
Baru setengah jalan, Bima sudah menyusul dan memberhentikan mobil Caca di tengah jalan. Hampir saja Caca tabrak kalau saja ia tak buru-buru menginjak rem.
"Kamu tuh apa-apaan sih, Bim?! kalau tadi saya menabrak kamu bagaimana?!" semprot Caca yang langsung keluar mobil begitu Bima keluar dari dalam mobil yang hampir ditabraknya.
"Maaf nyonya. Tapi sebaiknya nyonya pulang saja." ucap Bima dengan kepala menunduk. Tak ada waktu untuk mendengar kemarahan istri dari tuannya saat ini.
Di luar seperti ini tengah bahaya untuk Caca. Bukan bahaya dalam arti sesungguhnya. Namun bahaya dari awak media atau orang-orang yang tak menyukai hubungan Caca dengan Tara.
Karena baru saja Bima menyelesaikan orang-orang yang akan melempar Caca dengan telur busuk. Entah darimana orang itu tahu jika Caca berada di MFA. Mungkin juga sudah mengikuti sejak Caca keluar dari rumah.
Untuk itu Bima hampir terlambat mencegah Caca untuk datang ke rumah lamanya.
"Saya cuma akan ke rumah sebentar. Scurity bilang warga berdemo dan mengancam membakar rumah itu jika saya tidak ke sana!" seru Caca marah.
Bukan masalah rumah dan kerugiannya. Namun di dalam rumah itu ada seorang wanita tua dan cucunya yang waktu itu Caca temui tengah berteduh di depan MFA, sebelum segala kerumitan ini terjadi.
Caca memasrahkan rumah itu untuk nenek dan cucunya itu tinggali. Untuk itu saat ini ia khawatir terjadi sesuatu dengan keduanya. Pasti nenek itu takut keluar rumah dengan banyaknya masa yang mendemo rumahnya.
"Justru itu disana bahaya, nyonya. Terlebih disana banyak wartawa yang sudah mengincar nyonya."
Caca menarik napasnya bingung. "Tapi ada seorang nenek dan gadis kecil di dalam rumah itu. Mereka pasti takut." ungkap Caca dengan kegundahan hatinya.
"Nyonya tenang saja. Nanti saya minta anak buah saya untuk mengamankan keduanya. Lebih baik sekarang nyonya pulang. Di luar tidak aman."
"Tapi kamu janji untuk mengamankan mereka kan?" tegas Caca sekali lagi.
Bima mengangguk. "Saya janji nyonya."
***
Tara merasa bingung kenapa setiap gerak geriknya harus selalu diawasi. Dan banyak larangan yang tidak masuk akal menurutnya.
Tara bingung kenapa ia dilarang keluar dari gerbang rumah. Dilarang menyalakan televisi atau memegang ponsel dan lain sebagainya. Bahkan untuk berangkat ke kantor saja ia di larang.
Padahal Tara yakin, jika pekerjaannya di kantor sudah menumpuk sejak ia tinggal ke Bali dan berakhir dengan sakit.
Kini tubuhnya sudah sehat segar bugar. Hanya ingatannya selama beberapa tahun yang tidak ia ingat sama sekali. Lalu kenapa orang tuanya melarangnya untuk pergi ke perusahaan. Ia rasa ia tidak akan selambat itu untuk kembali belajar tentang apa yang ia lupakan.
Bukankah semakin cepat ia berangkat bekerja. Semakin cepat ia belajar. Makanya semakin baik.
Tapi sepertinya kedua orang tuanya tak berpikir demikian. Hingga ia merasa seperti tahanan rumah sekarang.
__ADS_1
Dan hanya di temani gadis kecil yang selalu menatapnya dengan permusuhan. Mentari selalu duduk terjauh dari tempatnya duduk. Selalu menjawab iya atau tidak jika ia bertanya. Dan jarang sekali mau menatap wajahnya. Sekalinya menatap, selalu dengan mata memicing dan wajah tak ramah.
"Kamu masih kecil judes gitu, di ajarin siapa sih? perasaan Caca jadi anak baik dulu." ucap Tara memangku dagunya menatap Mentari yang tengah mewarnai di ruang keluarga.
