
Caca tidak tahu lagi harus berkata apa. Kenapa kejadian yang sama terulang kembali. Meski orang yang ia khawatirkan berbeda. Tapi sama-sama memiliki arti luar biasa dalam hatinya.
Dalam mobil yang berbeda meski tetap Bima sebagai pengemudinya, Caca menuju rumah sakit yang cukup jauh dari hotelnya menginap. Rumah sakit dimana suaminya sedang menjalani penangan.
Padahal Caca masih ingat betul semalam ketika mereka usai melakukan rutinitas malam mereka.
"Kenapa belum ada juga?" tanya Tara ambigu. Sembari talapak tangannya mengusap lembut perut rata milik Caca yang membuat wanita itu merinding geli.
"Apanya?" balas Caca dengan pertanyaan juga. Ia memang belum mengerti maksud dari pertanyaan suaminya.
"Tara junior." jawab Tara pendek yang beralih mengelus perutnya dengan bibir, setelah sebelumnya memutar tubuh Caca agar tidur miring menghadap suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Tara begitu tak mendengar respon apa pun dari sang istri. "Kamu nggak pengen ada makhluk kecil yang mirip sama aku." imbuhnya dengan mendongak dan menekuk wajahnya.
Caca terkekeh dan mengusap wajah suami yang berbeda usia lebih dari sepuluh tahun itu. "Bukannya seneng kalau nggak ada yang mirip kamu, mas. Jadi nggak akan ada pria lain yang aku cintai, kan?" goda Caca.
Tara mengusap dagunya dramatis. Berlagak berpikir dan mengangguk setuju. "Bener juga, sih. Tapi aku tetap saja ingin punya anak laki-laki. Biar ada yang bisa jagain kamu dan Mentari saat aku nggak ada nanti."
Caca sempat kesal saat suaminya mengatakan itu semalam. Tapi kini ia malah takut jika ucapan suaminya adalah suatu pertanda. Pikirannya kini semakin tidak menentu mengkhawatirkan sang suami yang ia belum lihat sendiri bagaimana kondisinya.
Ingatannya kembali pada perdebatan semalam yang membuatnya kesal.
"Aku nggak perlu Tara junior buat jagain aku dan Mentari." decak Caca kesal. "Sampai akhir, cuma kamu yang akan jagain aku! begitu juga dengan yang menjaga Mentari sampai gadis kecil kita menemukan pria yang benar-benar mencintai dan akan menjaganya!" ucap Caca seraya menepis tangan dan menjauhkan suaminya dari tubuh tanpa busana miliknya.
Wanita itu menarik selimut hingga leher dan membelakangi sang suami.
Ia paling tidak suka jika membahas tentang kematian. Sudah cukup ia harus kehilangan kedua orang tuanya yang kemudian ia juga harus kehilangan Nindi-istri pertama Tara-ibu angkat yang begitu menyayanginya saat itu.
Dan kini ia tak ingin lagi kehilangan orang-orang yang ia sayangi dan cintai. Terutama Tara dan Mentari putri mereka.
Tara kembali merengkuh tubuh istrinya dari belakang. "Kenapa marah, hm?"
Caca tak merespon dan semakin memejamkan matanya erat. Dadanya naik turun dengan napas yang tak beraturan menahan emosi. Ia masih terlalu kesal untuk merespon Tara. Ia takut yang ada malah kemarahannya yang kian bertambah.
"Semua orang itu akan pergi, sayang." ucap Tara lembut. "Nggak ada yang kekal di dunia ini. Apa lagi aku yang hanya manusia hina."
__ADS_1
Dada Caca berdenyut nyeri saat mendengarnya. Wanita itu berbalik dan menatap wajah yang meneduhkan baginya itu.
Hanya menatap dengan sorot sendu dan tanpa kerelaan. Tanpa mendebat sedikitpun ucapan suaminya. Karena memang demikian kenyataannya.
Tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk usia seseorang. Bahkan jika esok Tuhan memanggilnya, ia tak akan bisa mengelak. Ia hanya bisa berserah dengan ketentuan-Nya.
"Tuhan sudah begitu baik padaku. Masih memberi umur sampai hari ini, hingga kita bisa bertemu lagi. Begitu baik dengan menghadirkan Mentari diantara kita bahkan setelah dokter menvonis jika aku akan sulit untuk memiliki anak."
