
Pagi di rumah orang tua Tara lebih berwarna dari biasanya. Kepolosan dan keceriaan Mentari mampu membangkitkan suasana di dalam rumah yang biasanya sepi itu.
"Andai kita punya banyak anak. Pasti rumah ini akan lebih ramai dengan keceriaan cucu ya, pah?" tanya mama Shinta pada suami yang duduk di sebelahnya.
"Kita bisa meminta Tara dan Caca untuk memberikan banyak cucu untuk meramaikan rumah kita nanti setelah mereka menikah."
Caca menatap kedua paruh baya itu dengan mata membola. "Memangnya Caca mesin, minta yang banyak."
Sejak obrolan dari hati ke hati yang Tara lakukan semalam. Caca lebih bisa membuka hati dan perasaannya kembali. Berusaha menerima kehadiran pria itu juga kedua orang tuanya.
Semua ia lakukan demi kebaikan bersama. Demi anak yang bisa mendapatkan ayah disisinya. Demi kakek dan nenek yang juga bisa memeluk cucu mereka. Demi Tara, pria yang ia cintai yang sudah mengharapkan kehadirannya dan sang anak untuk bisa bersatu menjadi kita.
Dan yang pasti. Untuk kebhagiaan dirinya sendiri juga. Menghapus kesedihan yang sering kali muncul setiap ia merindukan pria yang mengisi hatinya.
"Banyak anak tuh senang, Ca. Mama saja ingin punya banyak anak kalau bisa. Biar saat Tara tidak bisa datang ke rumah, masih ada anak lain yang bisa mama harapkan."
Dimasa tua mereka, memang hanya kehadiran anak dan cucu yang mereka harapkan. Menemani masa tua yang lebih sering sepi yang menemani. Apa lagi jika tidak adanya kegiatan yang mereka lakukan untuk mengisi waktu mereka.
"Tapi Caca nggak mau punya banyak anak, mah. Melahirkan dan membesarkan Mentari saja masih Caca ingat jelas seperti apa rasanya."
Caca kembali mengingat ketika dulu tangah malam perutnya terasa mulas. Sudah sejak siang sering terjadi kontraksi. Tapi karena itu pengalaman pertama, sehingga Caca tidak peka jika itu tanda-tanda akan melahirkan.
Hingga tengah malam rasa sakit yang tak bisa tertahankan membuat Caca berteriak memanggil dokter Risma yang untungnya sedang tidak sedang jaga malam di rumah sakit.
Kondisi Caca yang sudah tidak sanggup untuk bangkit dari tempat tidurlah yang membuat Caca terpaksa berteriak.
Proses melahirkan Caca di lakukan di dalam kamar yang wanita itu tempati. Segala rasa sakit dan tangis, Caca rasakan sendiri. Tanpa ada yang menemani dan memberinya semangat untuk berjuang melahirkan putri kecilnya.
Hanya dokter Risama yang berusaha memberinya semangat. Meski dalam hati Caca selalu meneriakkan nama Tara. Berharap pria itu hadir di sana untuk mengucap kata yang bisa memberinya kekuatan.
Tapi angan hanyalah angan. Tidak pernah menajadi nyata. Semua terjadi karena ulahnya sendiri. Dan Caca berusaha menerimanya. Kembali berjuang demi melahirkan anaknya dengan selamat ke dunia.
__ADS_1
"Sakitnya Caca rasakan sendiri. Tanpa ada yang memberi semangat dan menamani. Rasa sedih itu bahkan masih berbekas." gumam Caca lirih. Gumaman yang tanpa sadar ia ucapkan ketika mengenang masa-masa sulitnya dulu. Sebuah rasa yang tak sekalipun ia ingin utarakan pada Tara dan kedua orang tuanya.
"Maaf. Maaf membuatmu berjuang seorang diri." ucap Tara penuh penyesalan. Menyadarkan Caca dari lamunan.
"Eh. Bukan.. Bukan maksudku mengungkitnya. Sungguh." Caca merasa tidak enak hati melihat Tara yang bersedih. "Aku hanya tidak ingin memiliki banyak anak saja. Cukup menambah satu atau dua, Caca rasa cukup kan, mah?"
