiknya tidak terlalu malam. Biar Mentari belum tidur. Juga agar tidak ada fitnah."


Tara mengangguk mengerti. Bagaimana pun mereka manusia dewasa yang pasti akan mengundang fitnah jika malam-malam ada di dalam satu atap.


"Terimakasih, Ca."


"Seharusnya aku yang berterimakasih. Terimakasih sudah mengantar Mentari dan mengantar aku juga mas."


Tara menggeleng. "Terimakasih sudah mau bertahan untuk anak kita. Maaf untuk segala masa lalu yang menyakiti kamu dan membuat kamu pergi."


Caca menghela napas. Kata yang dulu sekali ia harapkan baru terucap setelah bertahun-tahun lamanya.


Andai dulu Tara menyusulnya pulang dan meminta maaf. Pasti ia tidak akan pergi meninggalkan pria itu. Tidak akan mengambil keputusan gegabah dalam hidupnya.


Karena dulu ia hanya butuh pengakuan Tara. Pengakuan jika kehadirannya memang di butuhkan. Pengakuan jika Tara peduli pada anak dalam kandungannya.


Terlebih lagi, dulu mereka bahkan belum berbaikan setelah Tara meragukan anak dalam kandungannya.


Setelah mereka bertengkar di dalam restoran saat Caca memberi tahu kehamilannya. Hal yang tak berakhir baik itu bertambah buruk dengan kejadian di rumah sakit.


Ketika Caca mencoba melupakan kejadian itu. Merasa tidak tega melihat Tara babak belur. Ia malah mendapat bentakan.


Meski lukanya kembali di tambah dengan luka. Tapi ia masih berharap Tara akan pulang untuk meminta maaf dan memeluknya. Mengucapkan kata cinta seperti biasanya.


Dan ketika sekarang Tara baru meminta maaf. Apa yang harus ia lakukan?


"Semua sudah berlalu, mas. Dan aku sudah memaafkanmu sejak lama."


"Tapi kamu belum bisa melupakannya?" tebak Tara yang tepat sasaran.


"Biar waktu yang menghapus ingatan itu mas. Toh kita tidak hidup di masa lalu."


"Tapi kamu mau kan, menjalin masa depan denganku?"


"Tergantung seberapa hebat mas Tara mengambil hati Mentari. Saat ini, gadis itu segalanya untukku."


Tak sekalipun Caca menatap Tara ketika berbicara. Wanita itu setia menunduk. Mengabaikan tatapan pilu dari lelaki yang menatapnya lekat.


"Segalanya untukku juga." timpal Tara. Karena Mentari juga segalanya untuknya juga.


Darah dagingnya. Penerusnya. Buah cintanya. Dan jalannya untuk kembali pada cinta sejatinya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2