I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Keputusan


__ADS_3

Tara melewati makan malam dengan keadaan pikirannya yang dilema. Ia tidak akan pernah mau untuk menikahi wanita lain selain Caca. Tapi cara apa yang ia miliki agar bisa mengenalkan Caca kepada publik?


"Pah.." cicit Mentari dalam pangkuannya. Sejak melihat perdebatan antara sang ayah dengan orang-orang tadi, Mentari enggan melepaskan pelukannya pada sang ayah. Gadis kecil yang ketakutan itu duduk di atas pangkuan Tara yang sesekali mencium rambut anaknya.


"Kenapa sayang? makan dulu ya?" Tara mencoba menyuapi Mentari meski gadis itu terus menggeleng.


Lagi pula kenapa makan malam di lakukan setelah rapat?


Tak berpikirkah mereka bahwa kini Tara, Mentari juga Caca sudah kehilangan napsu makan mereka. Menelan makanan lezat yang terhidang di hadapan mereka, seakan di minta untuk menelan kotoran. Bisa melakukannya tapi tidak sanggup.


"Mau pulang." rengek Mentari dengan mata yang sudah berembun. Seharusnya ia tidak membawa Mentari ke acara itu. Seharusnya ia hanya perlu menunjukan videonya saja seperti Caca dulu.


Tapi karena tidak ada yang menjaga Mentari, ia terpaksa membawa gadis kecilnya. Dokter Risma yang dapat di percaya tengah mengunjungi Rian di Australia.


"Setelah ini kita pulang. Sabar ya, ada papa. Tari nggak boleh takut." Mentari mengangguk pelan.


Caca yang duduk di sebelah mereka menghembuskan napasnya sedih. Mengapa putrinya harus tumbuh di tengah kerumitan hubungan orang tuanya seperti ini?


Interaksi ayah dan anak itu tidak lepas dari pengawasan William. Pria itu sebenarnya penyayang anak-anak. Hanya saja posisinya sebagai pemimpin mengharuskannya berlaku tegas.


"Kalian bisa pulang lebih dulu, sepertinya putri kalian sudah lelah." suara berat Wiliiam membuat yang lain ikut menatap ke arah pria itu menatap.


"Tidak apa, Om. Sebentar lagi juga acara sudah selesai."


"Pertimbangkan semua secara matang, Tara. Semua keputusan ada di tanganmu. Jangan gegabah dan membuat semua berantakan. Aku tidak akan melarangmu mengenalkannya pada publik asal kau mau menanggung resikonya dan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang kau buat." angin segar berhembus ke arah Tara. Meski ia tahu angin itu akan membawa badai padanya. Tapi setidaknya pimpinan Abraham sudah merestui hubungannya dengan Caca.


"Kak!" seru Aldo tidak terima dengan keputusan sang kakak. "Kakak tidak bisa membiarkan begitu saja perusahaan yang sudah ayah rintis hancur begitu saja si tangan anak ingusan itu!"


Tara mendengus. Usianya sudah tiga puluh lima tahun dan masih di sebut ingusan? yang benar saja. Lagi pula selama sepuluh tahun ini yang membuat perubahan dan menambah omset perusahaan mereka atas kerja keras siapa?

__ADS_1


"Aku tidak berkata Tara boleh menghancurkan perusahaan. Jika Tara tidak bisa mempertahankan para klien-klien kita, dia harus siap mengundurkan diri sebagai pimpinan."


Aldo menyeringai. Ia yakin para klien tidak akan mau bertahan jika mengetahui skandal pimpinannya. Dan itu kesempatan untuk anak-anaknya menggantikan posisi tersebut.


"Baiklah. Kau harus janji untuk mengundurkan diri jika tidak bisa membuat perusahaan tetap stabil."


Tara mengangguk dengan senyum yang terkembang. Meremas jemari Caca di bawah meja. Meski dirinya sendiri tidak yakin. Tapi setidaknya ia harus bisa membuat Caca sedikit bisa lebih tenang. Ia akan mengusahakan semua kemampuannya untuk menyelamatkan perusahaan.


Melanjutkan makan malam untuk membicarakan rencana pernikahan juga resepsi untuk Tara dan Caca. Resepsi akan di buat meriah karena Tara ingin mengenalkan istrinya pada semua kolega mereka.


