
Bisik-bisik terdengar memenuhi penjuru ruangan. Membicarakan Caca dan Tara.
"Bagaimana mungkin kau menikahi anak angkatmu sendiri, Tara?" William, kakak tertua dari ayah Tara angkat suara.
"Semua orang tahu jika Nathasya itu anak yang kau dan istrimu rawat. Dan sekarang kau memperkenalkan anak haram hasil dari hubungan kalian?" cibir Waldo Abraham atau Aldo. Putra bungsu keluarga Abraham.
Aldo memang sedikit iri karena Tara yang menduduki pimpinan tertinggi. Bukan dirinya atau salah satu dari anak kembarnya, Liam dan Lucas.
"Mentari bukan anak haram, Om!!" Tara meradang mendengarnya. Meski mereka memang sempat terjebak dalam dosa. Tapi Mentari, Caca kandung setelah mereka menikah secara agama.
Caca langsung menggenggam tangan pria itu dan menggeleng samar saat Tara menatapnya.
Tara memejamkan matanya, menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha untuk tidak terpancing emosi, atau itu akan semakin mempersulit dirinya untuk mendapatkan restu dari keluarganya kini.
"Kami sudah menikah siri jauh sebelum Mentari ada dalam kandungan Nathasya. Jadi Mentari sah anak saya secara agama." imbuh pria itu setelah berhasil menurunkan emosinya.
Mana ada ayah yang terima anaknya di sebut anak haram. Sekalipun Mentari anak haram, Tara tidak akan pernah terima jika ada orang yang mengatakan demikian. Apa lagi Caca hamil Mentari setelah mereka menikah siri. Berarti Mentari bukan anak di luar nikah.
Putri kecilnya itu memeluk erat lengan sang ibu dan menyembunyikan wajahnya disana. Takut ketika mendengar ayahnya berseru.
"Tapi tetap saja itu akan merusak nama baik keluarga juga perusahaan." tegas William.
"Dulu kau memohon untuk menikahi Nindi. Seorang gadis yatim piatu. Kami menerimanya karena dari pantauan orang-orang yang kita miliki, dia gadis yang baik dan tidak ada niat buruk dengan keluarga kita." imbuh pria dengan suara berat karena usia itu.
"Kami kira, Devi yang memiliki latar belakang dari keluarga baik-baik bisa menjadi pendamping pimpinan perusahaan. Tapi nyatanya kau gagal mempertahankannya."
__ADS_1
Saat orang tua Tara meminta izin untuk menjodohkan Tara dengan Devi, mereka memang kurang waspada. Mereka pikir karena wanita itu dari keluarga terpandang, maka Devi lah pilihan terbaik saat itu. Wanita yang bisa menjaga harkat dan martabat keluarga.
Mereka tidak tahu jika Tara hanya terpaksa menerima perjodohan karena orang tuannya yang mengancam mencoret pria itu dari keluarga mereka. Dan pernikahannya berakhir dengan tidak baik. Untung mereka bisa menutupi skandal itu dengan alasan tidak adanya kecocokan diantara keduanya.
Tapi apa yang harus mereka katakan untuk kasus kali ini. Menikahi anak angkat yang bahkan sudah terlahir seorang putri berusia lima tahun?
"Dan sekarang kau meminta izin menikahi anak angkatmu sendiri? yang benar saja Tara? tak bisakah kau mencintai wanita yang pantas? Banyak wanita di dunia ini yang statusnya bukan anakmu sendiri!"
William tidak mengerti dengan jalan pikiran keponakan yang ia banggakan itu. Ia dulu dengan ikhlas memindah tampuk kepemimpinannya ke tangan Tara. Selain karena ia tidak memiliki anak laki-laki, juga karena keponakannya adalah pria pekerja keras dan bisa di percaya untuk memajukan perusahaan. Terbukti kini perusahaan mereka berkembang pesat sejak berada dibawah kepemimpiman Tara.
Beda dengan om Tara yang nomor tiga, Aldo. Keluarga yang masih tidak terima kepemimpinan di pegang oleh Tara. Karena Aldo masih merasa mampu menggantikan kakak tertuanya.
