
Kini keadaan sudah mulai kondusif. Tidak banyak lagi yang menghujat mereka. Meski tak jarang juga masih ada yang menatap mereka tak suka. Karena memang tidak bisa memaksakan orang lain untuk suka pada kita, jadi Tara hanya bisa memberi suport untuk sang istri. Meyakinkan Caca bahwa semua akan baik-baik saja.
Kita baik saja, banyak yang tidak suka. Apa lagi jika ada keburukan kita yang orang lain tahu. Kita hanya perlu menutup mata kita dari pandangan tak suka mereka. Kita hanya perlu menutup kedua telinga kita dari perkataan buruk mereka untuk kita.
Karena sesabar-sabarnya manusia, jika mendengar orang lain berkata buruk tentang kita, pasti tetap saja rasanya sakit hati.
Tapi setidaknya Tara bisa merasa tenang karena putrinya tetap bisa bersekolah tanpa ada yang mengganggu. Pihak sekolah juga menjamin akan hal tersebut. Mereka akan mengawasi Mentari agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Tara menitipkan anak dan istrinya pada kedua orang tuanya. Ia harus pergi ke beberapa kota untuk kembali meyakinkan klien-klien perusahaannya untuk kembali percaya dan mau bekerja sama lagi.
Ia akan berangkat besok subuh. Mungkin juga akan lama meninggalkan anak dan istrinya.
"Kenapa tidak meyakinkan klien yang disini dulu, mas?" tanya Caca dengan menarik selimut untuk menutup tubuh polos mereka.
Hubungan mereka sudah kembali seperti pasangan suami istri pada umumnya. Bagi Caca, tidak penting ingatan Tara kembali lagi atau tidak. Setidaknya suaminya masih mencintainya.
Toh kenangan mereka lebih banyak sedihnya dari pada bahagianya. Jadi Caca memutuskan untuk membuat kenangan baru yang lebih indah untuk suaminya.
Tara masih memejamkan mata dengan deru napas yang masih berpacu. Menikmati rasa surga dunia yang ia rasakan.
"Yang di Jakarta gampang. Mereka sudah bekerja sama dengan kita lama. Jadi sepertinya nggak susah untuk menyakinkan mereka lagi. Justru yang di luar kota yang susah. Apa lagi kerja sama kita dengan mereka cukup berpengaruh dengan kelangsungan hotel-hotel dan restoran milik kita."
Caca mengangguk saja. Ia yang tidak tahu apa pun tentang dunia bisnis suaminya, hanya bisa mendukung dan mendoakan.
"Nanti kalau aku kangen gimana?" ucap Caca sungguh-sungguh dengan raut sendu yang menatap suaminya lekat. Bukan sekedar menggoda sang suami.
__ADS_1
Tara terkekeh melihat raut istrinya. "Padahal mas masih dirumah. Udah ngomong kangen aja." Tara mencubit hidung istrinya dan mengecup bibir yang sedikit bengkak akibat aktifitas mereka tadi.
"Nggak tau. Hamil yang ini rasanya pengen deket sama mas terus. Kayaknya si adek lebih sayang papanya."
Tara menyingkap selimut, mendekatkan kepalanya dengan perut sang istri. Mengusap dan memberinya ciuman bertubi-tubi.
"Anak papa jangan rewel ya. Jagain mama sama kakak di rumah. Jangan bikin mama susah ya sayang.. Papa berjuang dulu untuk kalian. Bantu papa ya, Nak?" Tara mengajak anak dalam perut istrinya berbicara. Membuat kedua pandangan Caca menjadi buram. Tertutup air mata yang sudah terpupuk di kedua pelupuk matanya.
"Doakan papa biar semua urusan papa cepat selesai. Jadi papa juga bisa cepat pulang, berkumpul dengan kalian. Menemani kamu tumbuh di perut mama sampai kamu lahir dan tumbuh besar."
Yang membuat Tara tidak terlalu khawatir untuk meninggalkan Caca adalah, kehamilan Caca yang cukup kuat. Caca bahkan tidak merasakan keluhan hamil seperti pusing, mual bahkan muntah.