Mama Shinta memaksakan senyumnya dan mengangguk. Merubah obrolan dengan yang lebih ringan dan tidak sensitif.
***
"CACA!!" seru Rani begitu memasuki rumah orang tua Tara.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, Caca menghubungi sahabatnya kembali. Bahkan di telefon saja, Rani sudah menangis tersedu-sedu.
"Kenapa lo tega banget pergi nggak kasih tau gue!" seru Rani marah dalam tangisnya. Memeluk erat sahabat yang bak di telan bumi. Tak pernah ada kabarnya sedikitpun.
"Sory, Ran. Gue takut lo kasih tau Tara kalau gue kasih tau tempat tinggal gue."
Rani melepas pelukannya dengan tatapan tak percaya. "Lo kira gue seember itu?! lo kira gue sahabat macam apa yang nggak bisa jaga rahasia?!"
Ya. Itu memang pernah terjadi. Tara memang menyuruh orang untuk mengikuti Rani. Takut gadis itu berbohong atau suatu hari Caca menghubungi sahabatnya itu.
"Bohong! lo emang nggak percaya kan sama gue?! buktinya lo hamil aja gue nggak di kasih tau!"
Caca menunduk sendu. "Gue malu, Ran. Gue malu karena hamil disaat gue jadi istri simpanan. Bukan karena gue ngga percaya sama lo. Tapi gue malu sama lo."
Rani kembali memeluk tubuh sahabatnya yang kembali bersedih. "Kita sahabat. Jadi buat apa lo malu. Gue nggak akan pernah menghakimi lo. Gue akan dukung semua yang menjadi keputusan lo, asal itu bisa bikin lo bahagia, Ca."
Caca mengangguk dalam dekapan sahabatnya "Maaf." hanya kalimat itu yang mampu Caca ucapkan.
"Kalau saja lo kasih tau gue, lo pasti nggak akan berjuang sendiri. Gue pasti bisa temenin lo di masa-masa sulit lo."
__ADS_1
"Ada Rian yang nemenin gue."
"Apa?!" sentak Rani. "Lo sembunyiin semua dari gue, dan lo malah kasih tau tuh cowok?"
Caca kemudian menceritakan semuanya sejak awal. Dari saat Rian menolongnya hingga mereka yang menikah dan bercerai setelah beberapa bulan.
"Gila!" Rani menggeleng dramatis. "Ini bener-bener gila! banyak hal yang gue lewatin tentang dua sahabat gue."
"Maaf, Ran." Caca menggenggam tangan Rani merasa menyesal.
"Sudah lah. Yang penting lo sekarang sudah bahagia."
Obrolan mereka kemudian lebih mengalir. Caca bercerita tentang usaha kecil-kecilan yang ia miliki. Begitu juga dengan Rani yang kini mengambil S2 untuk jurusan yang sama.
Hingga Rani begitu senang dan gemas bermain dengan Mentari yang begitu ceria dan pintar.
Dan sore harinya, Rani mengantar Caca untuk pulang ke rumahnya. Selain Rani yang ingin tahu dimana sahabatnya selama ini tinggal, juga karena Caca tidak ingin semakin menjadi bahan gunjingan ibu-ibu kompleknya jika setelah semalaman tidak pulang dan pulang-pulang di antar laki-laki. Untung Tara mau mengerti.
"Jadi disini, lo selama ini tinggal?" mereka mulai memasuki perkampungan tempat Caca tinggal. "Padahal dekat. Tapi kenapa selama ini nggak pernah ketemu?"
"Gue jarang keluar. Ya demi menghindari kemungkinan buat bertemu sama Tara."
Rani berdecak sembari kepala yang menggeleng. "Niat banget lo ya, kabur dari Tara."
Banyak hal yang ingin Caca ceritakan pada sahabatnya itu. Seperti saat mereka masih sama-sama kuliah dulu. Dimana mereka selalu berbagi apa yang tengah mereka rasakan.
Ia rindu saat-saat tengah mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya yang satu itu. Ah bukan. Tapi sahabat satu-satunya.
*
*
__ADS_1
*
Holllaaa.. Yuk kita mulai lagi cerita Caca. Berhubunga yang lain sudah berhasil aku tamatin hihihi