I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Berjuang


__ADS_3

Caca memang sengaja tidak memberitahu siapa pun tentang kehamilannya. Juga melarang dokter untuk memberitahukan hal tersebut.


Ia ingin orang yang pertama tahu kehamilannya adalah sang suami. Naasnya, Tara lupa ingatan dan memupus keinginan Caca untuk memberitahunya. Memilih menyimpan dan menanggungnya sendiri.


Hingga hari ini, ketika Tara mau menerimanya dengan baik. Caca sudah membulatkan tekad untuk memberitahu tentang kehamilannya.


"Ka-kamu serius?" tanya Tara tidak percaya. Ada pancaran haru dan bahagia yang tidak Tara tutupi dikedua matanya.


Caca mengangguk. "Keinginan mas terkabul untuk cepat memberi Mentari adik. Meski bukan di waktu yang tepat."


"Tidak tepat kenapa?" tanya Tara tidak suka. "Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk anak kita hadir. Apa pun keadaan kita saat ini, anak kita tetap kabar gembira. Justru dia oase kita di tengah padang pasir masalah kita kali ini."


Kedua bola mata Caca sudah berembun dengan rasa bahagia. "Tadinya aku takut akan melewati kehamilan ini sendirian lagi, mas. Karena kamu lupa sama kita." tangis Caca sudah tidak dapat di cegah lagi.


Selama ini Caca juga sering menangis seorang diri. Kehamilan membuatnya lebih sensitif dan suka menangis. Tapi dia juga harus berjuang tegar dan kuat demi Mentari dan janin dalam kandungannya.


"Maaf selalu bikin kalian menderita." Tara membawa kepala Caca untuk bersandar di dadanya. Mencium puncak kepala sang istri.


"Udah jalan kita seperti ini, mas. Yang penting sekarang mas ada untuk kami. Janji ya mas. Temani aku disaat melahirkan nanti."


Ya. Caca sangat ingin di kehamilannya yang kedua ini ada suaminya yang menemani. Memberinya semangat seperti pasangan pada umumnya.


Caca tidak ingin mengulang masa lalu. Ia tidak ingin berjuang seorang diri ketika melahirkan nanti. Bahkan mungkin dulu jika ia atau Mentari tidak selamat, tidak akan ada yang menangisi mereka. Karena Caca benar-benar sendiri. Hanya ada dokter Risma yang bahkan baru beberapa bulan ia kenal.


***


Dengan sedikit paksaan, Tara diperbolehkan kembali berangkat kekantor. Meski dengan pengawalan ketat, juga sang ayah yang selalu setia disisinya.


"Wah.. Wah... Wah... Berani-beraninya kau menampakkan diri di perusahaan lagi setelah hampir semua klien kita membatalkan kerja sama." Aldo sudah menyambutnya di depan ruang kerjanya dengan tatapan sinis dan senyum mengejek.


Diluar gerbang kantor pusat dimana Tara menjabat, puluhan awak media masih saja menunggu kemunculan Tara untuk melakukan konferensi.


Namun belum ada niatan Tara melakukan hal tersebut. Ia ingin tahu terlebih dahulu keadaan perusahaan seperti apa.


"Jika Om tidak bisa membantu, lebih baik Om diam!" jawab Tara yang tak mengindahkan sindiran Aldo dan langsung berlalu memasuki ruangannya.

__ADS_1


Tentu saja Aldo tersinggung dan mengikuti Tara hingga ke dalam. "Kau yang membuat masalah sendiri. Untuk apa aku membantumu."


Aldo duduk dengan pongahnya di kursi yang bersebrangan dengan yang Tara duduki. Dikursi kebesarannya.


"Mengurus masalah seperti ini saja tidak mampu, bersikeras jadi pemimpin!" gumam Aldo yang masih bisa Tara dengar.


Tara memijat dahinya dengan tangan yang bertopang di lengan kursi. "Lebih baik Om Aldo keluar. Saya akan menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa bantuan kalian!" usir Tara geram.


"Berani sekali kau mengusirku dari kantor yang ayahku dirikan!" seru Aldo tidak terima. "Jangan mentang-mentang sekarang kau yang memimpin, lalu kau bisa seenaknya saja!"


"Kau bukan siapa-siapa tanpa perusahaan ini! anak ingusan sepertimu hanya bisa menjadi parasit keluarga saja! berlagak sok berkuasa padahal tidak ada pantas-pantasnya!"


Tara dan Adley sang ayah-yang duduk disebelah adiknya- sudah mengepalkan tangannya geram. Tapi keduanya masih bisa mengendalikan emosi mereka.


"Ini bukan perusahaan yang kau dirikan dengan usahamu sendiri! jadi jangan seakan-akan kau yang memiliki segalanya!"


Brakk


Tara berdiri dan menggebrak meja kerjanya. Emosinya sudah menggunung mendengar semua yang Aldo ucapkan.


