
Setelah menidurkan kedua putranya dan memastikan sang putri sudah berada diatas tempat tidur, Caca kembali ke kamarnya. Disana suaminya duduk bersandar dengan pandangan kosong. Caca tahu apa yang tengah mengganggu pikiran suaminya. Pasti Tara tengah memikirkan tawaran paman pria itu yang menawarkan untuk kembali.
"Kenapa, Mas?" tanya Caca lembut setelah cukup lama berdiam menanti suaminya sadar akan kehadirannya. Namun nyatanya Tara tetap tak sadar dengan sekitar dan tetap asik dengan lamunanya. Hingga Caca tak tahan untuk bersuara.
Tara tersenyum kearah istrinya. Merentangkan tangan untuk menyambut sang istri dalam pelukan.
Mengerti kode itu, Caca merangkak ke atas tempat tidur dan mengambil posisi ternyaman dalam rengkuhan sang suami.
"Menurut kamu bagaimana?" tanya Tara. "Tentang tawaran om William tadi." imbuhnya lagi.
Jemari Caca bermain di dada bidang sang suami. "Aku terserah mas aja. Aku yakin, mas bisa mengambil keputusan terbaik untuk kita."
Tara menenggelamkan wajahnya pada puncak kepala sang istrinya. "Justru aku yang nggak percaya sama diriku sendiri." gumam Tara.
Caca melepas pelukan untuk dapat menjangkau wajah suaminya. Bertanya alasan suaminya dengan ekspresi wajahnya.
"Kita memang berniat sementara di luar sana. Tapi kalau kembali sekarang, aku takut masih banyak orang yang mencaci kita." Tara mengusap pipi sang istri lembut.
"Kalau aku yang di caci nggak masalah."
"Tapi aku nggak mau ada orang yang menghina atau mencaci kamu sama anak-anak."
"Aku nggak mau kamu terluka. Apa lagi kamu lagi hamil besar gini."
"Aku nggak mau omongan orang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kalian berdua." usap lembut Tara pada perut istrinya yang di balas tendangan pelan dari dalam sana.
Caca terkekeh. "Mau mas kembali ke perusahaan atau nggak, nggak ngaruh sama kehamilan aku, mas."
"Lagian kalau ada yang mencaci atau menghina disaat aku hamil, itu akan tetap terjadi. Karena kita pulang kan untuk melahirkan disini."
__ADS_1
Ah benar. Tara lupa jika ada orang yang masih tak menyukai hubungannya dengan Caca, itu akan tetap melukai istrinya. Ia hanya berharap semoga tak mempengaruhi kehamilan istrinya hingga proses kelahiran nanti.
"Lagi pula, sejak aku nerima tawaran mas untuk melahirkan disini. Aku udah nyiapin mental untuk segala kemungkinan yang terjadi. Aku juga sudah menyiapkan hati jika masih ada orang-orang yang membenci kita. Jadi mas nggak perlu khawatirin itu." imbuh Caca.
Tara mengangguk kembali. Ia lupa jika istrinya wanita kuat. Bukan wanita lemah yang menyerah pada keadaan. Ia saja yang berlebihan mengajak Caca ke luar negeri untuk menyelamatkan hati istrinya. Padahal mungkin itu tidak diperlukan.
"Kalau aku kembali, kamu nggak pa-pa?" sebenarnya Tara merasa bersalah. Ia mengembangkan perusahaan milik orang lain, sedangkan perusahaan milik keluarganya sendiri tengah kesulitan dan semakin jatuh.
Caca mengangguk dan kembali memeluk suaminya. "Apa pun keputusan yang kamu ambil, akan selalu aku dukung, Mas."
Tara bersyukur memiliki istri seperti istrinya ini. Istri yang menerima apa pun keadaannya dan selalu mendukung apa pun keputusannya. Termasuk ketika Tara melarang Caca untuk menunda kehamilan dan memiliki banyak anak seperti saat ini.
Bukan Tara tak tahu bagaimana susahnya ibu hamil dan melahirkan. Dan betapa susahnya merawat anak-anak yang masih kecil. Tapi rasanya Tara bahagia melihat banyak tawa dan tangis anak kecil dalam rumah mereka. Dan bersyukur Caca tidak menolak mau pun mengeluh tentang keinginannya itu.