William membiarkan semua yang Tara inginkan. Asal pria itu mau bertanggung jawab untuk segala yang akan terjadi nanti.


Ia menyayangi Tara seperti anaknya sendiri. Sejak kecil, ia sudah melihat potensi Tara sebagai pemimpin. Sikapnya yang tidak pernah mengenal dunia malam ketika remaja membuatnya langsung menjatuhkan posisinya kepada keponakannya yang satu itu di banding dengan Lucas dan Liam. Mereka terlalu hidup bebas sebagai keluarga Abraham.


Hal yang tidak William ketahui, betapa hancur hidup Tara ketika Caca pergi meninggalkannya.


"Apa semua akan baik-baik saja, mas?" Tara membawa keluar mobilnya dari kediaman Abraham.


"Kamu percaya saja. Doakan agar semua berjalan dengan baik."


Caca mengusap rambut Mentari yang tertidur di pangkuannya. Menciumnya lembut. "Tapi pasti bakal menyulitkan kamu di perusahaan."


Tara membenarkan ucapan Caca dalam hati. Bukan hanya di perusahaan. Tapi pasti akan banyak orang yang mencaci mereka ketika tahu seperti apa hubungan yang mereka jalin. Ia bisa mengusahakan masalah perusahaan. Tapi apa ia bisa menjaga anak dan istrinya tetap aman tanpa gangguan. Tanpa ada yang bisa menyentuh mereka meski dengan sebuah kata-kata yang akan melukai hati.


Apa ia bisa menjaga anak dan istrinya tetap bahagia?


"Tugasmu hanya menjaga putri kita tetap aman dan bahagia. Selebihnya kamu percayakan saja padaku." ucap Tara kemudian.


Entah Caca harus merasa bahagia atau apa. Ia bahagia bisa kembali pada pria yang ia cintai. Bisa sah secara hukum dan agama adalah impiannya sejak lama.

__ADS_1


Tapi jika pernikahan mereka menyulitkan Tara, apa ia masih bisa bahagia? apa ia tidak terlalu egois untuk melanjutkan pernikahan mereka?


Dan apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini? bisakah mereka hidup bahagia setelah menikah? bisakah anaknya terus tertawa seperti saat ini? apakah keputusannya kali ini tepat? menghadirkan ayah untuk putrinya agar lebih bahagia. Atau justru akan membawa tangis untuk mereka?


"Aku bilang nggak usah di pikirkan." ujar Tara begitu mendapati Caca hanya diam dengan raut sendu. "Mau makan malam lagi? tadi kamu cuma makan berapa suap aja kan?"


Caca menggeleng. Ia memang sudah kehilangan napsu makannya sejak memasuki kediaman Abraham. "Langsung pulang aja, mas. Kasihan Mentari."


Tara menatap putrinya yang terlelap. Mengusap pipinya dengan punggung jarinya. "Mau pulang kerumah?"


Caca menoleh dan menatap pria yang tengah mengemudikan mobil itu. Ia tahu makna rumah yang Tara maksud bukanlah rumah yang ia dan sang putri tempati. Tapi rumah yang Tara tempati.


"Kalau pulang ke sana kan lebih dekat, Ca. Tari bisa lebih cepat istirahat dengan nyaman." imbuh Tara mencoba menyakinkan.


"Tapi di rumah mas Tara kan nggak ada orang." gumam Caca yang masih bisa di dengar pria di sebelahnya.


"Kenapa? kamu takut aku akan berbuat macam-macam seperti dulu?"


Caca menunduk. Sejujurnya ia memang takut Tara masih seperti dulu. Pria yang suka memaksakan kehendaknya. Terlebih jika menyangkut tubuhnya.


"Aku janji tidak akan berbuat hal yang kamu tidak inginkan, Ca. Aku tidak akan memaksa kamu lagi seperti dulu. Kalau kamu nggak ngijinin, aku nggak akan ngelakuin itu."


Caca menatap Tara, mencari keseriusan pada ucapan Tara. Menghela napas dan mengangguk. Ia juga merindukan rumah itu. Rumahnya tumbuh sejak remaja hingga mengandung putri kecil dalam pangkuannya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2