I'M Nathasya Gustari

I'M Nathasya Gustari
Anak Baik


__ADS_3

Perasaan Caca semakin tak karuan ketika dirinya di arahkan menuju ruang ICU. Apa separah itu keadaan suaminya hingga harus berada di ICU.


"Apa lukanya parah?" tanya Caca dengan resah.


Bima yang berjalan disampingnya masih tetap tenang. "Tidak ada luka luar. Hanya benturan diarea punggung dan kepala belakang yang membuat Tuan belum sadarkan diri. Untuk itu Tuan masih perlu pengawasan yang intensif."


Caca mempercepat langkahnya menuju ruangan dimana suaminya berada. Tapi ternyata ia tak diperbolehkan masuk. Meski ia sudah katakan jika ia adalah istrinya.


Dokter melarang siapa pun untuk menjenguk kedalam sampai Tara sadarkan diri dan berhasil melewati masa kritisnya. Melihat kondisi Tara setelah sadar untuk tim dokter bisa menentukan tindakan apa yang harus di ambil selanjutnya.


Ketika sampai pukul delapan malam dan Tara belum juga sadarkan diri, Bima mencoba membujuk Caca untuk pulang.


"Sebaiknya nyonya pulang dan istirahat di rumah. Biar saya yang menjaga tuan disini."


Caca yang tak henti melihat kejendela kecil dimana ia bisa melihat suaminya yang dipasangi banyak alat itu menatap Bima tajam.


"Saya ingin menemani dan menunggu suami saya sadar. Jadi lebih baik kamu saja yang pulang. Dari pada disini berisik!" sungut Caca.


Bima memang tak henti membujuknya untuk pulang sejak hari mulai gelap. Mengingatkan untuk memakan makanan yang pria itu beli di restoran depan rumah sakit. Dan rasanya sudah cukup risi Caca mendengar Bima yang selalu menyuruhnya ini itu.


"Saya akan disini menemani nyonya."


"Kalau begitu diam! saya sudah cukup pusing dengan suami saya yang belum sadar. Kamu jagan bikin saya tambah pusing!"


"Baik nyonya." Bima mengalah dan duduk diam. Hanya sesekali menatap istri dari tuanya yang tak bisa diam berjalan mondar mandir di depan ruang ICU.


Menjelang subuh, Caca baru tertidur karena kelelahan. Tapi tak lama wanita itu terbangun karena suara berisik dokter beserta timn-nya yang masuk dengan tergesa kedalam ruang ICU.


Jantung Caca berdetak hebat. Sekuat rasa sakit dikepalanya yang baru terlelep beberapa saat dan terpaksa untuk bangun. Ia harap, tidak terjadi hal buruk pada suaminya.


"Ada apa, Bim?!" tanya Caca pada pria yang kini tengah berdiri didepan pintu ruang ICU.

__ADS_1


"Tadi, detak jantung tuan sempat melemah, nyonya." jawab Bima dengan lirih, takut istri dari tuannya syok saat mendengar berita tersebut.


Dan benar saja, tubuh lelah Caca yang sudah sejak semalam belum tidur dan rasa cemas yang menguasainya sejak kemarin, membuat tubuh wanita itu drop dan jatuh tak sadarkan diri.


Untung saja Caca sudah berdiri di sampingnya ketika pingsang. Membuat Bima bisa langsung menangkap tubuh lemah wanita itu.


Tak menunggu lama, Bima langsung membawa Caca ke ruang IGD. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan istri tuannya, jika ia tidak ingin kehilangan kepalanya.


***


Kabar Tara yang kecelakaan sampai di Jakarta. Membuat perusahaan gempar dengan kabar pemimpin mereka yang kini dalam keadaan koma. Belum lagi kabar menggemparkan tentang status Caca yang sebenarnya kini mulai mencuat ke publik. Menjadi masalah besar di perusahaan mereka.


Kedua orang tua Tara langsung terbang ke Bali. Begitu juga Rian beserta ibunya juga Rani. Mereka sama-sama mengkhawatirkan Tara yang masih belum sadar, juga Caca yang bisa saja di buru media.