Tara melepas pelukan dan menghujani banyak ciuman diwajah istrinya. Menyisakan bibir yang kini diolesi lipstik berwarna merah seperti ceri. Kelihatan manis untuk ia cicipi.
"Pelan-pelan." Caca mengingatkan suaminya ketika pria itu terlihat tidak sabaran. Tidak sabar untuk mengakhiri hari dengan bertukar peluh yang memabukan.
***
Keputusan Tara untuk kembali ke perusahaan disambut gembira oleh William mau pun Aldo.
"Akhirnya kau mengambil keputusan yang tepat, Nak." ucap William menepuk bahu keponakannya bangga.
"Iya. Om senang kamu mau menggantikan orang payah ini." timbal Aldo.
"Tidak ada yang payah, Om. Hanya butuh jam terbang aja."
"Mau jam terbang berapa lama lagi. Om sudah terlalu tua untuk itu. Om sudah tidak sanggup."
__ADS_1
Tak hanya William dan Aldo yang senang. Para jajaran petinggi perusahaan juga merasa senang akhirnya mereka kembali di pimpin oleh orang kompeten seperti Tara.
Tak ingin membuang banyak waktu, Tara langsung meminta asistennya untuk menghubungi para kolega untuk meeting. Membenahi kerjasama yang sempat berantakan. Juga untuk kembali meyakinkan mereka bahwa Abraham tidak akan jatuh. Abraham akan semakin berdiri gagah melawan dunia.
Caca juga tak kalah sibuk mengurus kepindahan sekolah Mentari. Untung ia tak perlu terbang ke negara tetangga itu untuk mengurus segala kelengkapan untuk kepindahan. Wali kelas Mentari yang membantu mengurus segalanya. Caca tak henti mengucapkan terimakasih karena merasa sangat terbantu oleh wali kelas putrinya. Wanita yang sebentar lagi akan memiliki empat orang anak itu juga tak segan mengirimkan hadiah mewah untuk wali kelas putrinya.
Untung putra keduanya masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Hingga tak perlu mengurus surat pindah. Darren hanya perlu di daftarkan disekolah baru dan semua selesai.
"Gimana kerjaan, mas?" Tara pulang larut. Tapi pria itu menyempatkan untuk makan makanan yang sudah di masak istrinya. Ia lupa tidak mengabari Caca jika ia akan pulang larut. Begitu banyak hal yang harus di urus membuat Tara tak sempat memegang ponsel sama sekali.
"Melelahkan." adu Tara. "Banyak yang mesti dibenahi. Makanya nggak sempet kasih kabar." ucap Tara dengan mulut mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
"Nggak pa-pa, yang penting semua berjalan lancar." ia bisa mengerti kesibukan suaminya. Masalah perusahaan tak pernah dianggap mudah oleh Tara. Dan Caca sudah hafal sifat suaminya itu. Karena itu lah yang membawa perusahaan dimana Tara berada selalu berkembang pesat. Karena suaminya adalah pria gigih yang tak pernah menyepelekan pekerjaan semudah apa pun.
"Gimana sekolah anak-anak?" Tara juga merasa bersalah membuat sang istri yang tengah hamil besar harus direpotkan dengan urusan sekolah anak-anak mereka. Harusnya ia yang menyelesaikan itu semua. Tapi apa daya, pekerjaannya terlalu banyak di kantor.
"Mas nggak perlu mikirin anak-anak. Semua sudah beres." Caca menceritakan bantuan wali kelas Mentari, dan setuju untuk Caca mengirimkan hadiah.
Caca juga bercerita betapa antusiasnya Darren dengan sekolah barunya. Sekolah yang tak jauh dari rumah mereka. Sekolah yang dulu sempat Tara tawarkan untuk Mentari pindah kesekolah itu namun putri sulungnya menolak.
"Dia memang belum dapat banyak teman, tapi antusias belajarnya cukup bagus."
Caca menemani Tara makan dengan bertukar cerita. Cerita tentang apa saja yang mereka lakukan hari itu.
*
*
*
__ADS_1