
"Kamu tuh kenapa sih, Rian?!" dokter Risma yang setengah berlari mengikuti langkah lebar putranya yang menarik tangannya pun berseru.
"Nanti aku jelasin di kamar, bun." Rian tidak ingin mereka terjebak terlalu lama di lobby dan pria yang di tabrak Mentari tadi mengenali dirinya.
Bisa-bisa ia pulang nanti, Caca akan mencicangnya hingga habis.
Dokter Risma menurut saja hingga mereka sampai di kamar yang di tempati dokter Risma dan Mentari.
"Laki-laki tadi itu yang namanya Tara, bun."
Dokter Risma membeku seketika. Tanpa di jelaskan lebih lanjut, dokter Risma tahu siapa Tara dan bagaimana hubungan pria itu dengan mantan menantunya.
"Lebih baik kita pulang besok pagi. Aku takut pria itu ingat sama aku, bun."
Dokter Risma menghela napas dan mengangguk pasrah. Meski ia menyayangkan waktu liburan mereka harus terpotong mendadak seperti ini. Tapi apa boleh buat, jika itu demi cucunya.
***
Hari ini Caca mencoba keluar dari zona amannya. Ia akan pergi ke pusat kota selagi anaknya sedang tidak di rumah dan bisa di tinggal lama.
Karena pesanan yang semakin membludak, juga banyak yang menyarankan untuk ia mendesain pakaian dewasa juga. Akhirnya Caca dan salah satu karyawannya pergi mencari kain yang cocok untuk desainnya.
Caca memang lebih suka memilih bahan sendiri. Lebih yakin dengan kuwalitas dan nyaman tidaknya ketika sudah dijadikan pakaian nanti.
Dulu Caca hanya sekali datang ke kota memilih bahan. Setelahnya ia selalu meminta karyawan untuk membelinya. Atau memesan lewat telepon dan akan di kirim langsung oleh toko langganannya.
Setelah selesai memilih bahan dan membayarnya. Caca mengajak karyawannya yang bernama Erin untuk pulang. Kain akan dikirim oleh kurir dari toko.
"Mampir beli makan siang sekalian kali ya Rin, buat anak-anak." tanya Caca seraya membelokan kemudi memasuki salah satu restoran yang mereka lewati.
"Boleh kak." Erin hanya setuju saja, dan mengikuti kemana bosnya pergi. Lagi pula, sebentar lagi memang sudah jamnya makan siang. Dari pada nanti ketika sampai harus keluar lagi mencari makan, mending sekalian.
Rata-rata karyawan Caca memang anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hanya tukang jahit saja yang Caca pilih sudah ahli di bidangnya.
Dan semua karyawan Caca adalah orang-orang setia. Buktinya semua masih bertahan bekerja dengan Caca. Hanya satu dua orang yang berhenti, itu pun dengan alasan menikah. Bukan karena tidak betah atau tidak puas dengan gaji yang Caca berikan.
__ADS_1
Mereka tengah menunggu pesanan sembari meminum jus serta makanan ringan yang Caca pesan untuk membunuh waktu mereka agar tidak bosan dalam menunggu.
Duduk di meja yang tidak jauh dari kasir dan pintu masuk. Membuat siapa saja yang akan memasuki restoran melihat keberadaan mereka.
Termasuk mama Shinta yang ada temu janji dengan teman-temannya di restoran yang sama.
Mama Shinta yang baru membuka pintu restoran langsung terpaku melihat wajah yang sangat familiar. Wajah seorang wanita yang lima tahun ini bak hilang di telan bumi.
Setelah banyak pencarian yang menghabiskan banyak waktu, tenaga juga materi yang tidak membuahkan hasil. Kini wanita itu justru di temukan dengan ketidak sengajaan.
Caca masih wanita yang sama. Cantik dan sekarang lebih terlihat anggun dan dewasa. Waktu dan keadaan ternyata mendewasakan gadis manja yang dulu selalu bergelayut manja di pundaknya.
