I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Double R


__ADS_3

Rian langsung terbang pulang begitu mendengar kabar bahwa mantan istrinya akan melangsungkan pernikahan.


Tidak ada rasa cemburu di hatinya. Ia justru bahagia dengan pernikahan Caca dengan orang yang selama ini wanita itu cintai. Berharap Caca bisa berbahagia dengan pernikahannya. Membangun keluarga sempurna untuk putri mereka.


Dan tugasnya hari ini adalah menjaga putri kecilnya selama Caca mengurus beberapa hal untuk pernikahannya dengan Tara. Wanita itu tidak ingin mengajak Mentari yang pasti akan sangat lelah.


Dan tentu saja dengan senang hati Rian menerima permintaan Caca tersebut. Ia dengan senang hati menemani putri kecil yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Tolong jagain ya, Yan. Nanti juga Rani datang kok." Caca mengecek sling bag-nya. Memastikan tidak ada yang tertinggal.


"Ngapain dia ke sini?" tanya pria-yang tengah bermain puzzle dengan Mentari-dengan kernyitan di dahinya.


"Buat bantuin lo."


Rian berdecak. "Gue bisa kali jagin Tari doang mah." dia bukannya keberatan dengan kehadiran Rani. Hanya ia merasa sedikit tersinggung karena di anggap tidak mampu.


"Sensi banget sih jadi cowok!" cibir Caca. "Gue tau lo mampu. Tapi masalah kamar kecil dan mandi, gue lebih percaya Rani yang sama-sama perempuan."


Rian menggaruk pelipis dengan senyum kikuknya. "Iya juga sih." ia sendiri juga pasti akan merasa canggung membantu Mentari untuk urusan belakang.


Suara klakson mobil terdengar. "Mas Tara udah datang. Gue titip Tari."


Rian mengangguk. Menggendong Mentari untuk melepas kepergian ayah dan ibunya. Tanpa drama anak itu melambai setelah sebelumnya memeluk dan mendapatkan ciuman dari sang ayah.


Begitu mobil Tara menghilang dari pandangan, sebuah mobil sedan menepi. Mobil yang Rian yakin adalah milik Rani.


"Riaaaannnn!!" pekik gadis itu begitu melihat Rian berdiri di depan pintu bersama Mentari.


Pria itu menggeleng. Kelakuan Rani masih saja sama meski sudah hampir tiga tahun setelah mereka sama-sama lulus Sarjana di perguruan tinggi yang sama.


"Kangen juga, gue sama lo, Yan." ujarnya setelah mereka masuk ke dalam rumah Caca.


Mereka memang tak sekalipun bertemu setalah lulus. Pun Rian lebih sering menghindarinya di kampus dulu setelah menghilangnya Caca. Ia kira, Rian tak lagi mau berteman dengannya setelah gadis yang di cintainya menghilang.

__ADS_1


Dan Ia baru tahu dari Caca, jika selama itu Rian hanya mencoba menyembunyikan keberadaan Caca. Rian tidak ingin salah ucap yang malah mengacaukan semua rencana Caca.


"Gue emang ngangenin, sih." ucapnya pongah yang langsung mendapat cibiran dan cubitan di pinggang pria itu.


***


Menemani Mentari bukanlah hal sulit. Anak itu tidak rewel dan mau di ajak bermain apa saja. Mereka banyak memainkan mainan yang Mentari miliki hingga anak itu kelelahan dan meminta untuk tidur siang.


Tugas menemani tidur dan masalah kamar mandi adalah tugas Rani. Tapi Rian ikut masuk ke dalam kamar gadis kecil itu dan duduk di kursi meja belajar Mentari. Melihat bagaimana telatennya Rani yang mengajak Mentari untuk ke toilet dulu sebelum menina bobokan gadis itu. Padahal Rabi belum menikah dan memiliki anak. Tapi sisi keibuannya begitu terasa.


"Calon istri idaman." gumam Rian dalam hati. Jika bukan anaknya sendiri saja Rani sesayang itu. Apa lagi anaknya sendiri nantinya, kan?


"Lo gak pengen nikah juga kaya Caca, Ran?" tanya Rian begitu Mentari sudah terlelap.


"Mau nikah sama siapa gue?"


Rian terkekeh. Memang selama ini ia tak sekalipun melihat Rani dekat dengan pria secara khusus. Tapi ia kira, selama tiga tahun tidak bertemu, ada sedikit kemajuan untuk itu.