Meski jika mengidam menginginkan sesuatu masih Caca rasakan. Tapi Tara tidak pernah keberatan untuk menuruti semua keinginan istrinya. Ngidamnya Caca juga hanya menginginkan makanan yang tidak aneh-aneh dan susah untuk di dapatkan.
"Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup disana mas. Jangan sampai sakit karena aku nggak ada disana untuk rawat kamu. Jangan bikin aku dan anak-anak khawatir. Selalu kasoh kabar kalau ada waktu." pesan Caca dengan suara bergetar. Tangannya membelai rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan khawatir. Aku disana akan baik-baik saja. Kamu yang harus jaga kesehatanmu. Jangan banyak pikiran karena itu nggak bagus untuk anak kita."
Caca mengangguk. Mengiyakan permintaan Tara. Meski ia tidak bisa menjanjikan itu semua. Karena istri mana yang tidak memikirkan suaminya yang tengah dalam masalah. Terlebih masalah itu hadir karena keberadaannya di dekat sang suami.
***
Sudah seminggu Tara di luar kota. Tapi belum satu pun klien yang berhasil ia bawa kembali. Bahkan terang-terangan menolak untuk bertemu dengannya.
Tapi Tara tidak menyerah begitu saja. Dia setiap hari datang dan menunggu kliennya di lobby kantor kliennya. Kadang sampai sore dan tidak membuahkan hasil. Kadang bisa melihat dan mencegat kliennya tapi mereka tetap menolak diajak berbicara.
__ADS_1
Hingga hari kesepuluh keberadaannya di kantor klien, Tara di izinkan masuk dan bertemu. Akhirnya kesabarannya menunggu selama berhari-hari membuahkan hasil. Mereka mau kembali menandatangani kontrak kerja sama yang sempat di batalkan.
Kliennya merasa kagum dengan kegigihan atau lebih tepatnya kekeras kepalaan Tara untuk menunggu berhari-hari meski sudah ditolak berkali-kali. Tidak seperti pemimpin perusahaan besar yang mau duduk di lobby seharian penuh selama berhari-hari hingga apa yang Tara inginkan tercapai.
Hati Tara amat bahagia, ia bahkan langsung menghubungi sang istri dan memberitahu kabar gembira yang ia dapatkan.
Meski perjuangannya tidak hanya sampai di situ. Masih banyak klien di kota berbeda yang harus ia taklukan kembali. Membawa kembali kepercayaan pada perusahaannya.
Sebenarnya Tara tidak keberatan untuk melepas jabatannya. Memberikan itu pada Aldo atau siapa pun itu.
Tapi Tara hanya merasa perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat. Menyelesaikan kekacauan yang terjadi akibat pernikahannya.
Juga tidak ingin mengecewakan kepercayaan yang William berikan padanya. Karena hal paling berharga yang orang miliki adalah kepercayaan. Jika kita sudah tidak lagi di percaya orang lain, itu lah hal yang paling menyakitkan.
Seperti Tara yang tidak lagi di percaya klien-kliennya. Membuat perusahaan mengalami banyak kerugian akibat kontrak kerjasama yang dibatalkan begitu saja. Mengancam ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan miliknya.
Seperti Caca yang tidak dipercaya masyarakat luas hingga membuat wanita itu tidak nyaman jika keluar rumah. Tidak nyaman dengan pandangan dan hujatan yang diberikan kepadanya.
Untuk itu Tara akan berjuang untuk mengembalikan semua pada tempatnya. Mengembalikan semua kepercayaan yang orang-orang berikan pada perusahaannya. Pada dirinya. Juga pada istri tercintanya.
Meski perjuangannya tidak mudah. Selain harus rela mengemis duduk berhari-hari di lobby. Meski harus menahan rindu dengan anak dan istrinya. Meski kembali tidak bisa menemani kehamilan sang istri dan memenuhi semua yang istrinya inginkan di masa ngidamnnya. Tapi Tara yakin, akan ada kebahagiaan setelah semua air mata dan pengorbanan yang mereka lakukan. Ya, mereka. Ia dan Caca.
*
*
__ADS_1
*