"Nenek!! kakek!!" seru Tari begitu kedua orang tua Tara sampai di villa.


"Mentari sayang." mama Shinta langsung memeluk cucunya erat. "Kamu tidak apa-apa sayang?" mama Shinta memegang kedua sisi wajah cucunya. Mencari tahu apakah gadis kecil itu tahu keadaan ayahnya.


Sebenarnya Caca tak bilang jika Tara kecelakaan pada putrinya. Ia hanya bilang akan menyusul Tara dan nanti akan pulang bersama.


Tapi Mentari yang memang cerdas, tak begitu saja mudah di bohongi. Gadis kecil itu terus saja merengek dan mendesak para susternya untuk memberitahu dimana kedua orang tuanya yang hingga malam ia akan tidur belum juga kembali.


Dan dengan terpaksa, suster yang menjaga Mentari memberitahu alasan kedua orang tuanya belum pulang.


"Papa baik-baik saja sayang. Doakan biar papa cepat sadar dan bisa kembali pulang untuk menemani Tari lagi."


Gadis kecil itu menunduk sedih di pangkuan sang kakek. Ia takut kehilangan ayahnya lagi. Padahal baru sebentar ia merasakan kasih sayang sang ayah.


"Papa benar akan pulang kan, kek?" lirih gadis kecil itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Tari nggak mau papa pergi ninggalin Tari lagi."


Adley memeluk cucu satu-satunya itu dengan lembut. "Papa pasti akan pulang. Akan menemani Tari sampai Tari dewasa nanti."

__ADS_1


Adley sendiri merasa sedih dengan kondisi putra tinggalnya yang masih dalam keadaan kritis. Bima yang selalu melaporkan keadaan Tara padanya.


Adley juga tahu detak jantung Tara yang sempat melemah. Tapi mereka tidak bisa langsung ke rumah sakit karena mereka juga mengkhawatirkan keadaan Mentari yang ditinggal begitu saja di villa.


"Tari nggak mau nggak punya papa lagi. Nanti teman Tari jauhin Tari lagi, kek." rengek gadis kecil yang sudah mulai terisak itu.


"Tari akan tetap punya papa. Tari berdoa saja pada Tuhan untuk menjaga dan mengembalikan papa pada kita."


Tari mengangguk dan menyusut air mata dengan punggung tangan. "Tari sayang papa. Tari akan berdoa sama Tuhan agar papa cepat sehat."


"Gitu dong. Itu baru cucu kakek." Adley mencium puncak kepala Mentari. "Keturunan Abraham nggak boleh cengeng. Karena banyak cobaan yang harus kita hadapi." imbuhnya lirih. Lebih berbicara untuk dirinya sendiri.


Jika boleh memilih, Adley lebih memilih untuk tidak lahir di keluarga Abraham yang hanya membawa kesulitan untuk sang putra. Ia lebih memilih untuk menjadi masyarakat biasa asal putranya bisa hidup bahagia tanpa beban dan cobaan yang begitu berat.


Tapi kini, yang bisa ia lakukan adalah mendukung sang putra dalam setiap hal yang terjadi dalam hidupnya.


"Bagaimana keadaan Caca?" tanya Adley pada istrinya yang baru kembali seteleh menghubungi Bima yang sebelumnya memberi kabar jika Caca juga tengah dalam penanganan dokter setelah jatuh pingsan.


"Kondisi Caca masih belum sadar. Dokter sudah mengambil darah Caca untuk tes lab. Nanti Bima akan mengabari kita lagi setelah Caca sadar atau setelah hasil lab-nya keluar."


"Apa tidak sebaiknya kita kesana saja sekarang?"


Mama Shinta menatap cucunya sendu. "Mentari bagaimana, pah?"


"Tari nggak papa, nek." ucap gadis itu menyahuti. "Kakek sama nenek ke rumah sakit aja temani mama jaga papa. Tari akan jadi anak baik dirumah."


*


*


*

__ADS_1


Maaf ya gaes, baru up. Kalau yang baca Senja pasti tahu alasannya,hihihi


__ADS_2