"Tapi saya harus menikahi Nathasya, om. Demi masa depan anak kami yang butuh sosok ayah." Tara memohon dengan frustasi. Menunduk penuh permohonan.
Ia memang sudah mengira semua tidak akan berjalan dengan mudah. Dulu saja sangat sulit memohon restu untuk menikahi Nindi yang tidak ada skandal apa pun. Hanya masalah status sosial dan wanita itu yang tak memiliki orang tua. Sedangkan dengan Caca, ada begitu banyak hal yang menyulitkan untuk keluarga Abraham memberikan restu.
"Tapi, Om." wajah Tara sudah menujukan rasa putus asa. Dia memang tidak menemukan satu hal pun alasan keluarganya untuk memberi restu, kecuali Mentari.
"Silahkan saja jika kau bersikeras menikahinya. Asal pernikahan kalian tetap di sembunyikan dari umum." William menatap tak tega pada gadis kecil yang duduk dengan takut. Terbayang wajah putri-putrinya kala kecil dulu.
Tara tertunduk. Bagaimana bisa ia menikahi Caca dan tidak mengenalkannya pada umum. Sedangkan ia butuh istri dan keturunan untuk tetap mendapatkan kepercayaan.
"Dan kau harus menikah dengan wanita lain yang bermartabat. Mengenalkannya sebagai istri dan ibu dari keturunanmu." imbuh William dengan keputusan final.
Tara mendongak tak percaya. Menatap kakak tertua ayahnya yang paling anti terhadap poligami dan menyakiti hati wanita. Karena meskipun keluarga Abraham begitu tegas, tapi mereka mengistimewakan perempuan. Menghargai dan memuliakan mereka yang sudah memberikan mereka keturunan untuk Abraham Family.
__ADS_1
"Ini semua demi dirimu sendiri. Jika kau tetap ingin menjadi pemimpin, kau harus memiliki pendamping hidup yang akan meneruskan garis keturunanmu yang di akui hukum juga perusahaan."
Orang tua Tara tidak bisa berbuat apa pun. Karena itu sudah menjadi aturan tak tertulis dalam keluarga mereka. Keputusan William yang menentukan segalanya.
"Apa bedanya Nathasya dengan wanita lain di luar sana, om?"
"Jika orang lain belum mengetahui dtatus Nathasya sebagai anak angkatmu. Om tidak akan melarangnya, Tara. Mau kau menikah dengan gadis yang lebih muda dari Nathasya sekalipun, Om tidak masalah."
Bukannya tega terhadap keponakannya. Tapi ini menyangkut nama baik dan masa depan perusahaan yang tak hanya menghidupi Tara sendiri. Tapi juga menghidupi semua keluarga yang memiliki nama belakang Abraham.
Bukan hanya kehidupan keluarga mereka saja. Tapi juga kelangsungan hidup ribuan karyawan yang bergantung pada perusahaan mereka. Orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mereka. Perusahaan yang Harrison bangun dari nol hingga bisa menjadi raksasa.
"Dan jika kau tetap memaksakan untuk mengenalkan Nathasya sebagai istrimu. Kau akan melihat satu persatu klien kita mengundurkan diri dari kerjasama kita selama ini."
"Karena seorang pemimpin tidak hanya di lihat dari kemampuan kerjanya saja. Tapi juga dari kehidupan pribadinya. Seberapa kau bisa membawa diri dengan menjaga nama baik keluarga."
Caca hanya mampu menunduk. Sejak Tara mengajaknya ke rapat keluarga, ia sudah merasa takut dan tidak percaya diri.
"Bagaimana jika saya tidak mengenalkan Nathsaya pada umum, tapi saya juga tidak menikah lagi?" Tara mencoba mencari jalan tengah dalam masalahnya kini.
"Orang tetap tidak akan percaya pada perusahaan kita, karena ketidak jelasan masa depan perusahaan yang belum jelas siapa penerusnya. Kau harus memiliki penerus agar tetap di percaya sebagai pemimpin. Dan anak itu harus lahir dari wanita yang bisa kau akui di depan umum."
Pada akhirnya, rapat malam itu belum menghasilkan keputusan pasti. Karena kini keputusan ada di tangan Tara. Bagaimana pria itu akan memilih pilihan yang sudah William berikan.
*
__ADS_1
*
*