Pikiran Tara sudah penuh sesak dengan masalah yang ada. Masih haruskan ia mendengarkan ocehan tidak berfaedah dari Aldo.


"Om tenang saja. Saya akan menyelesaikan semua masalah yang ada. Dan setelah kondisi perusahaan kembali normal, saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini." putus Tara lelah dengan kedengkian yang Aldo dan keluarganya sering tunjukan padanya. Ia juga lelah dengan kedali keluarga besar ayahnya yang selalu menjerat dan mengaturnya seperti boneka.


"TIDAK ADA YANG MENGIZINKANMU KELUAR DARI PERUSAHAAN INI!" teriak Willy di ambang pintu ruang kerja Tara. Padahal sebelumnya Aldo sudah menyeringai puas ketika mendengar Tara akan mengundurkan diri. Dan kini ia harus menelan kekecewaannya karena lagi-lagi kakak tertuannya membela Tara.


Willy dan Aldo memang sudah tahu kabar tentang Tara yang akan datang ke perusahaan. Padahal biasanya keduanya tidak pernah menampakan batang hidungnya di kantor jika tidak ada rapat penting pemilik saham.


"Kakak ini kenapa? Tara sudah menghancurkan perusahaan! klien kita banyak yang mengundurkan diri!"


"Diam kau Aldo!" sentak Willy pada adiknya itu. "Kita masih belum memberikan kesempatan untuk Tara menyelesaikan masalah yang ada."


"Tapi, kak! dia saja hilang ingatan beberapa tahun kebelakang. Mana dia tahu kerja sama apa saja dan dengan siapa saja. Dia tidak akan tahu sampai detail terkecilnya. Tidak akan paham seperti apa klien yang ia hadapi-"


"Tara bisa mempelajarinya!" pungkasnya lagi. Willy kini menatap penuh pada Tara. "Pelajari setiap berkas kerjasama kita dengan klien-klien yang mengundurkan diri dari kontrak kerja sama." perintahnya pada Tara.

__ADS_1


"Pelajari juga setiap detail klien. Kelebihan dan kekurangan mereka untuk kita pegang sebagai senjata. Bahkan kalau bisa, cari tahu apa yang mereka sembunyikan yang mungkin bisa merugikan kita."


Tara mengangguk patuh. Karena apa lagi yang bisa ia lakukan jika Willy sudah bertitah.


"Om beri kamu waktu satu bulan untuk mempelajari berkas kerjasama, detail klien, dan membawa mereka kembali pada genggaman kita."


"Terlalu lama mereka pergi, akan semakin sulit mengambil kepercayaan mereka lagi."


Tara terkesiap mendengar tenggat waktu yang begitu singkat. Padahal begitu banyak yang perlu ia pelajari. Sanggupkah ia menyelesaikan masalahnya dengan baik.


"Om percaya kamu mampu, Tara. Dan jangan pernah kecewakan, Om." Willy beserta pengawalnya melangkah meninggalkan ruangan Tara. Tapi sebelum melewati pintu, Willy menolehkan kepalanya. "Sebelum waktu satu bulan yang Om berikan berjalan, selesaikan dulu masalahmu dengan awak media. Bersihkan nama baik istri dan juga anakmu. Jangan kau buat mereka menderita."


Tara tersenyum tipis. Meski ketika ia meminta izin menikahi Caca, Om-nya itu melarang. Namun nyatanya Willy tetap peduli dengan Caca dan Mentari. Karena Tara tahu, Willy paling menghormati perempuan.


Setelah semua orang meninggalkan ruangannya, Tara memanggil asisten pribadi yang sudah ia kenal sejak di Bali. Meski ia tidak mengingat orang itu, tapi dengan melihatnya saja, Tara sudah bisa menilai jika asisten pribadinya adalah orang yang bisa ia percaya.


Tara meminta asistennya untuk membuat konferensi pers dalam waktu dekat. Tara juga meminta berkas-berkas yang perlu ia pelajari untuk bisa mengembalikan perusahaan seperti sebelumnya.


*


*


*


Aaakkhhirnyaa bisa up... Seneng bangettt meskipun nggak tahu kalian suka apa nggak. Tapi jujur aku seneng bisa nulis satu bab untuk Tara dan Caca.


Karena lagi susah banget mikir buat Caca sama Tara. Masih belum ada gambaran jelas mau dibawa kemana mereka 😭


Karena aku tipe othor yg nggak pernah punya kerangka yg jelas. Nulis aja gitu ngikutin isi kepala yang lagi lewat hehehe


Maafkan othor ini yg belum bisa mempersembahkan karya yang baik untuk kalian.


Love sejagat buat yang setia baca sampai detik ini, meskipun othornya jarang up 😭


Sayang kalian 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2