I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Seharusnya Aku


__ADS_3

Banyak anak-anak berlarian di jalan menuju rumah Caca. Membuat Tara harus melambatkan laju kendaraannya. Padahal jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Dan sepertinya anak-anak malah semakin riang untuk bermain. Para ibu mengawasi anak-anaknya dari teras rumah dan saling bercengkrama satu sama lain.


"Siapanya neng Icha, mas?" tanya salah satu tetangga Caca yang kebetulan rumahnya bersebrangan dengan Caca ketika Tara tengah mengeluarkan beberapa mainan juga makanan ringan untuk Mentari dari kursi belakang.


"Mmm.. Saya.." Tara menggaruk kepala belakangnya, bingung harus menjawab apa. Karena ia tidak mungkin menjawab ayah dari Mentari, sedang orang-orang di sana tahu Rian adalah ayah dari gadis kecilnya itu.


"Calonnya ya?" tebak ibu itu saat melihat kegugupan Tara. "Sebelumnya banyak yang datang tapi tidak pernah ada yang di ijinkan masuk sama neng Icha. Tapi mas-nya sepertinya lain."


Ibu itu masih mencecar Tara. Karena ibu itu tadi pagi melihat Tara masuk ke rumah Caca dan lama berada di dalam sana.


"Mari bu, saya permisi dulu." pamit Tara tak ingin salah ucap yang malah menjadi bahan gosip. Ia tak ingin merusak kehidupan nyaman Caca di sana. Meskipun ia akan dengan senang hati mengajak Caca pindah ke rumahnya jika perempuan itu sudah tidak betah lagi tinggal di rumah itu.


Ibu-ibu itu hanya menggangguk. Tapi Tara masih mendengar bisik-bisik gunjingan mereka di belakang punggungnya.


"Assalamualaikum." ucap Tara setelah mengetok pintu beberapa kali.


Didalam terdengar gelak tawa antara Caca dan Mentari berhenti ketika mendengar salam darinya. Hingga Tara memundurkan posisi saat suara kunci dan hendle pintu terdengar.


"Sudah datang mas? mari masuk."


Tara sudah akan melangkah masuk, tapi teringat ibi-ibu yang tadi membicarakan mereka.


"Disini aja Ca." tunjuknya pada kursi teras.


"Lho kenapa?" Caca jelas saja bingung. Pasalnya tadi pagi saja pria itu berani mengikutinya hingga ke dapur. Tapi sekarang malah minta duduk di depan.


"Gak enak sama tetangga."


Caca menatap ke rumah di seberang yang memang tengah banyak ibu-ibu berkumpul. Beberapa juga tengah melihat ke arah rumahnya. Sedang beberapa tengah berbisik-bisik yang ia tahu pasti membicarakannya.


"Ya sudah. Mas duduk dulu. Aku panggilkan Mentari."

__ADS_1


Di dalam Caca lagi-lagi harus berdebat dengan putrinya yang tak ingin menemui Tara. Tapi setelah Caca bujuk, gadis kecil itu mau keluar saat Caca melangkah ke dapur untuk membuat minuman.


"Om ngapain sih kesini lagi?" bukannya salam. Anak itu malah langsung duduk dan menatap Tara tajam.


"Anak siapa sih ini.." erang Tara dalam hati. Kenapa putrinya tidak semanis Caca. Kenapa Mentari justru mewarisi sifat dingin dan juteknya jika bertemu orang yang ia rasa tidak penting.


"Salam dulu dong cantik. Om bawa mainan lho buat Mentari." Tara mengangkat papperbag dan mengeluarkan isinya satu persatu. Ada boneka dan berbagai mainan yang sebenarnya membuat mata Mentari berbinar.


Tapi ternyata anak itu memiliki gengsi yang besar. Mentari melipat tangan dan melengoskan tatapannya agar tak tergiur.


"Aku punya banyak kok yang begitu. Ayah tiap datang juga bawa banyak mainan."


