I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Turunan Siapa?


__ADS_3

Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan kondisi Tara. Dokter juga menyarankan untuk pelan-pelan saja membantu Tara mengingat. Tidak perlu dipaksakan. Karena pada dasarnya Tara hanya amnesia sementara dan akan kembali dengan sendirinya.


Asisten pribadi Tara sudah mengurus kepulangan bosnya dari rumah sakit. Juga mengurus kepulangan mereka semua untuk kembali ke Jakarta.


"Mentari kenapa sedih?" tanya Caca pada putrinya yang tengah bersiap menjemput kepulangan ayahnya dari rumah sakit. "Kan kita mau jemput papa pulang?"


Mentari menunduk sedih. Mengaitkan jarinya di belakang punggung dengan kaki yang digerak-gerakan membentuk pola abstrak di lantai.


"Tapi kata mama, papa nggak ingat Tari. Tari juga nggak boleh panggil papa."


Caca berdiri dengan lututnya. Menyamakan tinggi dengan sang putri. "Tapi kan Mentari boleh panggil ayah. Seperti mama panggil papa."


Caca sendiri bingung. Apa anak sekecil Mentari bisa di ajak bekerja sama seperti itu. Apa itu tak mengajarkan putrinya untuk berbohong?


Caca hanya takut ketika Mentari kelepasan berbicara akan membuat Tara berusaha keras untuk mengingat. Kepala pria itu saja masih sering terasa pusing jika digunakan dengan ekstra.


"Mentari harus rajin berdoa. Biar papa cepat sembuh. Biar papa ingat kita lagi."


"Papa nggak sayang kita lagi ya, mah?" gumam gadis kecil itu lirih. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Menggambarkan seberapa sedihnya gadis itu dilupakan ayah kandungnya sendiri.


"Kok ngomongnya gituuu?" Caca ikut sedih mendengarnya. Ia bawa tubuh putri kecilnya kedalam gendongan. Memangkunya di sofa terdekat.


"Papa nggak ingat Tari. Itu artinya Tari nggak penting buat papa!" seru gadis itu sedikit meninggikan suaranya.


"Sayang.." Caca peluk putrinya yang kini terisak.


"Papa jahat, mah! papa lupain Tari! papa nggak sayang Tari!"


Menghela napasnya berat. Membelai punggung dan mencium puncak kepala putrinya. Hal yang selalu Caca andalkan dalam menenangkan sang putri kecil.


"Papa sayang banget sama Mentari. Nggak ada di dunia ini yang lebih berarti dari pada Mentari untuk mama dan papa."


"Papa seperti itu karena sedang sakit sayang. Kepala papa terbentur dan ada sebagian ingatan yang hilang."


"Kalau buku gambar Mentari sobek, gambarnya jadi hilang separuh kan? jadi nggak sempurna?"


"Ada sebagian gambar yang Mentari nggak bisa lihat karena sobek dan hilang."


"Tapi setelah mengingat lagi gambar yang Mentari gambar sebelumnya, Mentari bisa memperbaiki dengan menggambar ulang."


Mentari mendengarkan dengan menelengkan kepalanya karena bingung.


"Begitu juga papa. Karena benturan itu menghilangkan sebagian ingatan papa."

__ADS_1


"Kita perlu bantu papa untuk mengingat lagi. Membantu papa membuat gambar yang rusak jadi sempurna lagi."


Gadis kecil itu menghapus air matanya. "Tapi nanti papa sembuh lagi kan, mah? papa ingat Tari lagi."


Caca mengangguk mantap. Lengkap dengan senyum hangatnya. "Pasti dong. Papa nggak mungkin lupa sama princess yang cantik ini." Caca mencolek hidung Mentari setelah membantu gadis itu merapikan rambutnya yang berantakan.


***


"Makasih anak gadis ayah." ucap Tara setelah Caca selesai membantunya minum obat.


Mereka sudah berada rumah mereka sendiri di Jakarta.


Sebelum pulang ke Jakarta, Caca sudah meminta asisten rumah tangga mereka untuk kembali memisahkan kamarnya dan Tara.


Semua barang-barang milik Caca dipindahkan ke kamar yang kini Mentari tempati. Untuk sementara Caca akan tidur bersama putri mereka.


"Aku bukan anak gadis yah!" protes Caca mencebik kesal.


"Ooh iya. Ayah lupa." Tara terkekeh. "Anakmu kenapa nggak mau kenalan sama ayah?"