Caca tak suka melihat suaminya sedih seperti itu. Ia hanya ingin melihat suaminya yang selalu gagah bahkan kadang menyebalkan.
"Jadi... Aku masih berharap, jika Tuhan sekali lagi memberi kebaikan dengan menghadirkan anak kedua untuk kita."
Kali ini Caca mengangguk setelah keterbisuannya. "Pasti Tuhan masih akan berbaik hati pada kita, mas." ucapnya kali ini yakin.
"Masih akan memberi kita kepercayaan memiliki anak laki-laki yang bertanggung jawab seperti papanya. Yang penyayang juga baik hati seperti mamanya."
Tara terkekeh dan mengecup kecil bibir sang istri yang begitu percaya diri, meski ia menyetujuinya. "Pasti dong... Anak-anakku harus sebaik mamanya."
Semua percakapan dan perdebatan mereka semalam masih terasa hangat di telinganya. Jadi, ketika siang tadi Bima dengan wajah pias menemuinya yang tengah menemani Mentari berenang di kolam renang yang ada di vila pribadi milik suaminya, hatinya sudah berdenyut nyeri meski Bima belum mengatakan apa yang ingin di sampaikannya.
Obrolan mereka seketika terlintas dan semakin membuat dadanya berdenyut nyeri. Ada rasa takut yang menyesakkan.
Caca keluar dari dalam kolam dan sudah di sambut pelayan yang memberikan bathrobe untuknya. Begitu juga Mentari yang langsung dibawa ke kamar oleh susternya setelah Caca memberi perintah.
"Ada apa, Bim." tanya Caca berusaha setenang mungkin. Berusaha menepis segala prasangka buruk dalam benaknya. Berusaha berpikir positif agar apa yang terjadi juga sebuah kebaikan.
"Mari saya antar ke rumah sakit, Nyonya." Bima seperti ragu dan takut ketika mengucapkannya.
Caca mengernyit. Semakin berusaha menepis segala prasangkan buruk yang kian susah untuk ia buang jauh-jauh.
"Mau apa ke rumah sakit. Memangnya siapa yang sakit?"
Caca bisa melihat wajah Bima yang semakin gusar dan bingung harus bagaimana menyampaikan tujuannya.
"Terjadi kecelakaan di proyek siang tadi, Nyonga."
__ADS_1
"Lalu?" tanyanya lagi dengan suara yang sudah sulit untuk ia keluarkan. Tenggorokannya tercekat oleh perasaan dalam hatinya.
"Banyak pekerja proyek yang menjadi korban di lokasi."
Caca diam. Pasrah menunggu kabar buruk yang akan Bima sampaikan.
"Dan.. Tuan... Sebagai salah satu korbannya."
Detik itu juga dunia Caca serasa jungkir balik. Kakinya tak lagi merasa berpijak. Perasaan takut ketika Tara membahas kematian semakin terngiang-ngiang di telinganya. Hingga Bima berubah membayang dan semua menjadi gelap.
Butuh waktu untuk Bima dan para pelayan menyadarkan Caca. Hingga wanita itu histeris dan memaksanya untuk mengantar ke rumah sakit saat itu juga.
"Tapi kondisi nyonya masih kurang baik." tolak Bima, Caca sadar beberapa saat setelah dokter yang memeriksa undur diri.
"Kamu pikir saya akan bisa diam di rumah sedangkan suami saya entah bagaimana keadaannya?!" sembur Caca pada Bima yang menjulang tinggi di hadapannya. Caca pukul dada Bima dengan membabi buta.
Saat itu yang ada di pikiran Caca hanya ia ingin segera sampai di rumah sakit dan melihat dengan sendiri keadaan suaminya.
"Tuan masih belum sadarkan diri. Nanti setelah Tuan sadar, saya akan langsung mengantar nyonya ke sana."
Caca semakin marah pada Bima. Hingga akhirnya pria bertubuh tinggi besar itu mengalah untuk mengantar Caca ke rumah sakit dimana Tara berada.
*
*
*
Maafkan lama up, hihihi
lagi banyak acara minggu ini 🙏
Readers : Sok sibuk lu thor 😑
Author : 😜
__ADS_1