"Makanya, jangan terlalu menutup diri dan kebanyakan milih. Usia kita tuh udah waktunya cari pendamping hidup. Gak cukup cuma pacar-pacaran doang mah. Udah bukan masanya."


"Biar jomblo begini, gue udah pernah nikah ya! Status gue udah duda keren ini. Dimana-mana duda lebih menarik tauuu.." ucap Rian dengan senyum menggoda. "Biarpun duda perjaka." imbuhnya dengan gumaman lirih dan cebikan.


Rani tak kuasa menahan tawanya begitu mendengar gumaman sahabatnya. Dengan menutup mulut, ia keluar dari kamar Mentari di ikuti Rian.


"Hahahaha." tawa Rani pecah begitu mereka sampai di ruang tengah. "Lo kalah pesona sama om Tara. Makanya Caca gak mau lo sentuh."


"Sialan, lo!" maki Rian. Melempar bantal sofa ke arah wajah Rani yang masih tertawa geli. "Belum tau aja lo hebatnya gue di atas ranjang. Kalo lo tau, lo bakalan ketagihan."


Rani mencibir di tengah tawanya. "Lo aja masih perjaka. Giamana lo tau kalau lo hebat di atas ranjang? paling lo cuma ngerasain di mimpi."


Rian melirik sinis pada Rani yang tak henti meledeknya. "Nikah aja yuk, Ran? biar lo tau. Gak cuma bisa ngeledek doang."


"Dih, ogah. Gue nikah sama lo, entar yang ada baru tiga bulan langsung cerai kaya Caca. Apa lagi nggak ada rasa di antara kita."

__ADS_1


"Rasa tuh bisa di cari lagi. Seiring kita yang sering ketemu, tinggal bareng bahkan di satu ranjang yang sama. Gue yakin kita bakal cepet jatuh cinta."


Rani menatap dengan kernyitan di dahi begitu melihat Rian yang sepertinya tengah serius dengan ucapannya.


"Lo nggak abis kejedot atau lagi ketempelan setan kan, Yan? lo sehat kan ngajakin gue nikah? atau lo lagi broken heart ngelihat Caca mau nikah?" tanya Rani curiga.


"Jangan suudzon deh. Gue bosen aja hidup nggak ada penyemangatnya. Selama ini semangat gue bunda sama Mentari. Tapi sekarang Mentari bakal punya papa sendiri. Jadi gue juga pengen punya orang yang buat gue semangat."


"Terus kenapa harus gue?" pungkas Rani.


"Karena lo orang yang baik. Kita udah kenal lama. Dan dari yang gue lihat dari pagi tadi, lo calon ibu yang baik untuk anak-anak gue." ujar Rian jujur. Membuat pipi Rani tiba-tiba memanas.


"Jadi kenapa gue harus nyari yang lain, kalau di depan mata ada yang terbaik. Paket komplit lagi." imbuhnya dengan senyum merekah.


Rani kembali mencibir untuk menutupi rasa gugup dan panas di pipi yang pasti akan membuatnya malu jika Rian menyadarinya. "Emang gue mie ayam bakso? paket komplit!"


Rian terkekeh dan mengacak rambut gadis di sebelahnya. "Gimana, lo mau gak? kita sama-sama udah punya umur yang pas. Sama-sama lagi nggak punya calon juga. Jadi nunggu apa?"


Decakan terdengar dari bibir Rani. "Nikah tuh bukan main-main. Dan aku pengennya nikah sekali untuk seumur hidup. Kalo lo cuma coba-coba, mending cari yang lain aja."


"Siapa bilang coba-coba. Gue serius, Ran. Gue juga gak pengen kali jadi duda lagi."


"Ya terus kenapa gampang banget ngajakin nikah? kita nggak ada rasa, Rian. Dan gue nggak mau nantinya gue atau lo nyesel di kemudian hari dan memilih untuk mundur."


"Gue janji gak bakal mundur. Gue akan memperlakukan lo dengan baik. Lo nggak perlu khawatir, gue orangnya penyayang dan mudah sayang kok."


*


*


*


Hollaaa maaf baru bisa up. Kali ini kita bahas si 2R dulu ya.. Caca sama Tara lagi nyiapin pernikahan, lagi sibuk gak bisa di kepoin. hihihi

__ADS_1


Kasih semangat dong sama like dan komen 🤗🤗


__ADS_2