"Dia lagi ngambek, gara-gara ayah lupa sama dia." jawab Caca jujur. Ia tak akan membohongi Tara. Ia akan membantunya sembuh dengan cara jujur. Bukan menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya. Namun juga tidak akan memberitahu jika Tara tidak bertanya. Juga tidak akan memaksa.


Pada akhirnya-ketika di Bali-Mentari memang menolak ikut menjemput Tara ke rumah sakit. Gadis kecil itu juga memilih duduk di tempat duduk terjauh saat dipesawat ketika mereka kembali ke Jakarta.


Mentari sama sekali tidak mau mendekati sang ayah yang terus memanggilnya meminta mendekat.


"Putrimu sukanya apa? biar nanti ayah belikan sebagai permintaan maaf."


Caca membantu Tara berbaring dan menyelimuti tubuhnya yang masih lemah itu. "Dia cuma ingin papanya kembali." gumam Caca tak jelas.


"Apa?" Tara mengernyitkan dahinya karena tak mendengar jelas apa yang Caca katakan.


"Enggak." elak Caca "Udah ayah istirahat aja. Nanti juga dia bisa dekat lagi sama ayah. Dia cuma butuh waktu buat menerima kalau ayah nggak ingat sama dia."


***


Tara tengah duduk di ruang keluarga ketika Mentari pulang sekolah bersama Rani. Karena Caca tengah mengatasi masalah yang ada di rumah lamanya.


Security yang Caca percayakan untuk menjaga rumahnya menghubungi wanita itu karena rumahnya banyak di datangi warga komplek yang sudah mendengar berita tentang siapa pria yang Caca nikahi di televisi.


Meski sempat kaget, tapi Caca memutuskan untuk datang langsung ke rumah lamanya. Mempercayakan Mentari pada Rani untuk langsung di antar pulang.


Karena mungkin saat ini tempat teraman untuk mereka adalah rumah mereka sendiri.

__ADS_1


"Eeh cucu ayah sudah pulang." seru Tara senang begitu melihat Mentari.


Tapi yang di sapa menunduk sedih. Entah apa lagi yang membuat gadis kecil itu tak bersemangat.


"Tari sini dulu sayang. Ayah punya sesuatu lho." rayu Tara agar Mentari mau mendekatinya.


"Apa sih kakek-kakek?!"


Rani menggigit bibirnya menahan tawa ketika mendengar nada ketus dan sebal Mentari.


"Kok gitu sih. Nanti ayah sedih lhooo..." Tara memasang ekspresi terluka. Meski dalam hati pria itu juga ingin tertawa melihat tingkah menggemaskan gadis kecil itu.


"Kenapa kalau sedih?" tantang Mentari. "Tari aja sedih nggak apa-apa!"


"Ya udah deh kalau Tari nggak mau boneka yang udah ayah siapin ini.." Tara memeluk boneka berbentuk melody kesukaan Mentari. "Nanti ayah kasih ke anaknya bibi saja."


Mentari mencibir. "Siniin bonekanya! lain kali kalau ngasih tuh yang ikhlas. Jangan ngancem!"


Tara hanya bisa menggeleng melihat Mentari berlari membawa boneka yang ia beri kedalam kamar.


"Nyebelinnya nurunin siapa sih?" gumam Tara dengan senyum gelinya. "Untung cucu. Dan untung ngegemesin."


Tak tahukah Tara, jika sifat menyebalkan Mentari turunan murni dirinya.


Jika Caca melihat putri kecilnya berbuat demikian pasti wanita itu sudah syok dibuatnya.


Karena dari kecil, Caca tak pernah mengajarkan Mentari untuk bersikap tidak sopan pada orang yang lebih tua. Apa lagi pada orang tuanya sendiri.


Sepertinya anak kecil itu benar-benar marah karena Tara tidak mengingatnya.


*


*


*


Nikmati saja alurnya. Karena memang harusnya udah tamat saat mereka kembali bertemu.


Tapi karena dibikin beda judul, jadi kalau nggak ada konflik lagi, isinya cuma beberapa bab dong.


Tapi memang nggak setiap penulis bisa bikin pembacanya suka kan?


Dan terimakasih untuk yang selalu dukung dengan Like, komen, atau Vote.

__ADS_1


Apa pun bentuk dukungan kalian itu berarti untuk othor yang baru belajar ini.


Love sejagat untuk kalian semua ❤


__ADS_2