Mama Shinta dengan mata yang sudah di penuhi air mata, berjalan mendekat. Seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Caca. Membuat wanita muda yang di peluknya kaget seketika.
"Kamu kemana saja Ca.. Nenek kangen. Nenek khawatir." tangis mama Shinta pecah begitu percaya jika Caca benar adanya. Bukan hanya halusinasi semata. Cucunya benar-benar ada di depannya, dan sekarang ada di dalam dekapannya.
Sedangkan Caca masih membeku di tempat. Sungguh ia tak pernah punya rencana apa yang akan ia lakukan seandainya suatu hari dirinya bertemu Tara dan keluarganya.
Apa yang akan ia lakukan?
Penjelasan apa yang harus ia berikan?
Dan haruskah ia mengatakan tentang keberadaan Mentari?
Berbagai pertanyaan muncul secara bersamaan dalam pikiran Caca. Membuatnya mengernyit sakit.
Tidak. Ia belum siap kembali pada keluarga itu!
Ia sudah cukup bahagia dengan kehidupannya saat ini!
Ia bahagia hidup berdua dengan bidadari kecilnya! Putri kesayangnnya!
Seakan Tuhan menyelamatkannya dari situasi yang tidak di inginkan. Saat itu juga pesanan Caca telah jadi.
"Maaf nyonya. Sepertinya anda salah orang." Caca melepas pelukan mama Shinta dengan lembut. Takut menyakiti hati wanita yang ia sayangi.
__ADS_1
Ia juga merindukan wanita itu. Hanya saja ia tak ingin hidup dalam penyesalan lagi. Penyesalan terhadap almarhum ibunya yang sudah percaya bahwa dirinya bisa menjaga diri.
Bertemu lagi dengan Tara hanya akan mengingatkan dosa mereka di masa lalu. Perbuatan yang Caca yakin akan sangat melukai ibunya di atas sana.
"Ayo Erin.. Kita pulang."
Caca tak mengindahkan suara mama Shinta yang memohon untuknya tetap tinggal. Caca tak sekalipun menatap mata wanita itu. Ia berlalu begitu saja dengan langkah tergesa untuk segera meninggalkan tempat itu.
Dengan linangan air mata, Caca membawa mobilnya melaju di atas batas kecepatan yang di tentukan pihak berwajib.
Erin yang takut akhirnya angkat bicara. "Biar saya yang bawa mobilnya, kak."
Erin tahu bosnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia yakin itu pasti bersangkutan dengan masa lalu yang coba di tinggalkan oleh Caca.
Meski Caca tak pernah bercerita detail masa lalunya. Tapi secara garis besar semua karyawannya tahu apa yang terjadi.
Caca yang tidak ingin membahayakan nyawa mereka akhirnya setuju untuk bertukar posisi.
Wanita itu masih menangis setelah mereka sampai di Mentari Fashion Art. Caca meminta Erin untuk membawa semua makanan dan di bagikan pada yang lain. Sedangkan wanita itu memilih berlalu pulang ke rumahnya.
"Maaf nenek.." tangis Caca pecah. Menelungkupkan wajahnya di atas bantal.
Caca juga merindukan wanita paruh baya itu. Merindukan kakeknya. Juga merindukan... Tara.
Ia sangat merindukan mereka. Tapi Caca tidak ingin kehadirannya hanya akan menjadi masalah di keluarga itu.
"Caca kangen.." rancau Caca dalam isak tangisnya.
Hidup sebatangkara tanpa keluarga bukan hal mudah untuk Caca jalani. Untung ada dokter Risma yang begitu baik padanya. Juga para karyawan yang sudah seperti keluarga sendiri.
Mungkin jika tanpa mereka semua dan terutama putri kecilnya, Mentari. Caca lebih baik memilih mengakhiri hidupnya dari pada hidup tanpa adanya kasih sayang. Tanpa ada orang yang peduli padanya.
*
*
__ADS_1
*