Mentari tadi siang mendengar temannya bercerita. Katanya papanya sering membawa teman wanita. Dan wanita itu sering membawakan mainan untuk temannya itu. Tak lama lagi katanya wanita itu akan menjadi mama dan menggantikan mamanya yang sudah meninggal.


Mentari tidak ingin Om Tara menggantikan ayah Rian. Karena ayahnya yang masih hidup. Dan ia sangat menyayangi ayahnya. Tidak ingin Ada yang menggantikan ayahnya itu.


Ada pancaran kecewa di mata Tara. Ia kira putrinya akan senang ketika ia bawakan boneka dan berbagai mainan itu. Ia sudah rela pergi ke mall untuk memilih mainan terbaik untuk anaknya. Hal baru yang ia lakukan dalam hidupnya.


"Ya udah kalau Om maksa. Sini buat Tari."


Tara terkekeh kecil. Meski dengan kalimat dan gerakan yang jutek. Tapi mata gadis kecilnya tidak bisa berbohong jika Mentari senang. Binar kecil itu sangat jelas terlihat.


"Bilang apa Mentari!" tegur Caca yang baru datang dengan nampan berisi kopi juga pisang yang belum lama ia goreng. Ada taburan keju juga krim coklat di atasnya.


"Makasih Om." meski masih dengan nada tak rela, tapi Tara tetap tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya.


"Maaf mas. Adanya cuma itu. Belum sempat kemana-mana." padahal online juga banyak. Hanya saja Caca lupa jika Tara akan datang ke rumah. Sedang Tara tidak terlalu suka biskuit.


"Gak papa. Ini saja cukup." Tara mengambil salah satu pisang dengan garpu. "Kamu buat sendiri?"


"Iya. Biasa kalau sore suka bikin cemilan bareng Mentari."

__ADS_1


Tara mengangguk. "Enak."


Obrolan mengalir meski masih canggung. Bertanya apa kabar kakek sehat. Karena kemarin saat datang pria paruh baya yang sudah ia anggap kakeknya sendiri itu tidak ikut.


"Papa sehat. Ya meski sudah sering sakit karena usia. Tapi belakangan cukup stabil. Papa juga senang mendengar kabar kalian. Sebenarnya papa juga ingin kemari. Hanya aku melarangnya. Biar nanti saja saat aku kembali membawa kamu dan Mentari ke rumah."


Caca menghela napasnya berat. Bukan ia tak ingin kembali pada Tara. Ia hanya masih bingung dengan perasaannya sendiri. Cinta tapi juga kecewa. Rindu tapi juga enggan untuk bertemu.


"Tari gak mau punya papa." celetuk gadis kecil yang tengah memainkan boneka pemberian Tara. Gadis kecil itu ingat ketika nenek yang waktu itu datang bersama Tara mengenalkan Tara sebagai papanya.


"Kata teman aku, papa tiri itu jahat."


Caca meringis tak tahu harus berkata apa. Bahkan Mentari sangat menyayangi papa tirinya, Rian.


"Tapi kan Om tidak jahat. Om sayang sama Tari." bela Tara.


"Mana ada sayang tapi marah-marah. Bentak-bentak. Mama sama ayah sayang sama aku. Mereka gak pernah marahin aku."


Rasanya Tara ingin sekali mengatakan bahwa ia lah ayah kandung Mentari. Tapi ia tahan demi bisa meraih gadis itu dengan halus.


"Assalamualaikum." atensi semua orang beralih pada pagar rumah Caca dimana ada Rian di sana menenteng papperbag yang langsung di sambut Mentari dengan pelukan.


"Ayah dataaanng..."


Tara dapat melihat kedekatan dua orang berbeda generasi yang tengah berpelukan itu. Betapa irinya ia. Karena seharusnya yang disambut hangat seperti itu adalah dirinya. Bukan pria yang tengah menggendong putrinya mendekat.


"Maaf gak tau kalau Om ada di sini. Aku cuma mau pamit. Besok aku berangkat lagi ke Ausie."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2