"Bukan urusan, kakek!" jawab Mentari dengan ketus seperti biasa.
"Jangan panggil kakek dong. Kan ayah masih muda." keluah Tara. "Panggil ayah aja ya?" pinta pria itu.
"Emang kakek, papanya aku, mau di panggil ayah?" cibir Caca.
"Emang papa kamu kemana sih?" Tara penasaran dengan dimana ayah anak itu berada.
"Papanya nyebelin. Lupa sama aku sama mama. Mending Tari pulang aja ke rumah yang dulu." jawab Mentari dengan sendu.
"Memangnya dulu kalian nggak tinggal disini?"
Mentari menggeleng dan kembali pada pencil warnanya.
"Dulu kalian ikut tinggal papa kamu?"
Mentari kembali menggeleng. "Tari tinggal sama mama aja. Berdua."
"Dimana?"
Tara manggut-manggut. "Papa kamu kaya apa."
"Kaya kakek."
"Maksudnya?"
Mentari meletakkan pencilnya dan menatap Tara serius. "Iya. Kayak kakek. Tinggi, putih, hidungnya panjang."
Tara terkekeh. "Mancung." ralat Tara. "Kalau panjang itu Pinocio."
"Dulu Tari juga benci sama papa. Soalnya papa pernah marahin aku."
"Oh ya?" Tara semakin tertarik ketika Mentari mau bercerita padanya.
"Papa sering antar jemput Tari sekolah. Papa juga pernah ajak main ke kebun binatang. Terus papa nangis."
"Kenapa nangis?" kepala Tara berdenyut ketika kilas gambar tak jelas sekelebat hadir di pikirannya.
__ADS_1
"Papa nangis pas Tari cerita Tari nggak pernah di ajak main mama. Tari kan dirumah terus."
Berbagai kelebat bayangan silih berganti mengisi pikiran Tara yang semakin membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Dulu mama takut ketemu sama orang. Tapi Tari nggak tau siapa orangnya." Mentari mengedik, anak itu sudah kembali menggambar dibuku gambarnya. Tak sadar jika Tara sudah memegangi kepalanya kesakitan.
"Dulu Tari panggil papa, Om. Papa sering minta di panggil papa. Kaya kakek minta di panggil ayah. Tapi Tari nggak mau. Kan Tari punya ayah. Namanya Rian."
Gadis kecil itu terus berceloteh tak perduli Tara merespon atau tidak. Bahkan Mentari seakan membicarakan orang lain pada Tara. Tak seperti tengah membicarakan lelaki itu.
"Tapi karena Tari sayang sama papa. Makanya Tari mau panggil papa."
Caca yang baru sampai di rumah di kejutkan dengan kondisi Tara yang sudah membungkuk memgangi kepalanya memahan sakit.
"AYAH!" pekik Caca membuat Mentari kaget dan langsung menoleh ke belakang dimana Tara berada.
Gadis kecil itu juga tak kalah kaget melihat Tara yang kesakitan.
"Ayah kenapa Tari?"
Mentari menggeleng tak mengerti. "Tadi baik kok mah. Tadi lagi nemenin Tari gambar." jawab Mentari takut.
Caca meminta tolong pada beberapa pengawal yang berjaga di luar untuk membawa Tara ke kamar laki-laki itu di lantai dua.
Caca juga langsung menghubungi dokter yang menangani Tara setelah pria itu kembali ke Jakarta.
Caca takut terjadi sesuatu dengan suaminya. Ia bahkan tak tahu harus berbuat apa saat ini selain menemani Tara di kamar.
"Papa kenapa mah?" tanya Mentari takut dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Tara dengar itu. Tapi pria itu tak tahu untuk siapa gadis kecil itu menangis ketakutan. Buka takut yang bagaimana. Itu murni takut khawatir. Dan Tara bisa melihatnya.
Dan sepertinya tidak mungkin Mentari menangisinya mengingat gadis kecil itu amat membencinya.
Tak lama dokter datang dan menyuruh mereka semua untuk keluar agar dokter lebih leluasa memeriksa Tara. Juga untuk membuat Tara lebih stabil emosinya.
*
*
*
__ADS_1
Maaf baru muncul 🙃